My Husband This Is My CEO Season 1

My Husband This Is My CEO Season 1
48



Rumah sakit.


Keyla saat ini sedang tidur dikasur rumah sakit, disamping kanan kirinya juga terdapat dua polwan yang menjaga serta pak Iban yang berdiri dibawah kakinya, dirinya merasa peristiwa tadi sangat - sangat membuat dirinya ingin mati, dengan mata yang terbuka Keyla tidur dikasur itu.


" Keyla " Panggil Kenan sambil berjalan kearah Keyla, lantas suara nya yang memanggil Keyla membuat pengunjung dirumah sakit menoleh kearah dirinya.


Kenan menarik kursi dan duduk disamping adiknya, polwan yang berada disebelah kanan Keyla pun langsung pindah dari tempatnya.


Kenan menatap dua polwan dan ketua penjaga lapas yang sudah menunggu Keyla dari tadi. " Bisa izinkan saya berbicara dengan adik saya berdua saja? " Tanya Kenan dengan bahasa formalnya.


Pak Iban yang menjadi ketua penjaga lapas ditatap oleh kedua polwan setelah Kenan meminta izin. " Ah.. iya tuan bisa, tapi lima belas menit saja " Ucap pak Iban memberi izin dan langsung memberi isyarat kepada dua polwan itu untuk pergi. Dua polwan itu mengangguk mengerti.


Setelah dirasa pak Iban dan dua polwan itu sudah menjauh dari tempat awal Kenan membuka pembicaraan nya. " Kata penjaga lapas, kamu dicekek sama Natalie " Ucap Kenan.


" Iya, tapi sekarang aku baik - baik aja kok kak " Ucap Keyla lalu tersenyum.


" Ck " Suara kenan berdecak kesal. " Liat aja nanti, setelah kamu keluar kakak akan balas sahabat ular kamu itu! " Ketus Kenan yang sangat kesal terhadap Natalie.


" Udah lah, jangan jadi orang pendendam " Cela Keyla kepada kakaknya yang akan membalas mantan sahabatnya itu.


" Kenapa? kamu masi nganggap dia sahabat! setelah dia tega hancurin karir kamu! " Ucap Kenan ketus dan begitu kesal, karena kenapa bisa - bisanya adiknya itu masih merasa kasihan terhadap mantan sahabatnya itu.


Keyla hanya bisa memutar bola matanya malas, pasti jika dilanjutkan dan dibalas perkataan kakaknya akan terjadi perdebatan panjang. Suana hening sebentar namun setelah itu Kenan membuka suara nya duluan dengan deheman.


" Oh ya, kemarin calon mertua kamu datang kerumah terus- " belum selesai dirinya berbicara namun sudah dipotong oleh Keyla.


" Pasti mereka batalin semuanya kan, Ya udah pasti lah.. aku ikhlas kok kak terima semuanya " Ucap Keyla duluan sebelum Kenan menyelesaikan ucapannya. Dan langsung memasangkan raut wajah sendunya.


Kletak!


Kenan menyentil dahi Keyla. " Belum aja kakak selesei ngomong, tapi malah kamu yang jawab nya ngawur! " Ketus Kenan. Keyla menggosok dahinya yang terasa sedikit sakit akibat sentilan kakaknya.


Keyla mengerutkan dahinya begitu mendengar ucapan kakaknya. " Lah, kan memang bener. Nih ya,... mana ada calon mertua yang mau terima menantunya itu punya status penjahat " Ujar Keyla.


" Cih, sok tau kamu! " Decih Kenan dan ketus karena Keyla belum mendengar pernyataan sebenarnya.


" Terus kalau bukan itu apa kak? " Tanya Keyla.


" Tadi calon mertua kamu kan datang kerumah, tapi mereka memutuskan untuk ngak ngebatalin rencana pernikahan kamu sama Ferel " Ujar Kenan.


Keyla membelalakan matanya tidak percaya. " Kok bisa! " Pekik Keyla tidak percaya.


" Ya bisalah. Mungkin aja ni... Ferel berusaha bujuk orang tuanya buat tetep nikahin kamu. Ya.. itulah yang namanya cinta! " Tekan Kenan pada kata cinta.


Pak Iban dan dua polwan kembali untuk memberitau Kenan bahwa waktu mereka berbicara sudah habis. " Maaf tuam waktunya sudah lima belas menit " Ujar Pak Iban.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rumah keluarga Haddict


" Haduh gimana ini.. kalau kita dipecat diamana kita akan kerja.. " Ucap salah satu penjaga rumah Keyla gelisah.


" Lu sih, bikin gara - gara " Ucap penjaga yang lain sambil memukul bahu temannya.


