My Husband This Is My CEO Season 1

My Husband This Is My CEO Season 1
54



" Mana laporan yang saya minta kemarin? " Tanya Ferel yang saat ini sedang duduk dikursi kebesarannya.


Sekertaris nya langsung memberikan flashdisk dan foto - foto yang berisikan kasus Keyla saat ini. " Ini tuan " Setelah menerima apa yang diberikan oleh sekertaris nya hal pertama yang dilihat oleh Ferel adalah bukti rekaman cctv.


" Kenapa bisa ada Rangga disini? " Tanya Ferel heran karena disitu ada pria yang dikenalnya.


" Tuan Rangga datang kesitu karena nona Keyla mengirimkan foto tentang pacar dari tuan Rangga " Ucap Sekertaris nya.


" Pacar?. Bukannya Rangga jomblo " Gumam Ferel yang tidak mengetahui Rangga memiliki kekasih.


Kuping sekertaris nya yang tajam dapat mendengar apa yang dibicarakan oleh tuannya. " Tuan bisa melihat fotonya diamplop coklat itu. " Ucapnya memberi tau, agar Ferel tidak bingung.


Dibukannya amplop coklat itu, ada sepuluh foto yang sudah dicetak disana. " Yang kamu bilang pacar, ini? " Ucapnya sambil memperlihatkan foto Tasya.


" Iya tuan yang itu " Jawab Sekertaris nya.


" Jadi.. yang laporin Keyla kepolisi Rangga? " Tanya nya bingung karena menurutnya foto dan rekaman cctv itu berhubungan, tapi.. waktu itu saat dirinya menemui Rangga. Rangga menjawab bukan dia.


" Bukan tuan, aaa.. iya " Ucapnya lalu mengambil satu foto dikantong jasnya yang lupa dijadikan satu dengan foto yang lainnya diamplop coklat itu. " Yang melaporkan nona Keyla itu. Tuan Varo " Ujarnya setelah meletakan foto dimeja Ferel.


" Varo " Gumamnya dalam hati. Varo membanding - bandingkan foto Tasya dan Varo. " Terus... hubungan antara Varo dan sekertaris nya Rangga apa? " Tanya Ferel yang masi bingung.


" Mereka berdua keluarga " Ucap sekertaris Ferel.


...* * * * *...


Ferel menarik nafasnya dalam - dalam lalu membuangnya dengan kasar tangannya mengepal kuat. " Cara apa yang bisa gue lakuin supaya tuntutan Keyla bisa di cabut? " Tanya Ferel dengan nada yang sudah normal, dirinya berfikir masalah ini harus dihadapi dengan kepala dingin.


" Ngak ada cara yang bisa lo lakuin. Karena yang namanya kesalahan harus dipertanggung jawabkan " Jawab Varo lalu berjalan untuk kekuar dari caffe itu.


Brak..


Meja digebrak dengan keras oleh Ferel karena Varo tidak memberikan jawaban yang bisa dikabulkan oleh nya.


...* * * * *...


Sehari kemudian.


Sepuluh menit lagi jam makan siang akan terjadi. Suasana siang yang amat terik membuat keringat Tasya bercucuran. " Aduhhh panas banget si " Ujar Tasya sambil mengipas - ngipaskan tangannya.


" Pak bos juga mana si? " Tanya Tasya sambil melihat kesana - sini mencari bosnya.


Kebetulan hari ini AC diruangannya mati, karena sekarang AC diruangan nya masi dalam masa perbaikan. Akan tetapi tukang AC yang datang bukan siang ini tapi nanti sore setelah jam pulang kerja.


Dengan menggunakan selembaran kertas dan tangannya yang dikipas - kipas Tasya meringankan rasa panas siang ini. Tasya berjalan membuka handel pintu dan masuk kedalam ruangan CEO.


" Dia kemanasi? " Tanya Tasya yang tidak melihat Rangga dari tadi. Ditaruhnya berkas yang perlu ditandatangani oleh Rangga dimeja nya.


" Ngadem disini ngak papa kan? " Fikirnya lalu mendudukan dirinya disofa empuk ruangan Rangga. Sebenarnya tujuan Tasya duduk disofa empuk itu ada dua, satu menunggu Rangga yang entah kemana dan dua mendinginkan badannya yang dari tadi sudah berkeringat.


Sepuluh menit sudah berlalu sekarang sudah memasuki jam makan siang, tugasnya juga sudah selesai semua maka dari itu dirinya hanya duduk bersantai disofa dan menunggu Rangga kembali hanya untuk mengambil berkas yang sudah ditandatangani lalu ditaruh dirak berkas yang berada diruangannya.


" Pesen apa ya? " Ucap Tasya sambil mengscrol aplikasi ojek onlinenya. Dirinya malas bila harus berjalan kekantir kantor untuk makan maka dari itu dirinya lebih baik memesan makanan lewat ojek online saja.


