My Husband This Is My CEO Season 1

My Husband This Is My CEO Season 1
65



Jauh setahun yang lalu dinegara yang terkenal sebagai rumah mode dunia, Italia.


Morena cayle. Itulah nama model yang tahun ini sedang naik daun dibicarakan. Morena adalah model yang lahir dari negara paman sam, Amerika.


Morena adalah juara pertama, Amerika top model's. Semenjak mengikuti ajang bergensi itu Morena menjadi terkenal dikalangan modeling. Banyak agensi yang mau merekrut dirinya.


Namun pilihannya jatuh pada agensi yang berada di London, Inggris. Hari pertamanya di agensi model itu dilalui dengan perasaan senang, karena dirinya sangat dipuji - puji oleh pemilik agensi tersebut.


Didepan gedung agensi itu Morena disambut dengan karpet merah yang panjang menutupi ubin sampai kedalam. Diujung karpet merah itu terlihat sipemilik agensi, namanya adalah Mr. George.


" Wah... lihatlah. Bintang kita datang..! " Seru pemilik agensi itu sambil bertepuk tangan kemudian para staf agensi itu juga ikut bertepuk tangan menyauti George.


Morena tersenyum begitu mendengar pujian yang terlontar dari mulut pemilik agensi itu. " Terimkasi.. atas pujiannya, tuan. " Ujar Morena berterimakasi.


Setelah dirinya disambut, Morena disuruh untuk masuk kedalam ruangan CEO agensi yang baru saja merekrutnya. " Saya permisi tuan " Ucap staf OB setelah mengantarkan dan menaruh dua cangkir teh diatas meja.


George mengangguk mengiyakan izin yang OB itu ucapkan. " Ayo silahkan diminum tehnya " Ucap George mempersilahkan Morena meminum tehnya. Morena mengangguk sambil tersenyum elegan kemudian dirinya meminum teh itu.


Perbincangan mereka berdua terus berlanjut. Suasana antara George dan Morena seperti bisa saja, tenang hanya untuk membicarakan hal yang berkaitan dengan karir Morena kedepannya.


Bulan dan jam terus berjalan, karir Morena di London pun terus meningkat pesat. Tapi dirinya tahun ini akan, dijadikan brand ambasador salah satu produk ternama di Italia. Pesawat menuju Roma, Italia sudah terbang mengarungi awan.


Disaat ini lah tahap Morena sebagai modeling tingkat dunia di mulai, dimana dirinya akan menjadi brand ambasador fashion termahal didunia. Setelah melakukan beberapa jam perjalan didalam pesawat kini Morena telah sampai di Roma.


Mobil hitam milik brand ternama itu menjemput dirinya. Dari dalam mobil yang berjalan Morena bisa melihat bagaimana indahnya kota Roma. Lima puluh menit perjalan sudah ditempuh, kini mobil hitam yang membawanya sudah terparkir didepan gedung brand ternama itu.


Kaki jenjangnya langsung melangkah masuk kedalam. Kemudian setelah itu langkahnya masuk kedalam ruangan CEO. " Permisi tuan, Morena Cayle sudah datang " Ujar bawahan si CEO pemilik brand ternama.


" Suruh dia masuk! " Perintah CEO itu dengaan gaya bicara yang tegas.


Setelah diperintah seperti itu, Morena masuk dengan kaki jenjang nya. " Senang bertemu dengan anda tuan, saya Morena Cayle " Ujar Morena memperkenalkan dirinya lalu menundukan badannya didepan CEO itu.


Cantik, itulah satu kata yang mengambarkan sosok Morena. Dari ujung kaki sampai atas rambutnya bisa dilihat bahwa Morena adalah model yang pandai merawat dirinya. Senyum ramah terukir diwajah CEO itu. " Senang bertemu dengan mu Morena. Duduk lah " Ujar CEO itu mempersilahkan Morena duduk disofa coklat ruangannya.


