
Pesawat pribadi milik keluarga Ferel sudah berangkat dan sekarang terbang diatas awan. Keyla hanya mampu melihat dari kaca - kaca bandara kalau tiga sampai lima hari kedepan dirinya akan LDR dengan Ferel.
Jarak yang jauh antara Indonesia dan Madrid membuat dua pasang kekasih itu akan LDR sementara. " Pak, langsung kealamat itu ya " Suruh Keyla kepada supir Ferel yang ditugaskan akan mengantarkan dirinya ketempat pemotretan yang tidak jauh jaraknya dari bandara. Ya... hanya sekitar dua setengah kilometer saja.
" Baik non " Jawab pak supir dan langsung menjalankan mobil sampai tempat tujuan.
Dari dalam mobil Keyla bisa melihat suasana jalanan sekitar bandara yang masih dibilang asri karena terdapat banyak sawah - sawah, serta kebun. Makan siangnya hari ini sampai beberapa hari berikutnya tidak akan dibawak oleh Ferel melainkan hanya akan dibawakn oleh kakaknya, Kenan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pemilik nama Amanda Anatasya masih merasakan yang namanya tidur diatas pulau peer dan busa. Padahal jam sudah menunjukan pukul delapan lebih tapi Tasya masih enggan untuk bangun.
" Tasya..! " Teriak suara lelaki dari luar sambil menggedor - gedor pintu rumahnya.
Telinga Tasya yang mendengar suara itu hanya bisa diam dan pura - pura budeg. Gorden kamar miliknya belum dibuka sama sekali karena dirinya malas untuk bangun, belum lagi sekarang hari minggu jadinya dirinya bebas untuk berleha - leha ditempat tidur.
Tak lama kemudian suara nada dering ponselnya berbunyi. Tasya langsung menutup wajah dengan bantal karena merasa suara ponselnya itu ribut sekali.
Laki - laki yang menunggu nya didepan hanya bisa menggerutu sambil menendang batu - batu kerikil. " Sialan.. padahal kan kemarin janjian jam delapan, kenapa dia belum bangun sih?! " Ketus lelaki yang bernama Varo itu marah.
Tiba - tiba keluar satu ekor kucing anggora berbulu putih dari bawah pintu yang sudah sengaja dilubangi. Varo langsung memegang kucing Tasya dan mengelusnya sambil berjongkok.
" Ini anak.. kalah sama hewan, jelas - jelas kucing nya sudah bangun " Gerutu Varo dengan tangan yang stay diam mengelus bulu putih si kucing.
Panggilan telepon untuk ke sebelas kalinya dilakukan oleh Varo, namun masih sama seperti biasanya kalau sipemilik nomor tidak mengangkatnya. " Sialan! Kurang ajar memang ni anak! " umpat Varo kesal.
" Eh.. majikan lu mana sih? udah jam delapan ni, bangunin sono " Kata Varo berbicara dengan kucing peliharaan Tasya yang sedang berguling - guling dilantai dengan gaya imutnya.
" Elah.. ni kucing juga ngak bisa kenapa... bangunin majikannya " Kesal Varo. Lantas seolah mengerti kucing milik Tasya langsung berdiri dari tidurnya dan berjalan masuk kedalam rumah Tasya.
" Wauw... hebat juga ya si pusi " Ucap Varo yang melihat kucing putih itu sudah masuk kedalam rumah sambil terkekeh.
Kucing putih itu berlari menaiki tangga untuk berjalan kearah kamar Tasya. Tapi sayang saat sampai didepan kamar Tasya pintu kamar Tasya masih tertutup. Kucing putih itu mengeong - ngeong keras sambil mencakar - cakar pintu kamar Tasya agar Tasya segera bangun dari tidurnya.
Tasya langsung membuka matanya saat mendengar ada suara kucing didepan pintunya. " Jam berapa sih sekarang? " Gumam Tasya dengan suaranya yang parau sambil mengambil ponselnya diatas nakas.
" Apaaaaa! " Ucap Tasya terkejut sampai langsung beridiri. " Gila sih.. sudah jam delapan aja " Ucap Tasya bermolog sambil berjalan kearah kamar mandi dengan terburu - buru.
Hanya beberapa menit Tasya mandi, dan tak beberapa lama kemudian dirinya keluar dari kamar mandi menggunakan handuk yang dilitkan dipinggang.
" Aduh.. aduhh.. pasti si abang toip dah nungguin " Ucap Tasya sambil berjalan mengambil bajunya didalam lemari.
Setelah selesai memakai bajunya Tasya langsung membuka pintu kamarnya dan terlihat lah kucing berbulu putih itu sedang duduk menjilati bulunya.
Tasya turun secara pelan melewati anak tangga, dirinya tidak mau kalau karena terburu - buru dirinya akan masuk kedalam rumah sakit akibat kecelakaan saat menuruni anak tangga.
