
Dengan tersenyum paksa dirinya menjawab. " Iya tante, Keylanya juga ringan kok " Ucapnya berbohong.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kantor polisi.
" Baik kalau begitu, kami akan proses kasusnya " Ucap salah satu polisi yang baru saja menerima beberapa barang bukti.
" Kira-kira berapa lama prosesnya? " Tanya Varo kepada anggota polisi itu.
" Paling tidak, sekitar seminggu " Ucap polisi itu dengan diselingi senyuman.
Varo menggangguk mengerti atas jawaban yang telah diberikan polisi itu. " Kalau begitu saya tunggu kabar baiknya, dan terimakasi " Ucap Varo denga diselingi senyuman.
Polisi itu juga menanggapi dengan anggukan kepala serta senyuman saja. Sekarang masalah yang sudah beberapa minggu lalu dialami Tasya akan selesai dengan sendirinya dibawah hukum yang berlaku dinegara ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Masih sama seperti beberapa jam yang lalu keadaan kamar milik Rangga masih berantakan layaknya kapal pecah. " Mama dah ketemu belom? " Tanya Rangga sambil memperhatikan mamanya.
" Belum, mama masi nyari ni " Ucapnya menjawab sambil melihat kebawah tempat tidur menggunakan santer yang ada diponselnya.
Rangga menghela nafas kasarnya, tangannya menggaruk kepala nya yang tidak terasa gatal. Dengan gayanya yang berkacak pinggang Rangga memperhatikan setiap sudut rumah. " Kemanasih paper bag itu? masa iya pinkki punya kaki? " Ucapnya kesal.
Mama Erina sudah menyenter bawah kasur milik Rangga, namun sayang seribu sayang hal itu tidak membuahkan hasil. " Kayanya kebuang deh paper bagnya " Ujar mama Erina sambil mematikan senter diponsel nya.
" Ngak mungkin lah ma, kalau kebuang... siapa coba yang berani buang? " Ucapnya bertanya dengan nada yang sangat kesal.
Mama Erina nampak berfikir siapa yang berani membuang paper bag warna pink yang berisikan barang rahasia, pembantu? mana berani pembantu masuk kedalam kaamar Rangga. Sedangkan yang bersihkan kamar Rangga akhir-akhir ini adalah mama Erina sendiri.
" Iya juga ya, atau jangan-jangan.... " Mama Erina langsung memancarkan raut wajah yang syok matanya membulat dan mengingat kalau kemari malam suaminya pernah menyelinap kekamar Rangga.
Rangga langsung menoleh kearah mamanya karena mamanya mengatakan kata jangan-jangan. " Jangan-jangan apa ma? " Ucap Rangga bertanya dengan bingung.
" Papaaaaa!!! " Teriaknya dari dalam kamar Rangga, dan dengan langkah cepat nya mama Erina berjalan menuju kamarnya.
Karena reflek Rangga juga mengikuti mamanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mumpung hari ini hari libur Tasya sedang asik menikmati cemilan sore sambil duduk santai didepan laptopnya menonton drama kesukaannya yang sedang booming saat ini.
Siapa sih yang tidak senyum - senyum sendiri saat tengah melihat adegan romantis yang tiba-tiba muncul dalam drama kesukaan.
Suara nadadering telepon mengacaukan suasana yang sedang asik Tasya nikmati. " Ck, wajib nih.. titisan anak lutung muncul! " Kesalnya saat mengetahui bahwa nama abang tercinta nya muncul.
Terlebih dahulu Tasya mempause dramanya agar tidak ketinggalan jauh adegan demi adegan. Telepon pun diangakat oleh Tasya. " Hmm, kenawhy? " Ucapnya dengan malas.
" Memang bener ya, ternyata... menunggu itu capek! " Tekannya diakhir kalimat.
" Ngomong apasih? Langsung keintinya aja! " Ucap Tasya dengan nada yang masih kesal dan malas basa basi.
" Abang tercinta ada didepan rumah ni! " Ucap Varo dengan nada semangatnya.
Begitu mendengar kata didepan rumah wajah Tasya seperti dipaksakan untuk tersenyum. Dengan cepat Tasya mematikan sambungan telepon dan bergegas kekamar mandi untuk mandi.
Sementara disisi lain, setelah telepon dimatikan Vano merasa dirinya sudah tidak dianggap lagi oleh adik sepupunya yang tercinta. " Langsung masuk aja kali ya?, biar dianya syok jantung " Ucap Varo berfikir dengan senyum jahilnya.
" Aishhh, kenapa sih gue jadi cewek males banget mandi kalau hari libur? " Ucap Tasya bertanya - tanya kepada dirinya sendiri sambil berkaca menyisir rambut setelah mandi selama dua menit saja.
" Bodoamat lah.. kalau abang mikir gue masih bau " Ucapnya pasrah sambil masi memperhatikan dirinya dikaca dan mengoleskan liptin kebibir.
" Belum dandan lagi! " Ucapnya Kesal sambil memutar engsel pintu kamarnya.
Dengan langkah cepat dirinya menuruni anak tangga. " Asataga anak lutung..!! " Ucapnya kaget setelah melihat ada Varo yang tengah asik bermain dengan kucing Tasya diruang tamu.