Morena duduk disofa itu. CEO itu berdehem. " Pasti kamu sudah tau mengenai kontrak kerja diperusahaan ini. Dan pemotretan majalah kamu kamu akan kita mulai besok pagi, tapi.. untuk fashion show nya... sekitar tiga bulan lagi kita selenggarakan " Ucap CEO itu.


" Baik pak.. saya mengerti " Jawab Morena sambil mengaangguk mengerti.


" Oh ya, satu lagi.. " Kata CEO itu lupa mengenai satu hal. Tangannya bertepuk, dan setelah itu datang lah sekertaris nya. " Berikan dia kunci apartemen " Ujar CEO itu, dan sekertaris nya mengangguk lalu memberikan kunci apartemen yang dimaksud kepada Morena.


Morena menatap heran kepada CEO itu, dirinya tidak mengerti mengapa tiba - tiba dirinya diberikan kunci apartemen. " Ini apa tuan? Dikontrak kan... tidak ada? " Tanya Morena berusaha mencari penjelasan.


" Ah iya.. saya lupa memberitau kamu. Jadi kunci itu adalah kunci apartemen yang saya berikan untuk kamu. Kamu bisa bebas memakai fasilitas apartemen itu, termasuk kamu juga akan diberikan satu buah mobil untuk mempermudahkan pekerjaan kamu " Ujar CEO itu memberitahu yang sebenarnya.


" Jadi.. tuan,... artinya saya boleh menggunakan apartemen yang anda berikan? " Tanya Morena ulang karena tidak percaya.


" Iya " Ucap CEO itu sambil mengangguk. " Tenang. Disana juga tempat para model yang menjadi brand ambasador tinggal " Lanjutnya agar Morenna tidak berpikir macam - macam.


Perusahaan yang menjadikan nya brand ambasador kali ini, memang memberikan fasilitas kepada para model yang bersedia menjadi brand ambasador. Sudah banyak model bahkan para artis dunia yang menikmati tunjangan fasilitas yang diberikan oleh perusahaan ini.


" Wah.. terimakasi tuan.. " Ucap Morena senang sambil tersenyum. Setelah perbincangan itu Morena langsung diantar pulang keapartemen miliknya dengan mobil pribadi yang sudah menjadi haknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Delapan bulan kemudian di kota Roma, Italia. Tiba - tiba saja Morena mendapat kabar bahwa kontrak kerjanya sebagai brand ambasador diputus oleh perusahaan itu secara paksa.


Ini semua didasarkan atas artikel yang entah dari mana datangnya. Artikel itu bertuliskan bahwa Morena ada didalam skandal perselingkuhan anak CEO yang menjadikannya brand ambasador.


Dengan terpaksa kontrak kerja yang awalnya akan berlangsung selama dua tahun diputus. Morena terpaksa harus mengasingkaan dirinya ke negara lain, namun bukan negara kelahirannya yang dipilih melainkan negara lain dimana tempat si sahabat Keyla tinggal, Indonesia.


Kini Morena menetap di Indonesia sudah lebih tiga bulan lamanya. Artikel yang menampilkan berita buruk atau hoax tentang dirinya sudah hilang ditelan waktu. Dan sekarang Morena memutuskan untuk tidak kembali lagi ke negara gladiator, Italia.


Dirinya enggan untuk kembali kesana, karena pasti kalau dirinya kembali lagi kesana, dirinya akan menjadi kambing hitam. Dirinya tidak mau disalahkan oleh berita bohong mengenai dirinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Semenjak Rangga mengantarkan Tasya pulang, Tasya tidak pernah masuk kerja selama tiga hari. Alergi bunga yang dirasakannya masih terasa sampai hari ini. Tapi untung saja kian membaik setiap harinya.


Ponsel Tasya berdering, menandakan ada yang menelponnya. Tasya mengambil ponselnya, saat ini dirinya sedang tidur diatas kasur. " Ngapain lo nelpon gue? " Tanya Tasya kesal waktu tidur siang diganggu.


