My Husband This Is My CEO Season 1

My Husband This Is My CEO Season 1
67



Padat nya kota Jakarta siang ini, membuat dua insan. Keyla dan Ferel untuk singgah sebentar dibutik membeli gaun pernikahan serta jas yang dibutuhkan untuk acara pernikahan mereka. Hari H telah ditentukan, mereka akan menikah hari sabtu besok.


Keyla saat ini sedang memakai gaun panjangnya didalam ruang ganti baju. Elegan, itu adalah satu kata yang bisa menganggambarkan bagaimana bagusnya gaun pernikahan yang sudah dipesannya dari seminggu yang lalu.


Keyla keluar dari ruangan nya kemudian dirinya memperlihatkan gaun yang dipakainya, kepada Ferel. Ferel yang awalnya sedang memainkan ponsel langsung mengalihkan pandangannya begitu Keyla memanggilnya.


" Ferel " Panggil Keyla, yang sudah berdiri didepannya.


Ferel menoleh kemana arah panggilan suara itu berasal. Dirinya terdiam sebentar seperti patung. Memperhatikan Keyla yang memakai gaun seperti ini membuat matanya seakan sedang melihat bidadari tanpa selendang. Ferel tersenyum kearah Keyla.


" Cantik " Ucap Ferel yang memperhatikan Keyla memakai gaun nya. Keyla yang mendengar itu tersenyum malu.


" Gimana? kita ambil yang ini bagus? " Tanya Keyla penasaran, dan rasanya saat dirinya memakai gaun ini cocok dan pas dengan ukuran tubuhnya yang tinggi semampai.


" Cantik, sama kaya orang nya " Ujar Ferel, yang membuat Keyla tersenyum kembali.


Beberapa menit kemudian mereka telah selesai memilih baju pernikahan. Dari beberapa rancangan gaun yang dipesannya, Keyla memilih gaun pertama. Didalam mobil yang sedang berjalan Keyla menyenderkan kepalanya dibahu Ferel, kedua tangannya juga melingkar memeluk tubuh Ferel yang dilapisi oleh kemeja saja.


Ferel yang melihat tingkah Keyla seperti itu tersenyum kemudian mengelus lembut rambut Keyla. Keyla menongakkan kepalanya menatap Ferel. " Kenapa? " Tanya Ferel lembut sambil tangannya mengusap pipi mulus Keyla.


" Laper.. " Ucap Keyla dengan nada yang manja yang merengek. Ferel yang mendengar itu tersenyum gemas dirinya mencubit pipi Keyla karena saking gemasnya.


" Pak, kita berhenti dicaffe deket sini ya " Ujar Ferel memerintah supir nya.


" Baik tuan " Jawab supir itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Siang ini disebuah mall besar Jakarta. Sebut saja nama mall itu senayan city. Para trio kwek - kwek sedang berkumpul hanya untuk sekedar makan siang. Sebenarnya sih... ada juga Tasya disana, tapi meja mereka pisah.


Diki si cowok playboy yang awalnya duduk diam sambil mengobrol dengan kedua orang sahabatnya berdiri dari duduk nya. " Mau kemana lo? " Tanya Ken, yang memperhatikan Diki berdiri.


" Biasa.. abang Diki ada urusan negara " Balas Diki santai lalu berjalan meninggalkan kedua sahabatnya yang sedang duduk.


Rangga dan Ken yang memperhatikan Diki hanya bisa diam, tapi.. mereka diam bukan berarti tidak kepo. Ken menyikut sikut Rangga. " Mau ngapain tuh?, pake segala duduk temenin Tasya " Ucap Ken.


" Ya mana gue tau, emang nya lu kata gue kakeknya! " Sarkas Rangga ketus, sebenarnya jauh didalam lubuk hatinya yang bersih dan tidak ternoda Rangga cemburu. Tapi.. dirinya percaya bahwa Tasya akan menolak si katak pohon cap maskulin.


" Ngegas mulu, si tayi! " Sarkas dan ketus Ken yang sebal dengan sahabat yang satu kelamin dengan nya, Rangga.


Diki sudah duduk dikursi yang berada didepan Tasya. Tasya awalnya sedang asik memainkan ponselnya, namun karena mendengar decitan kursi Tasya melihat ada seonggok danging yang menyamparinya. Tasya menatap orang didepan nya dengan datar.


