
Beberapa puluh tahun lalu, seorang gadis kecil sedang berlari dengan langkah kecilnya. Gaun berwarna kuning dengan motif bunga - bunga yang dipakai olehnya juga ikut bergerak meliuk mengikuti gerak badan Tasya. Iya... anak kecil perempuan dengaan rambut dikepang dua seperti tanduk itu adalah Tasya.
Tasya terduduk didepan taman rumah Rangga. Dulu rumah Rangga tidak semewah dan semegah bak istana. Dan bisnis papa Adi pun baru hanya berjalan beberapa bulaan saja pada tahun itu.
" Kak Angga siyni! " Teriak Tasya kecil memanggil Rangga yang baru saja keluar dari rumahnya, Tasya kecil tidak bisa mengucapkab huruf ' R '. Maka dari itu Tasya saat kecil biasanya memanggil Rangga dengan nama Angga.
Rangga tersenyum saat melihat ada anak perempuan kecil menunggunya duduk diayunan yang berada di depan rumahnya. Rangga ikut menyusul dan duduk disampinh Tasya, untuk menemani Tasya bermain ayunan.
" Kak Angga. Tadi disekolah, Tasya seneng... banget bisa ketemu temen balu! " Kata Tasya bercerita sambil menunjukan raut wajah dan gesktur tubuh yang menggemaskan. Ya.. pada tahun ini Tasya baru saja berumur lima tahun, dan tadi pagi Tasya baru masuk TK.
Rangga yang mendengar cerita Tasya hanya bisa tersenyum senang. Dulu saat dirinya masih kecil Rangga terlalu malu untuk berbicara dengan Tasya dan pada saat Tasya bercerita atau memanggilnya, Rangga hanya bisa tersenyum ceria saja. Terkecuali saat Tasya bertanya maka Rangga akan menjawab dengan singkat saja.
Satu bulan kini berlalu. Tasya masih sering main didepan rumah Rangga, tepatnya diayunan itu Tasya terduduk sambil menunggu Rangga keluar rumah. Dan juga sesekali dirinya memanggil nama Rangga. Memang tidak ada yang melarang jika Tasya masuk kedalam area depan rumah Rangga. Karena.. bisa dibilang juga kedua orang tua mereka berteman dari awalnya tetangga saja.
Banyak Tasya bercerita tentang kisah nya disekolah. Mulai dari dirinya menangis karena mengompol di celana, mulai dari dirinya diganggu oleh temannya yang bernama Egar, bahkan sampai dirinya yang terus mendapatkan bintang lima dari buguru nya. Tasya senang dan bahkan bermimpi seperti ini.
" Kak Rangga.. " Panggil Tasya dengan suara nya yang imut.
Rangga menoleh kearah Tasya yang sedang mewarnai dibuku yang diberikan oleh gurunya disekolah. " Kenapa? " Jawab Rangga sambil melihat Tasya yang masih mewarnai gambarnya dengan gaya terkurap.
Tasya bangun dari posisinya dan duduk bersila namun tangan nya masih memegang krayon berwarna merah. " Pas sudah besal nanti.. bisa ngak kalau kita menikah? " Tanya Tasya ceplas - ceplos. Maklum aja namanya anak kecil. Pandangan Tasya juga terus menatap Rangga tanpa berkedip dari samping, seolah - olah dirinya serius dan menginginkan Rangga menjawab sesuai keinginannya.
Rangga yang mendengar itu langsung mengerjapkan matanya beberapa kali. Sumpah.. Rangga sangat mengerti apa maksud Tasya tadi. Jangan main - main umur Rangga saja sekarang sudah delapan tahun, dirinya tau apa itu menikah. Dirinya tau Tasya masih kecil darinya. Dan juga.. dirinya tau dalam beberapa hari ini mereka akan berpisah dan mungkin tidak akan bertemu kembali.
Tasya langsung menyengir tersenyum terlihat juga saat dirinya tersenyum salah satu giginya ompong. " Tasya belcanda. Kata bugulu... menikah itu untuk orang dewasa. Kita kan masih kecil.. " Ucap Tasya yang mampu menyadarkan Rangga. Dan kembali lagi kekegiatannya mewarnai gambar yang ada dibuku sekolahnya.
Rangga yang mendengar itu langsung tersenyum. Senyumnya kali ini bukan seperti biasanya yang ceria tapi senyumnya kali ini seperti ada yang ditutupkan. Rangga yang berumur delapan tahun saat ini bukan lagi kelas dua SD tapi dirinya sekarang kelas empat SD.
Untuk beberapa minggu kemudian. Tepatnya hari ini sudah berganti menjadi bulan baru di kalender. Terlihat dari rumah Rangga beberapa orang mengangkut barang - barang yang sudah dikemas didalam kardus atau pun plastik besar hitam.
Tasya yang saat itu belum mengerti apa yang dilakukan oleh orang - orang yang mengangkut barang itu langsung berlari masuk kedalam rumahnya. " Bunda! bunda! " Teriak Tasya memanggil - manggil bundanya sambil berlari.
Rambutnya yang dikuncir kuda bergerak kesana kemari saat dirinya berlari. " Kenapa sayang? " Tanya bunda Tasya sambil berlutut untuk berbicara agar tinggi nya sama dengan putri kecilnya yang cantik itu.
" Eh.. itu.. bunda, ada banyak orang yang kelual dali lumah nya kak Angga... " Ucap Tasya membertitahu kepada bundanya.
Bundanya yang mendengar itu langsung berdiri dari posisinya. " Ayo sayang kita lihat ada apa " Ajak bunda Tasya sambil menggandeng tangan Tasya yang mungil. Tasya mengangguk dan berjalan kearah luar untuk melihat situasi.