" Lah kok gue " Ucap penjaga yang dipukul itu tidak terima dengan ucapan teman nya.


Setelah tuannya kembali masuk kedalam, ketiga satpam itu merasa gelisah gulana karena mereka bertiga dipecat secara tidak hormat.


" Ah iya, pasti setelah nyonya kembali.. kita akan diterima kembali " Ucap penjaga bernama Gema dengan membawa harapan.


Sementara temannya yang lain hanya mengangguk saja, seolah ucapan itu akan benar terjadi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tadi pagi dikediaman keluarga Haddict.


Satu mobil mewah memasuki halam rumah keluarga Haddict. Pemilik mobil itu beserta istrinya keluar dari dalam mobil. " Apakah tuanmu ada didalam? " Tanya tamu itu.


" Iya tuan ada. Sebentar saya panggilkan " Ucap penjaga itu lalu masuk kedalam rumah untuk memberitau tuannya bahwa ada tamu penting yang datang.


Tami itu mengangguk mengerti, namun setelah beberapa lama menunggu penjaga yang tadi memanggil tuannya segera keluar lagi untuk mempersilahkan tamu itu masuk. Karena sudah dipersilahkan masuk kedua tamu itu langsung masuk kedalam.


Papi Keyla sudah duduk disofa besar ukuran single yang bewarna abu dan hitam. Dilihatnya tamunya yang merupakan calon besannya. Dengan senyum yang hangat papi Keyla menyambut tamu itu.


Papi Keyla dan papi Ferel berjabat tangan untuk meemulai pertemuan. " Sebenarnya ada apa kalian berdua kemari? " Tanya papi Keyla basa - basi padahal sudah mengetahui alasannya.


" Sebelum kami mengutarakan alasan kami datang kesini, kami turut prihatin atas peristiwa kemarin " Ucap papi Ferel simpati terhadap bencana yang Keyla alami.


Papi Keyla tersenyum ramah begitu mendengar ucapaj calom besannya. " Ah.. iya terimakasi karena telah bersimpati dengan Keyla " ujar papi Keyla.


Mommy Ferel melihat kesana - sini mencari dimana mami Keyla berada. " Ah iya dari tadi... saya belum melihat istri anda. Dimana dia? " Ujar Mommy Ferel sekaligus bertanya.


" Aaa.. itu, emm.. istri saya sedang tidak enak badan " Ujar Papi Keyla berbohong demk kebaikan masalah rumah tangganya.


Dari kejauhan terlihat Kenan yang baru keluar dari ruang kerja. " Wahh.. ternyata ada Kenan disini " Sambut papi Ferwl saat melihat Kenan yang baru keluar dari ruang Kerja sambil merapikan jas nya.


Kenan yang merasa dipanggil langsung menoleh dan tersenyum. " Om.. tante.. " Ucap Kenan sambil menyalami kedua orang tua Ferel.


" Ah iya saya hampir lupa " Ucap papi Ferel yang lupa mengutarakan alasannya datang bertamu kerumah besannya.


" Sebenarnya kami orang tua Ferel memutuskan bahwa.. " Papi Keyla dan Kenan sudah memasang wajah tegang saat ini dirinya sudah benar - benar siap menerima kenyataan bahwa anak perempuan nya itu tidak jadi menikah begitu juga dengan Kenan yang sudah siap menjadi amukan maminya bila pernikahan adiknya dibatalkan.


" Bahwa kami tidak akan membatalkan pernikahan Ferel dengan Keyla " Ujar Papi Ferel melanjutkan kalimatnya yang membuat papi Keyla tegang namun papi Keyla langsung menghela nafas leganya.


" Syukurlah " Ucap papi Keyla sambil tersenyum dan dibalas senyum juga oleh kedua orang tua Ferel. Dirinya merasa lega, ya.. walaupun ingin mengusir Keyla.


" Awalnya kami sebagai orang tua ingin membatalkan pernikahan mereka, ya.. karena masalah yang sedang dihadapi oleh Keyla sekarang " Ujar Papi Ferel.


" Akan tetapi kami mengurungkan niat, karena Ferel berhasil membujuk saya dan istri saya untuk mempertahankan rencana pernikahannya " Lanjut nya lagi sambil menggenggam tangan istrinya dan tersenyum hangat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dewin malam telah keluar dari peraduannya. Langit juga sudah gelap karena waktu. Seperti yang sudah direncanakan Tasya saat ini sedang berdandan didepan cermin.


Dirinya menoleh kearah samping kanannya, disana ada paper bag bewarna putih yang bertuliskan nama tempat menjual aksesoris. Paper bag yang bewarna putih itu baru saja sampai kerumahnya.