" Kata bunda lo, lo suka sama ayam geprek. Jadi gue bawain makan siang " Ujar Rangga memberi tau dari sambungan telepon. Posisi Rangga kali ini adalah menunggu Tasya untuk membukakan pintu rumahnya, agar dirinya bisa masuk kedalam mengantar makanan dan makan siang berdua.


" Aduh.. Rangga... gue kan lagi sakit! entar lo ketularan gimana? " Ucap Tasya kesal, karena kenapa si bule korea datang kerumahnya untuk membawakan ayam geprek.


" Ih.. lo mah gitu! gue perhatian bawain ayam geprek, tapi malah ngak suka " Omel Rangga tidak suka bila dirinya dilarang untuk mengunjungi Tasya yang sedang sakit.


Tasya memutar bola matanya malas, kemudian setelah itu dirinya bangun dan berjalan menuju kelantai bawah kemudian. Panggilan telepon dimatikan olehnya. " Ni cewek.. langka banget si.. gue kan niatnya baik! " Kesal Rangga berbicara sendiri.


Setelah itu pintu rumah Tasya terbuka. Terlihatlah Tasya dengan hidung merahnya akibat flu. " Masuk! " Suruh Tasya ketus. Tanpa membuang waktu Rangga langsung masuk kedalam rumah Tasya.


Rangga duduk disofa ruang tamu rumah Tasya. Matanya melihat kearah Tasya yang sedang mengambil piring dan juga gelas. Karena melihat Tasya yang sedikit kesusahan, Rangga menyusul Tasya untuk membantu membawakan peralatan makan.


" Sekalian aja bawain semua " Kata Tasya dan langsung meninggalkan Rangga sendiri untuk membawakan peralatan makan.


Rangga berdecih melihat Tasya sebal. Sungguh kalau dirinya berdekatan dengan Tasya jarang ada namanya kata damai. Ayam geprek dengan sambal matah dimakan oleh Tasya dan Rangga.


" Kok ngak enak ya.. " Ucap Tasya lalu menatap wajah Rangga dan kemudian meminum air putih dalaam gelas.


Rangga yang sedang memakan ayam gepreknya langsung mengerutkan keningnya. " Masa sih? " Ucap Rangga tidak percaya.


" Cobain deh.. menurut gue ngak enak " Ucap Tasya sambil menyodorkan ayam geprek dipiringnya. Rangga yang disuruh seperti itu langsung mencoba ayam geprek milik Tasya, dan setelah dimakan rasanya sama saja.


" Sama aja kok, ngak beda " Ucap Rangga heran kenapa bisa Tasya berkata rasa ayam geprek miliknya tidak enak.


" Kok di gue ngak enak sih,... ah.. atau jangan - jangan.. " Ucap Tasya curiga kepada Rangga sambil menatap Rangga dengan tatapan sinis, dan Rangga yang ditatap seperti itu menelan salivanya. " Lo sabutase ayam geprek gue ya..! " Lanjut Tasya yang over tingking kepada Rangga.


" Sialan ni cewek! heh.. mana mungkin gue sabutase ayam geprek lo! gue kan niatnya baik Tasya... ya, mana mungkin gue bakalan sabutase makanan punya calon istri gue " Jelas Rangga tidak suka dicurigai hal tidak benar tentang dirinya.


" Heh, ngarep banget sih..! " Sindir Tasya agar Rangga berharap tidak pasti.


" Ya ngak papa ngarep. Siapa tau kan nanti harapannya jadi beneran " Cela Rangga dengan percaya dirinya.


Tasya mengelengkan kepalanya lalu berjalan kearah washtaffel untuk mencuci tangannya. Selera makannya sudah hilang karena rasa ayam gepreknya hambar tapi pedas.


