My Husband This Is My CEO Season 1

My Husband This Is My CEO Season 1
44



" Saya jadi pacar kamu boleh? " Tanya Rangga dengan tatapan yang serius.


Tasya bingung dengan ucapan bosnya entah ini sebuah candaan belaka atau keseriusan luar biasa pikir Tasya. Tasya tersenyum lalu tertawa renyah menghilangkan situasi cangguh yang sedang terasa.


" Selain bapak bisa dalam dunia bisnis, ternyata bapak bisa ngelawak juga ya. Woahhh! " Kata Tasya mengalihkan topik pembicaraan.


Rangga yang mendengar hal itu hanya bisa tersenyum canggung karena dirinya sadar ternyata dirinya sudah ditolak secara halus kali ini. Ya, walaupun Tasya tidak mengungkapkan kata yang semestinya.


" Tasya!! " Panggil Winda dari kejauhan sambil berjalan mendekati Tasya. Saat Winda melihat ada bosnya disitu Winda langsung membungkuk memberi hormat dan Rangga tersenyum menanggapinya.


" Kenapa mbak? " Tanya Tasya.


" Bisa ikut mbak sebentar, soalnya ada sedikit masalah " Ucap Winda memberitau.


Setelah Tasya menyetujui ajakan Winda, Tasya pergi dengan Winda setelah sedikit membungkuk memberi hormat kepada bos nya.


Rangga hanya menghela nafasnya ketika sudah melihat Tasya pergi dengan Winda. " Mungkin sekarang bukan saatnya " Gumam Rangga.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Masih dengan rutinitas kemarin dimana Tasya dan Rangga pergi kehotel tempat meeting dilakukan, jam sekarang menunjukan pukul sebelas. Ya, hanya berjarak beberapa jam lagi untuk jam makan siang.


Memang meeting untuk hari kedua dihari Rabu ini sedikit terlambat, karena diperusahaan RJA Group dari pagi buta diadakan persiapan untuk hari ulang tahun perusahaan oleh beberapa karyawan yang bertugas sebagai panitia.


Jadi agak sedikit sibuk dan terpaksa harus menunda jadwal.


Setelah sampai dihotel Tasya dan Rangga langsung turun dan masuk kedalam hotel. Banyak para karyawan hotel yang membungkuk ketika Rangga dan Tasya datang karena tindakan itu sebagai tanda hormat.


" Pak, saya bisa izin sebentar? soalnya ada sesuat hal " Ucap Tasya bertanya sambil menyeimbangi langkah kakinya dengan Rangga.


Rangga yang mendengar permintaan itu langsung memberhentikan langkahnya, dan menatap Tasya dengan bingung. " Mau kemana? " Tanya Rangga.


" Saya mau keresepsionis sebentar pak " Jawab Tasya sambil memasang senyum nya.


" Untuk apa? kan kamu tau tempat ruang meetingnya " Kata Rangga menatap Tasya dengan tatapan yang mengintimidasi sekertaris nya saat ini.


" Aa.. itu. Iya, saya tau pak. Tapi ada hal lain yang tidak bisa saya katakan " Ujar Tasya yang sedikit gugup karena dirinya merasa terintimidasi.


" Baiklah, jangan terlambat, karena waktu untuk meeting hanya sedikit! " Ucap Rangga memperingati Tasya kemudian tersenyum yang memberikan arti mengizinkan.


" Terimakasi pak! " Ucap Tasya lalu membungkuk memberi hormat dan berjalan kearah resepsionis, Rangga masih terus memantau sekertaris nya dari tempat yang sama.


Dari arah belakang datang lah seorang pria bersama empat orang lainnya. Pria itu menepuk - nepuk pundak Rangga. " Wahhhh, cantik banget ya calon istri gue hari ini " Ujar Zergan yang datang tiba - tiba.


