My Husband This Is My CEO Season 1

My Husband This Is My CEO Season 1
43



" Eh.. eneng geulis " Ucap abang ojol itu atau yang lebih tepatnya manta ojol. Dengan senyum kikuk nya Fahri menyapa Tasya sambil memegang gagang pengepelan.


" Woahh, ternyta takdir mempertemukan kita disini " Ujar Tasya sambil tersenyum.


" I- iya neng " Jawab Fahri menjawab Tasya.


" Oh iya " Tasya mengulurkan tangannya kearah Fahri. " Kita sudah beberapa kali bertemu tapi belum kenalan. Kenalin bang saya Tasya " Kata Tasya memperkenalkan dirinya masih dengan memakai senyum ramahnya.


Fahri yang melihat Tasya mengulurkan tangannya hanya diam tidak menanggapi. Dirinya masih berasa bersalah atas kejadian yang waktu itu. Fahri enggan untuk meanggapi uluran tangan Tasya tangannya masih setia memegang gagang pel.


Tasya yang melihat Fahri enggan menjabat tangannya bertanya. " Kenapa? Tangan saya jelek ya bang? " Tanya Tasya sambil melihat telapak tangannya keheranan.


" Bukan kok neng " Jawab Fahri sambil menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Tasya.


" Terus... kenapa kamu nolak? " Tanya Tasya menyelidiki.


" Saya cuma- " Ucapan Fahri langsung terpotong ketika teman sesama OB memanggilnya. " Maaf neng, saya pergi dulu " Kata Fahri lalu menjauh dari Tasya dan menyusuli temannya.


" Yah, gagal kenalan deh " Ujar Tasya sambil melihat Fahri yang berjalan bersama temannya entah ingin pergi kemana. Tasya memutuskan pergi dan melanjukan langkahnya untuk pergi dari area hotel.


Fahri mengehentikan langkahnya. Dirinya berlari kearah Tasya. " Heh Fahri! mau ngapain lo! " Teriak temannya yang melihat Fahri tiba tiba pergi dari sampingnya.


Fahri menepuk pundak Tasya. Tasya pun menoleh ketika pundak nya merasa ditepuk, dirinya langsung tersenyum begitu mengetahui siapa yang menepuk pundaknya. " Ini nomor telpon saya " Kata Fahri sambil memberikan secarik kertas.


Fahri pun langsung pergi meninggalkan Tasya. " Tunggu! Nama kamu siapa? " Tanya Tasya dengan berteriak karena Fahri sudah berjalan cepat meninggalkan dirinya setelah memberikan secarik kertas itu.


Fahri membalikan badannya. " Panggil aja saya Fahri " Ucap Fahri lalu melanjutkan langkahnya.


Tasya tersenyum begitu mendengar bahwa nama abang ojol itu adalah Fahri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Parkiran hotel.


" Cewek, syut " Ucap Vano yang melihat Tasya baru keluar dari dalam hotel. Varo menyenderkan badan nya dimobil dan mengsilangkan tangannya didada. Dengan mata yang ditutup oleh kaca mata hitam dirinya bergaya.


" Sendirian nih, mau dianter sama mahluk ganteng ngak? " Tanya Varo seribu tingkat. Tasya yang mendengar itu langsung menyebikan bibirnya.


" Abang Varo, kayanya adek Tasya naik taksi onlins aja deh. Kalau pulangnya sama abang Varo nanti adek Tasya didalam mobil cuma jadi bahan ejekan aja " Ujar Tasya mendramtiskan kata katanya.


Varo yang mendengar Tasya berbicara dengan gaya bicara seperti itu langsung melepaskan kaca mata hitam nya dan menutup mulutnya dengan mata yang melotot. " Astaga, adek gue lagi kerasukaan ngak sih? ". Tasya hanya memutar bola matanya malas begitu mendengar Varo bertanya seperti itu


" Parah, parah, parah! " Ucap Varo sambil berjalan mondar mandir didepan Tasya dengan gayanya seperti mengira Tasya yang sekarang ditemuinya adalah Tasya dari zaman kerajaan. " Wah, wah. Adek Tasya nolak abang Varo nih? " Tanya Varo sambil memasukan kedua tangannya kedalam kantong celananya.


" Seperti nya begitu tuan " Jawab Tasya.


" Gila, gila " Ucap Varo heboh sendiri. " Lo manggil gue apa tadi? tuan? " Tanya Varo sambil memasang senyum yang menahan tawanya.


" Iya tuan. Maaf tuan saya harus pulang " Ucap Tasya lalu membungkukan badannya dan berjalan pergi meninggalkan Varo.


" Eh.. mau kemana? " Teriak Varo. " Ayo pulang sama abang mu ini! " Teriak Varo sambil berjalan menyusul Tasya. Namun Tasya belum menolehkan pandannganya kebelakang.