Untung saja Varo tidak mendengar apa yang barusan saja Tasya katakan, ya bahwa dia adalah anak lutung. Walaupun dirinya tidak mendengar tapi dirinya menoleh melihat Tasya yang masih dengan ekspresi kagetnya dianak tangga paling bawah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
" Papa!!, paper bag pink yang dikamar Rangga kemarin dimana? " Tanya mama Erina dengan nadanya yang ngegas.
" Usstt.. " Ucap papa Rangga sambil menempelkan jari telunjuknya dibibir, untuk menyuruh mama Erina diam.
Rangga yang dari tadi memperhatikan kegiatan papanya tidak sadar kalau yang sedang diteliti oleh papanya itu adalah barang yang sedang ia cari didalam paper bag bewarna pink.
Karena kesal mama Erina mendekati suaminya. " Papa denger ngak sih!, kalau tadi mama tanya sama papa dimana tempat paper bag warna pink! " Ucap mama Erina bertanya.
Rangga yang dari tadi berdiri dibelakang mamanya mulai menyadari dan berfikir. " Itukan!, papa itu barang yang Rangga cari sama mama " Ucap Rangga.
Papa Adi yang dari tadi meneliti berlian langsung memberhentikan kegiatannya. " Hmm apa?, anting ini punya kamu? " Tanya papa Adi dengan serius.
" Bukan " Jawab Rangga singkat.
Papa Adi mengerutkan dahinya. " Terus, punya siapa? " Tanya papa Adi.
" Calon mantu " Jawab Rangga.
Papa Adi hanya mengangguk saja sebagi jawaban, karena papa Adi adalah tipe orang yang tidak terlalu heboh kalau Rangga mempunyai pacar. Begitu fikirnya padahal jelas-jelas Rangga sendiri masi jomblo.
" Yaudah ni, papa balikin " Ucap papa Adi menyodorkan anting yang dipegangnya.
" Tempat anting sama paper bagnya mana? " Tanya Rangga.
" Tempatnya tuh diatas meja, terus.. kalau paper bagnya sudah robek " Jawab papa Adi santai.
Wajah Rangga langsung kesak begitu mendengar sipinkki sudah robek. " Kok bisa! " Ketus Rangga dengan raut wajah yang kesal.
" Yabisalah, kan bahannya kertas " Ucap papa Adi.
Sudahlah untuk mengenai paper bag Rangga tidak begitu besar mempermasalahkan kalau robek, yang terpenting adalah anting-anting yang menjadi barang utama yang akan Rangga berikan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Karena hari sudah sore, dan sesuai apa yang Ferel dan Keyla sepakati bahwa sore hari setelah Ferel pulang kerja Ferel dan Keyla akan membeli cincin tunangan.
Mereka berdua berjalan didalam mall diikuti asisten pribadi Ferel yang bernama Tio dari belakang, tidak ada adegan mesra seperti yang ditonton oleh Tasya dimana mereka berdua harus berpegangan tangan ataupun Ferel merangkul Keyla.
Mereka memasuki toko perhiasan yang berada didalam mall. " Saya ingin mencari cincin untuk tunangan ada? " Tanya Ferel kepada pelayan toko yang mengenakan seragam toko tersebut.
" Ada tuan, silahkan duduk dulu.. saya akan carikan " Ucap pelayan toko lalu membungkuk kan badannya dan seger pergi mencari cincin yang diinginkan pembeli.
Beberapa menit kemudian pelayan toko datang bersama dengan temannha untuk membawakan beberap model cincin tunangan. " Silahkan dipilih tuan " Ucap pelayan toko.
Ferel dan Keyla melihat semua model cincin yang sudah dibawa para pelayan toko. " Mau yang mana? " Tanya Ferel Kepada Keyla.
" Hmm, yang ini aja deh coba " Ucap Keyla menunjuk salah satu cincin. Keyla mencoba memakai cincin dijari manisnya.
" Gimana menurut lo? " Tanya Keyla meminta pendapat Ferel.
" Bagus " Ucap Ferel sambil mengangguk.
" Mau yang ini? " Tanya Ferel karena melihat Keyla seperti nya suka dengan model cincinnya.
" Hmm, masih belum srek sih. Coba yang ini mbak " Ucap Keyla menunjuk cincin yang lain karena menurutnya cincin yang pertama dipilihnya belum terlalu bagus.
Keyla memakai cincin pilihannya yang kedua. Cincin yang dihiasi berlian disekeliling lingkarannya dan bagian paling atasnya dihiasi mutiara kecil. " Kayanya ini terlalu feminim deh, terus kalau untuk cincin model lo nya kurang bagus juga " Ucap Keyla.
" Terus mau nya yang mana? " Ucap Ferel bertanya karena dirinya sendiri juga bingung kalau disuruh memilih.
" Gue bingung " Jawab Keyla lalu tersenyum, Demi apa ini baru pertama kalinya Keyla tersenyum terhadap Ferel dan jangan bayangkan bagaimana perasaan Ferel saat ini.
~ Bersambung ~