My Husband This Is My CEO Season 1

My Husband This Is My CEO Season 1
57



Meeting dengan para investor telah selesai. Memang aneh rasanya saat diruangan meeting tadi Fahri seperti tidak mengenalu dirinya asing? itu satu kata yang dapat menggambarkan keadaan saat ini.


Tasya berjalan sambil memeluk berkas dengan tatapan lurus kedepan. Pikirannya masih kewaktu yang tadi. " Hah... apa jangan - jangan Fahri amnesia kalik? " Gumamnya dengan helaan nafas.


Brak.


Karena konsen memikirkan hal itu dirinya tidak sengaja menjatuhkan berkas yang tadi dipeluk oleh nya. Dirinya juga tidak sadar bahwa ada punggung pria yang ditabraknya. Dengan segera Tasya mengambil berkas itu tanpa mau melihat siapa orang yang ditabraknya.


Sebuah tangan terjulur membantu dirinya memunguti berkas yang terjatuh. " Terimakasi, dan maaf karena- " Ucapannya terhenti sebentar karena astaga.. kenapa begini?


Fahri? ah bukan - bukan dia pasti sedang menghalu karena saat ini dirinya sedang fokus memikirkan Fahri saja. Tasya mengerjap - ngerjapkan matanya. " Kamu ngak papa? " Tanya pria itu yang dilihat wajahnya mirip Fahri.


" Ahh.. iya - iya saya ngak papa " Ucap Tasya buru - buru lalu tersenyum.


" Syukurlah kalau begitu " Ucap pria itu. " Saya pergi dulu ya " Ucapnya pamit lalu pergi berjalan meninggalkan Tasya.


Tanpa berfikir panjang kali lebar Tasya mengerjar pria itu sebelum dirinya kehilangan jejak dan rasa penasarannya membuncah. " Tunggu.. tunggu! " Teriak Tasya sambjl berlari terburu - buru.


Pria yang dipanggil itu menoleh kearahnya dan memberhentikan langkahnya. " Iya. ada apa? " Ucapnya heran.


Tasya membuang nafasnya. " Elo Fahri kan? " Tanya Tasya dengan tatapan serius.


Mendengar pertanyaan itu pria itu terdiam sebentar lalu tersenyum, Tasya tidak mengerti kenapa malah pria itu tersenyum?.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kantor kepolisian.


Siang ini, Ferel berkunjung ketempat Keyla ditahan. Seperti biasa dirinya selalu membawakan makanan untuk calon istrinya itu.


" Ih.. kamu tau ngak sih? " Tanya Keyla sambil menyantap makanannya yang dibawakan oleh Ferel.


" Habisin dulu makanan nya. Liat tuh.. mulut kamu kembung banget " Suruh Ferel sambil tersenyum gemas melihat pipi Keyla yang cabi karena makanan.


Keyla mengangguk sambil tersenyum lalu menelan makanannya dan meminum air putih botolan. " Kamu tau ngak sih? " Tanya Keyla ulang.


" Apa? " Tanya nya balik.


" Kemarin.. waktu aku mandi.. ada kecoa. Ih.. aku jijik banget! " Ucap Keyla bercerita dengan ekspresi yang takut akan kecoak.


Ferel menarik bibirnya tersenyum. " Oh ya, terus.. kecoa nya kamu injek ngak? " Tanya Ferel.


" Ih.. aku mana berani injek kecoa!. Aku malah siram kecoa nya " Ujar Keyla dengan raut wajah takut.


" Terus.. kecoanya hilang? " Tanya Ferel penasaran.


Keyla menyengir kuda. " Enggak sih, tapi..dia malah terbang ke tembok " Ucapnya. Ferel hanya bisa tersenyum karena Keyla bercerita tentang bagaimana kehidupannya dipenjara. Dirinya senang dengan melihat Keyla tersenyum.


Ferel mengelus pipi Keyla. " Kamu yang sabar ya.. sebentar lagi! aku jamin kamu bisa bebas! " Ucap Ferel meyakinkan Keyla dan Keyla menanggapinya dengan senyuman dan anggukan saja.


Beberapa minggu ini dipenjara membuat Keyla mulai terbiasa akan kehidupan penjara. Disini dirinya sadar bahwa kehidupan sebenarnya bukanlah melulu soal harta melainkan kesederhanaan juga perlu.


Walaupun dirinya dipenjara, Keyla juga mempunyai satu teman yang kasusnya beda dengan dia. Temaannya itu terkena kasus penyalah gunaan narkoba sedangkan dirinya terkena kasus yang lebih dari satu.


Jerawat yang tumbuh, mata panda yang kelihatan, kulit yang merah karena tergigit nyamuk tidak membuat dirinya menyerah melewati hukuman yang telah tuhan berikan kepadanya. Mungkin dengan melewati semua ini dengan ikhlas dan sabar kedepannya dirinya akan lebih bahagia.