Rangga yang ditepuk pundaknya oleh Zergan langsung membersihkan bekas tepukan dipundaknya itu. " Kalo ngomong jangan ngelantur dong! " Sindir Rangga.


" Ck, ngelantur lo bilang? " Ucap Zergan mengangkat alisnya sambil melihat wajah Rangga yang sedang kesal dengan dirinya. Tawa Zergan terdengar seketika dan hal itu membuat kuping Rangga pengang.


" Lo kalo ketawa jangan deket kuping kenapa sih! " Ketus Rangga yang tidak suka.


" Sorry, sorry.. itu ketawa jahat gue. Ya.. karena gue yakin dalam waktu dekat ini, Tasya akan jadi pacar gue! " Ucap Zergan terlalu percaya diri dengan ucapan yang baru diucapkan oleh dirinya.


Rangga hanya berdecih saja, seolah menganggap omongan Zergan hanya angin lalu yang tidak perlu dipikirkan.


" Maaf pak, sepuluh menit lagi meeting akan dimulai " Ucap Sekertaris Zergan memberitau bosnya setelah memperhatikan jam tangan yang terpasang ditangannya


" Baiklah " Zergan pun berlalu pergi bersama beberapa anggota teamnya. Namun dirinya lupa akan sesuatu akhirnya dirinya berbalik kearah Rangga. " Kalian jalan saja duluan " Ujar Zergan kepada anggota teamnya karena dirinya diperhatikan oleh anggota team saat dirinya berbalik arah.


" Baik pak " Jawab sekertaris Zergan yang mewakili. Mereka semua pun akhirnya pergi kearah ruang meeting.


Rangga yang melihat Zergan berbalik dan menyusul dirinya hanya bisa mengerutkan keningnya. Bingung? Jelas! apalagi kalau bukan bingung. " Mau ngapain lagi lo! " Ketus Rangga terhadap Zergan yang sudah beridiri tegak didepannya.


Zergan nampak pura - pura berfikir lalu menjentikan jarinya didepan wajah Rangga. Rangga hanya bisa bingung dengan kelakuan rekan bisnisnya, eehhh... bukan bukan lebih tepatnya adalah musuhnya.


" Ngapain sih lo? " Tanya Rangga bingung.


Zergan tersenyum jahil. " Cuma mau bilang gini aja sih. Kalau ternyata takdir tuhan bilang Iya untuk kisah gue sama Tasya, maka jangan harap ada larangan bilang Tidak untuk akhirnya " Kata Zergan sambil memasukan kedua tangannya kedalam kantong celana dan memakai kaca mata hitam yang diambilnya tadi didalam kantong celana.


" Good luck man! " Zergan pun langsung berlalu pergi meninggalkan Rangga dengan gaya coolnya. Ingin rasanya dirinya tertawa lagi setelah memperhatikan ekspresi Rangga yang terkejut dengan perkataannya tadi. Namun dirinya berusaha cool untuk menjaga harga dirinya.


...********************...


Jam makan siang sudah datang. Terdengar suara perut Tasya yang keroncongan saat sedang berjalan menuju restoran hotel. " Sabar cacing! Makanan sebentar lagi akan datang " Ucap Tasya berbicara dengan perutnya.


Setelah mengambil makanan Tasya langsung duduk dikursi meja makan restoran terlihat dimeja makan itu belum ada yang mengisi. Baru saja dirinya akan menyuapkan sesendok nasi dan udang kedalam mulutnya namun terdengar suara kursi yang tertarik didepannya.


" Gue makan disini ya? kan kesian juga kalau lo makan sendiri " Ucap Varo langsung mendudukan dirinya dikursi.Tasya hanya diam mengangguk memberi jawaban dan melanjutkan makanan yang sudah ditaruh disendok.


Terdengar dari bagian pengambilan makanan dua orang pri berdebat memperebutkan sesuatu.


" Heh gue yang ambil itu duluan! " Ketus seorang pria yang tak terima puding miliknya diambil.