" Apa ya kira - kira isinya? " Tanya Tasya lalu mengambil paper bag itu dan mengambil kotak hitam didalam paper bag.


Kotak yang berbentuk persegi panjang itu nampak indah dan elegan dari luar. Tasya membulatkan matanya tidak percaya setelah melihat isi dalam kotak itu.


Tasya memasangkan kalung itu dilehernya. " Woahhh! " Ucap Tasya kagum ketika melihat kalung itu sudah tepasang dileher putihnya.


" Sayang..! Ada Rangga diluar, nungguin kamu katanya! " Teriak bunda Tasya.


Tasya yang sedang terkagum - kagum dengan kalung yang dikirimkan oleh bosnya langsung menghilangkan wajah kagumnya saat bundanya memanggil dari luar. " Iya bund.. bilang sebentar lagi Tasya keluarnya! " Balas Tasya dari dalam kamarnya teriak.


" Oke! " Balas bundanya.


Dengan cepat Tasya bangun dari kursinya dan mengambil tas jinjing yang berukuran kecil diatas mejanya. Tas kecil yang hanya berharga empat puluh lima ribu itu semakin membuat penampilaan Tasya malam ini maksimal. Tidak perlu mahal yang penting bagus dan berkualitas.


Tasya menuruni anak tangga menggunakan sepatu healsnya yang bewarna putih. Rangga yang sedang mengobrol dengan ayah Tasya langsung mengalihkan perhatian nya kearah tangga.


" Wah pasti ini mimpi, iya ini mimpi! " Ucap batin Rangga yang melihat Tasya begitu cantik dan anggun beluk lagi ditambah leher putihnya yang dihiasi oleh kalung pemberiannya.


Tasya sudah menuruni anak tangga dan beridiri didepan kedua orang tuanya dan Rangga yang sedang duduk disofa. " Malam pak " Ucap Tasya sopan sambil tersenyum.


Rangga yang masih diam dan berada dalam mode melamun diam tidak menjawab ucapan Tasya. " Rangga " Panggil ayah Tasya sambil menepuk bahu Rangga.


" I- iya om " Jawab Rangga ketika lamunannya terpecah dan mengalihkan pandangannya kearah ayah Tasya.


" Yeh, malah ngelamun. Itu Tasya sudah turun " Ucap ayah Tasya sambil tersenyum menggoda Rangga. Bunda Tasya juga ikut tersenyum dengan kelakuan Rangga.


Rangga langsung mengalihkan pandangannya kearah Tasya yang sedang tersenyum kepadanya. " Aa- a iya ayo kita langsung jalan " Ucap Rangga gelapan karena ketahuan melamun.


Tasya mengangguk dan langsung menyalami kedua orang tuanya begitupun dengan Rangga yang ikut menyalami kedua orang tua Tasya. " Tasya pergi dulu ya, bunda sama ayah mau nitip apa? " Tanya Tasya sambil meminta izin.


" Ngak usah, ngak usah. Bunda sama ayah ngak lagi kepengen apa - apa " Jawab Bunda Tasya lalu tersenyum.


" Oh gitu " Jawab Tasya sambil mengngguk. " Yaudah, Tasya pergi dulu ya " Ucap Tasya dan setelah mendapat anggukan dari kedua orang tuanya Tasya langsung pergi.


Sebelum dirinya memasuki mobil Tasya melempar senyum nya kepada kedua orang tuanya lalu masuk kedalam mobil.


Suasana jalanan yang dilalui oleh mobil yang membawa mereka berdua sangat ramai karena sekarang masih jam delapan malam. " Kita.. mau makan malam dimana pak? " Tanya Tasya.


Rangga mengalihkan perhatian nya dari ponsel saat Tasya bertanya. " Jangan pake bahasa formal kalau berdua sya. Soalnya.. kaya kikuk gitu suananya " Ujar Rangga yang tidak enak dipanggil pak saar sedang berdua dengan Tasya. Eh.. ralat ralat bertiga, jangan lupain pak supirnya.


Tasya mengangguk mengerti lalu tersenyum. " Nanya apa tadi? sorry gue lupa " Ucap Rangga dengan bahasa informal nya, seolah mereka adalah teman dekat.


" Kita mau makan malam dimana? " Jawab Tasya mengulangi pertanyaan nya.


" Oh, dihotel senayan city " Jawab Rangga.


Kini mobil sudah terparkir didepan hotel Tasya dan Rangga langsung turun dari mobil dan langsung masuk berjalan kedalam hotel resepsionis menyambut mereka dan langsung mengantarkan mereka kemana tempat yang mereka tuju.