Karena tidak ada hal yang terjadi, Diki berdehem kemudian memperbaiki jasnya. Biasa.. supaya ngak kaku - kaku amat. Diki mengulurkan tangannya kedepan Tasya.


Namun tangannya hanya dilihat saja oleh Tasya, Tasya merasa bahwa orang yang didepannya ini tidak baik. Ya emang!. Rangga dan Ken yang melihat hal itu langsung menahan tawanya dan saling pandang - pandangan.


" Aduh si boy, ditolak nga... " Kata Ken yang menyidir Diki.


" Untuk yang pertama kalinya " Lanjut Rangga menyauti kata Ken tadi.


Diki menarik uluran tangannya, kemudian tersenyum dan menatap kedua sahabatnya yang sedang tertawa. " Sialan! liat aja nanti dua kampret! " Cicit Diki, yang tidak suka dirinya diolok - olok.


Kemudian Diki mengalihkan pandangannya kembali kearah Tasya. " Gue Diki, gu- " Ucapan nya terpotong duluan karena Tasya yang berbicara tanpa mendengar ucapannya sampai selesai.


" Gue udah tau. CEO Antarna compeny kan? " Jelas Tasya yang memotong ucapan Diki. Lalu setelah itu Tasya menyeruput lemon tea nya dan memakan spageti nya.


" I - iya " Balas Diki sedikit gagap. Entah kenapa ini adalah hari pertama dan pengalaman pertamanya ucapannya dipotong dan bahkan diskakmat oleh perempuan agar topik pembicaraannya tidak dilanjutkan.


Tasya menatap Diki sebentar kemudian setelah itu dirinya memakan dan menghabiskan spageti dimeja, tak lupa juga serta lemon tea yang hanya sisa setengaj gelas. Sambil mengunyah makanan nya Tasya mengetikkan pesan untuk Rangga.


Rangga yang sedang tertawa bersama Ken, karena melihat Diki yang sedang gugup seperti demam panggung, langsung terdiam begitu mendengar ada notifikasi yang masuk kedalam ponselnya.


Bunyi notifikasi itu. " Gue tunggu lo dimobil aja " Isi pesan itu dan tak lama Tasya mengirimkan satu buah foto kepada Rangga.


Rangga mengunduh foto yang dikirim oleh Tasya. Kemudian masuk lagi satu pesan dari Tasya. " Tolong bayarin 😀. Gue kehabisan uang cash soalnya " Begitulah isi pesan Tasya yang selanjutnya dan terlihat juga Tasya sudah tidak aktif di WA nya.


Rangga hanya bisa geleng - geleng kepala melihat tingkah Tasya. Lanjut lagi ke Diki dan Tasya dimeja sebrang. " Eh.. Tasya gue ***- " Ucapan Diki terpotong saat melihat Tasya berdiri dari duduknya sambil menenteng tas nya.


" Maaf ya.. gue tiba - tiba ada urusan mendadak " Ujar Tasya kemudian setelah itu dirinya melenggang pergi dari sana. Diki hanya bisa diam sambil memperhatikan kepergian Tasya. Sungguh ditolak dengan cara seperti ini menyakitkan, karena Diki belum terbiasa.


Terdengar dari meja sebrang Ken terus tertawa terbahak - bahak. Bahkaan dirinya tidak sadar dimana tempat mereka sekarang berada. Rangga yang merasa Ken sudah terlalu tidak waras untuk tertawa, langsung melayangkan tabokan panas dikepala Ken.


" Sakit tayi! " Sarkas Ken yang merasakan kepalanya seperti baru saja terhantam batu bata. Tangannya yang kekar pun terlihat digosok - gosokkan kekepalanya.