Ternyata setelah keluar dan melihat situasi bunda Tasya bisa menyimpulkan bahwa keluarga Rangga akan pindah hari ini. Tasya menarik - narik tangan bundanya yang sedang menggenggamnya. " Bunda.. meleka kenapa? " Tanya Tasya bingung dan masih berdiri didepan rumahnya bersama bundanya.
Bundanya tersenyum kearah Tasya lalu berjongkok. Tangannya mengelus kepala putrinya. " Tasya sayang. Kak Rangga mau pindah rumah hari ini " Jawab bunda memberi pengertian.
" Pindah lumah? lumahnya mau dibawa pelgi ya bund? " Ucap Tasya bertanya dengan polosnya. Bundanya terkekeh mendengar apa yang Tasya tanyai tadi.
" Bukan. Maksudnya... kak Rangga sama keluarga nya aja yanga pindah, tapi... rumahnya ngak ikut pindah " Ucap bunda menjawab. Dan Tasya mengerti maksud bundanya dirinya mengangguk.
Mobil yang mengangkut barang - barang milik keluarga Rangga sudah pergi meninggalkaan rumah kosong yang berada didepan rumah Tasya. Iya, rumahnya Rangga didepan rumah Tasya pada saat itu. Tasya dan bundanya yang hanya melihat dari depan rumah hanya bisa diam melihat mobil yang mengangkut barang itu pergi.
Dari tadi mata Tasya celingak - celinguk mencari sosok kak Angga nya. Matanya pun yang baru saja menatap kepergian mobil barang itu kini beralih menatap rumah yang sudah kosong melompong didepan rumahnya.
Tasya bingung kemana kak Angga nya pergi, Tasya bingung kenapa mesti kak Angga nya itu pindah. Tasya bingung siapa nanti yang akan diajak cerita selain bundanya dan bang Varo nya. Dan beberapa tahun kedepannya dirinya masih mencari sosok kak Angga nya, namun.. saat dirinya berusia lima belas tahun ingatannya sedikit hilang dan memori kebersamaan dengan kak Angga nya hanya ada pada saat dirinya mengajak kak Angga menikah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Suara bayi terdengar nyaring menangis dari lantai atas rumah kediaman Adimaja.
Saat ini Rangga dan Tasya sedang berada didapur, mereka berdua berniat untuk membuat makanan korea seperti apa yang Tasya reques sebelum memasak.
" Kok ada suara bayi? " Tanya Tasya sambil menyerngit bingung dan menatap Rangga yang sedang mengandon tepung disampingnya.
Wajah Rangga yang celemotab karena bekas tepung langsung menoleh kearah Tasya yang berada disampingnya. Sekarang Tasya sedang membuat bumbu geonchujang atau bumbu pedas korea. " Kan Mia baru aja melahirkan " Jawab Rangga dan langsung kembali menatap kearah adonannya yang berada dibaskom kecil.
" Kok ngak bilang sih! " Ucap Tasya kesal karena tidam diberitahu kalau Mia sudah melahirkan.
" Ya.. kirain kamu ngak mau tau " Elak Rangga menjawab tanpa mau melihat ekspresi Tasya yang sebal.
" Ya mau lah! masa iya calon kakak ipar ngak mau tau calon iparnya udah melahirkan! " Jawab Tasya sewot dan dengan intonasi bicara yang menggebu - gebu. Eh tapi apa? calon kakak ipar?!.
Rangga tersenyum simpul dan menggeser adonan yang sudah berubah menjadi kalis itu. Lalu Rangga diam dan berdiri disamping Tasya yang masih sibuk membuat bumbu sambil mengomel tidak jelas. Tangan Rangga disilangkan didepan dadanya. " Seriusan mau di seriusin? " Tanya Rangga spechles dengaan senyun jahilnya.
Tasya yang mendengar itu langsung mematikan kompor dan menutup panci berukan kecil itu dengan tutupnya. Lalu dirinya menatap Rangga dengan sengit dan tangannya berkacak pinggang. " Emangnya ngak mau seriusin gue? " Tanya Tasya balik dengan sewotnya.
Setelah berkata seperti itu Tasya mengambil adonan yang sudah dibentuk Rangga kemudian melanjutkan lagi langkah apa yang harus dilakukan untuk membuat tteoppokki. " Mau sayang... " Jawab Rangga lembut lalu memeluk Tasya dari belakang.
Sumpah demi apa menurut Tasya ini bukan romantis seperti drama korea yang pernah ditontonnya, Tasya risih karena dirinya tidak bisa leluasa membuat adonan menjadi bentuk yang diinginkan. " Ck. Jangan ganggu kenapa sih.. " Kata Tasya merengek tidak tahan apabila Rangga memeluknya saat memasak.
Rangga tidak mendengar apa yang Tasya ucapkan dirinya memilih untuk malah menaruh dagunya dipundak kiri Tasya. Pengen banget rasanya tu bumbu pedes dioles kemuka Rangga, begitu pikiran Tasya kira - kira karena saking keganggunya.
" Kita nikah nanti sore aja ya.. " Tasya mematung begitu mendengar apa yang Rangga katakan tadi. Jangan bercanda! masa iya mau nikah nanti sore!.
" Tapi siri dulu " Lanjut Rangga. Dan jelas setelah mengucapkan itu perut Rangga langsung disikut keras oleh Tasya.
Rangga langsung melepas pelukannya dan meringis kesakitan. Rasain!. Perutnya yang disikut terasa nyeri dibagian dalam. " Jahat banget sih. Dosa loh sama calon suami " Ucap Rangga.
Duh.. ada yang jadi mami muda sama papi muda nih..
Tasya sama Rangga kapan nih?
Nyusul?
Mudahan nyusul sih..
~ Bersambung ~
Dadah semua nya...