My Husband This Is My CEO Season 1

My Husband This Is My CEO Season 1
66



Haii balik nih..


Aku jadwal updatenya ngk nentu sekarang, tapi aku kembali ke jadwal update dulu dimana jeda dua hari setelah update.


Yang nungguin... yukk dibaca.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tasya sudah diantarkan oleh Zergan kedepan gedung perusahaan RJA Group. Ya, yang mengantarkan dirinya pagi ini adalah Zergan. Sebelum mobil mewah Zergan berhenti dihalte bus, Zergan melihat ada sesosok bidadari cantik yang sedang duduk sendiri menunggu bus.


Karena dirinya tidak mau meninggalkan kesempatan emas, Zergan akhirnya berinisiatif mengantarkan Tasya menggunakan mobil mewahnya.


" Makasi, nanti pas jam makan siang boleh luangin waktu lo? Soalnya gue mau traktir lo sebagai ucapan terimakasi " Ucap Tasya sambil tersenyum.


Zergan membalas senyuman Tasya, kemudian tangannya menepuk dan mengelus kepala Tasya dengan lembut. Tasya yang diperlakukan manis seperti itu langsung terdiam seperti patung, duh.. tapi sensasi apa ini? kenapa jantung Tasya berdetak. " Bolek kok, boleh banget malahan. Apa sih yang ngak buat calon istri " Ucap Zergan bersemangat.


Kelemahan Tasya sebagai seorang wanita adalah, jantungnya akan berdetak kencang jika diperlakukan manis. Dari depan gedung RJA Group terlihat ada seorang pria yang mengendarai motor ninja merahnya. Tak hanya motor ninja itu yang menjadi perhatian setiap orang yang melintas disana, jas hujan berwarna biru serta suara mesin motor juga ikut serta.


Motor ninja itu berhenti didepan kedua orang insan yang baru saja sampai di RJA Group, Tasya dan Zergan. Kaca helm full face yang digunakannya dibuka. Terlihatlah wajah tampan si Rangga. Aduh mas Rangga pagi - pagi dah pake ninja ngak sekalian aja pake samurai.


" Widih.... lu apaain calon bini gue?! " Tanya Rangga yang ngegas dan songong. Rangga menurunkan standdar motor nya kemudian menaruh helm nya dan turun dari motor menggunakan jas hujan biru yang dilapakainya. Sebenarnya sihh.. kalau mau tahu.. bukaan tempe, Rangga itu punya dua jas hujan satu yang warnanya biru satu lagi pink yang gambarnya pinkki pay, little poni.


Siapa lagi kalau bukan mama Erina yang beliin. Mama Erina sih bilang.. kalau alasannya beli jas hujan pink itu untuk Rangga karena merasa lucu, dan kayanya maskulin gitu kalau dipake.


" Tasya.. lu ngapain sih, mau dianter sama anak cebong polkadot! " Ucap Rangga menyebut Zergan dengan sebutan cebong polkadot. Hei... denger ya, bapak CEO terhormat. Zergan itu kan melihara kecebong tapi warna nya ijo bukan polkadot.


Zergan merasa jengah dengn lawannya kali ini. Tangannya dilipat kemudian disedekapkan didada. " Lo bilang apa barusan? anak cebong polkadot? Heh.. sadar diri dong! lo aja masi ngoleksi cd wodiewod peaker! " Cela Zergan agar Rangga turun sedikir harga dirinya didepan Tasya. Karena dulu, waktu dirinya berkunjung kerumah Rangga, Zergan melihat isi kamar Rangga dan ternyata banyak sekali kaset yang menceritakan wodiewod peker.


Tapi menurut Tasya sih.. apalagi dipikir - pikir, Rangga itu masih dewasa dari pada Zergan yang memelihara kecebong. Tasya memutar bola matanya malas. Seperti nya akan mulai lagi perang antara dua bapak - bapak CEO ini.


" Heh.. heh.. cebong! belagu banget lu ya! lu ngak inget... kalau dulu lo itu suka banget sama kaset frozen! " Ujar Rangga membeberkan aib Zergan. Zergan yang mendengar itu hanya memasang wajah biasa - biasa saja. Dirinya tidak mau mengingat yang dulu. Biarkan saja menjadi Wisata Masa Lalu.


" Serah lo deh... wodiewod peaker! males banget ladenin anakan anaconda! " Tegas Zergan kemudian pergi dan masuk kedalam mobilnya, tapi sebelum itu dirinya berbalik arah dan menatap Tasya.


