My Husband This Is My CEO Season 1

My Husband This Is My CEO Season 1
13



Sore telah tiba , saat ini Tasya sedang berada di dalam kamarnya Tasya tidak langsung mandi melainkan bermain ponsel untuk mengecek ada atau tidaknya notifikasi yang masuk ke ponsel nya .


Tring .. suata notifikasi pesan yang baru saja masuk . Tidak ada nama yang tertera pada pengirim pesan hanya ada nomor telepon saja .


Dibuka nya pesan itu . " Haii sya , apakabar ini gue fiona temen lo waktu SMA " Isi pesan nya.


Tasya berfikir mengingat - ngingat ada atau tidak temannya yang bernama fiona . " Ah .. iya kabar gue baik fin " Balas Tasya saat sudah mengingat bahwa ada teman nya bernama fiona.


" Btw lo bisa ngak datang keacara reuni ? "


Tanya fiona.


" Kapan ya ? " balas Tasya .


" Sebenarnya sih masi lama , tapi gue sebagai panitia bakal ngasi tau lo duluan dari pada yang lain " Isi pesan pertama.


" Ya sekitar satu bulan lagi sih " Isi pesan yang kedua dari fiona.


" Oh gitu , nanti gue liat jadwal dulu " Balas Tasya.


" Oke deh , makasi atas waktunya " Isi pesan fiona yang terakhir.


Setelah selesai membalas pesan chat dari teman lamanya dulu pada saat SMA , Tasya langsung meraih handuk dan berjalan pergi kekamar mandi. Dua puluh menit sudah dirinya berada dikamar mandi tak beberapa lama terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuka itu artinya Tasya sudah selesai mandi .


Dering ponsel berbunyi saat dirinya sedang menyisir rambut . Bunda tertera nama itu di ponsel nya .


Tasya segera mengangkat telepon . " Hallo bunda " Ucap Tasya menyapa bunda yang berada diseberang telepon.


" Hallo sayang , bagaimana kabar kamu disana ? " Tanya bunda Sari dari seberang telepon.


Tasya tersenyum saat bundanya menanyai kabar dirinya . " Tasya baik kok bund , Kalau bunda sama ayah gimana ? " Tanya Tasya balik.


" Bunda baik kok sayang.. begitu juga dengan ayah kamu " Jawab bunda Sari .


Tasya tersenyum mendengar jawaban bunda nya " Syukur deh kalau begitu . Oh ya .. bunda sama ayah kapan pulang ke Indonesia ? " Tanya Tasya.


" Bunda sama ayah mungkin ... pulang ke Indonesia sekitar satu atau tiga bulan lagi . Yang pastinya.. tunggu sampai dokter ngebolehin ayah kamu pulang " Ujar bunda sari .


Wajah Tasya yang tadinya senyum kini berubah menjadi murung mendengar penuturan dari bundanya . " Emm.. kalau begitu,.. bunda sama ayah jaga kesehatan ya.. Tasya ngak sendiri kok disini " Ucap Tasya sambil menahan tangisnya .


" Iya sayang . Kamu juga... jaga kesehatan ya. Yaudah bunda tutup telepon nya sayang... salam rindu bunda sama ayah dari Jerman .. " Ucap bunda sebelum telepon benar - benar terputus .


Tasya menghapus air matanya yang jatuh. Dirinya saat ini sangat rindu akan kehadiran orang tuanya , belum lagi ada sebuah ancaman yang menghantui dirinya dari orang yang tidak diketahui.


Hanya jarak yang memisahkan tapi kasih sayang sesama anak dan orang tua tidak akan pernah hilang. Hanya rindu yang dirasa tapi bisa diobati dengan komunikasi. Ya itulah Tasya saat ini , dimana dirinya sedang menunggu kedua orang tuanya pulang dan bisa berkumpul bersama lagi.


" Ayah yang kuat.. " Lirih Tasya sambil memandang foto keluarganya saat acara kelulusan S2 di New York.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sore sudah berganti menjadi malam . Saat ini suasana mansion utama keluarga Adimaja sedang kacau.


" Apa ? , Mia sama Reyhan mau nikah pa ? " Ucap Rangga yang terkejut .


" Iya . Memangnya kenapa ? " Tanya papa Rangga.


Rangga menghela nafasnya . " Pa ! , Mia itu masi butuh sekolah.. belum saatnya dia nikah diusianya yang baru sembilan belas tahun ! " Protes Rangga dengan suara yang ditekan .


