
"1.000.000 Oro loh, Yusa!" Ucap Alter yang baru saja selesai menghitung semua Oro yang ia hasilkan hari ini, sepertinya dagangan-nya terjual habis sampai-sampai mendapatkan untung yang sangat besar.
Yusa merasa terkejut mendengar-nya, Alter mulai memasukkan beberapa Oro ke dalam peti kecil yang terbuat dari tulang dan setelah itu ia menatap Yusa dengan senyuman manis-nya.
"Berkat diri-mu dagangan ibu laris, bahkan ibu tidak percaya bahwa hari ini kita akan mendapatkan 1.000.000 Oro! Ibu sangat bangga padamu, Yusa~"
"Hehehe... Aku senang jika Ibu tersenyum dan merasakan perasaan senang seperti itu." Alter mencium kening Yusa lalu ia memegang tangan kanannya dan memberikan peti yang terisi Oro.
"Ini untuk-mu, Yusa. Oro yang berjumlah 100.000, gunakanlah untuk membeli zirah, selendang, atau apapun yang kau mau."
"Ehh?! Aku tidak membutuhkannya, ibu! Sebuah kecupan saja sudah cukup!"
"Tidak apa-apa kok, ambil saja. Gunakanlah untuk membeli sesuatu yang sangat kamu inginkan, bukannya kamu ingin membeli sebuah buku sihir tentang [Blood Frost]."
"Ta-Tapi... Oro ini semua-nya milik ibu loh..."
"Kamu pikir siapa yang mengalahkan Kalavera itu sampai-sampai kita mendapatkan modal besar? Itu semua berkat-mu dan kamu membutuhkan sebuah hadiah selain kecupan ibu." Yusa sudah kehabisan kata-kata lagi karena apa yang Alter katakan itu benar.
"Sudah ambil saja, Yusa. Ibu-mu ingin memberikan perjuangan-mu dengan sebuah uang." Luz mulai berbicara.
Yusa hanya bisa mengangguk dan ia juga merasa sesuatu hal yang aneh yaitu Luz tidak terlihat oleh Alter, apakah Alter sadar bahwa terdapat sesosok makhluk yang melayang di sebelah-nya.
"Ibu, apakah kamu melihat Luz?" Yusa menunjuk Luz.
"Hm...? Luz...? Siapa itu...?" Alter mengalihkan pandangan-nya ke arah tempat dimana Yusa tunjuk.
"Ehh...? Tidak apa-apa kok."
"Aneh... Apakah kamu terluka ketika melawan Kalavera? Bisa saja kepala-mu terbentur karena salah satu serangan Kalavera...? Hari ini kamu bertingkah aneh, kamu sebenarnya berbicara dengan siapa sih?" Alter mulai merasakan hal aneh dari Yusa karena dia baru saja bicara sendiri tiga kali.
"Tidak kok! Aku baik-baik saja, Ibu! Hahaha~"
Alter kembali menunjukkan senyuman-nya, ia mulai membelai rambut Yusa dengan lembut. Yusa memejamkan kedua matanya lalu ia mendekati Alter dan memeluk perut-nya.
"Kamu itu anak yang baik, Yusa... Kamu menuruti apa yang selalu diperintahkan Ibu
"Ibu..." Yusa mulai mengalihkan pandangan-nya ke kedua kaki Alter yang sudah tidak ada.
"Apa Ibu tidak akan bisa jalan kembali...?"
"Yusa..."
Alter meneteskan beberapa air mata-nya lalu ia mengusap-nya dengan cepat agar Yusa tidak melihatnya.
"Maafkan ibu, Yusa... Sepertinya ibu tidak akan bisa bertarung dan jalan lagi."
"Ini semua salah monster yang bernama [Eateria], dia melahap kedua kaki Ibu sampai habis bahkan meninggalkan kutukan mutlak dimana Ibu tidak akan bisa menumbuh dua kaki yang baru." Yusa merasa kesal karena Alter tidak bisa jalan lagi karena monster yang melahap kedua kaki-nya.
"Semua ini salah Ibu karena bersikap gegabah ketika melaksanakan misi dari Rxeonal. Jangan mengkhawatirkan ibu, setidaknya kamu harus bersyukur karena ibu masih bersama-mu." Alter mencium kening Yusa untuk menenangkannya.
Yusa mulai merasa manja ketika mendengar-nya, ia langsung memeluk Alter erat dan tidak akan melepaskan-nya sampai ia tumbuh dewasa nanti.
"Astaga... Hubungan antara ibu dan anak... Mengharukan..."
