My Husband This Is My CEO Season 1

My Husband This Is My CEO Season 1
76



Hai semua


Apa kabar?


Sebelum mulai cerita ini, aku cuma mau bilang kalau dicerita ini aku bener - bener kehabisan ide untuk nulis.


Jadi.. kalau sampai nunggu lama untuk aku update cerita ini, ya maaf.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kalau misalkan pangeran kecebong polkadot si Zergan suka sama cewek lain selain Tasya gimana?


.......................


Terlihat diaula kantor RJA Group beberapa karyawan sedang membereskan alat - alat yang baru saja digunakan untuk menyambut tamu dari luar negri. Rapat dengan tamu - tamu itu juga sedang dimuali di ruang meeting.


Tasya saat ini sedang melakukan presentasi dengan menggunakan bahasa inggris didepan semua orang yang sedang ikut meeting. Dan setelah satu jam kemudian meeting telah selesai.


Saat baru saja keluar dari ruangan meeting dari arah samping ada Tasya, Rangga berdiri sambil menggenggam tangan Tasya. Tasya menoleh kearah samping lalu tersenyum. " Bahasa inggris kamu bagus " Puji Rangga sambil berjalan bergandengan.


" Hmmm. Biasa aja sih sebenarnya " Balas Tasya santai.


" Enggak kok. Luar biasa malah " Ucap Rangga menyela.


Tasya yang mendengar itu mengangguk - angguk. " Iya deh.. terserah calon suami aja " Jawab Tasya dan berusaha menyembunyikan senyuman diawajahnya.


Benar bukan, telinga Rangga masih berfungsi dengan baik?. Kalau benar... sumpah Rangga mau terbang aja. " Ca- calon suami? " Tanya Rangga tidak percaya dan semakin mengeratkan genggaman tangannya.


Tasya yang merasakan Rangga menggenggam terlalu keras genggaman tangannya langsung memekik kesakitan. " Sakit! " Pekik Tasya.


Rangga yang mendengar itu langsung melonggarkan genggaman tangannya dan tersenyum cengengesan kearah Tasya. " Sorry sayang " Ucap Rangga.


Rangga yang berkata seperti itu langsung ditatap tajam oleh Rangga. " Kebiasan ya lo! " Sarkas Tasya yang kini berubah menjadi harimau dimana tadi berkata lembut dan manis seperti marshmallow.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


" Sore telah tiba! sore telah tiba! hore! hore! hatiku gembira..... " Begitulah ucap lirik yang Tasya nyanyikan saat sudah sampai dirumahnya dan saat ini dirinya akan berjalan kearah kamar mandi.


Dengan sudah memakai pakaian utuh dan mengeringkan rambut panjang yang baru dikramas Tasya keluar dari kamar mandi. Setelah itu dirinya berjalan kearah kaca meja rias nya dan duduk disana. Tasya menatap wajahnya yang kini sudah fresh tanpa make up. " Gini banget muka gue. Hmm... tapi ngak papa, yang penting gue cantik! " Ucap Tasya lalu tersenyum menyengir menyemangati dirinya yang terlihat tidak bermake - up.


Sekarang Tasya sedang asik memainkan ponselnya diatas kasur dengan posisi tertidur dan memeluk guling. Jangan ditiru men temen, ngak baek soalnya.


" Sore - sore gini enaknya makan apa ya? " Gumam Tasya berfikir sambil mengscroll aplikasi ojek online untuk melihat menu terkini yang sedang diskon.


" Seblak enak ngak sih?.. " Tanya Tasya kepada dirinya sendiri. Karena tidak tahu enak apa tidaknya makanan seblak itu Tasya langsung mencari lagi makanan lain yang menurutnya enak dan terlihat menarik dari gambarnya.


Namun, tiba - tiba ponselnya bergetar dan berdering. Munculah nama orang yang kini menjadi pengisi hatinya, siapa lagi kalau bukan Rangga. Tasya langsung mengangkat panggilan vidio telepon itu, dan muncullah wajah Rangga yang nampaknya saat ini berkegiatan sedang berkebun " Sayang " Suara Rangga dari seberang sana sambil memperlihatkan wajahnya yang pada pipi dan dahi ada tanahnya.


" Apa? " Tanya Tasya.


" Liat deh, ada cabe " Ujar Rangga lalu memperlihatkan cabe berwarna merah berukuran kecil yang baru dipetiknya.


" Terus.. " Balas Tasya. Sekarang pikiran Tasya berpikir bahwa Rangga sedang bosan saat berkebun, atau bisa jadi karena terpaksa disuruh papa nya.


" Terus ada.. " Rangga pun membalik kamera ponselnya mengarah ke belakang dan bukan lagi kearah wajahnya yang cemong sedikit dengan tanah.


Dan sekarang memperlihatkan papa Adi yang sedang duduk digazebo sambil mengopi ria.


Rangga yang sudah dikatai oleh papanya seperti itu langsung membalik arah kamera ponselnya kearah dirinya. " Lihatkan.. calon suami kamu ini berkebun dengan terpaksa " Ujar Rangga lalu diiringi dengan raut wajah sedih.


Tasya yang mendengar itu langsung tersenyum dan menjawab. " Iya " Ucap Tasya.