" Gue masih nunggu jawaban lo ya sya.. Gue sihh berharap banget lo nya jawab iya. Supaya kita berdua cepet nikah, ya... minimal punya anak lima lah sya " Ucap Rangga sambil melihat Tasya yang sedang mencuci tangannya. Tasya yang mendengar Rangga mengucapkan kalimat akan mempunyai anak lima langsung terdiam seperti patung. Air dikeran washtaffel masih mengalir, dengan cepat Tasya menggelengkan kepalanya.


" Dua bulan loh sya.. gue nunggu selama itu, kapan lo cinta sama gue nya? " Tanya Rangga dengan wajah penasaran.


" Duh.. jangan bahas itu deh.. " Ujar Tasya tidak suka sambil mengelap tangannya dengan tisu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam hari ini terasa dingin, Keyla beserta orang tua Ferel sedang menunggu Ferel yang pulang dari Madrid malam ini.


Terlihat dari kaca - kaca bandara kalau pesawat Ferel baru saja turun setelah terbang dilangit. Keyla menunggu dengan tidak sabaran. Matanya terus melihat kearah pintu dimana para penumpang pesawat keluar.


Calon mertuanya memegang pundaknya. " Keyla.. " Panggil calon mertua nya, yaitu mama Ferel.


Keyla menoleh. " Iya ma, kenapa? " Tanya Keyla sambil tersenyum.


Senyuman Keyla dibalas oleh calon mertuanya. " Sabar sayang.. Ferel pasti ngak akan lupa ingatan kok " Ucap mama Ferel menenangkan Keyla. Karena dirinya tahu saat Keyla bercerita tadi, Ferel lebih dari tiga hari tidak memberinya kabar selama di Madrid, Spanyol.


Maupun itu dengan cara mengirim pesan atau menelpon.


Dari pintu kedatangan penumpang terlihat Ferel bersama sekertaris nya dan beberapa body guard. Ferel terlihat gagah saat berjalan menggunakan kaca mata hitam dan pakaian formalnya. Keyla yang dari tadi menanti Ferel langsung merekahkan senyum leganya.


Ferel terlebih dahulu memeluk kedua orang tuanya dan kemudian setelah itu dirinya memeluk Keyla. " Aku kangen..." Ujar Keyla manja didalam pelukan Ferel. Ferel tersenyum mendengar apa yang diucapkan oleh Keyla tangannya mengelus rambut Keyla.


Keyla mendongak menatap Ferel, namun tangannya masih tetap melingkar erat dipinggang Ferel. Sementara orang lain yang melihat mereka berpelukan langsung pergi meninggalkan mereka berdua karena perintah papa Ferel.


" Kenapa selama tiga hari ngak telpon aku? " Tanya Keyla dengan nada lirih. Ferel yang melihat tunangannya bersikap seperti itu langsung tersenyum, dirinya masih tidak mau memberikan alasan kenapa dirinya tidak menelpon Keyla. Namun tangannya masih setia mengelus rambut Keyla.


" Kita makan malam dulu yuk! entar aku jelasin " Ujar Ferel mengajak Keyla makan malam, dan menyusul kedua orang tuanya yang pasti menunggu mereka berdua direstoran dekat bandara. Keyla langsung mengangguk mengiyakan kemudian setelah itu mereka berjalan menyusul kedua orang tua Ferel.


Sepanjang mereka berjalan, tangan mereka berdua saling menggenggam erat. Seolah tidak mau dilepas, LDR yang dilakukan oleh keduanya selama lima hari membuat mereka berdua rindu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tasya saat ini sedang asik memakan keripik pisang dikamarnya sambil menonton acara televisi yang menayangkan lawakan para artis komedian. Takdir baik kini berpihak kepada Tasya, tadi sore badannya sudah terasa agak baikan, rasa gatal dihidungnya juga sudah tidak ada. Tasya hanya merasakan flu biasa saja, tapi tidak separah kemarin.


