
Hari ini adalah hari ketiga dimana sitante rempong akan bersiap untuk balik kekampung halamannya.
" Kayanya bakal kangen nih.. sama rumah kalian " Ujar sitante sambil memperhatikn setiap sudut rumah.
Mia menatap tak suka terhadap tantenya. " Idih,... kangennya sama rumah doang, terus sama gue ngak gitu! " Ucap nya dalam hati.
Memang hari ini Reyhan tidak ada dirumah karena mendadak kemarin sore harus segera pergi keluar kota, dan karena Reyhan tidak ada dirumah Mia pun sangat risih dengan perlakuan tantenya dimana tantenya selalu saja bertanya tanpa henti.
Satpam berlari masuk kedalam rumah untuk menghampiri nyonya mudanya untuk memberitau kalau taksi yang dipesan oleh tantenya sudah datang. " Maaf mengganggu nyonya, taksi yang dipesan sudah datang " ujar sisatpam kepada nyonya sipemilik rumah.
Mia yang mendengar itu hanya menjawab dengan anggukan kepala serta senyuman saja. Mia pun mengantarkan tantenya sampai kedepan.
" Nanti kalau anak kamu sudah lahir tante balik kesini lagi ya.. " Ucap sitante tanpa ada rasa bersalah.
" Ngak! " kesal Mia dalam hati menolak ucapan tantenya.
Mia tersenyum mendengar ucapan tantenya seolah mengibaratkan kalau dirinya setuju, tapi bukan seperti itu yang sebenarnya.
Mobil taksi pun berjalan meninggalkan area depan rumah milik Mia dan Reyhan. Sambil melambaikan tangan dan tersenyum Mia melihat mobil taksi yang mengantar tantenya pergi.
" Aman sudah hidup ini!! " Ucap batin Mia berkata.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi hari yang cerah di
Studio pemotretan Jastin.
Seorang fotografer terkenal mengarahkan Keyla dan Ferel bergaya agar layaknya seperti pasangan yang sangat romantis dan saling mencintai.
" Nona, kalungkan tangan anda dileher tuan Ferel " Suruh sifotografer sambil memegang kamera ditangan sebelah kanannya.
" Ish,... males banget gue! " Ketusnya dalam hati dengan tatapannya yang tak suka.
Tapi, kalau bukan karena semua rahasianya dirinya tidak akan mau mengikuti arahan sifotografer. " Oke.. 1,2,3 " Flash kamera pun menyala diikuti dengan lampu yang terpasang saat sifotografer memotret pasangan muda yang akan melangsungkan lamaran dua hari lagi.
" Baik, kita istirahat sebentar! " Seru sifotografer kepada semua pekerjanya.
Keyla yang dari tadi sudah lama ingin istirahat akhirnya langsung bersandar disofa yang sudah disediakan tentunya juga dengan Ferel yang berada disampingnya. " Mau minum? " Tanya Ferel yang melihat Keyla lelah karena pemotretan yang memakan waktu baru satu jam.
Keyla menjawab dengan anggukan sambil melihat pesan yang masuk kehandpone nya. Dengan segera Ferel meminta asisten pribadinya untuk membeli minum.
Telepon masuk kehandpone Keyla, muncul nama maminya dilayar handphone dan dengan segera Keyla mengangkat panggilan telepon itu.
" Key, kamu masi distudio kan? " Tanya simami.
" Iya mi masi, kenapa emangnya? " Tanya Keyla balik.
" Ngak ada sih, tapi nanti kalau sudah selesai kabarin mami biar mami jemput " Ucapnya.
" Kan ada Ferel, mami ngapain mau jemput key? " Tolaknya lalu bertanya.
" Ih kamu ya, ngak tau apa kalau Ferel itu sibuk!. Nanti juga habis pemotretan, mami mau ajak kamu arisan " Ucap simami.
" Yaampun mami,... Keyla kira mau ngapain... ternyata malah diajak arisan. Udah ah Keyla capek! nanti key pulang pake taksi online aja " Ucapnya Kesal. Bukannya dijemput untuk pulang kerumah, malah dibawa jalan-jalan kemall, acara arisan lagi.