" Ck, miskin banget hidup lo! tinggal ngambil yang lain aja padahal! " Ketus pria yang lainnya tak kalah sengit.


Pelayan restoran yang melihat dua orang pria yang dari tadi memperebutkan sebuah puding langsung angkat bicara karena perkelahian mereka dilihat oleh tamu yang sedang makan ditestoran itu. " Maaf tuan, bukannya saya mau ikut campur, tapi.. anda bisa mengambil puding yang lainnya " Ujar pelayan itu memberitau.


" Noh denger! " Ketus Rangga dan menatap Zergan dengan tatapan menyebalkan. Ya, yang sedang berkelahi memperebutkan puding itu adalah mereka berdua yaitu Zergan dan Rangga.


" Ngak, gue ngak mau!. Gue maunya yang itu! " Ketus Zergan yang tidak mau mengambil puding yang lainnya padahal jumlah puding masi banyak.


" Terserah lo, males gue ladenin orang yang asalnya dari pluto! " Ejek Rangga dan langsung pergi meninggalkan Zergan, saat ini dirinya sangat malas berdebat karena dirinya sudah lapar. Dan yang paling penting! lapar itu tidak bisa ditunda!.


Rangga langsung duduk dikursi kosong yang ada dimeja makan tempat Tasya dan Varo makan. " Geser sana! " Suruh Zergan untuk Rangga pindah kesamping Varo.


" Enak aja! Gue yang duluan dateng, kenapa gue harus pergi! " Ketus Rangga yang tidak mau disuruh pindah untuk duduk kesamping Varo. Dirinya sengaja duduk disamping sekertaris nya Tasya, karena dirinya akan berusaha meluluhkan hati Tasya mulai detik ini!.


Tasya yang sudah jengah karena waktu makan siangnya terganggu memilih untuk berdiri dari duduknya " Sudah - sudah! jangan berdebat lagi, Biar saya saja yang pindah " Ucap Tasya.


Sebelum Tasya melangkah tangannya dipegang oleh Rangga. " Duduk! ini perintah! " Kata Rangga sambil menyuruh Tasya duduk dengaan lirikan matanya.


" Sudah duduk! jangan mau dipengaruhi sama dia! " Ucap Rangga yang memandang sinis Zergan, Sementara Zergan yang dipandang seperti itu hanya menatap Rangga dengan tatapan tidak suka.


Perasaan tidak senang tegambar diwajah Zergan saat Rangga memegang tangan Tasya, Zergan hanya bisa menyebikan bibirnya kesal. Zergam menghela nafasnya. " Sudah kamu duduk saja. Biar saya duduk disamping pak Alvaro " Ucap Zergan yang mengalah, dan mengakui dirinya kalah kali ini oleh Rangga. " Cuma sekali doang besok ngak! " Ucap batin Zergan sambil menatap Rangga.


Tasya akhirnya duduk kembali ditempatnya setelah Zergan berkata seperti itu.


...********************...


Kini sore telah tiba. Tasya meregangkan otot otot tangannya. Dirinya sudah tidur setelah pulang meeting dan kini jam sudah menunjukan pukul enam sore. Ya, perusahaan RJA Group memajukan lebih cepat jadwal pulang karyawan untuk hari ini karena malam ini akan ada acara ulang tahun kantor.


" Bunda nanti ke RJA Group kan sama ayah? " Tanya Tasya sembari menuruni anak tangga rumahnya dan berbicara kepada kedua orang tuanya yang terlihat duduk disofa ruang tamua.


Bunda Tasya yang sedang mengupas apel dan mendengar pertanyaan anaknya langsung memberhentikan sejenak aktivitasnya. " Iya, bunda sama ayah pergi. Mau barengan berangkatnya? " Tanya bunda Tasya dan langsung memakan apel yang sudah bebas dari kulitnya.