" Papa tau . Tapi mau buat apa lagi kalau nasi sudah menjadi bubur ? " Tanya nya dengan serius .


Rangga bingung dengan jawaban yang diucapkan papanya . Memang , sampai sekarang Rangga belum mengetahui apa penyebab dari pernikahan adiknya yang akan dilaksanakan dalam waktu satu bulan lagi .


" Mak - sud,... papa apa ? " Tanya Rangga.


Papa Rangga menutup matanya sebentar . " Ternyata kamu belum tau " Ucapnya sambil memandang wajah anaknya yang sedang benar - benar marah . " Maksud papa itu.. kalau Mia sekarang lagi hamil " Jawabnya .


Rangga kaget bukan main dengan apa jawaban yang dilontarkan oleh papanya tadi . Dia tidak menyangka kalau adiknya dihamili oleh sahabatnya sendiri . " Papa bohong kan ! " Ucapnya sambil menahan amarah . Papanya menjawab dengan gelengan kepala yang artinya tidak .


Puncak kemarahan tidak bisa dibendung olehnya saat ini dengan cepat dirinya mencari Reyhan kesegala sisi mansion utama . Mamanya yang melihat anaknya sedang marah saat ini benar - benar khawatir dan berfikir apa yang akan terjadi selanjutnya .


" Pa... mama takut kalau Rey kenapa - kenapa " Cemas mama Erina sambil melihat putranya yang saat ini akan menuju ketaman belakang .


" Rangga ngak akan senekat itu ma " Jawab papa Rangga sambil membaca majalah dengan santainya.


Mama Erina yang mendengar jawaban dari mulut suaminya memutar bola matanya . Karena berfikir kenapa bisa - bisanya suaminya ini tidak memikirkan kejadian fatal yang mungkin akan terjadi. Akhirnya dia meninggalkan suaminya itu sendirian dan lebih memilih menyusul putranya yang sedang terbakar amarah.


" Reyhannn !! " Suara teriakan Rangga yang mencari Reyhan .


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Taman belakang mansion .


Terlihat Mia dan Reyhan yang sedang mengobrol berdua di kursi taman .


" Oke , aku bersedia dengan tawaran kamu " Ucap Reyhan sambil menatap wajah Mia .


Disisi lain Rangga yang dari tadi sudah melihat kesemua ruangan mansion termasuk kolam dan tempat lainnya behenti untuk berfikir sejenak . " Akh.. ya taman belakang ! " Ucapnya dalam hati sambil mengangguk.


Dengan cepatnya Rangga berlari kearah taman belakang mansion . Nafasnya terengah - engah karena berlari , saat dirinya akan ketaman kebetulan dirinya berpapasan dengan adiknya Mia .


" Kakak kenapa ? " Tanya Mia bingung . Karena melihat kakaknya seperti habis lari maraton saja.


" Mana si brengsek itu ? " Tanya Rangga sambil mengatur nafasnya.


" Mak - sud... kakak ? " Tanya Mia bingung.


Kemudian Reyhan muncul karena tadi diposisi duduknya mendengar kalau Rangga sedang menyebut namanya dengan nama lain. " Lo cari gue " Ucap Reyhan dengan nyali yang cukup besar.


Rangga mengalihkan pandangannya kearah sumber suara yang berada tepat disebelah adiknya . " Disini lo rupanya ! " Geramnya .


Satu tinjuan langsung mengarah kewajah tampan Reyhan. Mia yang melihat itu membelalakan matanya dan menutup mulutnya karena terkejut melihat perlakuan kakanya kepada calon suaminya.


Mama Erina dan papa Adi baru saja sampai disitu mereka berdua langsung kaget melihat anaknya yang sedang membabi buta Reyhan dengan kejam . " Rangga berhenti nak ...!! " Teriak mama Erina. Namun tidak didengarkan oleh Ranga.


" Pa.. ayo dong bantu... jangan diam aja ! " Ucap mama Erina sambil menepuk - nepuk bahu suaminya.


" Iya.. iya.. " Ucapnha dengan santai. Padahal situasi lagi genting.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tinjuan masi dilayangkan Rangga tanpa henti kearah Reyhan yang tidak melawan dan sudah tergeletak lemas karena banyak darah yang keluar melalui hidung atau mulutnya. " Brengsek lo !! " Umpatnya dengan geram.


" Kak berhenti kak..!! " Teriak Mia dari jauh yang tidak tega melihat calon suaminya yang sudah tergeletak lemas dengan darah yang terus mengalir keluar.


