Luz Demonio

Luz Demonio
58 - Kebangkitan Iblis yang Baru



"... ..."


Master masuk ke dalam ruangan bawah tanah dimana ia melihat Ceytamold yang sedang berlutut di atas tanah, terdapat sebuah simbol setan merah yang bersinar merah di tanah tersebut.


Simbol itu memberi Ceytamold kekuatan serta lengan kanan Ceytamold dipenuhi dengan garis berwarna merah darah dan lengan kirinya dipenuhi dengan garis berwarna biru muda.


Master hanya bisa tersenyum sinis melihat Ceytamold yang sebentar lagi akan bangkit menjadi mesin pembunuh yang dahsyat, tidak akan ada yang dapat mengalahkan wujud sempurna Ceytamold berkat bantuan dari Master.


Master menepuk kepala Ceytamold untuk merasakan seluruh atribut yang ia miliki, ternyara keberadaan Ceytamold tidak bisa di rasakan karena nyawa dan arwah-nya sendiri telah terserap oleh jantung Giblis itu.


"Apakah sebentar lagi...?" Master mulai memberi Ceytamold beberapa kekuatan lain yang ia miliki.


Sepertinya kekuatan Master mampu membuat Ceytamold kembali sadar, tetapi dengan penampilan dan sesosok yang berbeda. Kedua matanya bersinar warna merah darah menunjukkan bahwa ritual telah berhasil, Master mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat terkesan karena kekuatan dan sihir yang terdapat di dalam tubuh Ceytamold tidak memiliki batas.


"Aku menepatkan sebuah batu besar di timbangan sepertinya... Makhluk ini tidaklah seimbang dengan kesempurnaan wujud dari jantung Iblis dan kedua sihir kuno yang aku masukan, aku menciptakan mesin pembunuh segala makhluk yang ada di semesta ini."


Master tertawa terbahak-bahak dan Ceytamold hanya bisa diam, ia tidak bisa bicara atau bergerak atas perintah Master yang sudah mengendalikan Ceytamold sepenuhnya. Penampilan Ceytamold berubah drastis dimana dada-nya mulai dipenuhi dengan garis merah hitam serta tanduk dan ekornya mulai memanjang serta membesar dengan ukuran yang sama dengan ukuran tubuh Master.


"Perang terakhir akan mulai dalam waktu yang dekat, sepertinya aku harus membasmi pasukan aliansi itu bersama dengan dunia ini. Jika semuanya berhasil maka aku akan langsung melaksanakan tujuan-ku untuk menyerang semesta [Yuusuatouri]." Master menjentikkan jarinya.


***


Selvia mundur beberapa langkah melihat Master yang berhenti menyerang-nya, Selvia mencoba untuk melakukan beberapa serangan tetapi ia melihat Master yang bersinar berwarna putih. Sinar itu hampir saja menyentuh Selvia dan membakar seluruh tubuhnya, untungnya ia segera mundur ke belakang.


"Tidak mungkin, ternyata selama ini yang aku lawan adalah palsu ya...?"


"Melawan ilusi-ku saja kau berhasil menang, tetapi apakah melawan diriku yang asli dapat memberi takdir kemenangan yang sama untukmu?" 


Master memberi tatapan tajam yang terakhir kepada Selvia, "Sebentar lagi, kalian akan di sambut dengan perang yang baru. Nikmatilah hidup terakhir kalian ini."


Master tidak berkata apa-apa lagi dan ia segera berubah menjadi aura putih yang menghilang cukup cepat, Selvia bisa memprediksi bahwa pasukan Ceytamold pasti akan datang untuk menyerang pasukan aliansi bersama pasukan yang jauh lebih kuat. Hal itu membuat Selvia heran kenapa Legenda seperti Master sangat peduli dengan Ceytamold bersama bangsa Giblis lainnya.


"Apa yang dikatakan sejarah benar... Legenda memang ras yang mudah haus dalam peperangan dan kehancuran yang dahsyat berbeda dari bangsa kami sendiri."


Selvia bersama Itsuki dan Yusa segera meninggalkan wilayah itu untuk pulang, Selvia melapor kepada Vimu bahwa ia berhasil menjalankan misinya untuk menyelamatkan Yusa dan Itsuki. Rxeonal merasa bangga melihat Selvia yang kembali pulang melapor kepada Vimu, sepertinya Selvia sebentar lagi akan menjadi sesosok iblis yang sama dengan Ayahnya.