" Gue tunggu di caffe jingga ya... see you next later, cantik.. " Ucap Zergan berpamitan kepada Tasya sambil mengacak - ngacak rambut Tasya. Rangga yang melihat itu mengangakan mulutnya lebar - lebar, dirinya geram melihag tingkah laku Zergan. Apalagi tadi tangan Zergan mengelus rambut calon istri nya. Ck.. ck.. sungguh terlalu.


Wushh... mobil Zergan sudah pergi melesat meninggalkan gedung RJA Group. Tasya saat ini hanya bisa diam seperti patung, jantungnya mulai berdetak kencang lagi untuk kedua kalinya.


" Heh.. Cebongggg..!! gue sumpahin saham lo turun!! " Teriak Rangga yang terbakar emosi tidak terima kalau calon istrinya yang cantik ini dielus rambutnya.


Setelah dirinya berteriak, Rangga menatap Tasya intens dari bawah keatas. Dari high healsnya sampai keatas rambutnya Tasya terlihat rapi. Tadi didalam mobil saat bersama Zergan dirinya mengganti sendal jepit miliknya dengan sepatu hak nya.


" Apa lo, liatin gue kayak gitu! " Ketus Tasya tidak suka dilihat dari ujung kaki sampai rambut nya. Tatapannya pun terlihat sinis menatap Rangga.


Rangga tersenyum cengengesan kemudian menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal. " Lo cantik sya. Kita nikah besok ya? " Jelas dan ajak Rangga sambil memperlihatkan deretan giginya.


Baru saja hatinya berdetak kencang, dan sekarang Tasya susah untuk menelan salivanya karena ucapan Rangga. " Aduh.. bisa - bisa gue mati berdiri kalau begini " Gumam Tasya didalam hati.


" Mau kan? simpel sya yang penting sah dulu dimata tuhan " Ujar Rangga lagi masih dengan senyumnya. Tasya mengerjap kan matanya, kemudian menggeleng cepat. Dirinya masih ingat apa yang Rangga katakan kemarin, kalau Rangga mau mempunyai anak lima. Aduh... help Tasya belum siap untuk itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


" Baru pertama.. aku melihat.. gadis secantik kamu.. ey.. ey.. " Ucap papa Adi yang sedang asik menyanyi dihalaman belakang rumah sambil memberi makan burung perkutut kesayagan nya.


" Papa!! " Teriak mama Erina memanggil suaminya yang ganteng nan mapan. Papa Adi yang sedang asik memberi makan lovita burung kesayangannya menoleh kearah istri tercintanya.


" Apa sih ma? ganggu aja deh.. lovita lagi rewel ni " Ujar papa Adi mencebik istrinya kesal. Karena bisa - bisanya istri tercintanya itu memanggil saat dirinya sedang asik bercengkrama dengan burung kesayangannya. For your information aja nih.. sebenarnya si lovita itu jantan, tapi ngak tau aja gitu papa Adi kaya asik.. manggil burung perkutut itu lovita.


" Oh.. jadi kamu lebih sayang sama lovita ya.. " Ucap Ancaman mama Erina. Papa Adi yang mendengar ancaman istrinya hanya bisa mendengus kesal, kemudian setelah itu menaruh makanan burung dan berjalan kearah istrinya.


Papa Adi tersenyum manis didepan istrinya. " Ada apa sih ma? kalau mau pergi arisan sosialita, ya pergi aja " Ujar papa Adi tidak mengerti kenapa dirinya dipanggil dengan teriakan melengking. Oh iya.. ngomong - ngomong papa Adi itu orang nya slowes, jadi kalau semisal ada bencana dianya tenang tapi menghanyutkan.


" Kemarin mama suruh papa beli wishcat, mana wishcat nya? " Tanya mama Erina meminta dengan cara menjulurkan tangan kanan nya.


" Ih.. si mama.. masa iya, mau makan makanan kucing. Ngak boleh atuh mah.. entar teh.. mama buang ampas terus.. " Tegas papa Adi dengan aksen sundanya. Padahal dia sendiri bukan orang sunda, tapi karena kemaren baru nonton film kabayan ya... jadinya gini deh.


" Papa!! bukan mama yang makan!! tapi moli, papa!! " Ujar mama Erina sebal dengan menaikan sedikit keras nada bicaranya. Lasingan siapa suruh papa Adi ngaco.


