
Dua hari sudah berlalu kini sudah hari sabtu yang artinya pegawai kantor hanya masuk setengah hari saja.
Jam dua belas lebih dua menit siang hari. Semua pegawai perusahaan RJA Group sedang bersiap siap untuk pulang, dan suasana ditempat parkir kantor sudah ramai karena para karyawan kesan untuk mengambil kendaraannya masing.
Tasya yang masih duduk dibangku taman kantor untuk menunggu jemputan, hanya bisa diam sambi memainkan ponselnya.
Tin.. tin..
Suara klakson mobil yang lewat didepannya. Tasya langsung menoleh kemana arah klakson mobil itu berbunyi. " Pulang bareng yok! " Ajak Rangga dari dalam mobilnya sambil memakai kaca mata hitam.
" Saya sudah ada yang jemput pak " Ujar Tasya.
" Jangan panggil pak, inget kan kalau lagi berdua gini jangan panggil pak " Kata Rangga, Tasya mengangguk mengerti sambil tersenyum.
" Gue anter pulang aja. Jemputannya cancel aja, gimana?... " Tanya Rangga dengan sedikit memaksa dan setelah itu langsung melemparkan senyum menawannya kearah Tasya.
Motor Vario sudah berhenti didedapan mobil milik Rangga. " Tasya..! " Panggil Fahri yang mengendarai motor itu.
Tasya langsung menoleh kearah Fahri setelah dipanggil. Dirinya bangun dari kursi taman. " Maaf ya nga, gue... ngak bisa bareng lo " Ucap Tasya sambil tersenyum lalu pergi berjalan kearah Fahri.
Rangga yang tidak tinggal diam langsung turun dari mobilnya. " Mendingan naik mobil aja adem, dari pada naik motor panas " Bujuk Rangga lagi melihat Tasya yang akan memasang helmnya dan dengan gayanya memasukan kedua tangan kedalam kantong. Tidak lupa juga dengan kaca mata hitam yang masi dipakainya.
Fahri langsung melihat Tasya, dilihatnya Tasya yang melihat Rangga dengan perasaan bingung. " Sayang juga uangnya buat bayar ojek " Ucap Rangga lagi yang sudah salah paham dengan orang yang menjemput Tasya.
Tasya melihat Fahri, Fahri yang dilihat mengisyaratkan dengan anggukan kepala saja kalau dirinya setuju padahal jauh didalam lubuk hatinya tidak setuju sama sekali. " Terserah kamu " Kata Fahri.
Fahri sengaja menganggukan kepalanya karena dirinya merasa benar dengan omongan Rangga, kalau Tasya naik motor dengannya pasti kepanasan, belum lagi ini kan sudah memasuki siang hari. Fahri merasa sudah kalah saing dengan Rangga.
Tasya bimbang. Jika dirinya ikut dengan Rangga memang benar kalau dirinya tidak akan kepanasan, akan tetapi.. kalau dirinya ikut Fahri dirinya merasa tidak enak dengan Rangga apalagi Rangga memintanya untuk ikut sampai turun dari mobil.
" Gimana? " Tanya Tasya kepada Fahri dengan tatapan bingung nya.
" Terserah kamu " Jawab Fahri lalu tersenyum.
Tasya semakin bingung dirinya meremas tali helm kuat. Tasya menghembuskan nafasnya. " Gue.... gue... " cep! saat bingung memilih antara Fahri dan Rangga suara tidak asing didengarkan oleh telinganya. Bagaikan malaikat tanpa sayap orang itu telah menjadi penolong Tasya.
" Tasya..! " Panggil orang itu sambil melambaikan tangan nya.
Nama Tasya yang dipanggil membuat tiga orang itu menoleh kearah sana.
Tasya tersenyum lega. " Duh... maaf ya, gue.. mau pulang sama abang aja. Sorry.. oh iya " Tasya memberikan helmnya kepada Fahri lalu mencari dompetnya didalam tas, dikeluarkan uang dua puluh ribu dan langsung diberikan kepada Fahri. " Ini uang nya, dan maaf.. kalau gue ngak jadi pulang sama lo. Emm.. Rangga gue pulang dulu ya " Ucap Tasya lalu setekah itu langsung berjalaan kearah abangnya dengan langkah cepat.
Varo yang sedang senyum kepada Tasya langsung didorong masuk kedalam mobilnya. " Woiii... Woiii.. " Kata Varo yang tidak mengerti dengan perbuatan sepupunya.
" Udah.. masuk aja! " Tegas Tasya lalu menutup pintu mobil Varo dan dirinya memutar kearah kiri untuk masuk melalui pintu bagian kiri. Sekarang Varo dan Tasya sudah masuk dan duduk dikursi belakang.
" Pak cepet jalan pak! " Suruh Tasya kepada supir Varo.