" Nanti bunda mu marah lo sya! Terus aku dimarah sama mami pulang - pulang!. Nanti mami abang nanya, kenapa ngak anterin Tasya pulang. Terus abang jawab apa? " Tanya Varo yang sudah menyeimbangkan langkahnya disamping Tasya.


" Noh " Ucap Varo sambil menunjuk dua orang memakai jas berpakaian hitam yang sedang bersembunyi dibalik pohon yang ditanam dihotel.


" Oh " Ucap Tasya mengangguk mengerti. " Ah iya adek Tasya lupa, kalau abang Varo ini anak mami " Lalu mengandeng tangan Varo dan mengajaknya berjalan kearah mobil. " Anak nya tante Fasya sih, udah gede gini masi dijagain sama pengawal kerajaannya. Kesian BE - GE - TE " Sindir Tasya lalu mendorong Varo masuk kedalam mobil nya.


" Gitu dong. Kan sampe rumah abang Varo aman - aman aja ngak dilempar pake keranjang cucian terus disiruh nyetrika baju - bajunya kanjeng ratu " Ujar Varo miris dengan nasibnya yang seperti ini.


Flash back ke masa lalu.


Memang benar maminya sangat overprotektif kepada dirinya karena dia adalah anak satu satunya dari Fasya dan Alber, kedua orang tua Varo. Dulu saat Fasya sedang hamil dirinya mengidam - idamkan ingin mempunyai anak perempuan.


Dan syukur Fasya senang pada saat USG dokter mengatakan bahwa hasil USG dari jenis kelamin calon bayinya adalah perempuan. Namun takdir mengatakan lain ternyata pada saat melahirkan dirinya bukan melahirkan anak perempuan, melainkan melahirkan anak laki-laki yang ganteng tulen seperti suaminya.


" Selamat buk anaknya laki-laki " Ucap Perawat sambil mengendong Varo saat masih bayi.


Fasya kaget dengan kenyataan yang berbeda dari pada hasil awal pemeriksaan. " Anak saya perempuan sus, bukan laki-laki " Ucap Fasya protes sambil melihat bayi yang sedang digendong oleh perawat.


" Bukan bu ini adalah bayi laki-laki " Ucap perawat membenarkan ucapannya.


" Mas, bukannya anak kita perempuan? " Tanya Fasya meminta kepastian.


Alber mengelus kepala isrtinya." Bukan sayang. Ternyata bayi kita laki-laki " Ucap Alber sambil tersenyum meyakinkan.


" Jadi... dokter nya salah? " Ucap Fasya. Dan Alber hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban.


Maka dari itu dari Varo umur nol hari dirinya sangat menjaga Varo bahkan pada saat umur sekecil itu Varo sudah diberikan pengawalan yang ketat. Karena dirinya belum bisa menerima kenyataan tapi dirinya sangat menyayangi Varo. Namun sekarang Fasya sudah berdamai dengan kenyataan tapi masih kekeuh dengan pendiriannya bahwa Varo dianggap sebagai anak perempuan yang harus esktra dijaga.


Flash back off.


" Terima nasib aja udah bang " Ujar Tasya sambil menepuk - nepuk pundak Varo yang sedang konsen menyetir


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rabu yang indah hari yang cerah. Kehangatan sinar matahari masuk melalui jendela kantor yang terbuat dari kaca. Cahaya matahari terus memantul - mantulkan sinarnya kesana sini memberikan silauan untuk yang terkena pantulan cahaya itu.


" Semua persiapan sudah disiapkan kan? " Tanya Rangga yang melihat kesibukan semua Karyawan nya dari lantai tiga.


" Sudah pak, semua karyawan yang bertugas sebagai panitia sudah mempersiapkan semuanya " Ujar Tasya menjawab sambil menemani bosnya berdiri melihat karyawan sibuk dari lantai tiga.


" Bagus kalau begitu, kamu urus sisanya " Ucap Rangga menatap Tasya.


Suasana hening seketika setelah Rangga menyelesaikan ucapannya. Rangga dan Tasya bingung dengan keadaan antara dirinya berdua, padahal semua karyawan sibuk mempersiapkan acara ulang tahun kantor dan pekerjaan masing - masing. " Mmm.. Tasya " Ucap Rangga membuka pembicaraan sambil melihat karyawan yang lalu lalang dilantai bawah.


" Iya pak " Jawab Tasya sambil melihat bosnya.


Rangga menatap Tasya. " Saya jadi pacar kamu boleh? " Tanya Rangga dengan tatapaj yang serius.


Tasya bingung dengan ucapan bosnya entah ini sebuah candaan belaka atau keseriusan luar biasa pikir Tasya. Tasya tersenyum lalu tertawa renyah menghilangkan situasi cangguh yang sedang terasa.


~ Bersambung ~