My Husband This Is My CEO Season 1

My Husband This Is My CEO Season 1
51



Dari kejauhan seorang pria berlari, pria itu sempat berhenti sebentar memegang lututnya sambil sedikit menunduk. Dirinya menghirup nafas dalam - dalam lalu menghembuskan nya.


Lagi pria itu berlari hingga tiba didepan perusahaan milik Tasya. Dirinya langsung dicegat oleh tiga satpam karena gelagat nya aneh.


Dengan stelan baju kaos putih bertuliskan nama brand mahal serta celana jeans dan sepatu brand mahal dirinya berbicara dengan nafas yang terengah - engah.


" Saya, langsung disuruh kelantai lima sama pak Alvaro " Ujarnya.


Tasya mengangkat kepalanya saat mendengar suara yang berbicara kepada ketiga satpam dengan nafas terrengah - engah. Tadi ketiga satpam itu sudah diberitau kalau ada orang dari teman Varo yang akan datang dengan cepat pria itu masuk kedalaam setelah diberi kartu akses oleh satpam.


Dirinya melihat jam tangan miliknya. " Ck " Dirinya berdecak karena waktu tinggal dua menit lagi. Tanpa menoleh kearah Tasya yang heran menatap dirinya pria itu berlari.


" Mustahil itu dia " Kata Tasya terkejut karena yang datang orang yang tidak disangka nya.


" Woah " Plak, satu tamparan dilayangkan kewajahnya sendiri. " Auu sakit " Ucap nya sambil menggosok - gosok pipi kanan nya yang perih namun tidak merah.


" Haha " Tasya tertawa seperti orang gila. " Gue ngak mimpi ternyata, hehe ngak mimpi " Ucap Tasya sambil tersenyum cengengesan seperti orang gila.


Seketika otaknya ingat akan masalah yang dihadapi hari ini. " Astaga ayah! " Pekik Tasya lalu segera berlari masuk kedalam dan menuju lift.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kini dirumah Keyla ada satu truk berukuran kecil yang akan membawa pakaiannya kesuatu tempat, entahlah tempat seperti apa.


" Nanti ikuti mobil saya dari belakang " Ujar papi Keyla kepada supir truk lalu berjalan masuk kedalam mobilnya. Didalam mobil sana sudah ada Kenan yang ikut duduk, namun masih dengan gayanya menyilangkaan dada ditangan.


Tadi Kenan sudah memeberitau maminya. Dan jangan ditanya bagaimana mami nya marah. Sengaja sekarang Kenan mengikuti papinya pergi karena dirinya ingin mengetahui dimana tempat tinggal adiknya nanti.


" Kenapa kamu ikut? " Tanya papinya heran.


" Ck, Kenan ikut karena Kenan sayang sama adik Kenan " Ucap Kenan dengan nada ketus nya. " Memangnya papi ngak sayang anak " Lanjutnya lahi dengan nada bicara yang dikecilkan.


Papinya yang mendengar itu hanya menggeleng - gelengkan kepala saja. Dan langsung mengambil ponselnya yang berada di kantong celana lalu memainkan nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ruangan IT.


Suasana makin gaduh karena waktu tidak tersisa banyak lagi. Setelah pria itu datang dirinya langsung duduk dikursi tempat Karyawan IT tadi. Dirinya lupa kalau akan memberi salam kepada ayah Tasya yang notabene nya pemilik perusahaan.


Jari - jarinya dari tadi sudah mencoba mengetik - mengetik angka serta huruf yang menjadi pola pin. Baru sekali mencoba dirinya gagal namun karena percaya dirinya pasti bisa dirinya mencoba lagi.


Proses loading untuk memastikan pin yang dimasukan itu benar tinggal tiga puluh detik lagi. Semunya harap - harap cemas. Tasya baru saja masuk kedalam ruangan itu karena tadi dirinya menerima telepon yang ternyata telepon itu tidak penting - penting sekali.


Tasya langsung berjalan kearah meja komputer dan duduk disamping pria itu. " Gimana? " Tanya Tasya tanpa menoleh dan masih memperhatikan layar komputer.


Pria itu terkejut sama hal nya dengan Tasya tadi. " Tasya, kok bisa..? " Tanya pria itu bingung.


Varo yang sedang berdiri dibelakang mereka berdua hanya bisa bingung. Akhirnya proses loading sudah selesai semuanya benafas lega karena hasil nya memuaskan dan pola pin yang dipasang tadi ternyata benar.


Semunya yang berada diruangan itu bernafas lega. Karena semuanya sudah selesai mereka semu bergegas untuk pulang.


Didalam Lift, yang akan menuju lantai bawah ada Tasya, Varo dan Fahri. Apa Fahri? iya sayang Fahri.