" Iya nona " Ucap pak supir dan langsung tancap gas.
Setelah dilihatnya mobil Varo berjalan, Fahri dan Rangga saling tatap ketika akan pergi mengendari kendaraannya masing - masing. Dari tatapan itu Fahri menyimpulkan bahwa Rangga tidak suka dengan nya. Walaupun Rangga memaka kaca mata hitam tetap kelihatan bagaimana tatapan tidak sukanya.
Mobil Rangga lebih dulu berjalan. " Kasep pisan " Ucap batin Fahri yang iri dengan ketampanan yang dimilik Rangga
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tasya membuka matanya, tapi tidak menolehkan pandangannya ke Varo, tatapannya hanya lurus kedepan menatap jalanan lewat kaca jendela.
Tasya tidak menjawab pertanyaan Varo. " Kamu kenapa sih sya? " Tanya Varo sekali lagi.
Namun masih sama seperti tadi, tidak ada jawaban sama sekali. Varo kesal karena tidak dijawab. " Sumpah ya, sebenarnya kacang itu mahal. Tapi kalau dikacangin orang nya yang diajak ngomong itu sok jual mahal! " Ketus Varo menyindir Tasya.
" Aaarrrghhh.. " Tasya terik sambil mengacak - ngacak rambutnya. Lantas Varo dan supirnya kaget dengan apa yang Tasya lakukan. Supir Varo tidak berani bertanya dirinya melihat Tasya dari kaca kecil yang tergantung dimobil.
Varo sudah memojokkan dirinya kepintu karena kagat saat mendengar Tasua berteriak. " Tasya sehar ngak sih? " Tanya Varo dalam hatinya.
" Abang.... gue bingung " Ujar Tasya dengan nada lirih sambil menatap Varo dengan tatapan sedihnya dan rambut acak - acakkan.
Varo mengernyitkan keningnya. Varo membenarkan posisinya seperti awal, dirinya berdeham untuk mengembalikan statusnya sebagai pria yang berwibawa. " Bingung kenapa? " Tanya Varo sambil melihat Tasya.
" Kenapa resiko jadi orang cantik itu berat " Ucap Tasya lalu menghela nafasnya.
Ingin rasanya Varo tertawa mendengar apa yang Tasya Ucapkan. " Ih.. sok kecantikan banget sih.. " Ucap Varo sebal dalam hatinya.
" Terus kenapa... kalau jadi cewek itu direbutin! emangnya gue ayam apa! " Ucap Tasya kesal.
" Ya wajar namanya juga perempuan. Tapi... gue heran deh... dari mana lo cantik? " Tanya Varo lalu memegang wajah Tasya menggunakan dua telapak tangannya.
Tasya menghempaskan tangan Varo kencang, dirinya berdecih. " Dari bayi, gue udah cantik! " Ketus Tasya.
" Iya deh iya... terserah Tasya aja " Ucap Varo yang malas berdebat.
Beberapa menit perjalanan tidak terasa, sekarang mobil sudah memasuki perumahan tempat Tasya tinggal. " Nona, kita sudah sampai " ucap Supir berhenti didepan rumah Tasya.
Tasya langsung menoleh keluar dari dalam mobil. " Mau mampir dulu ngak? " Tanya Tasya terhadap Varo.
" Ngak deh, mending gue pulang aja. Mau tidur soalnya " Ujar Varo. Lalu Tasya mengangguk mengerti dan turun dari mobil. Setelah itu mobil milik Varo sudah pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Minggu, satu kata untuk hari yang enak dimanfaatkan untuk berlibur. Hari ini jam menunjukan pukul sembilan pagi Tasya yang baru bangun dari tidur nya langsung membuka gorden kamarnya dan pergi kekamar mandi.
Setelah dua puluh menit dikamar mandi, Tasya keluar menggunakan kimono mandinya. Dilihatnya ponselnya yang berdering diatas nakas. " Nomor yang tidak dikenal " Gumam Tasya melihat nama penelpon di ponsel miliknya.
" Hallo " Ucap Tasya mengangkat telepon.
Hening, tidak ada jawaban dari sambungan telepon itu. " Hallo " Ucap Tasya sekali lagi.
" Hallo " Jawab sipenelpon dari sambungan telepon itu, terdengar suara pria yang menjawab ucapannya.
" Ini siapa ya? " Tanya Tasya.
Hening, lagi dan lagi tidak ada jawaban. Tasya berfikir entah ini adalah ulah iseng seseorang yang asal memencet nomornya atau orang lain yang sudah mengenalnya.
Namun, Tasya rasa suara ini pernah didengar nya. Tapi dimana ya?.
" Kalau salah sambung saya matikan " Ucap Tasya, belum saja tombol telepon itu dipencet sudah terdengar suara sipenelpon dari ujung sana.
~ Bersambung ~