My Husband This Is My CEO Season 1

My Husband This Is My CEO Season 1
53



Siang ini Ferel sedang berkunjung dimana tempat Keyla ditahan.


Ferel dan Keyla saat ini sedang duduk dengan posisi berhadapan tapi masih dihalang oleh meja.


" Kamu kok kurus banget si? " Tanya Ferel yang melihat perubahan dari tubuh Keyla.


Keyla tidak menjawab, dirinya sendari tadi hanya dian dan menunduk diposisi duduknya. " Key " panggil Farel karena pertanyaan nya tadi tidak dijawab.


Ferel menghela nafas nya karena panggilannya dihiraukan sama seperti pertanyaan nya tadi." Kamu kenapa? " Tanya Ferel lagi.


Keyla menangis. Ferel yang mendengar suara Keyla menangis langsung beranjak dari kursinya dan mendekati Keyla. Ferel sudah berdiri disamping Keyla, tatapan Keyla masih sama dirinya menunduk tidak mau menatap Ferel.


Ferel mengusap punggung Keyla, dirinya berusaha untuk menenangkan Keyla yang tiba - tiba menangis tanpa alasan yang dirinya tau. " Aku ngak bisa terusin rencana pernikahan kita " Ucap Keyla disela tangisnya.


" Kenapa? Aku ngak keberatan kalau kamu punya status sebagai kriminal " Jelas Ferel yang tidak setuju dengan ucapan Keyla.


Keyla menggelengkan kepalanya. " Aku tetep ngak bisa " Tolak Keyla yang kekeuh dengan pendiriannya. Dirinya merasa kalau seseorang yang mempunyai status kriminal tidak pantas menjadi istri apalagi ibu.


Ferel berjongkok, kemudian tangannya menangkup wajah Keyla. Tubuh Keyla yang sedang duduk sudah menghadap Ferel Keyla enggan untuk menatap Ferel.


" Aku mohon tatap aku sekarang " Pinta Ferel dengan nada yang lirih.


Keyla menggeleng - gelengkan kepalanya tidak mau. " Key.. ayo tatap aku " Paksa Ferel sambil berusaha mengangkat wajah Keyla dengan lembut.


Keyla sudah mengangkat kepalanya, terlihat wajah nya yang kusut dengan mata panda yang menghitam serta beberapa jerawat yang mulai tumbuh. Kulit wajah nya yang halus kini sudah hilang diambil oleh sebuah kesalahan yang dilakukannya.


Didalam penjara dirinya tidak pernah lagi memakai skincare kesayangannya, hal itulah yang membuat wajahnya bukan seperti Keyla yang dulu. Tapi menurut Ferel tidak apa - apa Keyla masi cantik.


Ferel mencoba tersenyum dihadapan Keyla seolah dirinya membagi energinya dengan Keyla. " Kamu ngak boleh ngomong kaya gitu " Kata Ferel lembut sambil menghapus air mata Keyla.


" Tapi- " Ucap Keyla yang dipotong oleh Ferel yang tiba - tiba memeluknya.


Terasa hangat dan nyaman ketika Keyla merasa dipeluk oleh Ferel. Dirinya ingin sekali bila pelukan ini juga diberikaan oleh orang tuanya yang entah hilang kemana disaat dirinya sangat - sangat butuh. " Apapun yang terjadi... kita tetap akan menikah. Ngak ada yang bisa ngehalangin apa yang sudah direncanain " Kata Ferel sambil memeluk Keyla erat.


Untung saja disana hanya ada Ferel dan Keyla saja. Jadi tidak ada yang iri melihat adegan mesra keduanya. Semakin dalam tangisan Keyla semakin deras pula air matanya yang mengalir, tangannya yang dari tadi diam tidak membalas pelukan Ferel akhirnya melingkar indah dipinggang Ferel.


Ferel sedikit terkejut karena Keyla membalas pelukannya. Kemudian senyuman simpul terlihat diwajahnya. " Aku janji dalam waktu beberapa hari ini kamu bisa bebas " Kata Ferel disela - sela suara tangis Keyla.


Keyla hanya diam mendengar apa yang dikatakan oleh Ferel. Tiba - tiba krukk.. suara perut Keyla terdengar. " Kamu laper? " Tanya Ferel sambil tersenyum gara - gara mendengar suara perut Keyla.


Tangisan Keyla terhenti sebentar, memang benar menangis membuat seseorang bisa lapar dan buktinya dirinya lapar sekarang. Keyla mengangguk namun tidak melepas pelukannya.


" Yaudah yuk, makan dulu " Kata Ferel lalu melepas pelukannya agar Keyla tidak lama - lama menahan laparnya, ya... walaupun dirinya masi ingin berlama - lama dipeluk Keyla.


Pelukaan mereka sudah terlepas, Keyla hanya bisa menunduk karena pipinya sudah bersemu merah. Ingin rasanya Ferel tertawa cekikikan karena melihat Keyla yang malu. " Mau disuapin atau makan sendiri? " Tanya Ferel sambil membuka tempat bekal tempatnya menaruh makanan.


" Ini mama loh yang buat. Katanya buat calon menantunya " Lanjut Ferel yang membuat Keyla semakin malu karena Ferel menawarkan untuk menyuapi dirinya apalagi makan siangnya ini dibuat oleh calon mertuanya.