Sementara dikediaman Adimaja saat ini sedang ada pesta makan malam, ya.. hanya pesta makan malam biasa. Pesta makan malam kali ini hanya mengundang keluarga Reyhan serta Mia dan Reyhan saja.


Singkat, dipesta makan malam kali ini mereka membicarakan untuk acara tuju bulanan usia kehamilan Mia. Duh... si bumil bentar lagi lahiran nih..


Obrolan makan malam sedikit melenceng dari temanya. Rangga yang sedang asik makan sambil melihat ponselnya tiba - tiba saja langsung tersedak bumbu merica karena ditanyakan hal yang belum bisa dicapainya. " Kamu kapan nikah nga? " Tanya papa Reyhan.


Rangga langsung meminum air putih nya, kemudian setelah itu Rangga memasang senyum diwajahnya. Kalau ditanya soal menikah, Rangga sih.. sudah siap lahir batin. Tapi apa daya siwanita yang diajaknya menikah itu belum memberikan kepastian yang pasti.


" Duh.. om, doain aja ya.. " Pinta Rangga dan semua yang ada dimeja makan tertawa begitu mendengar jawaban yang diucapkan oleh Rangga.


" Om selalu doain kok. Tapi.. kamu nya juga berusaha dong.. " Balas papa Reyhan dengan senyum jahilnya.


Entah kenapa kalau pria ditanyai tentang menikah, perasaannya akan cenat - cenut jeder. Seperti nano yang asam dan manis. Cukup memang untuk menikah diusia Rangga yang sudah menginjak angka dua puluh delapan tahun, tapi balik lagi Tasya belum memberikan jawaban pasti.


Setelah itu acara makan malam berlanjut, sampai Mia dan Reyhan memutuskan untuk menginap dikediaman Adimaja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rintik hujan yang terdengar pagi ini begitu syahdu. Sejuk, itulah suasana yang mengambarkan pagi ini. Hujan sudah melanda kota Jakarta sejak tadi malam, dan hawa dingin dan sejuk yang diciptakan hujan membuat Anastasya Amanda belum bangun dari tidurnya.


Sekarang waktu sudah memasuki pukul setengah enam pagi. Alarm dari jam weker sudah berbunyi dengan keras dari tadi. Tasya melenguh dari tidurnya kemudian matanya terbuka dan menatap langit - langit kamar. Buram, itulah yang dilihat Tasya kali ini.


Karena melihat waktu hampir sedikit dengan cepat Tasya berjalan kekamar mandi. Langkahnya lunglai.. hidungnya juga terasa mampet. Selama beberapa menit Tasya mandi didalam kamar mandi kemudian setelah itu Tasya memakai pakaian nya.


Blouse berwarna pink lembut dan rok span yang berwarna hitam menjadi pakaian kerjanya kali ini. Setelah selesai dengan rutinitas paginya sebelum bekerja, Tasya turun kebawah untuk memakan sehelai roti yang dilapisi selai strawberry.


Semua telah disiapkan oleh Tasya untuk berangkat kerja, tapi dia lupa kalau kucing kesayangan belum diberi makan. Dengan cepat Tasya memutar langkahnya dan berjalan kearah tempat makanan kucing kemudian menaruh makanan kucing disana.


Tasya sangat malas bila membersihkan rumah pagi - pagi. Tasya biasanya membersihkan rumah saat dirinya akan tidur, entah kenapa waktu malam saat akan tidur adalah waktu yang tepat dan tervavorite bagi Tasya untuk membersihkan rumahnya.


Tasya membuka pintu rumahnya, masi terlihat rintik hujan yang tidak terlalu deras. Tasya mengecek paket data diponselnya, astaga.. dirinya lupa kalau paket data itu habis tadi malam.


Hah.. Tasya menghela nafasnya lalu duduk disofa, menyenderkan badannya. " Kenapa gue ngak ngisi tadi malam si... " Gerutu Tasya kesal dengan dirinya sendiri.