Klik. Tasya mengklik makanan yang menurutnya enak. Satu porsi makanan cepat saji dan teh yang menjadi minumannya.


" Lo inget kan kalau lagi berdua panggil Rangga aja " Ucapnya. Namun siang ini Rangga tampak berbeda dari segi penampilan dimana dirinya hanya memakai kemeja putih yang lengannya digulung lalu dasi yang dilonggarkan.


Tasya hanya menjawab dengan anggukan kepala saja. Sekarang perhatiannya tertuju pada penampilan Rangga. " Lo mau makan siang? " Tanya Tasya yang melihat sepertinya Rangga belum makan siang.


" Boleh deh. Tapi terserah makanannya apa aja " Jawab Rangga sambil membolak - balikan berkas yang tadi Tasya taruh dimeja.


" Oke " Balas Tasya lalu memesan satu lagi makanan yang sama dengan nya.


Tak beberapa lama makanan sudah datang Tasya langsung turun kelantai dasar menggunakan lift untuk mengambil pesanan yang dipesannya. Setelah membayar makanannya Tasya langsung naik kelantai dimana tempat ruangan nya dan Rangga berada.


Ditangan kanan nya ada plastik putih besar yang menjadi tempat pesanannya. " Ini pak " Ucap Tasya lalu meletakkan makanan dan minuman diatas meja Rangga.


Setelah itu Tasya langsung berbalik dan berjalan keruangannya. Dirinya tau nanti dia akan makan sambil berkeringat, tapi kalau misalkan makan bersama Rangga dirinya akan canggung.


Saat dirinya akan memutar handel pintu suara Rangga menghentikan kegiatannya." Ehhh mau kemana? " Tanya Rangga.


" Ke ruangan saya pak " Jawab Tasya sambil menunjuk pintu ruangannya dan menatap Rangga dengan raut wajah yang ling lung.


" Mau ngapain kesana, disini aja. Gue tau AC diruangan lo mati kan? Yaudah si makan disni aja " Ucapnya.


" Tapi kan pak. eh eh.. maksud gue Rangga... " Ucapan nya terpotong seketika.


" Mau gaji tiga bulan kemudian ngak dibayar? " Tanya Rangga dengan tatapan dinginnya.


Tasya mengehela nafasnya, lalu berjalan dan mendudukan dirinya disofa tempatnya tadi bersantai. Dibuka nya tempat makanan itu, terlihat satu paha ayam goreng dan nasi serta saus. Aaa. iya sebelum dirinya makan dirinya ingin menanyakan sesuatu kepada Rangga.


" Tadi lo kemanasi? " Tanya Tasya. Sambil melihat Rangga yang konsen dengan pekerjaan nya.


Rangga hanya melirik dirinya sebentar lalu melanjutkan mengerjakan mengerjakan pekerjaan nya. " Perutnya Mia keram tadi " Kata Rangga tanpa menolehkan pandangannya dan hanya fokus pada pekerjaan.


Tasya yang ingin berjalan kearah kamar mandi langsung memberhentikan langkahnya sebentar kemudian melanjutkannya kembali. " Keram? Terus bayinya gimana? " Tanya Tasya sedikit berteriak karena sedang mencuci tangan di washtafel kamar mandi.


" Gue belum tau si gimana keadaannya. Karena.. setelah itu mama sama papa dateng " Ujarnya sambil melihat Tasya yang memasukan sesuap nasi dan ayam kedalam mulutnya.


Tasya mengangguk paham dan melanjutkan kunyahannya. Rangga yang memerhatikan Tasya dikursinya sambil bersandar memunculkan senyum tipisnya.


...* * * * *...


Malam sudah tiba. Tasya yang sedang asik memainkan ponselnya sambil tiduran mendengar suara ketukan pintu rumahnya.


Tasya memerhatikan jam dinding yang menunjukan pukul setengah sembilan malam. " Siapa ya? ngak mungkin kalau bunda sama ayah " Ucapnya lalu bergegas turun dari tempat tidur.


Setelah sampai dilantai bawah Tasya langsung membuka pintu dan terlihatlah orang yang tidak diduga datang malam - malam kerumahnya.


" Bapak. Kok.. bisa tau rumah saya..? " Tanya nya bingung sambil memerhatikan pria berwajah bule yang sedang beridiri didepannya.


~ Bersambung ~


NB : Untuk setiap hari senin sama selasa Author ngak bisa update karena hari itu Author harus sekolah. Dan malamnya nyelesein tugas & belajar. Jadi harap maklum ya!


Untuk perbaikan kata yang salah akan diperbaiki pada tahap revisi yang kedua setelah novel ini tamat. Terimakasi!