" Eh, akang kirain teh kamu.. geulis.. " Ucap papa Adi dengan nada mendrama kemudian menaik turunkan alisnya. Papa Adi itu orang nya suka banget bercanda, bahkan waktu papa Adi ngelamar mama Erina. Mama Erina sampe gedeg dan pengen banting papa Adi. Bagaimana tidak begitu, orang papa Adi aja ngelamar bukan pake cincin, tapi apa..??? pake satu pasang onta, lebih tepatnya sih bayi onta baru lahir. Dan sekarang alhasil keluarga Adimaja jadi peternak onta di Dubai.


Duh kebayangkan gimana wisata masa lalu mereka. " Ih.... punya suami gini banget sih.. serius papa...!! serius! " Ucap mama Erina marah, dengan tangan yang mengapit wajah suaminya. Lalu wajah papi Adi digerakkan kebawah dan keatas. Duh.. sudah seperti susu kocok aja.


" Iya deh iya mama serius " Timpal papa Adi yang santai, lalu membetulkan rambutnya. Orang tadi rambut papa Adi sudah rapi, tapi sekarang malah kayak sarang kelelawar, berantakan.


" Ihhh... " Mama Erina geram dengan kelakuan suaminya, kemudian setelah itu mama Erina beranjak pergi. Dirinya malas meladeni suaminya, kadang mama Erina juga aneh... kenapa bisa dirinya falling in love kepada papa Adi.


Papa Adi tergelak tawa, dirinya merasa senang kalau mengerjai istrinya itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jam makam siang datang. Seperti apa yang telah dijadwalkan, Tasya saat ini sedang membereskan meja kerjanya. Kemudian setelah itu dirinya keluar sambil membawa dompetnya saja, karena kalau bawa tas repot.


Rangga yang sedang memainkan ponselnya langsung melihat Tasya yang baru saja menutup pintu ruangannya. " eh eh.. mau kemana lo? " Tanya Rangga yang jelas dirinya sudah tahu kemana tujuan Tasya siang ini.


" Makan lah.. kan sekarang udah jamnya " Jelas Tasya. Dirinya berfikir pasti si upil burung ini akan merecoki rencana makan siang dirinya dan Zergan.


Rangga bangun dari duduk nya, kemudian merapikan jasnya yang sedikit meengekerut. Tasya yang melihat itu mengerutkan keningnya, dirinya menatap Rangga tidak mengerti. " Mau ngapain lo? " Tanya Tasya saat Rangga berjalan mendekat kearahnya.


" Kata nya mau makan siang. Yaudah ayo..! " Ajak Rangga dan langsung menarik lengan Tasya. Hei! enak aja narik - narik, Tasya kan mau ngedate siang sama Zergan.


" Ih.. apaansi.. lepas! lepas! " Ucap Tasya memberontak saat dirinya ditarik. Yang benar saja sekarang dirinya ditarik seperti hewan yang akan di qurban.


" Rangga,.. gue kan mau makan siang sama Zergan. Lo kenapa sih? " Jelas dan tanya Tasya. Tangan nya juga masih berusaha memberontak untuk dilepaskan.


Rangga memberhentikan langkahnya kemudian berdiri menghadap Tasya dan menatap Tasya dengan tatapan damai. " Gue cemburu, dan gue.. ngak mau calon istri gue makan sama cowo lain " Jelas Rangga dan hal itu berhasil membuat Tasya diam.


Seketika tangan Tasya menjadi dingin. Aduh.. benar - benar sekarang dirinya sangat gugup. Kemudian langkah mereka berjalan berlanjut lagi. Tasya hanya bisa pasrah saat dirinya ditarik seperti embe'.


Setelah acara ditarik paksa, kini Tasya dan Rangga sampai dimana tempat Tasya janjian bertemu dengan Zergan, iya benar disana. Jangan tanyakan alasan nya kepada Tasya, karena.. Tasya sendiri juga tidak tau.


Sebenarnya jarak caffe dengan perusahaan dekat, hanya tinggal nyebrang dan jalan lima belas langkah. Nyampe deh. " Lo mau makan siang disini kan? " Tanya Rangga yang sudah mulai melepaskan tangan Tasya.


Tasya mengangguk. Rangga yang melihat itu tersenyum kemudian mengelus rambut hitam pekat Tasya. Tasya memperhatikan dan merasakan elusan lembut tangan Rangga, dirinya bingung.. kenapa Rangga bersikap seperti ini. Kemaren mah.. paling cuma perhatian sama bawain ayam geprek.