" Lo mau gue anter atau ada yang jemput? " Tanya Varo kepada Fahri yang berada disampingnya sementara Tasya hanya menjadi pendengar yang baik dibelakang mereka.


" Ngak deh, ntar ada yang jemput. Jugakan.. lo mau anter Tasya " Ucap Fahri lalu mereka berdua meoihat kebelakang dimana disana ada Tasya.


Tasya yang ditatap langsung tersenyum kikuk. " Iya, tapi kalau mau ikut juga ngak papa kok " Ujar Tasya menjawab.


Masi menjadi pertanyaan dibenak Tasya siapa Fahri ini sebenarnya. Bukannya dia seorang driver ojek online, tapi.. kenapa pakainnya mewah begini? brand ternama lagi.


Hayo lo bingung kan. Pak cepak cepak cepak jederrrr. Yang sudah berfirasat kalian cerdas. ( Garing kali cepak jeder nya ).


Bunyi suara ponsel milik Fahri berbunyi dengan segera Fahri mengangkat nya. Suara dari sambungaan telepon sana sudah berbicara. " Tunggu sebentar lagi saya turun " Kata Fahri lalu mematikan ponselnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dilantai bawah.


" Gue duluan ya. Soalnya supir gue nunggu " Ujar Fahri lalu menepuk bahu Varo dan Varo mengangguk.


" Sya duluan " Pamit Fahri kepada Tasya lalu Tasya menjawab dengan anggukan dan senyuman.


Mobil yang menjemput Fahri sudah pergi. Sekarang waktunya Tasya yang bertanya.


" Bunda sama ayah kamu ngak pulang? " Tanya Varo sebelum Tasya bertanya.


" Katanya masi ada hal penting " Jawab Tasya. Setelah itu suasana hening


" Oh iya bang- " Sebelum melanjutkan pertanyaan nya telepon dari ponsel Varo lebih dulu berbunyi.


Varo mengangkat telepon itu tenyata telepon dari bunda Tasya. " Oke tante " Jawab Varo lalu sambungan telepon dimatikan. Dan dengan cepat Varo menggeret Tasya.


" Woii elah, suka banget narik - narik " Protes Tasya sambil memukul - mukul tangan Varo.


" Sorry sorry. Ayo abang anter pulang " Ucap Varo lalu Tasya langsung masuk kedalam mobil.


Mobil milik Varo sudah pergi meninggalkan area kantor ayah Tasya. Sekarang saatnya Tasya bertanya. " Abang " Panggil Tasya.


" Fahri itu siapa sebenarnya? " Tanya Tasya penasaran.


" Temen " Jawab Varo singkat.


" Iya gue tau temen, tapi dia kerja dimana? " Kata Tasya geram.


" Lah kan bener temen gue. Kenapa lo suka ya? " Goda Varo kepada Tasya. Tasya langsung mencubit tangan Varo dan Varo meringis kesakitan. Bukannya menjawab malah balik bertanya bagimana Tasya tidak kesal coba.


" Sakit, sakit! isshh... kulit gue putih mulus gini kenapa jadi ada merah nya! " Ucap Varo kesal karena tiba - tiba menyubit dirinya, sambil menggosok - gosok tangannya yang merah akibat dicubit.


" Gue serius abanggg! " Ucap Tasya yang tak kalah kesalnya dengan abang tercinta terlope - lopenya.


" Ck. Kepo banget sih! " Balas Varo yang pelit akan info.


" Lebih baik kepo dari pada ngak tau info! " Ketus Tasya benar - benar kesal dengan abangnya. Bukannya malah memberi tau tapi dirinya malah merahasiakan.


" Tanya aja sendiri sama orangnya " Ucap Varo malas memberitau Tasya yang sebenarnya. Biarkan saja Tasya penasaran fikirnya.


Tasya langsung mendengus kesal karena apa yang diucapkan oleh abangnya tidak sesuai hasil. Situasi didalam mobil diam seketika Tasya hanya menatap kesamping jendela menikmati pemandangan dengan cara membiarkan angin alami masuk kedalam mobil.


Mobil milik Varo berhenti seketika dan itu membuat Tasya terhuyung kedepan sehingga dahinya menabrak dashbor mobil. Tasya meringis kesakitan sambil menggosok - gosok dahinya yang berdenyut serta panas.


" Ni mobil kenapa si " Gumam Varo sambil mencoba menghidupkan mobilnya kembali.


Berulang kali Varo berusaha menghidupkan mobil nya akan tetapi hasilnya tetap saja sama. Varo berdecak kesal. " Sya, kayanya mobil abang mogok deh " Ucap Varo sambil melihat Varo.


" Terus gue gimana dong pulangnya? " Tanya Tasya bingung.


" Pesen ojek online aja " Jawab Varo.