" Yah bund, apel ayah mana? " Ucap ayah Tasya yang kecewa saat melihat istrinya memakan apel tanpa memotong dan memberinya potongan apel.


Bunda Tasya yang mendengar hal itu hanya bisa tersenyum tanpa rasa bersalah dengan mulutnya yang sedang mengunyah buah apel. " Maaf " Kata bunda Tasya masih dengan memasang senyumnya.


Tasya yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya saja. Menurutnya itu adalah hal yang romantis. " Ngak deh bund, entar Tasya bareng abang aja " Ujar Tasya lalu membuka kulkas dan mengambil air minum gelasan dikulkas.


Tasya yang harus berangkat lebih awal dari jadwal ulang tahun kantor nanti malam memutuskan berangkat setengah jam lebih cepat agar dirinya bisa membantu karyawan serta staf yang lain dalam mempersiapkan acara.


Nampak Varo yang sedang duduk dikursi untuk para tamu hanya diam sambil memainkan ponselnya saja, dirinya tidak keberatan bahwa harus menunggu Tasya setengah jam sebelum acara dimulai.


Jam sudah menunjukan pukul delapan malam nampak terlihat para tamu undangaan serta karyawan yang lain datang dengan pakain terbaik mereka. Gosip yang berhembus kemarin sudah hilang karena kemarin Rangga memarahi para karyawannya yang berani menggosipkan Tasya dan juga termasuk Meta, Meta tidak dipecat melainkan masih dipertahankan karena Rangga memberikan toleransi kali ini.


Tasya yang baru saja mengganti pakainnya dari pakaian casual menjadi gaun indah nampak bercahaya saat baru keluar dari dalam ruangan CEO, tempatnya menganti pakain. Bukan didalam ruangannya maksudnya tapi didalam toilet yang ada diruangan CEO.


Rangga yang baru saja datang, mencari sekertaris nya Tasya kesana kemari. Namun langkahnya terhenti saat melihat Tasya yang sedang menuruni anak tangga.


" Ayo kita menyambut para tamu " Ujar Rangga bersemangat sambil mengulurkan tangannya saat Tasya baru saja menuruni anak tangga paling bawah. Tidak lupa dengan menampakan senyumnya yang menawan juga


Tasya hanya tersenyum saja dan tidak menanggapi uluran tangan Rangga. " Ayo pak " Balas Tasya lalu berjalan mendahului Rangga.


Ada sedikit rasa kesal saat uluran tangannya tidak ditanggapi. " Ngak papa, ini baru awalnya. Dan belum akhirnya " Gumam Rangga menyemangato dirinya dan memasukan tangannya kedalm kantong celana.


...*******************...


" Selamat datang tuan Adimaja " Ucap Rangga dan Tasya yang ikut menyambut hanya tersenyum saja.


Plak, satu pukuran mendarat ditangan Rangga. " Sok - sok an pake kata tuan, inget ini papa mu! " Ketus Adi yang mendengar anaknya berkata seperti itu. Rangga yang dipukul hanya bisa mengelus tangannya saja.


" Suka banget sih, mukul anak nya! " Ketus Rangga tidak senang. Tasya yang melihat itu hanya bisa tersenyum sambil menahan tawa saja, sementara mama Erina juga sama halnya dengan Tasya.


" Biarin! " Balas Adi dan langsung berjalan kearah para rekan bisnisnya yang sedang berkumpul.


Tasya yang melihat dipintu kedatangan ada Farel dan Keyla datang langsung memberitau bosnya. " Pak, itu ada nona Keyla dan pak Ferel " Setelah Rangga diberitau mereka berdua langsung datang menyambut dua sejoli yang beberapa bulan lagi akan menikah.


" Apa kabar bro! " Sapa Rangga sambil bertos ria dengan Ferel.


" Baik " Balas Ferel.


Saat melihat Keyla disampinya Ferel, Rangga langsung menyapa. " Hai Key! " Sapa Rangga.