" Tapi say- " Panggilan pun diakhiri dengan Keyla yang menutup nya.
Asisten pribadi Ferel sudah datang membawa minuman untuk tuan dan calon nyonya nya. " Ini tuan minuman nya " ucapnya sambil menyodorkan nampan yang sudah diisi dengan jus segar.
" Baik, terimakasi " Ucap Ferel setelah mengambil minuman dari atas nampan. Asisten pribadi Ferel pun langsung pergi setelah selesai mengantarkan minuman.
Ferel menyodorkan segelas jus yang sudah dipesan kepada Keyla " Nih minum " Ucapnya.
Tidak ada ucapan terimakasi yang keluar dari mulut Keyla setelah Ferel memberikan minum. Ferel hanya bersabar dengan perlakuan Keyla kepada dirinya, yang terpenting adalah dirinya harus membuat Keyla menjadi istrinya walaupin saat ini rasa cintanya masih bertepuk sebelah tangan.
" Saatnya ganti baju! " Seru sifotografer sekaligus pemilik gedung pemotretan.
Ferel dan Keyla langsung pergi keruangan ganti pakaian yang terpisah oleh tembok. Disana mereka dipakaikan pakaian adat khas suku minang, dimana sebelumnya mereka memakai pakaian yang bergaya moderen.
Walaupun mereka berdua berasal dari keluarga yang kaya raya dan berwajah blastrean, tapi hal tersebut tidak menghalangi untuk mengakui kalau mereka adalah warga negara Indonesia yang masi kental dengan adat daerah suku minang yang dimana merupakan Ferel memiliki darah minang dari ibunya.
Beberapa jam telah berlalu, pemotretan yang awalnya dimulai dari jam sembilan pagi kini selesai dijam dua belas siang. Sangat lama bukan?
Ferel dan Keyla saat ini sedang berada didalam mobil. " Lo mau beli cincinnya besok jam berapa? " Tanya Ferel yang dudul disebelah Keyla tepatnya dikursi belakang.
" Terserah sih, gue mah ikut aja " Jawab Keyla santai sambil memainkan ponselnya.
" Kalau sore mau? habis gue pulang kerja " Ucap Ferel.
" Iya " Jawabnya singkat tampa melepas pandangannya dari ponsel yang sedang dimainkan.
Ferel menghela nafas kasarnya, karena dirinya sangat bersabar menghadapi calon tunangannya. Mau bagaimana pun dirinya akan menjadi suami untuk Keyla.
Setelah beberapa menit perjalan mobil pun sudah sampai didepan rumah Keyla. Terlihat Keyla yang tertidur akibat kelelahan dengan kepalanya yang bersender dibahu milik Ferel.
" Tuan, apa tidak sebaiknya kita bangunkan saja nona Keyla? " Tanya Tio siasisten pribadi Ferel.
" Diamkan saja, palingan sebentar lagi bangun " Jawab Ferel.
" Baik tuan " Ucap Tio dan beralih menghadapkan pandagannha kembali kedepan.
Ferel memperhatikan Keyla yang tertidur dibahunya. " Kalau diperhatikan seperti ini, Keyla lebih cantik " Ucap batin Ferel tak disengaja tangannya mulai mengelus rambut Keyla.
Tok..tok.. suara ketukan kaca yang dilakukan oleh mami Keyla. Ferel langsung membuka kaca jendela mobilnya.
Mami Ferel melihat anak nya yang sedang tertidur dengan lelap dilengan Ferel dari luar jendela. " Mulai dari kapan Keyla tidur dilengan kamu? " Tanya mami Ferel.
" Barusan kok tante, belum lama " Jawab Ferel dan menyelingi jawabannya dengan senyuman.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara kekacauan sedang terjadi didalam kamar milik Rangga, semua bajunya dikeluarkan dari lemari.
" Mamaaaa!!! " Teriak Rangga dari dalam kamarnya.