Rangga tidak mendengar apa yang dikatakan oleh adiknya , amarah yang dirasakannya sudah menjalar di seluruh tubuhnya. Rangga menarik kaos yang dipakai Reyhan agar Reyhan bangun dari posisinya.


Saat akan melayangkan satu lagi tinjuan keras kearah wajah Reyhan yang babak belur tangannya terhenti saat papa Adi berbicara. " Cukup !! " Ucap papa Adi dengan penuh penekanan.


Rangga melihat papanya yang saat ini sedang memadangnya dengan dingin dan tatapan membunuh. " Kamu fikir dengan cara ini semua bisa selesai !! " Tegasnya.


" Tapi pa " Protes Rangga.


" Lepasin Reyhan !! " Ucapnya lagi dengan tegas. Karena mendengar perkataan dari papanya akhirnya Rangga melepas cengkraman kaos Reyhan dan berdiri dari posisinya.


Reyhan yang sudah lemas dipapah oleh Mia dan mamanya untuk dibawa kekamarnya. Dengan tenaga yang tersisa kakinya melangkah.


" Papa perlu bicara sama kamu. Papa tunggu diruang kerja ! " Tegasnya. Lalu pergi berjalan keruang kerja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kamar Reyhan.


Reyhan sudah dibaringkan dikasurnya. Saat ini Mia sedang mengoti Reyhan dengan telaten. Tetapi dikamar itu hanya ada Mia dan Reyhan saja sedangkan mama Erina sudah keluar karena diminta oleh Mia meninggalkan mereka berdua saja dikamar.


" Kenapa diam aja sih tadi ? " Tanya Mia dengan kesal . Sambil mengobati luka memar yang ada dipipi Reyhan.


Reyhan tersenyum mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Mia. " Aku ngak ada hak untuk ngelawan " Jawab Reyhan.


Mia yang mendengar jawaban itu langsung menghentikan tangannya yang sedang menggunting plaster , sambil mengerutkan dahinya dan menatap Reyhan. " Kok gitu ? " Ucapnya dan melanjutkan kegiatannya yang sempat terhenti.


" Ya karena.. memang aku yang salah " Jawab Reyhan.


Mia yang mendengar itu hanya mengangguk saja sebagai jawaban iya , karena malas juga berbicara lagi pasti ujung - ujungnya dia akan kalah.


Sudah selesai Mia mengobati Reyhan dan sekarang dirinya akan menaruh kotak obat ditempatnya . Namun baru saja kakinya akan melangkah tangannya sudah dipegang oleh Reyhan.


Mia menatap Reyhan. " Kenapa ? " Tanya Mia dengan lembut.


" Diam disini,.. Jangan pergi " Ucapnya dengan manja.


Ada rasa kasihan didalam hatinya namun Mia tetap mempertahankan dirinya yang dingin dan ketus terhadap Reyhan. Genggaman tangan itu terlepas oleh Mia. " Jangan manja deh " Ucapnya dengan tatapan yang seolah tidak suka , padahal hatinya berbeda dari sifatnya.


Mia sudah berjalan kearah tempat kotak obat ditaruh , namun sayang tempat itu tinggi sekali sampai - sampai dirinya harus berjinjit . Reyhan yang melihat dari tempat tidur langsung bangun untuk membantu Mia yang kesusahan menaruh obat.


Reyhan sudah berada dibelakang Mia. " Sini.. biar aku bantu " Ucap Reyhan yang sudah mengambil kotak obat dan langsung menaruhnya.


Setelah menaruh obat kedua tangan Reyhan memeluk perut Mia , yang dimana didalamnya ada anak mereka.


" Hai sayang.. " Ucap Reyhan sambil mengelus perut rata Mia.


Mia yang mendengar itu berusaha untuk menahan tangisnya dengan cara menggigit bibir bawahnya. " Papi tau... kalau mami kamu lagi marah sama papi... " Mia sudah tidak bisa menahan tangisnya , jatuhlah air mata yang tidak bisa ditahan olehnya.


" Makanya kamu,... jangan nakal sama mami ya " Ucapnya sambil tersenyum.


Mia tidak bisa lagi menahan tangisnya , air mata sudah membasahi pipinya dengan cepat dirinya melepas tangan Reyhan yang mengusap perut ratanya.


" Kakak istirahat , aku mau kekamar " Ucapnya sambil mengusap air mata agar dirinya tidak terlihat sudah menangis.


~ Bersambung ~