" Tapi.. hp gue mati. Lupa ngecas tadi malam " Ujar Tasya lalu tersenyum cenge - ngesan. " Gimana pake hp lo aja? " Tanya Tasya lalu menaik turunkan alisnya.


" Masalahnya gue ngak ada paketan " Ujar Varo.


Tasya berdecak kesal. " Percuma aja jadi orang kaya! tapi paketan ngak ada! " Ucap Tasya sebal.


" Ya terus mau gimana lagi? " Tanya Varo.


" Gue jalan aja. Paling nanti didepan ada pangkalan ojek " Ujar Tasya lalu membuka pintu mobil.


" Eits... " Varo memegang tangan Tasya untuk mencegah Tasya keluar. " Nanti kalau lo diculik gimana? " Tanya Varo cemas.


Tasya nampak berfikir. " Elah, ngak bakal ada yang berani nyulik gue " Ucap Tasya sombong.


Varo memutar bola matanya malas. " Ck, mana ada yang mau nyulik cewek yang cerewet kaya lo! " Sindir Varo terhadap Tasya.


" Lo ya! " Ucap Tasya marah sambil menunjuk Varo. Genggaman tangan Varo dilepasnya. " Udah ah gue mau pulang jalan kaki aja. Juga kan perumahan nya lagi beberapa meter aja " Ujar Tasya kekeuh ingin pulang dengan cara berjalan kaki.


" Tapi ntar kalau lo diculik gimana? " Tanya Varo lagi yang khawatir.


" Enggak akan! enggak ada yang mau nyulik gue! " Tegas Tasya.


" Tapi kalau seandainya bener? " Tanya Varo sambil melihat wajah adik sepupunya itu lekat - lekat.


Wajah ketakutan sudah mulai terlihat diwajah Tasya. Tasya menelan salivanya. Tasya berfikir kalau seandainya benar dirinya diculik, lalu pasti nanti akan sama jalan ceritanya seperti di novel - novel yang pernah dibacanya. Bisa - bisa dirinya dijadikan santapan harimau.


Tasya mengeleng - gelengkan kepalanya sambil menutup mata. " Jangan nakut - nakutin kenapa sih! " Ucap Tasya kesal.


" Ngak nakut - nakutin. Cuma kan kalau seandainya " Kata Varo.


" Aaa.. udah - udah. Gue mau pulang " Brak. Pintu mobil pun langsung ditutup oleh Tasya terlihat dari dalam mobil Tasya sudah berjalan sambil memegang tasnya erat - erat.


Sementara Varo yang didalam mobil hanya bisa tersenyum sambil menggeleng - gelengkan kepalanya. " Gini ni, ciri - ciri cewek yang awalnya bilang berani tapi sekarang malah takut sendiri " Ucap Varo bermolog sambil melihat Tasya yang berjalan dengan langkah cepat sambil menunduk lalu menyunggingkan senyumnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


" Jalan sya, jalan. Ya allah lindungi hambamu " Ucap batin Tasya sambil berjalan menunduk dan memegang tas selempangnya erat - erat.


Tasya berjalan melewati gereja dekat perumahannya. Didalam area parkir gereja itu terlihat pria bertubuh tinggi nan atletis tidak lupa pula dengan wajahnya yang tampan.


" Tasya bukan si " Ucap pria itu sambil melihat Tasya yang sedang berjalan cepat sambil menunduk.


" Tasya! " Teriak orang itu.


Tasya yang mendengar itu semakin takut dibuatnya, bagaimana tidak sekarang dirinya sedang berjalan sendiri tanpa siapa - siapa. " Ayo sya jalan. Jangan peduli " Ucap Tasya menyemangati dirinya.


" Tasya tunggu! " Teriak orang itu lagi memanggil nama Tasya. Karena tidak dipedulikan orang itu mengikuti Tasya dari belakang dengan langkah yang sedikit berlari.


Tangan Tasya dipegang oleh orang itu. Tubuh Tasya memutar empat puluh lima derajat menghadap pria itu. " Tolong.. saya ngak mau diculik. Bunda... Tasya ngak mau nikah kontrak bunda..! " Ucap Tasya dengan nada yang lirih namun matanya masih menutup, dirinya takut kalau membuka mata nanti tiba - tiba ada karung yang menutup kepalanya.


Pria itu yang melihat tingkah Tasya langsung menyunggingkan senyum nya, menurutnya hal ini lucu. Sementara ada mobil hitam yang berhenti diseberang jalan, penumpang mobil itu tertawa melihat tingkah Tasya dari dalam mobilnya. " Kan kan sok berani banget sih " Ucap Varo yang ternyata melihat adegan Tasya ketakutan.


~ Bersambung ~


Tahap revisi besok ya!! pas novel ini tamat