Luz menangis ketika mendengar berita tentang Alter yang kehilangan kedua kaki-nya karena seekor [Eateria], ia melihat Yusa dan Alter berpelukan. Satu-satunya yang ia rasakan adalah kasih sayang dan kedamaian yang besar.
***
Yusa's POV
Aku saat ini sedang duduk di atas kursi kecil-ku, ibu sudah tertidur dengan tenang di kamar-nya dan aku sendiri masih belum merasakan lelah atau ngantuk. Aku lebih memilih untuk melakukan sesuatu yang bermakna yaitu menciptakan dua kaki buatan yang terbuat dari tulang-ku sendiri.
"Sudah saatnya untuk dirimu tidur loh, Yusa. Apakah kau ingin menyia-nyiakan tenaga-mu untuk esok hari?"
Luz sepertinya sudah merasa lelah karena aku mendengar suara nada-nya itu yang terdengar lelah, ketika Luz berbicara aku mendapatkan sebuah pertanyaan untuk diri-nya.
"Aku tidak peduli tentang itu, tapi... Aku memiliki pertanyaan penting untuk-mu, Luz."
"Hoammm... Apa tuh...?"
"Kenapa Ibu-ku tidak bisa melihat wujud-mu ini?"
"Kenapa kau melakukannya?"
"Aku hanya belum siap untuk bertemu iblis selain dirimu yaitu iblis takdir yang mengangkat-ku. Semua iblis itu rakus, tetapi aku masih belum mempercayai bu Alter."
"Kenapa begitu?"
"Berikan saja aku beberapa waktu, Yusa. Nanti juga aku akan menampakkan diriku kepada bu Alter."
Aku sudah tidak memiliki pembicaraan lain, Luz perlahan-lahan jatuh tertidur dan aku melanjutkan proyek yang aku sedang kerjakan. Sebelum aku melakukannya, aku menggendong Luz lalu menepatinya di atas karpet merah yang sudah tersediakan. Sudah saatnya untuk diriku kembali bekerja, aku kembali duduk di atas kursi lalu melihat beberapa kertas yang memiliki desain tulang kaki itu.
Semoga saja proyek ini bisa selesai secepatnya agar ibu bisa jalan dan melakukan perintah yang diberi oleh raja Rxeonal, ketika aku kembali duduk di atas kursi-ku kedua mataku mulai merasa berat karena suara dengkuran Luz yang cukup keras, aku mengambil kertas proyek itu lalu menyembunyikannya di buku-buku yang terletak di dalam laci.
"Lebih baik aku tidur untuk bisa mengumpulkan beberapa tenaga."
Aku melompat ke belakang dengan kedua mata yang tertutup, kepala-ku mulai merasakan sensasi lembut dari bantal dan punggung-ku yang terasa pegal mulai dikalahkan oleh rasa sensasi dari kasur. Aku sudah memiliki rencana untuk besok yaitu membantu ibu-ku berdagang serta memburu beberapa monster yang bisa dijual.
***
"Perkenalkan, Yusa. Dia akan menjadi pembantu kita sekarang."
"Ehh...?"
Ketika aku baru saja mengunyah daging kepala goblin, seorang gadis iblis yang sangat asing tiba-tiba datang dengan pakaian yang vulgar bahkan terlihat tidak sopan bagiku. Rambut berwarna merah darah serta kedua pupil mata-nya memiliki warna yang sama yaitu merah, ya... Dia itu cantik, sayangnya pakaian itu terlalu terbuka dan vulgar untuk diriku lihat.
Pakaian yang terlihat seksi karena dia menggunakan tank top merah pendek dimana aku bisa melihat pusar-nya serta rok pendek hitam dimana ketika ia bertarung pasti celana dalam-nya akan terlihat. Ibu baru saja bilang bahwa dia adalah pembantu kita...? Apa artinya dia yang akan membantu kita dalam kegiatan sehari-hari...!? Gadis seksi dan vulgar seperti dia...!?
"Salam kenal, Oni Yusakage... Ternyata ekspetasi-ku terhadap dirimu salah, kau hanyalah iblis imut kecil yang berusia empat tahun, hehehe~ Oh iya! Namaku adalah Alisha Elonzo, kamu bisa memanggil-ku Alisha saja."
Alisha... Nama yang cukup baik, bahkan aku baru saja menilai seseorang dari penampilan karena cara berbicara Alisha sangatlah sopan, ia memperkenalkan dirinya sambil menundukkan kepalanya kepada-ku.
"Ehh... Salam kenal juga."
Jawab-ku dengan nada yang terdengar canggung karena aku masih menilai dirinya dari luar, Alisha mulai menunjukkan senyuman manis-nya kepadaku dan itu membuatku lengah karena keimutan yang ia berikan kepadaku. Alisha menghampiriku lalu ia meraih kepalaku dan membelai-nya.
