
" Boleh saya bicara sama kamu " Ujar Ferel yang menjadi tamu Tasya malam ini.
Tasya mengangguk. " Aaa... iya - iya pak. Mari.. " Ucap Tasya mempersilahkan Farel dengan tangan nya.
Setelah itu Farel masuk dan langsung duduk disofa yang berada diruang tamu. " Saya buatkan minuman dulu ya pak " Ujar Tasya.
" Eh.. Jangan - jangan. Saya cuma sebentar aja kok " Ucap Ferel melarang Tasya. Tasya mengangguk, Lalu Tasya kembali berjalan kesofa dan duduk.
" Sebenarnya ada tujuan apa bapak datang kerumah saya? " Tanya Tasya dengan bahasa formalnya.
Ferel tidak ingin berlama mengutarakan maksud dan tujuannya. Yang dia inginkan dari kedatangan nya ke rumah Tasya hanya jawaban setuju saja. " Mungkin kamu belum lihat vidio ini " Ucap Ferel lalu mengeluarkan ponselnya dari kaantong celana.
" Kamu bisa liat ini dulu, sebelum saya memohon sama kamu " Lanjutnya lagi lalu memutar vidio rekaman cctv yang sudah disalin keponselnya.
Rekaman Cctv telah diputar. Dirinya melihat disana kalau ada Keyla dan tetangganya Natalie. " ini kan.. " Ucap Tasya sambil menunjuk ponsel Ferel dan melihat Ferel yang kemudian menjawabnya dengan anggukan.
Tasya menutup mulutnya tidak percaya. " Jadi begini kejadian nya. Tapi.. kenapa tiba - tiba ada Rangga disana? " Ucapnya dan bertanya didalam hati.
Vidio cctv telah selesai untuk ditonton. " Pasti kamu sudah tau apa alasan saya datang kesini " Ucap Ferel sambil melihat Tasya dengan penuh harap.
Tasya mengangguk, dirinya sudah bisa memahami situasi sekarang. Memang, dari kejadian yang menimpanya ingatannya tentang hari itu sediki saja. " Tapi pak bukan saya yang melaporkan nona Keyla " Ujar Tasya.
" Bukan. Bukan. Saya tidak menuduh kamu. Tapi saya ingin kamu membantu saya " Ujar Ferel yang ternyata Tasya seidkit salah faham dengan maksudnya.
Tasya mengernyitkan keningnya. " Membantu? " Tanya nya.
" Iya, tolong bantu saya untuk membujuk Varo agar tuntutan Keyla bisa dicabut. Karena waktu untuk sidang Keyla tinggal tiga minggu lagi " Ujarnya sambil menatap Tasya dengan tatapan yang pasrah dan berharap Tasya akan membantu dirinya.
" Tapi pak saya- " Sebelum ucapan nya berlanjut Ferel sudah duduk bersimpuh didepannya. " Duh.. kok jadi gini sih.. " Ucap batin Tasya.
" Saya mohon... cuma kamu satu - satunya cara agar Keyla bisa bebas " Ucap Ferel memohon sambil mengatupkan kedua tangannya dan menatap Tasya dengan tatapan serius. Sumpah demi apa, harga diri Ferel sudah turun kali ini. Baru kali ini dirinya memohon dengan perempuan apalagi dengan caranya bersimpuh sambil mengatupkan tangannya.
" Pak.. bapak ngak perlu kaya gini " Kata Tasya tidak enak karena Ferel sampai bersimpuh dan memohon kepadanya.
" Saya perlu. Karena dengan cara ini mungkin kamu bisa membantu Keyla " Ujar Ferel berbicara dengan nada lirih namun masih dengan gayanya yang memohon dan bersimpuh.
Tasya kasihan dengan Ferel. Melihatnya yang memohon dan bersimpuh dihadapannya. " Pak, bapak berdiri dulu. Saya enggak enak sama bapak kalau kaya gini " Kata Tasya sambil membantu Farel berdiri dari posisinya.
" Saya enggak akan berdiri, sebelum kamu bersedia membantu saya. Saya mohon Tasya.. saya mohon.. " Kata Ferel dengan lirih dan diam diposisinya.
Tasya menghela nafasnya. " Memang ya.. yang namanya cinta itu semua akan dilakuin " Ucap batin Tasya yang tidak tega melihat Ferel seperti ini.
" Oke.. saya akan lakuin seperti yang bapak minta " Kata Tasya sambil melihat Ferel.
Ferel bangkit dari gayanya tadi. " Kamu janji akan bantu saya? " Ucap Ferel menatap Tasya dengan serius.
" Iya pak, saya janji " Jawab Tasya sambil mengangguk dan melihat Ferel dengan serius.