" Sebenarnya sih.. tadi aku lagi enak tidur. Tapi malah diganggu sama orang tua laknat itu " Ucap Rangga bercerita.


Heiii... jangan maen - maen. Papa Adi tadi denger apa yang Rangga bilang. Terlihat dari gazebo itu papa Adi langsung memasang wajah sinisnya. " Heh anak nya Adi! Jangan pacaran! Kerja lo! " Teriak papa Adi dan Tasya yang mendengar itu langsung terdiam ingin tertawa.


" Udah ah.. aku matiin aja " Ujar Tasya yang tidak mau kali ini Rangga menjadi korban kejahilan papa nya.


" Eh jangan - jangan. Diemin aja diemin " Tolak Rangga dan kini terlihat dirinya berjalan menjauh dari papa Adi.


" Rangga! cabut sayur kol nya! " Suruh papa Adi karena kini anaknya sudah mau masuk kedalam rumah. Rangga yang disuruh seperti itu pura - pura tidak mendengar, malahan dirinya terus berjalan sambil berbicara dengan Tasya.


Papa Adi yang melihat itu langsung geleng - geleng kepala. " Papa sumpahin kamu, bakal joddoh sama Tasya " Ucap Adi yang melihat anaknya tidak mau menurut dan sudah masuk kedallaam rumah.


Haha receh banget cerita ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tidak terasa sekarang hubungan Tasya dan Rangga sudah memasuki masa tiga bulan pacaran. Rangga sih dari beberapa minggu yang lalu udah mikir gimana caranya buat ngelamar Tasya.


Pemandangan danau cosmos yang sangat indah membuat Tasya dan Rangga malam ini terasa romantis. Lampu - lampu yang dipasang mengikuti bentuk jalan mengarah kedanau comos semakin membuat kesan yang romantis. Tapi sayang tidak ada satu pun pengunjung disana. Karena memang Rangga berniat untuk menyewa danau itu sampai waktunya tutup.


Tadi sebelum mereka pergi kedanau cosmos Tasya meminta berhenti untuk membeli makanan ringan serta minuman di minimarket. Dan sekarang mereka sedang duduk bersantai ditempat duduk yang terbuat dari campuran batu bata dan semen.


Angin yang berhembus kencang malam ini membuat Tasya merasa kedinginan. Tasya lupa membawa sweternya yang tertinggal di soffa saat Rangga menjemputnya. " Sini.. " Ucap Rangga lalu merengkuh Tasya untuk memeluknya dari samping, Tasya pun kini masuk kedalam pelukan Rangga dengaan kepalanya yang ikut disenderkan didada bidang Rangga.


" Kenapa tadi ngak make sweternya? " Tanya Rangga sambil mengelus rambut Tasya dan menatap Tasya.


Tasya mendongak lalu tersenyum. " Aku lupa karena saking senengnya mau jalan - jalan sama kamu " Jawab Tasya jujur. Rangga yang mendengar itu mengangguk lalu meluruskan pandangannya menatap taman yang berada di sebrang danau, Tasya pun begitu dirinya meluruskan pandangan menatap kedepan.


Cukup lama mereka terdiam karena melihat indahnya danau cosmos pada malam hari. " Kamu masi inget ngak? " Tanya Tasya lalu memperbaiki posisi duduknya menjadi tegak dan menatap Rangga dari samping.


" Tentang apa? " Tanya Rangga lalu mengambil jemari Tasya dan mengenggamnya.


" Tentang... masa kecil kita " Jawab Tasya.


Rangga terlihat sedang berfikir sambil melihat Tasya. " Memangnya... kita pernah main bareng waktu kecil? " Tanya Rangga yang terlihat bingung.


Tasya yang mendengar itu langsung diam seribu bahasa, dirinya pikir bahwa Rangga akan mengingat masa kecil mereka dulu. Sementara Rangga pandangannya masih tidak beralih dari wajah Tasya, wajahnya mengisyaratkan ingin meminta jawaban.


" Ngak inget ya? " Tanya Tasya dengan raut wajah tidak bersemangat seperti tadi diawal - awal.


Rangga yang mendengar itu mengekspresikan wajahnya masih seperti tadi namun beberapa detik kemudian dirinya tersenyum. Tangannya mulai membawa Tasya kedalam pelukannya. " Inget kok, inget banget malahan. Masa sih aku ngak inget anak kecil yang dulu gigi nya ompong terus suka cerita " Ujar Rangga.


" Tapi tadi katanya- " Ucapan Tasya terpotong karena Rangga menaruh jari telunjuknya dibibirnya.


" Aku bohong! sengaja.. mau liat ekspresi kamu gimana " Jawab Rangga sambil tersenyum gemas.


" Nyebelin ya! " Ucap Tasya yang nada bicaranya dibuat marah padahal dirinya saat ini sedang tersenyum.


Malam yang indah di danau cosmos dilewati oleh mereka berdua dengan bercerita kisah masa lalu mereka, dan tidak lupa sambil bercerita mereka memakan makanan ringan yang sudah dibeli dan juga diselingi oleh melempar kerikil kedalam danau sambil mengucapkan permohonan.


~ Bersambung ~