" Gitu kan, cara kecebong polkadot ngelus kepala lo? " Tanya Rangga dan dijawab anggukan oleh Tasya.


Tasya tidak mengerti apa yang sedang direncanakan oleh Rangga sekarang.


" Dan.. sekarang gini kan cara gue megang tangan lo? " Tanya Rangga saat tangan mereka berdua sudah saling bergandengan. Tasya memperhatikan tangan mereka yang saling menggenggam kemudian mengadahkan pandangannya menatap wajah Rangga.


" Lo ken- " Ucapan Tasya terpotong saat jari telunjuk Rangga menutup mulutnya, yang berarti menyuruh Tasya diam. Rangga tersenyum kemudian melepas gandengan tangan mereka berdua.


Tasya heran, dan menanyakan dua kata dalam hatinya. " Dia kenapa? " Tasya mengerutkan keningnya.


Dari dalam caffe ternyata sudah ada Zergan yang sedang duduk dari tadi mengamati mereka berdua. " Hah.. si wodiewod peaker, bisa - bisanya lo buat drama korea didepan " Ucap Zergan berdecak heran sekaligus kesal.


Dalam hitungan satu dua tiga Rangga mengangkat Tasya, dan menggendongnya ala bridal stayle. Aduh... malu banget.. itulah kata yang terlintas dipikiran Tasya.


Tasya mengalungkan tangan nya dileher Rangga agar dirinya tidak jatuh.


" Rangga turunin gue!! " Teriak Tasya dan menyembunyikan wajahnya didepan dada Rangga. Rangga memilih untuk bersikap tuli, dirinya tersenyum mengejek kearah Zergan yang melihat tingkah nya saat ini.


Zergan yang dilihat langsung berdecih, dan memandang Rangga sinis. " Rangga!! gue malu. Gila!! " Teriak Tasya kencang dan memukul dada Rangga degan tangan kirinya, kedua kakinya yang memakai helas pun bergerak tidak karuan. Berusaha memberontak untuk dilepaskan itulah kondisi Tasya saat ini.


" Kemesraan ini... jangan lah cepat ber..lal..u! " Begitulah kira - kira lagu yang cocok bila dinyanyikan saat ini.


Rangga menyebrang melewati Zebra cros. Tasya yang tau Rangga sedang menyebrangi jalan raya, langsung diam tidak menggerakan badannya. Karena dirinya tau siang - siang gini banyak lalu lalang kendaraan.


" Gini dong sya diem.. gue juga ngak bakal bawa lo ke hotel kali " Ucap Rangga dengan suara yang sedikit tercekat karena harus berbicara disaat dirinya menggendong Tasya dengan berat sekitar, lima puluh dua.


Tasya yang mendengar itu langsung mencubit bahu Rangga. " Jangan ngaco deh! " Kesal Tasya.


Rangga terkekeh kemudian tersenyum sambil menatap wajah Tasya. " Kapan sih sya, gue bisa milikin lo seutuhnya? " Tanya Rangga pada batin nya sendiri. Sementara Tasya sekarang kembali menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Rangga yang dilapisi oleh kemeja.


Sepanjang dirinya menggendong Tasya sampai masuk kedalam lift, mereka berdua menjadi pusat perhatian karyawan kantor. Terutama si Meta, lamber nyinyir RJA Group.


Didalam lift yang sedang proses naik kelantai ruangan mereka, Tasya terus saja mendiami Rangga yang mengajak nya bicara dari tadi. Bahkan sesekali Rangga berbuat usil dengan cara menoel - noel bahu Tasya.


Ting.. pintu lift pun terbuka.Tasya langsung keluar tanpa melihat Rangga. Rangga yang diperlakukan seperti itu bersikap bodo amat.


" Jangan diem - diem gitu kenapa sih.. ngak kesian nih, sama anak nya mama Erina? " Bujuk dan tanya Rangga sekaligus membawa nama mama nya.


" Bodo! ngak peduli gue! " Jawab Tasya sambil berjalan dan menyilangkan tangannya didada.


Rangga tersenyum karena Tasya mau membalas ucapan nya. " Jangn marah dong. Kalau lo marah, cantiknya hilang " Ucap Rangga menggoda Tasya.


" Basi tau gak! " Balas Tasya. Karena sudah biasa mendengar rayuan maut ikan kakap yang seperti itu.


Pintu ruangan CEO dibuka kebudian dibanting dengan keras oleh Tasya. Rangga yang mendengar suara pintu ruangan nya, langsung terloncat kaget. " Sialan.. pas marah gini, Tasya tenaga nya gede juga " Cicit Rangga, yang tak habis fikir.