Aroma makanan sudah tercium perut Keyla semakin lapar dibuatnya. Terpaksa dirinya mengangkat kepala dengaan pipi yang masi bersemu merah. " Mau disuapin? " Tanya Ferel lagi karena pertanyaan nya tidak dijawab.


Karena tidak ada jawaban Ferel gerak cepat untuk menyuapi Keyla. " Aaaa.. " Ucapnya agar Keyla membuka mulutnya sambil menyodorkan sendok kemulut Keyla.


Keyla membuka mulutnya, lalu satu suapan sudah masuk kedalam mulutnya. Enak, satu kata yang tergambar untuk makanan yang dimasak oleh calon mertuanya. Ferel tersenyum saat melihat Keyla makan dengan enak.


" Gitu dong, makan. Biar ngak kurus kaya- " Ucapannya terpotong.


" Kaya apa? " Tanya Keyla.


" Kaya kambing yang sudah ngak makan seminggu " Jawab Ferel.


" Aku ngak pernah bilang begitu loh ya " Ucap Ferel sambil memandang Keyla yang sedang mengunyah makanannya.


" Tapi tadi kamu bilang kaya kambing yang belum makan seminggu.. " Ucap Keyla yang tidak terima dengan nada marahnya tapi bukan dengan nada marahnya seperti dulu melainkan sekarang lebih lembut.


" Ya kan... itu seumpamanya " Elak Ferel.


" Jadi bener? " Tanya Keyla lalu memakan suapan yang diberikan oleh Ferel untuk ketiga kalinya.


" Ya gitu " Jawab Ferel singkat sambil menahan senyumnya.


" Iihh.. kamu.. " Ucap Keyla kesal tidak terima lalu memasang wajah cemberutnya.


Ferel hanya tersenyum karena melihat Keyla yang kesal dengan dirinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dua hari kemudian.


Dihari kamis ini Farel sudah membuat janji dengan Varo. Dirinya sudah menyelidiki siapa yang melaporkan Keyla dan ternyata itu Varo.


Sekarang jarum jam menunjukan pukul empat sore lebih lima belas menit. Ferel sudah menunggu Varo dari tadi sambil menyeruput minumannya Ferel menunggu Varo.


" Selamat datang " Sambut pelayan caffe saat pria bertubuj tinggi nan atletis masuk ke caffe itu.


Ferel tersenyum ramah saat melihat Varo datang. " Lo pesen minuman aja dulu " Kata Ferel setelah Varo duduk dikursinya.


Tidak asing antara kedua nya saat berinteraksi, karena mereka berdua adalah rekan bisnis yang sudah menjadi teman. " Baik kak ditunggu " Ucap Pelayan itu setelah Varo memesan minuman.


Tak beberapa minuman yang dipesan pun telah datang. " Tumben banget lo ngajak gue ketemu " Ujar Varo yang heran kenapa dirinya diajak bertemu oleh Ferel.


" Sebenarnya sederhana aja " Ucap Ferel. Farel menghela nafasnya. " Lo kan yang laporin Keyla ke polisi? " Tanya Ferel dengan wajah yang serius menatap Varo.


Varo tersenyum smrik. " Yap. Bener! " Ucapnya tanpa ada rasa bersalah.


Hawa dingin sudah terpancar antara keduanya. " Gue mau lo cabut tuntutan lo " Ucap nya tanpa basa - basi dan langsung pada intinya.


Varo tampak berfikir. " Kalau... misalkan gue ngak mau gimana? " Tanya Varo dengan nada yang menantang.


Ferel membuang pandangannya. " Gue mau lo cabut tuntutan itu! " Ucap Ferel mengulangi ucapannya dengan nada yang ditekan.


" Gue ngak mau! " Ketus Varo dengan gaya bicara yang angkuh dan tububnya bersandar pada kursi lalu tangannya menyilang didada.


" Varo!. Apasusahnya si lo cabut tuntutan lo! " Kata Ferel menekan setiap kata - kata yang keluar dari mulutnya.


" Sebenarnya gampang. Tapi ngak seberapa sama apa yang dilakuin Keyla sama sepupu gue " Jawab Varo santai lalu menyeruput minumannya dan kembali lagi diposisi nya bersandar pada kursi serta menyilangkan kedua tangannya didada.


" Tapi kan sepupu lo ngak apa - apa! " Bentaknya. Dibawah meja tangan Ferel sudah mengepal mencoba menahan amarahnya selama ini.


Brak! Varo mengebrak meja. Sontak saja suasana caffe yang sedang ramai menjadi sunyi seketika karena Varo membentak meja. " Heh! lo bilang ngak apa - apa!. Lo liat! gimana cara Keyla untuk paksa adek gue ditidurin sama cowo brengsek! " Teriaknya sambil menunjuk kearah Ferel.


" Gue tau! tapi sepupu lo baik - baik aja kan! " Teriak Ferel tak kalah dari teriakan Varo.


Pelayan Caffe sudah takut untuk menegur Ferel dan Varo yang sedang adu mulut. " Memang dia baik - baik aja! tapi lo tau bagaimana kondisi dia disaat itu?! " Bentak Varo tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Ferel.


Ferel menarik nafasnya dalam - dalam lalu membuangnya dengan kasar tangannya mengepal kuat. " Cara apa yang bisa gue lakuin supaya tuntutan Keyla bisa di cabut? " Tanya Ferel dengan nada yang sudah normal, dirinya berfikir masalah ini harus dihadapi dengan kepala dingin.


~ Bersambung ~