" Diem ******! lu kata ini rumah lo apa?!. Enak aja ketawa - ketawa! ini caffe, banci! " Bentak Rangga tidak terlalu keras agar sahabat satu kelaminnya ini bisa sedikit sadar. Ngomong - ngomong kalau tentang si Ken itu.. sifat nya suka nge gas kaya motor supra, terus kadang kalau ketawa suka ngerasa dunia milik sendiri. Tapi ada sisi baiknya dari Ken, Ken itu orang nya romantis sama pacarnya. Terus paling takut juga kalau diputusin sama pacarnya. Karena apa.... karena si mbak pacarnya itu cinta pertamanya, dan mereka sudah pacaran selama empat tahun. Tapi ya... balik lagi hubungan mereka belum resmi - resmi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mereka turun secara bersamaan, pak supir yang tadi diajak juga oleh Fere dan Keylal untuk makan didalam caffe menolak dengan alasan tidak mau mengangu dan akan makan siang diwarung pinggir jalan saja. Dan akhirnya hanya Keyla dan Ferel saja yang turun untuk makan siang.


Ferel terlebih dahulu memesankan menu makanan untuk mereka berdua, dan Keyla sudah duduk cantik menunggu Ferel sambil memainkan ponselnya. Setelah memesankan makanan Ferel duduk dikursinya, Keyla menoleh saat merasakan bahwa ada orang didepannya. " Udah? " Tanya Keyla sambil menaruh ponselnya dimeja.


" Udah " Jawab Ferel. Kemudian tangannya yang sebelah kanan mengelus pipi Keyla, Keyla menutup matanya merasakan elusan tangan Ferel yang mengelus pipinya. Ferel tersenyum gemas melihat tingkah Keyla.


" Enak ya? " Tanya Ferel lalu Keyla membuka matanya dan memundurkan badannya untuk menyender di kursi kemudian setelah itu Keyla menundukan pandangannya, dirinya merasa malu. Dan kenapa bisa dirinya menutup mata.


" Ngak papa kali. Jugakan belum yang lebih " Ucap Ferel. Keyla mengangkat pandangannya, dirinya tidak mengerti apa arti kata yang diucapkan oleh Ferel.


" Lebih? maksudnya? " Tanya Keyla dengan raut wajah mengkerut.


Ferel sengaja memasangkan raut wajah pura - pura berfikir kemudian dirinya menyandarkan tubuhnya dikursi sambil menyilangkan kedua tangan didada. " Apa ya? emm.. ya.. kaya ngelakuin itu gitu " Jawab Ferel.


Keyla semakin tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Ferel. " Itu? itu apa? " Tanya Keyla semakin penasaran dan mencondongkan badannya kedepan Ferel lalu menangkup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.


Ferel yang melihat Keyla seperti itu, ikut mencondongkan badannya, dan kini wajah mereka hanya tersisa beberapa centi saja. " Maksudnya,... ngelakuin hal yang... " Ferel sengaja menjeda ucapannya karena dirinya mau membuat Keyla panasaran. Ferel berbicara dengan nada yang membisik agar hanya Keyla saja yang mengetahui ucapannya.


" Yang, yang apa? " Tanya Keyla lagi, dirinya benar - benar tidak mengerti kemana arah Ferel berbicara.


Ferel menampakan senyum jahilnya. " Yang kaya suami istri lakuin " Jawab Ferel dan itu berhasil membuat Keyla memundurkan badannya. Keyla menjadi salah tingkah atas ucapan Ferel tadi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari - hari menuju hari pernikahan Keyla dan Ferel tinggal tiga hari lagi. Persiapan untuk pernikahan Keyla dan Ferel hanya sisa dua puluh persen saja yang belum rampung.


Keyla dari beberapa hari yang lalu sudah tinggal dirumahnya bersama keluarganya. Hal itu dikarenakan Keyla dan Ferel akan menikah, tapi bukan berarti juga mereka akan ikut tinggal disana.


" Mam, mami.. Keyla ngak mau mami.. " Rengek Keyla yang tidak mau diatur menu makanan nya. Dari kemarin entah kenapa dirinya selalu diberi makan sayuran saja, sedangkan daging dan semacamnya dilarang oleh maminya. Ini semua dilakukan oleh maminya agar besok dihari H baju yang dikenakan oleh Keyla tidak kekecilan.


" Tapi sayang.. ini demi kamu loh. Kamu mau, besok pas hari H gaun kamu kekecilan? " Tanya mami Keyla menekan ucapannya agar anak perempuannya itu mau nurut. Nama nya juga emak - emak key.. jangan dibawa kehati larangannya.


" Tapi Keyla bukan hewan mami... Keyla kan mau makan daging juga! " Ucap Keyla kesal dari kemarin hanya menjadi orang yang vegetarian.