Tasya melihat disekelilingnya. " Kok sepi? " Tanya Tasya dalam hati sambil melihat kesekitar ruangan balkon atas hotel.


Rangga menarik kursi untuk Tasya, Tasya pun langsung duduk dikursi yang baru ditarik oleh Rangga tadi. " Terimakasi " Ucap Rangga.


" You are welcome " Balas Rangga.


Makanan langsung diantarkan oleh pelayan restoran hotel ketempat Tasya dan Rangga. Ada beberapa jenis hidangan yang ditaruh diatas meja oleh pelayan. Saat semua pelayan sudah pergi Tasya bertanya kepada Rangga. " Tante Erin sama om Adi mana? ".


Rangga langsung gelagapan ketika ditanua seperti itu. Rangga menggaruk tengkuk nya yang tidak terasa gatal. " Emm.. mama sama papa.. emm.. enggak jadi dateng " Ujar Rangga.


" Kenapa? " Tanya Tasya mengerutkan keningnya.


" Emm.. itu karena.. mereka lagi ada acara yang ngak bisa dicancel. Ya karena itu " Jawab Rangga.


Tasya mengangguk mengerti. " Jadi, cuma kita berdua aja ni? " Tanya Tasya lagi.


Rangga mengangguk sambil memotong daging steak dipiring depannya, lalu menaruh potongan yang sudah dipitong kepiring Tasya.


Acara makan malam sudah berjalan, Rangga yang mempunyai tujuan mengajak Tasya kerestoran hotel senayan city langsung mengambil kotak bludru biru didalam jasnya.


Dirinya menyodorkan kotak itu kedapan Tasya. " Ini kan.. " Ucap Tasya dalam hati sambil melihat kotak bludru yang tidak asing baginya.


" Lo pasti tau itu kotak apa " Ucap Rangga, dan setelah itu bangkit dari duduknya dan berjalan kearah Tasya kemudian mengambil kotak bludru itu dan membukanya.


Terlihat lah cincin yang kemarin malam digunakan Rangga untuk melamar Tasya. Diambilnya tangan kiri Tasya kemudian..


" Eits... stop, stop " Ucap Tasya memberhentikan tangan Rangga yang akan memasangkan cincin kejari manisnya.


" Kenapa? " Tanya Rangga bingung.


" Kita nga bisa kaya gini " Ujar Tasya kemudian berdiri dari kursinya dan kini posisi mereka berdua sedang berhadap hadapan.


Hati Rangga langsung kecewa saat mendengar Tasya mengatakan itu. " Kita itu cuma sebatas atasan sama bawahan " Kata Tasya sambil menatap Rangga.


" Tapi kan itu dikantor, dan sekarang ini bukaan dikantor " Cela Rangga sambil menatap Tasya lekat - lekat.


" Yes, i know. Tapi gue ngak bisa terima cincin itu " Kata Tasya merasa bersalah.


" Kenapa? bukannya banyak wanita yang pengen cincin dari gue ada dijari manis nya " Ucap Rangga tidak terima dengan penolakan dari Tasya.


" Iya.. mungkin itu menurut lo " ucap Tasya sambil melepaskan tangan kirinya yang digenggam oleh tangan kiri Rangga.


Rangga melihat tangannya yang dilepas oleh Tasya, dirinya merasakan sakit didada nya. " Tapi kita kan belum saling cinta " Sambung Tasya melanjutkan ucapannya.


" Bukannya cinta itu bisa datang nanti setelah kita menikah " Ujar Rangga mencoba membuka hati Tasya.


" Bukan, karena pernikahan itu harus dilandasi oleh rasa cinta " Jawab Tasya.


" Jadi.. lo nolak gue? " Tanya Rangga.


" Untuk saat ini gue belum bisa jawab kalau gue nolak lo. Tapi.. kasi gue waktu " Ujar Tasya.


Hati Rangga yang tadinya sakit sekarang secara perlahan menjadi sembuh. Berarti masih ada harapan? tanya pikiran Rangga saat ini.


" Berapa lama? " Tanya Rangga serius.


Tasya mencoba berifikir. " Dua bulan. Dan kalau dua bulan gue belum bisa cinta sama lo.. sorry kalau cinta lo bertepuk sebelah tangan " Ujar Tasya.


Rangga tersenyum seolah yakin kalau Tasya akan benar - benar cinta kepadanya dalam waktu dua bulan. " Oke, gue yakin lo akan benar - benar cinta sama gue! " Ucap Rangga yakin sambil masih menampakan senyuman nya kearah Tasya.


~ Bersambung ~