Pintu rumahnya langsung dibuka, terlihat Varo yang menatapnya dengan tatapan emosi sambil tangan yang disilangkan didada. Tasya yang melihat itu hanya bisa tersenyum cantik dan anggun seolah dirinya tidak terlambat bangun.
" Yuk.. masuk yuk " Ajak Tasya terhadap Varo.
Varo berdecih dan langsung masuk kedalam lalu duduk disofa ruang tamu Tasya. Gorden ruang tamu miliknya dibuka lebar - lebar agar cahaya matahari dapat masuk dengan sempurna.
" Kemana aja lu tadi? gue telpon sampe sebelas kali tapi ngak diangkat " Ucap Varo mengutarakan isi hatinya.
Tasya yang sedang mengisi air putih dari dispenser hanya bisa diam dan bersalah. " Enak banget ya.. tidur sampe siang gini. Padahal sih.. tadi malem maksa banget buat ngajak gue ketempat latihan mobil " Sindir Varo kepada Tasya. Yap.. agenda mereka hari ini adalah mengantarkan Tasya untuk latihan menggunakan mobil.
" Ya.. maaf kemarin malem gue habis maraton " Ujar Tasya sambil tersenyum menampakan wajah bersalah.
" Maraton? wihh.. pasti badan lu pegel - pegel ya abis lari satu kilometer " Ujar Varo yang tidak mengetahui arti maraton dalam benak Tasya yang sebenarnya.
" Eh.. mana ada badan gue pegel - pegel " Cela Tasya lalu duduk disamping Varo.
" Lah kata lu maraton. Ya pasti pegel lah " Bantah Varo yang merasa ucapannya benar dengan kening yang berkerut.
" Bukan.... kan kalau maraton pagi abang.. mana ada maraton malem - malem " Ujar Tasya kesal, karena abangnya berfikir dirinya tadi malam lari maraton padahal bukan. Dirinya tadi malam hanya menamatkan satu drama korea dan itu bisa disebut juga maraton.
" Eh.. iya ya. Kok gue bodoh " Ucap Varo lalu tersenyum menyegir memperlihat gigi putih nya dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Tasya langsung tertawa cekikikan karena abangnya menganggap dirinya sendiri bodoh. " Udah... ah, gue mau dandan dulu " Ujar Tasya lalu berjalan kearah kamarnya.
Varo hanya mengangguk kemudian meminum air putih yang tadi diberikan oleh Tasya. " Tumben banget gue bodoh " Ucap Varo tidak menyangka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gereja.
Seperti biasa Zergan dan keluarga intinya setiap hari minggu melaksanakan ibadah agamanya digereja.
Disetiap doanya kepada tuhannya Zergan hanya berdoa untuk supaya dirinya berjodoh dengan Tasya. " Amin " Ucap Zergan diakhir doanya.
Bukannya dirinya terobsesi dengan Tasya, melainkan dirinya hanya ingin memiliki Tasya dengan seutuhnya melalui jalur yang namanya tali pernikahan. Sekarang memang agama mereka yang masih berbeda tapi dirinya yakin agama mereka berdua akan satu.
Walaupun melawan kehendak orang tuanya Zergan rela untuk pindah agama dan masuk kedalam agama Tasya. Dulu juga orang tua Zergan beda agama tapi karena cinta kedua orang tuanya yang begitu kuat orang tua Zergan mampi bersama dalaam satu agama.
Zergan yakin takdir dan jalan yang diberikan oleh tuhannya itu indah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dilapangan yang luas kini Varo sedang mengajari Tasya untuk mengendarai mobil.
Dari tadi Varo menjelaskan mana tombol - tombol yang harus digunakan semestinya. " Yok sya mulai " Ucap Varo.
Mobil sewaan yang digunakan Tasya malah berjalan mundur bukanya maju. " Tasya.. maju bukannya mundur " Cela Varo sabar.
" Iya.. iya.. maaf ini kan juga baru pertama " Ucap Tasya.
Percobaan kedua sudah berhasil berjalan mulus mobil sudah maju berjalan kedepan. Sekarang Tasya akan melewati tikungan. " Pelan - pelan sya.. santai " Ucap Varo agar nanti Tasya tidak kebablasan.
Tanpa diduga Tasya malah menginjak rem dan mobil yang awalnya berjalan lancar langsung berhenti mendadak. " Tasya.. yaampun gue skot jantung " Ujar Varo sambil mengatur jantungnya.
Tasya hanya bisa memasang wajah senyum nya saja, saat dirinya salah.
~ Bersambung ~
Pengennya sih sampe 2000 kata tapi apa daya aku ngak udah kehabisan ide.
Oh ya.. kayanya sih yang season satu ini bakal sampe tuju puluh episode deh