My Husband This Is My CEO Season 1

My Husband This Is My CEO Season 1
78



Hai semua!


Perhatian bentar ya... untuk cerita Zergan sudah selesai ya..


Dan sekarang cerita menuju ending ini hanya akan berfokus pada cerita Rangga dan Tasya aja.


Terimakasi bagi yang sudah baca sampai episode 78!


Kehadiran kalian membawa uang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam ini, keluarga Adimaja dibuat heboh seheboh - hebohnya. Bagaimana tidak? wong.. tadi Rangga sudah minta izin sama semua keluarga untuk besok sama - sama dateng kerumah keluarga Tasya untuk melamar secara besar - besaran.


" Akhirnya kakak ipar gue ini... mau menikah juga " Ucap Reyhan sambil menepuk - nepuk pundak Rangga.


Rangga yang ditepuk pundaknya hanya bisa memasang ekspresi bodo amat, tidak peduli dan kamu siapa. " Gue kira lu homo. Eh.. tapi ngak deh.. ngak homo " Ucap Reyhan lagi.


Mia yang juga ikut berada diruang tamu dengan memakai daster hanya bisa geleng - geleng kepala saja sambil tersenyum melihat tingkah kakak nya dan suaminya. Terlihat juga kini badannya lebih gemuk saat baru beberapa bulan ini selesai melahirkan.


" Kak rey " Panggil Mia sambil menimang bayinya yang terlihat sudah lelap tertidur didalam timangannya.


Reyhan menoleh dan langsung berjalan untuk duduk disamping Mia. " Kenapa sayang? " Tanya Reyhan sambil mengelus rambut Mia yang terlihat seperti disangggul dibagian belakangnya menggunakan jepitan.


" Kakak yang tidurin di atas ya? " Ucapan nya terjeda sebentar karena terlihat anak mereka bergerak seperti tidak nyaman dan ingin cepat tidur dibox bayi miliknya.


" Aku mau ngomong sebentar sama mama " Lanjut Mia sambil tersenyum kearah Reyhan.


Reyhan mengangguk, lalu mengambil anak nya dari tangan Mia. Setelah itu dirinya berjalan kearah kamar mereka yang kini sudah pindah kekamar tamu dilantai bawah. Sengaja, kata mama Erina sih.. biar ngak capek turun naik tangga atau lewat lift kalau misalkan ada keluarga dateng.


Sementara tanpa disadari dari tadi Rangga melihat interaksi keluarga kecil itu, memang rasa iri tidak dapat ditepisnya. Ya gimana ngak iri? orang umur mau kepala tiga tapi belum nikah kan.


" Bentar lagi otw kok " Cicit Rangga bermolog kepada dirinya sendiri sambil mengelus dada dan melihat pintu kamar kayu yang tadi Reyhan masuki.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Lembur lagi lembur lagi!


Sepertinya hari ini semua karyawan RJA Group lembur untuk rencana kebut kerja dalam waktu dua bulan, kecuali bagian OB sudah pulang dari jadwal pulang. Pasti capek. Ya.. ini semua dilakukan supaya besok nih... pas pasutri baru honeymoon ngak dibebanin kerjaan yang numpuk.


Jam dinding digital yang ditempel ditembok aula kantor RJA Group sudah menunjukan jam sepuluh malam. Rangga mengetok pintu ruangan Tasya. " Sayang... aku masuk ya... " Pinta Rangga, karena tidak ada sautan Rangga langsung masuk saja kedalam ruangan Rangga. Toh juga kan.. Rangga yang punya perusahaan.


Rangga dibuat geleng - geleng kepala karena melihat si calon istrinya tertidur dengan kepala yang ditaruh dimeja namun tangan kanannya masih menggenggam pulpen. " Kecapean pasti " Gumam Rangga.


Tangan Rangga mengelus rambut Tasya. " Sayang... bangun yuk " Ucap Rangga dengan lembut. Tasya mengerjapkan matanya, nyawanya masih terkumpul setengah saja.


Tasya menegakkan badannya lalu menguap dan menatap Rangga dengan mata yang sipit efek baru bangun tidur. " Sekarang jam berapa? " Tanya Tasya, padahal ditangannya juga ada jam.


" Jam sepuluh. Pulang yuk! sudah lewat waktu tidur kamu kan? " Ujar Rangga sekaligus mengajak dan bertanya. Tangannya juga lanjut mengelus rambut Tasya.


Tasya yang mendengar itu hanya mengangguk dan memasukan apa yang perlu dimasukannya kedalam tas miliknya. Tasya terlalu mengantuk untuk berdiri. " Bangunin " Rengek Tasya manja sambil menjulurkan tangannya kearah Rangga.


Rangga tersenyum dibuatnya. " Manja banget sih.. " Cela Rangga lalu meraih tangan Tasya dan merangkul pundak Tasya untuk berjalan pulang. Tasya hanya diam sambil tersenyum.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi sudah datang, matahari juga sudah bergantian jadwal dengan bulan. Begitupun langit yang hari ini nampak sangat cerah. Tidak ada namanya matahari yang masih malu - malu keluar dari belakang lagit untuk menyinari bumi.


" Bunda! " Teriak Tasya kencang dari kamarnya.


Terlihat sangat jelas kamar Tasya pagi ini sangat berantakan. Baju ada dimana - mana, isi tas kerjanya juga sudah amburadul diatas kasur begitupun juga terlihat lampu kamarnya belum dimatikan padahal dirinya sudah membuka jendela agar sinar matahari bisa masuk.


Bundanya yang sedang menjemur baju dihalaman belakang dibuat terkejut. Dengan cepat bundanya mengantung baju menggunakan hanger ditali jemuran baju. " Kenapa sya? " Teriak bunda nya sambil berjalan menaiki tangga kayu itu.