Rangga menarik tangan Tasya agar Tasya tidak masuk kedalam ruangannya, yang ada nih ya.. kalau Tasya masuk kedalam sana dia ngak akan keluar - keluar sampe jam pulang. Tasya yang sudah berhadapan dengan Rangga membuang pandangannya kesamping.


Lasingan siapa sih... yang ngak marah kalau digendong kayak gitu, terus diliatin orang - orang lagi. " Makan siang dulu ya. Baru kerja " Ujar Rangga yang tidak tega dan merasa bersalah, karena sebab dirinya Tasya belum makan siang.


" Ngapain lo sok perhatian! udah puas bikin gue malu! " Sindir dan sarkas Tasya tak terima dirinya diperlakukan seperti itu. Terlihat dari raut wajah Tasya, dirinya sangat marah. Bahkan keningnya saling berkerut.


Rangga merasa bersalah dengan perbuatannya. Mendengar Tasya marah, nyalinya langsung mengecil seperti fitop plankton. " Maaf,... gue kira dengan cafa itu.. lo suka " Ucap Rangga dengan lirih.


" Belum tentu apa yang lo suka! gue juga suka! " Ketus Tasya meng - skakmat Rangga.


" Iya sya, gue salah.. maaf " Ucap Rangga bersalah.


Tasya berdecak kesal. " Udah ah.. gue males sama lo! " Ucap Tasya kemudian berjalan masuk kedalam ruangannya.


" Tasya.. " Panggil Rangga saat melihat Tasya yang sudah masuk kedalam ruangannya. Sudahlah sekarang Tasya sedang marah dengan dirinya. Rangga benar - benar menyesal.


" Setan! setan! " Umpat Rangga kasar kepada dirinya sendiri. Kakinya pun dengan usil menendang tempat sampah mini yang ada diruangannya. Dan alhasil yang terjadi adalah... tempat sampah itu jatuh. Tapi tidak dengan sampahnya. Ya... bagaimana sampahnya mau jatuh dan berserakan, jelas - jelas tempat sampah itu kosong tidak berisi.


Sementara setelah Tasya masuk kedalam ruangannya, dirinya duduk dikursinya dengan mencebik Rangga habis - habisan. Rangga cari penyakit sih.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Zerleyn media.


Didalam ruangannya Zergan meremas kertas kosong sampai membentuk bola - bola berukuran sedang, lalu setelah itu dilempakannya ketembok. Sekertaris nya yang berada diruangan itu hanya bisa diam memperhatikan bosnya.


" Sok - sok an.. bikin drama korea! liat aja entar gue bikin sinetron yang lebih banyak episodenya! " Sindir Zergan terhadap Rangga.


" Heh.. lo " Tunjuk Zergan dengan tatapan matanya kepada sekertaris nya yang dari tadi berdiri disamping sofa.


" Iya pak, ada yang bisa saya kerjakan? " Tanya sekertaris nya.


" Buatin gue sinetron yang episodenya seribuuuu!!!!! " Teriak Zergan prustasi.


Mata sekertaris nya yang mendengar itu membelalak tidak percaya apa yang didengar olehnya. " Hah.. hah.. a- apa pak? " Tanya sekertaris nya tidak percaya. Yang benar saja, untuk satu episode saja butuh beberapa juta bahkan mungkin milyaran.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tok.. tok.. tok.


Ketuk Rangga dari tadi mengetuk pintu Tasya, namhn tidak kunjung dibuka. " Cantik... buka pintunya dong. Lo belum makan siang kan? ini ada makanan korea " Bujuk Rangga yang mengetahui Tasya menyukai makanan korea.


" Mau ngapain lo! jangan sok perhatian deh! najis gue! " Hardik Rangga berteriak dari dalam. Rangga yang mendengar Tasya najis dengan dirinya langsung terdiam, dan dengan cepat menggelengkan kepalanya. Membuang pikiran over tingking nya.


" Jangn gitu dong. Lo kan baru sembuh, masa iya ngak makan siang? " Bujuk dan tanya Rangga agar Tasya berusaha membuka pintu ruangannya. Ya... walaupun Rangga bisa aja langsung masuk kedalam sana.


Sementara Tasya yang mendengar bujukan Rangga, berfikir juga kalau apa yang dikatakan oleh Rangga benar. Kemarin kan dirinya sakit, masa iya besok harus sakit lagi. Ya... walaupun gaji tiap bulan tetap bukan berarti dia harus malas - malasan.