Mama Erina yang tengah asik menonton televisi dilantai bawah sambil memakan rujak kaget sampai tersedak sambel rujak.
" Minum, minum! " Ucap mama Erina meminta tolong diambilkan minum dengan caranya yang berbicara sambil kepedesan.
Dengan sigap suami mama Erina yang tercinta mengambilkan minum untuk istrinya. " Makanya, kalau makan rujak itu sambelnya jangan banyak banyak! " Ketusnya sambil memberikan minum.
" Jangan salahin aku lah, itu tu denger anak kamu teriak teriak kaya tarzan! " Ketusnya tak kalah sengit dari suaminya.
Rangga yang sudah berteriak dari tadi tetapi mamanya tidak datang dengan cepat merasa kesal. " Mamaaaa tercinta..!!! " Teriaknya dengan menambahkan kata tercinta.
" Iya sayang,... tunggu! " Teriak mama Erina dari bawah.
Sebelum mama Erina naik kelantai atas, mama Erina memberikan tatapan macannya kepada suaminya. " Sana naik! " Suruh suaminya yang ditatap oleh dirinya.
Karena tidak ingin berdebar panjang, dan putranya menjadi semakin kesal akhirnya mama Erina naik keatas dengan cepat.
Mama Erina sudah masuk kedalam kamar Rangga, wajahnya memancarkan raut wajah yang kesal karena melihat kamar Rangga yang sudah berbentuk seperti kapal pecah.
" Ini kenapa sih!, baju-baju pada berserakan sana sini!, terus ini lagi.. " Mama Erina mengangkat celana boxer yang baunya sudah seperti bangkai. " Kenapa boxer kamu ngak ditaruh ketempat laundry?!! " Lanjutnya dengan nada yang kesal.
" Itu ngak penting mam!! yang penting sekarang, dimana paper bag warna pink yang ada dimeja Rangga? " Tanya nya sambil celingak celinguk melihat kesegala penjuru ruangan dan bekacak pinggang.
Mama Erina mengangkat alisnya dan berfikir. " Kamu sehat nak? " Tanya mama Erina.
Rangga pun bingung dengan pertanyaan maminya lalu menolehkan pandangannya kearah maminya. " Sehat.. " Jawab Rangga dengan raut wajah yang bingung.
" Terus sejak kapan suka warna pink? " Tanya mama Erina.
Sekarang Rangga sudah paham kemana arah pertanyaan mamanya. " Itu paper bag bukan punya Rangga ma " Ucap Rangga memberi tau.
" Terus punya siapa? " Tanya mama Erina.
" Adadeh ma, biasa calon mantu " Jawab Rangga santai sambil menyengir kuda.
Mama Erina terkejut dengan jawaban anaknya, tapi dengan cepat mama Erina mengganti dengan tersenyum. " Oh gitu, yaudah mama bantu cari ayo " Ajaknya
Mama Erina dan Rangga pun mulai mencari paper bag yang berwarna pink bersama - sama
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ferel sekarang sedang menaiki anak tangga rumah Keyla dengan susah payah, bagaimana tidak dengan susah payah dirinya menaiki tangga sambil menggendong Keyla yang dari tadi masi terlelap dari tidurnya.
" Ferel, Keyla ngak beratkan? " Tanya mami Keyla sambil berjalan bersama Ferel menaiki anak tangga.
" Eng- gak.. kok, tan- te " Jawabnya dengan susah payah karena nafasnya serasa terhenti saat mengeluarkan suara.
" Ni cewek selain galak, beratnya sekuintal! " Ucap batinnya dalam hati.
Dengan langkah yang terengah - enggah Ferel membaringkan Keyla diatas tempat tidurnya. " Makasi ya rel, tante... jadinya merasa berasalah sama kamu " Jawab mami Keyla.
Dengan tersenyum paksa dirinya menjawab. " Iya tante, Keylanya juga ringan kok " Ucapnya berbohong.
~ Bersambung ~
Sampai jumpa besok para pembaca tercinta👋