Bunda Tasya mengernyitkan keningnya. " Kalung yang mana? kalung kamu kan banyak " Tanya dan jelas bundanya.


" Itu loh bund, yang waktu itu Rangga kasih. Yang warna nya rose gold " Jelas Tasya sambil mengobrak - abrik laci meja hiasnya.


Bunda Tasya mencoba mengingat kalung apa yang dimaksud oleh Tasya. " Oh itu... " Ucap bundanya mengantung ucapan.


Tasya yang mendengar itu langsung membalikan badannya dan memberhentikan aktivitasnya yang tadi. " Bunda tau? dimana bund? " Tanya Tasya memberondong pertanyaan lebih dari satu.


" Enggak, bunda ngak tau " Jawab bunda lalu tersenyum canggung.


Tasya langsung merubah ekspresi nya menjadi murung. " Kirain bunda tau.. " Ucap Tasya lirih dan langsung mendudukan dirinya disofa single yang ada di kamarnya.


" Kamu sudah cari ditas kerja kamu? atau... di... " Bunda Tasya mengitari pandangannya mengelilingi ruangan kamar anaknya. " di lemari? " Lanjut bunda Tasya.


" Sudah bunda. Sudah semua. Tapi hasilnya nihil... " Jawab Tasya. Sekarang Tasya benar - benar merasa bersalah karena baru kemarin Rangga memberikannya kalung itu tepat setelah acara makan malam keluarga nya dan keluarga Adimaja.


" Kalau begitu bunda ngak tau deh.. " Saut bunda nya sambil memunguti pakaian Tasya yang terjatuh kelantai lalu mengumpulkannya diatas kasur.


" Bunda mau lanjut jemur cucian, kamu mau ikut? " Tawar bundanya saat akan membuka pintu untuk keluar dan kembali ke aktivitas menjemur pakaian.


" Tasya lagi ngak mood bunda " Jawab Tasya lalu memanyunkan mulutnya.


Bunda Tasya hanya mengangguk. " Yasudah.. kalau begitu nanti baju kamu, kamu lipat lagi terus taruh yang bener dilemari. Dan... satu lagi, kasih tau Rangga kalau kalung kamu hilang " Ujar bundanya supaya membuat hati Tasya sedikit senang, lalu berjalan keluar dan menutup pintu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat ini Tasya dan Rangga sedang berada didalam kamar berdua tepatnya diatas kasur sedang duduk berdua. Eits... jangan macem - macem dulu pikirannya, selow aja.. pintu kamarnya dibuka kok.


Tasya saat ini sedang menangis sesenggukan disamping Rangga dengan kepala yang bersender dipundak Rangga, sementara tangan Rangga dari tadi tidak hentinya mengelus rambut Tasya yang tidak diikat.


" Udah jangan nangis, beli yang baru kan bisa " Ucap Rangga menenangkan calon istrinya, yang menangis karena kalung yang hilang.


" Tapi kan itu dari kamu " Ucap Tasya sambil mengontrol emosi dan tangisannya.


" Tau, aku tau. Tapi kan bisa beli yang baru " Ucap Rangga lagi.


" Tapi- " Ucapan Tasya terpotong saat pelayan rumah orang tuanya masuk membawa makan dan minuman dengan nampan. Rangga dan Tasya pun menoleh secara bersamaan saat itu juga.


" Maaf non, bibik ganggu " Ucap pembantu itu lalu dijawab senyuman dan anggukan oleh Rangga. Setelah menaruh makanan dan minuman pelayan itu langsung pergi dengan membalas senyuman Rangga.


" Makan dulu ya.. pasti belum makan kan dari tadi " Ajak Rangga sambil melihat Tasya.


" Tapi kalung nya gimana? " Tanya Tasya lagi sambil melihat Rangga dengan hidung yang sudah memerah.


" Jangan pikirin kalung nya. Pikirin dulu diri kamu, dari tadi belum makan kan? " Jawab Rangga tegas, saat ini bukan kalung yang menjadi tujuan Rangga, tapi perut Tasya yang jelas dari tadi saat Tasya menangis berbunyi kruk.. kruk..


Tasya mengangguk lalu memakan salat buah yang jelas dari rasanya itu dibuat oleh bundanya. Dan juga kali ini bukan dirinya yang menyuapi tapi Rangga. " Habisin, jangan sampe kelaperan " Kata Rangga lalu menaruh mangkuk yang berisi salad buah didepan Tasya.


Sambil melihat Tasya yang sedang makan Rangga berkata. " Jangan cuma karena kalung dari aku, kamu jadi nangis sesenggukan kaya gini " Saat Rangga sedang berbicara terlihat juga Tasya ingin memotong ucapan Rangga.


Rangga menempelken telunjuknya dibibirnya sendiri, pertanda agar Tasya tidak berbicara dan memotong ucapannya. " Aku ngerti, aku tau kamu suka dan sayang banget sama kalung nya. Tapi kan... itu bisa dibeli lagi, kalau pun langka aku bisa pesenin di desainer perhiasan langganan mama " Lanjut Rangga yang lumayan panjang dengan tangan yang mengelus rambut Tasya.


Tasya yang mendengar itu langsung tersenyum walaupun wajah sembab nya masih kelihatan, dan tanpa meminta izin terlebih dulu Tasya langsung memeluk Rangga. Bodo amat lah sama gengsi nya.


~ Bersambung ~


Jujur bab ini udah kepending tiga hari lebih karena aku sebagai author susah ngumpulin ide baru dan alur yang seru. Dan juga mandek karena lagi UAS juga sih..


Stay healty semua


Stay happy juga.