"Kamu adalah iblis yang baik ya, Yusa... Sudah membantu ibu-mu bahkan kamu termasuk golongan iblis kuat karena sudah membunuh Kalavera."
"Begitulah."
Normal's POV
Alter hanya bisa tersenyum melihat Alisha dan Yusa yang terlihat akur, awalnya ia merasa takut bahwa Yusa tidak akan menerima Alisha sebagai pembantu-nya. Dengan melihat hal ini, Alter tidak akan merasa khawatir ketika Yusa pergi berburu sendiri karena Alisha akan menemani-nya dalam memburu.
Pertemuan antara Yusa dan Alisha berakhir ketika beberapa iblis sedang berbaris rapih di depan toko Alter, ketiga iblis bergegas untuk bekerja dan melayani semua pembeli yang menunggu dengan sabar itu. Mereka semua memiliki tugas mereka masing-masing dimulai dari Alter yang melayani apa yang pembeli itu mau, Yusa memberi semua barang yang dibeli oleh pembeli, dan yang terakhir adalah Alisha dimana ia memegang sebuah papan besar yang memiliki tulisan 'Murah Meriah! Datanglah ke [Alter's Quality Shop]'
"Ayo! Ayo! Semuanya...! Datanglah ke toko kami dimana semua barang diberi harga Oro yang sangat murah bahkan kalian bisa mendapatkan sesuatu yang langka di dalam toko itu." Ucap Alisha yang sedang berdansa selagi memegang papan itu, ia baru saja menarik perhatian beberapa iblis dan membuat semua iblis itu tergoda dengan kecantikan Alisha.
Yusa melihat Alisha dan ternyata beberapa iblis mulai mengepung-nya, sepertinya Yusa mulai memiliki pikiran negatif bahwa Alisha menggoda mereka semua dengan pakaian yang seksi itu. Tetapi apa yang dia pikirkan itu salah lagi karena semua iblis yang melihat atraksi Alisha mulai pergi menuju toko-nya dan membeli sesuatu.
"Terima kasih semua iblis yang sudah membeli barang kami~ Aku harapkan kalian kembali di lain hari, ya~" Kedip mata kanan Alisha, kedipan itu membuat semua iblis jatuh cinta terhadap Alisha dan mereka pasti akan kembali suatu saat.
"Sepertinya Alisha itu hebat ya, bu... Dia membuat toko kita semakin ramai karena tarian dan atraksi yang ia lakukan."
"Jelas sih, Alisha adalah seorang iblis berjenis Succubus. Sudah jelas dia akan menarik perhatian para iblis pria."
"T-Tunggu... Succubus!?" Yusa menatap Alter dengan kedua matanya yang melotot karena ia mengetahui jelas iblis jenis Succubus, mereka semua adalah iblis wanita cantik yang dapat merayu semua laki-laki selain iblis. Katanya Succubus sangatlah pantas untuk menjadi pemuas bagi seluruh laki-laki.
"Begitulah... Ibu menemukan Alisha yang duduk di depan pintu kita, katanya dia tidak mau bekerja di tempat dimana Succubus melayani semua pria dengan--- Ehh... Ibu baru saja keceplosan, pokoknya Alisha tidak suka dengan pekerjaan-nya jadi dia memutuskan untuk bekerja demi kita, Yusa."
"Ohh... Begitu ya." Yusa menghela nafasnya.
"Aku akan membeli SEMUA barang yang ada di toko-mu, Alter." Seorang iblis yang memiliki satu tanduk besar menerobos masuk ke dalam barisan, "Semua barang yang ada disini bisa digunakan untuk bangsa Inugami."
"Oi! Apa-apaan iblis Inugami seperti-mu datang ke desa kami, hah!?" Terdengar suara iblis yang protes.
"Apakah desa iblis Oni pernah melarang tentang iblis dari bangsa lain untuk masuk...? Sepertinya tidak karena Rxeonal-pun tidak pernah menciptakan peraturan yang seperti itu." Iblis Inugami itu menjentikkan jari-nya, semua iblis yang berbaris rapi mulai di dorong oleh tiga pasukan yang ikut bersama-nya.
Yusa menatap iblis inugami itu dengan tatapan yang terlihat kesal karena semua iblis yang berbaris rapi itu sudah pasti memiliki kebutuhan yang harus mereka penuhi dan iblis sialan ini baru saja menyuruh pasukan-nya untuk membubarkan mereka semua.
"... ..." Yusa hanya bisa diam dan mengepalkan kedua tinjunya keras.