" Iya sayang mami ngerti tapi- " Ucapannya langsung terpotong saat suara deheman dari suaminya terdengar. Sontak Kenan yang sedang makan langsung menatap papinya sambil mengunyah makanan yang sudah masuk kedalam mulutnya.


" Udah lah.. kesian Keyla. Kasi aja makan daging. Jugakan, daging yang beratnya cuma beberapa ons ngak ngaruh sama peningkatan berat badan! " Ucap papi Keyla memarahi istirnya. Dirinya juga sebagai orang tua Keyla merasa kasian terhadap Keyla yang sudah tiga hari ini makan sayur terus.


Mami Keyla menghela nafas nya, lalu tangannya memotong daging dan menaruh daging yang sudah dipotonh dipiring Keyla. Keyla tersenyum senang menatap daging yang sudah ada dipiringnya. " Makasi mami... " Ucap Keyla tersenyum kepada maminya.


" Makan. Kalau ngak, mami kasi kakak kamu nih.. " Ancam mami Keyla dengan wajah yang kesal dan ancaman itu hanya untuk bohong - bohongan saja. Biasa main - main dengan anak perempuannya.


Kenan hany bisa diam dari tadi memperhatikan keluarganya dimeja makan. Kali ini Kenan tidak ada dialog, Kenan hadir hanya sebatas numpang duduk sama makan doang. Ceileh.. kalah - kalah pelanggan gratisan dirumah makan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dua hari sebelum pernikahan.


Tangan Ferel dari tadi mengelus - elus rambut hitam legam Keyla. Mereka berdua saat ini sedang duduk dikursi taman.


Sore hari ini, terlihat akan mendung sepertinya. Angin pun dari tadi tidak berhenti - hentinya mengelus kulit orang yang berada ditaman. " Pulang yuk, udah sore ni.. " Ajak Ferel sambil melihat wajah Keyla yang sedang menatap bangunan - bagunan yang terbuat dari beton didepannya, kendaraan yang lalu lalang pun menjadi obejk utama yang ditangkap oleh mata.


" Aku.. belum mau pulang " Ujar Keyla tanpa melihat wajah Ferel. Dirinya tengah asik menikmati suasana sore, dan ternyata sunset pun telah terlihat. Langit yang awalnya mendung entah sejak kapan berubah menjadi warna oren.


" Oke. Dua menit lagi kita pulang " Ucap Ferel agar Keyla bisa berlama - lama duduk ditaman.


Keyla menatap Ferel, tatapan mereka pun saling beradu. Tak lama setelah itu Keyla tersenyum dan menyandarkan kepalanya dibahu Ferel. " Ngak kerasa ya.. pertemuan kita, yang awalnya biasa aja sekarang.. malah jadi luar biasa " Ucap Keyla memberikan jeda pada setiap kalimatnya. Kemudian tangan kirinya diangkat dan jarinya dibuka lebar - lebar. Ada cincin indah yang melekat dijari manisnya.


" Cincin nya cantik ngak? " Tanya Keyla kepada Ferel sambil memainkan jarinya yang masih diangkat tinggi.


" Cantik. Sama kaya orang yang make " Balas Ferel tersenyum terhadap cincin yang dipakai oleh Keyla. Keyla yang mendengar ucapan itu tersenyum sambil menatap cincin yang digunakannya.


Hah.. ngak terasa memang waktu pertemuan mereka singkat, yang awalnya si Keyla yang sifatnya judes dan tukang marah - marah. Malahan.. sekarang sudah beda banget.. seratus delapan puluh derajat. Keyla sekarang jadi perempuan yang lembut ngak kaya dulu, bar - bar bahkaan sampai ngerasain yang namanya hotel rodeo.


Ya.. semua memang akan berubah dan membaik seiring berjalannya waktu. Dan lihat lah hanya tinggal menghitung hari dan jam, besok mereka akan menjadi sepasang suami istri. Bagaimana kira - kira wisata masa depan mereka?


Semua pasti berharap kalau semua kisah akan berakhir dengan bahagia dan berakhir dengan happy anding, tapi.. balik lagi kalau itu hanya harapan yang belum tentu terjadi. Tapi yang namanya manusia akan berusaha.


~ Bersambung ~