Tidak ada yang tau bagaimana tuhan menggariskan takdir.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Varo melirik sekilas dan langsung fokus mengemudi kembali. Baru saja mereka pulang dari restoran untuk makan siang bersama Fahri. " Ngapain sih.. peduli sama orang lain " Ucap Varo santai.


" Elo ya! kalau orang lagi kesusahan ditolongin kenapa sih! " Kesalnya tidak terima dengan jawaban Varo yang masih sama seperri dirinya janjian dicaffe.


" Susah? " Tanya Varo dengan nada mengejek lalu tertawa smrik. " Dari mana lo tau kalai dia lagi keusahan. Bisa aja kan dia mainin hukum dengan harta yang dia punya! " Jawab Varo menohok. Namun masih menatap lurus kedepan.


Tasya memandang sinis Varo. " Fitnah dosa loh ya... Lagian kalau memang mereka mainin hukum nih, pasti lah.. Keyla udah bebas dari kemaren - kemaren! " Balas Tasya santai dan berhasil membuat Varo tercekat nafasnya.


" Ngomong - ngomong bener juga sih apa yang dibilang sama Tasya. Tapi kan masa iya gue harus cabut tuntutan? " Ucap Varo bertanya pada dirinya sendiri didalam batin.


Varo berdehem. " Huh.. serah gue lah! kan gue juga yang buat tuntutan nya! " Jawab Varo masih keras kepala.


Tasya sebal dirinya memikirkan ide yang harus hari ini membuat keputusan Varo goyah. Ting! ide berhasil muncul dikepalanya. " Turunin gue disini! " Gertak Tasya.


" Apaansi! Kantor lo masih jauh.. udah deh diem aja! " Ucap Varo tidak setuju.


" Ngak, turunin! " Ucap Tasya yang kekeuh dengan pendiriannya.


" Kalau gue ngak mau lo mau apa? " Tanya Varo ketus.


Kaca mobil dibuka oleh Tasya lalu seat bell yang masih terpasang juga dibuka olehnya. Varo yang melihat itu panik. " Heh heh mau apa? " Tanya Varo yang panik sambil mengemudi.


" Mau loncat! biar gue meninggal dari pada ngomong tapi ngak dijawab setuju! " Ketus Tasya dengan akting nya, berhasil mengelabui Varo.


" Jangan gitu ya! lo masih muda! jangan bunuh diri, udah - udah duduk.. " Ucap Varo tidak senang dan bersikap santai agar mobil yang dikendarainya tidak mendadak menginjak gas.


" Bodo! " Tasya mengeluarkan kepalanya, terlihat raut - raut khawatir dari wajah Varo.


" Tasya.. hei.. jangan gila! " Ucap Varo dengan tangan satu menarik baju Tasya dan tangan sebelahnya menyetir sedangkan pandangannya lurus kedepan.


Tasya berpura - pura tidak mendengar dan malah mendramatiskan keadaan. " Bunda... Ayah..!! " Teriak Tasya sambil melihat keluar.


Beberapa pengendara motor yang lewat pun heran kepada Tasya, sampai mengiranya gila. " Kalau Tasya ada salah maaffin ya!. Tasya ngak bisa kaya gini terus! " Ucap Tasya sambil menangis sesenggukan, sementara Varo masih terus menarik baju Tasya


Varo mendesis tidak suka. " Tasya! duduk! " Teriak Varo masih tetap fokus mengemudi.


Kaca mobil Varo diketuk dari samping oleh salah satu pengendara motor. " Mas! kalau istrinya lagi ngambek.. dicegah dong! jangan sampai bunuh diri! " Teriak pengendara motor itu.


Varo hanya mengangguk dari dalam mobil namun masih bisa dilihat oleh pengendara motor yang menegeurnya itu. Malu? Oh jelas dong!. " Ini anak! bandel banget sih! " Ucap batin Varo yang kesal karena ulah Tasya mereka malah dikira pasangan suami istri.


Tasya yang mendengar itu juga hanya bisa tertawa dalam hati karena suara nya sedang menangis terisak - isak. " Bunda... Ayah.. abang jahat sama Tasya! " Teriak Tasya lagi.


Badan Tasya makin keluar lagi dari dalaam mobil. Haduh... sebenarnya dari adegan konyolnya ini dirinya takut. Dilihatnya aspal yang sangat dekat dengan wajahnya. " Please ya allah. Kalau gue beneran jatuh lindungi gue " Ujar Tasya dalam hati sambil memejamkan matanya kemudian setelah itu dirinya membuka mata kembali dan menghela nafas kasarnya.


" Tasya sayang abang!! " Teriak Tasya diakhir kalimatnya lalu.


~ Bersambung tapi masi ada lanjutannya ~


See u next time everyone.


Like nya, komen apa aja terserah mau pake emot boleh! , rate lah please atau ngak vote aja pake poin juga ngak papa.