Percuma aja sekolah dapet biasiswa sampe ke New York kalau begitu balik ke negara sendiri kerjanya males - malesan. Karena tidak ada jawaban Rangga menghela nafasnya kemudian beranjak pergi dan duduk dikursinya.


Tapi baru saja dirinya membalikan badan, pintu ruangan Tasya dibuka oleh pemilik ruangan. " Mana makanan nya? " Pinta Tasya dengan memasang wajah ketusnya.


Rangga tersenyum, kemudian langsung masuk kedalaam ruangan Tasya tanpa disuruh. " Heh.. siapa yang suruh lo masuk?! " Tanya Tasya ketus sambil berkacak pinggang, layaknya seperti ibu yang sedang memarahi anaknya.


Rangga tidak maj mendengar apa yang diucapkan oleh Tasya, dirinya memilih untuk duduk dikursi Tasya setelah menaruh plastik makanan dimeja Tasya. Kakinya juga dinaikan keatas meja, dan tangannya dilipat kemudian dijadikan bantalan. Tak lupa juga, badannya bersender dan tatapan nya menatap Tasya tanpa bersalah.


" Lo ya! " Ucal Tasya sambil menunjuk Rangga. Sekarang dirinya tidak peduli kalau Rangga adalah bos nya, yang dia pedulikan adalah dimana tatak krama akhlak Rangga.


" Apa sayang?... hmm... " Tanya Rangga santai, kemudian merubah posisi nya menjadi duduk dan kedua telapak digunakan untuk menopang wajahnya. Berusaha untuk berbuat imut.


" Jangan panggil gue sa- " Belum saja ucapan nya terhenti Rangga sudsh berbicara duluan.


" Kalau dipanggil istri mau? " Tanya Rangga serius, namun masih dengan gaya cutenya.


Tasya menatap Rangga dengan tatapan tajam. Rangga yang ditatap seperti itu langsung menelab salivanya dan bangun dari kursi Tasya. Kemudian setelah itu dirinya menunduk memberi hormat layaknha bawahan.


" Gue ngak main - main ya " Ucap Tasya setelah duduk dikursinya.


" Sama, gue juga enggak " Ucap Rangga yang kini sudah duduk disofa ruangan Tasya. Tasya yang sedang membuka makanan nya memberhentikaan sebentar aktivitasnya, dan menatap Rangga dengan tatapan tanya.


" Maksud lo? " Tanya Tasya.


" Maksud gue. Gue ngak main - main kalau mau jadi suami lo " Ujar Rangga tegas lalu tangannya beralih mengambil permen yang berada disamping sofa, tepatnya diatas meja.


Rangga memperhatikan permen itu kemudian membukanya, dan setelah itu memakannya. Sensasi rasa apel dirasakannya. Oh iya, tadi dirinya mengambil dua permen dengan tulisan berbeda.


Kalau yang dimakannya bertuliskan. Keren. Sedangkan permen yang kedua ditaruh diatas meja Tasya. Tasya yang melihat Rangga menaruh permen itu di mejanya, langsung mengambil permen itu dan membaca tulisan yang ada disana.


Tulisannya adalah 'jangan marah, nanti aku nya nyerah' . Setelah membaca tulisan itu, Tasya langsung beralih menatap Rangga yang sedang memperbaiki dasinya dicermin ruangaan Tasya sambil berdiri.


" Lo makan ya.. gue kerja dulu. Supaya besok kalau kita berumah tangga, ngak kekurangan uang " Ucap Rangga sambil mengelus rambut hitam pekat Tasya. Tasya yang tiba - tiba diperlakukan seperti itu langsung menyembunyikan senyumnya.


Oh tidak... seperti nya Tasya nanti akan meninggal secara estetik. Setelah berkata seperti itu Rangga keluar dari ruangannya dengan santai. Dirinya tidak peduli kalau ada seorang wanita yang sedang baper.


Kalau kata Mumun si tukang es doger sih. Huh.. sungguh terlalu!.


~ Bersambung ~


Duhh udah ya.. di update.


Jangan kemana - mana besok dua hari lagi Author balik!


Ini aja author nulisnya dari pagi, dan sekarang jadinya sore. Soalnya nyampe 3000 kata sih..


Like ya.. komen juga, sama rate nya jangan lupa vote sama rate nya. Ayolah kalian baik!