Farel lega selega - leganya. Sekarang dirinya berharap Tasya akan menepati janjinya. " Terimakasi.. terimakasi " Ucapnya sambil menggenggam tangan Tasya.
" Duh.. kok jadi gini sih " Ucap batin Tasya yang tidak enak karena Ferel menggenggam tangannya kuat. Tasya kemudian melepas genggaman Ferel.
Ferel pun pulang dengan membawa harapan besar terhadap Tasya yang sudah mau menerima apa yang diminta olehnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Siang hari ini sangat terik dan panas seperti kemarin. Tasya telah membuat janji dengan Varo dicaffe dekat kantornya.
Tasya lebih memilih memainkan ponsel nya dan menyantap makanan serta minuman yang sudah dipesannya saat menunggu Varo datang.
Suara lonceng caffe berbunyi. Pelayan menyambit Varo dengan ramah. " Selamat datang tuan " Ucap pelayan caffe itu sambil tersenyum ramah dan dibalas senyuman oleh Varo.
Tasya yang melihat Varo sudah datang langsung menaruh ponselnya dimeja dan mengaktifkan mode diam agar tidak ada yang menganggu. Varo menarik kursinya dan langsung duduk.
Makanan untuk Varo juga sudah ada dimeja, tadi Tasya yang memesannya. " Tumben banget ngajak makan siang. Ada apa ni? " Tanya Varo lalu menyeruput minumannya.
" Abang makan aja dulu. Pasti laper kan? " Tanya Tasya menebak sambil melihat wajah Varo.
Varo tersenyum cengengesan. " Ih.. tau aja lo " Ucap Varo membalas dan langsung memakan makanannya.
" Sebenarnya gue datang kesini karena ada hal penting yang harus gue omongin, bang. Kata Tasya disela - sela Varo yang sedang memakan makanannya.
Varo meminum air putih yang juga ada dimeja. " Hal apa? " Tanya Varo bingung dan menatap Tasya dengan tatapan selidik.
" Ini tentang Keyla, tunangan dari Ferel " Ucap Tasya.
Varo yang mendengar tentang hal itu langsung berdecak. " Ngak ada nyerahnya ya.. tu orang! " Gumam Varo geram terhadap Ferel, yang tidak mau kejahatan Keyla dibalas dengan bayaran yang setimpal.
" Ngapain sih lo! mau aja jadi alat untuk minta maaf Ferel! " Ucap Varo dengan nada ketus.
" Abang.. gue bantu Ferel itu karena kasihan. Bukan seolah untuk jadi alatnya " Ucap Tasya yang mengelak dan tidak suka dengaan apa yang diucapkan oleh Varo tadi bahwa dirinya adalah alat.
" Iya, lo kasihan sama mereka. Tapi lo ngak liat gimana keadaan lo pada saat itu! " Ucap Varo ketus.
Tasya menghela nafasnya dirinya sudah mengira bahwa akan seperti ini. " Kita jadi orang baik untuk orang yang sudah jahat sama kita ngak papa bang. Semua orang bisa berubah " Ucap Tasya memberi pengertian.
" Tau dari mana lo kalau Keyla sudah berubah?! " Tanya Varo ketus dan tidak setuju dengan apa yang Tasya ucapkan tadi.
" Semua orang bisa berubah, bang.. " Ucap Tasya. " Ayolah.. jangan fikirin diri sendiri. Gue juga yang sebagai korban sudah maafin, masa lo ngak sih? " Lanjutnya lagi agar Varo bisa setuju.
Varo melihat sepupunya yang selalu melihat orang dengan prinsip hidup ' selama orang bahagia dia juga ikut bahagia '. Tapi dia tidak berfikir bahwa kesusahannya suatu saat tidak diperdulikan.
" Coba deh sya. Lo liat dari sisi lo. Dihari itu lo minum obat tidur yang dosisnya tinggi, sedangkan kalau semenit kemudian lo ngak ditangani lo bisa meninggal karena overdosis " Ucap Varo yang memberikan pengertian agar Tasya mau menimbangi alasannya kembali untuk tidak membantu Ferel dan Keyla.
Tasya berfikir. Memang benar kalau dirinya tidak ditangani semenit kemudian dirinya bisa dinyatakan sudah tidak ada didunia ini. Tapi bundanya dulu pernah berkata. ' Jangan mau egois karena diri sendiri, pikirkan lah orang lain yang mungkin... lebih membutuhkan itu '.
Tasya menarik nafasnya dalam - dalam lalu mengehembuskan nya. Tangan nya mengambil gelas minuman lalu meminum minuman digelas itu. " Kalau salah kan bisa dimaafin. Di dunia Ini banyak orang baik, dan kita akan jadi bagian dari orang baik itu kalau mau maafin mereka " Kata Tasya dengan tatapan nya menatap Varo serius.
Varo membuang pandangannya.
~ Bersambung ~