" Hai " Balas Keyla. Keyla yang melihat ada Tasya disitu langsung menyapa tapi tidak ada raut wajah ramah yang dinampakannya. " Hai " Ucap Keyla menayapa Tasya.


Tasya hanya tersenyum sambil mengangguk saja dengan membalas Keyla, dirinya merasa canggung saat ini.


" Ferel, gue mau ambil minum dulu ya! lo sama Rangga aja " Ujar Keyla lalu berlalu pergi setelah Ferel mengangguk setuju.


Semua tamu undangan serta para karyawan telah duduk dikursi mereka masing - masing, Rangga yang sudah naik kepodium langsung berbicara menyampaikan rasa terimakasinya kepada tamu undagan yang sudah datang, bukannya hanya rasa terimakasi tapi dirinya juga menyampaikan kata - kata tentang perusahaan nya.


" Ah iya, ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan sebelum saya turun dari podium ini " Ujar Rangga sambil menatap wanita yang sedang memakai gaun warna unggu lilac dengan sedikit warna putih yang dihasilkan payet.


Lampu diacara itu mati seketika, para tamu riuh bertanya mengapa lampu bisa mati padahal lampu jalanan saja menyala saat dilihat dari kaca bening yang menjadi pondasi gedung kantor.


" Untuk sekertaris saya, Anastasya Amanda silahkan naik kepodium " Kata Rangga sambil tersenyum hangat.


Semua tamu undangan pun langsung melihat kearah Tasya saat dirinya dipanggil karena bersamaan dengan dirinya dipanggil lampu berwarna putih menyorot dirinya sendiri yang sedang asik minum sambil memperhatikan bosnya.


Tasya yang mendengar itu langsung tersedak minuman yang diminumnya saat namanya dipanggil oleh bosnya. " Saya? " Tanya Tasya tanpa suara sambil menunjuk dirinya tidak percaya bahwa dirinya dipanggil.


" Iya kamu! " Ucap Rangga meyakinkan sambil tersenyum.


Bunda Tasya yang saat ini berada satu meja dengan dirinya hanya bisa tersenyum mengangguk ketika Tasya memandang dirinya. " Maju aja sana " Ucap bunda Tasya.


Dengan gugup dan canggung Tasya berjalan kearah bosnya dengan lampu putih yang setia mengikutinya sambil berjalan. Zergan yang berada disana hanya bisa diam dan berusaha memahami situasi saat ini yang mungkin akan merugikan hatinya.


Tasya telah berada diatas podium, dirinya berusaha tersenyum walaupun senyuman nya tidak menghilangkan rasa gugup yang diraskannya. Kini lampu sudah menyala jadi tidak ada kegelapan lagi disana.


Seorang karyawan pria berjalan kearah podium dan memberikan kotak kecil yang dibungkus kain bludru berwarna biru tua. " Ini pak " Ucap karyawan itu sambil memberikan kotak kecil yang dibawanya.


Para tamu yang melihat itu hanya bisa bertanya - tanya antara satu sama lainnya. Tidak termasuk Zergan yang sudah tau akan ada hal yang akan menghancurkan hatinya.


Rangga menghadap Tasya, kink mereka saling beradu pandang. Tasya yang melihat itu semakin gugup dicampur bingung. Rangga meraih tangan Tasya dan menggenggamnya. " Anastasya Amanda " Panggil Rangga sambil tersenyum dan memandang wajah Tasya yang cantik dibalut make-up.


" Mungkin banyak wa- " Ucapan Rangga terpotong saat dirinya sedang serius menatap Tasya lekat - lekat.


" Maaf pak ada pihak kepolisian yang sedang menunggu bapak diluar " Ucap Satpam yang seketika menghancurkan situasi yang sedang terjadi.


~ Bersambung ~


Udah dipanjangin nih episode nya sampe 2235 kata, author harap kalian puas.


likenya