" Terus sekarang gimana caranya gue kerja? " Tanya Tasya lagi kepada dirinya sendiri sambil mengotak - atik ponselnya. Bagimana cara Tasya untuk pergi bekerja hari ini? kuota datanya sudah habis tadi malam, sementara kalau untuk pulsa... Tasya membeli pulsa terakhir tiga bulan lalu. Dan jelas saja.. pulsa itu sudah habis tak tersisa.


Tasya memutar pandangannya sampai bertemu dengan tempat payung. " Kalau gue jalan dari rumah kekantor berapa menit ya? " Gumam Tasya berfikir sambil melihat waktu diponselnya.


Setelah Tasya berfikir, Tasya merasa waktu untuk sampai kekantor dengan jalan kaki tidak terlalu lama. Juga kan.. beberapa meter dari luar perumahan tempat tinggalnya nanti dirinya akan bertemu dengan halte bus.


Oke fiks, kali ini Tasya memutuskan untuk berjalan sampai ke halte bus. Payung sudah dibuka oleh Tasya, karena mengingat hari ini sedang hujan, Tasya memakai sandal jepitnya dan memasukan sepatu heals miliknya kedalam paper bag yang ditentengnya dibahu.


Suasana lingkungan perumahan kali ini sepi, tidak seperti biasanya yang ramai lalu lalang kendaraan atau pun orang - orang. Hal ini bisa disebabkan karena gerimis yang melanda Jakarta.


Sudah lebih dua belas menit Tasya berjalan, dan kini dirinya sedang duduk menunggu bus yang datang dihalte bus. Tasya terus memperhatikan jam tangannya, karena dirinya tau waktu itu terus berjalan.


" Mana sih? " Ucap Tasya beridiri dari duduknya dan memperhatikan jalan raya, yang hanya terlihat ada sepeda motor dan mobil saja.


" Kalau gue telat, gimana dong... " Ucap Tasya mulai khawatir.


Entah kemana bus pagi ini pergi. Tapi dari arah lain terlihat mobil mewah yang melaju dan berhenti didepan halte bus. Tasya mengerutkan keningnya heran. " Siapa sih? " Tanya Tasya penasaran kenapa bisa mobil mewah berhenti didepan halte bus. Apakah si pemilik mobil mau berteduh? aduhhh... konyol banget! kan jelas - jelas orang itu punya mobil.


Kaca bagian belakang mobil mewah itu terbuka. " Ayo.. masuk! gue anter " Kata pria itu mengajak Tasya masuk dari dalam mobil.


Tasya terdiam, diringa merasa bingung apakah harus ikut masuk kedalam mobil dan diantar atau.. menunggu bus datang. Ah, tapi.. kalau dipikir - pikir jika Tasya melewatkan kesempatan dan ajakan emas ini, dirinya akan terlambat.


Pria itu turun dari mobilnya kemudian mengambil payung Tasya dan membuka payung itu. Jasnya yang terkena sedikit air hujan tidak bisa terkena air hujan lagi, karena payung Tasya menutupi tubuhnya. " Ayo sya.. " Ajak pria itu dan langsung menarik tangan Tasya dan membawa Tasya masuk kedalam mobilnya.


Tasya diam saat tangannya ditarik. Dirinya tidak menjawab karena dirinya menerima tawaran yang ditawarkan beberapa detik lalu. " Terimakasi " Ujad Tasya saat sudah masuk kedalkam mobil.


" Sama - sama tuan putri.. " Balas pria itu sambil merekahkan senyum manisnya.


Dan setelah itu mobil mewah itu melaju meninggalkan halte bus. Untuk mengantarkan kemana tempat tujuan penumpangnya.


~ Bersambung ~


Sebenarnya niatnya mau up pagi.. tapi kareja idenya mandek jadi up sekarang...