Vimu memberi Yusa dan Itsuki sebuah kesempatan untuk beristirahat selama beberapa hari sebelum mereka menerima misi baru, Yusa dan Itsuki pergi meninggalkan ruangan saling bertatapan dengan perasaan yang salah karena mereka sudah terlalu banyak bersikap gegabah.


"... ..." Selvia hanya bisa diam sambil menyentuh jendela yang ada di depannya.


"Kau melakukan pekerjaan yang baik, Selvia." Vimu meminum teh hangat-nya.


"Vimu."


"Ada apa...?"


"Apakah masuk akal jika aku terus mempercayai sejarah yang pernah tertulis, walaupun tulisan itu kadang terkandung sejarah yang berbeda. Sejarah dari sudut pandang mereka yang pernah melihatnya."


"Jawaban yang kamu butuhkan itu berada di depanmu, Selvia. Percayalah sesuatu yang aku bisa percayai, Rxeonal yaitu Ayahmu sudah tercatat di sejarah sebagai raja yang menaklukkan segalanya serta membunuh jutaan korban. Dia itu seorang iblis yang mematikan dan dingin, terdapat sejarah yang mengatakannya."


"... ..."


"Tapi kau bisa lihat sendiri bukan, Selvia...? Ayahmu itu tidak selalu bersikap dingin... Tidak selalu menunjukkan dirinya sebagai sesosok iblis yang jahat dan mematikan. Ini sungguh keajaiban melihatnya bisa bergabung dengan aliansi ini untuk menghentikan kegilaan bangsa Giblis."


"Aku tahu itu, tapi apakah asal usul Giblis itu benar...?" Tanya Selvia.


"Apakah kau ingin mendengar asal-usul Giblis dariku?" 


Selvia mengalihkan pandangannya kepada Vimu lalu ia menundukkan kepalanya, "Aku mohon."


"Itu saja...? Bukannya Giblis lahir karena tercipta oleh dewa segalanya yaitu [Zangges]?"


"Bukan hanya itu, ciptaan Giblis oleh dewa Zangges sudah punah karena nenek moyang kita semua, Selvia. Tetapi Giblis tidak akan pernah bisa punah atau berakhir karena bangsa Giblis itu adalah wabah penyakit untuk kita semua bangsa Giblis."


Selvia langsung melotot ketika mendengarnya, kenapa bisa Giblis disebut sebagai wabah penyakit. 


"Apa yang aku katakan masuk akal, Selvia. Wabah penyakit Giblis terjadi jika satu iblis itu sudah muak dengan segalanya, hasrat membunuh dan insting iblis itu sudah melampaui batas dimana iblis tersebut menginjak fase penyakit untuk menjadi seorang Giblis. Pikiran mereka akan hilang dan mereka tidak akan mengingat siapa diri mereka masing-masing."


"Jadi... Apa yang anda bicarakan adalah... Kita melawan bangsa kita sendiri...?"


"Jelas, dari awal kita semua melawan satu sama lain. Perang antar saudara, perang antar satu bangsa yang sama yaitu iblis. Dirimu juga bisa berubah menjadi Giblis, Selvia, jika saja kau sempat memikirkan sesuatu seperti kekuatan dan ingin membunuh korban lebih banyak lagi."


"Wabah penyakit Giblis itu bisa datang kapan saja, iblis takdir juga bisa menjadi Giblis. Itu sebabnya kita harus berhati-hati dan mencoba untuk bisa mengerti perasaan ras lain seperti Legenda dan Manusia."


Selvia mulai ketakutan ketika mendengarnya, apakah suatu hari nanti Rxeonal bisa saja berubah menjadi Giblis karena dia sudah membunuh banyak sekali korban jahat dan tidak berdosa sejak dulu. 


"Jangan berpikir negatif, Selvia. Cara berpikir seperti itu sama seperti bangsa Giblis, Rxeonal... Aku yakin dia tidak akan bisa berubah menjadi bangsa Giblis berkat kehadirannya dirimu dan Aldine." Vimu tersenyum.


"Semoga saja..." 


"Jadi... Apakah kau mendapatkan sebuah pesan rahasia dari Master?" Tanya Vimu.


Selvia mulai mengingatnya dan ia segera menjelaskan semua informasi yang ia dapatkan dari Master, Vimu sempat kaget mengetahui identitas Master adalah seorang ras Legenda serta ia memiliki dua sihir kuno yaitu [Crimson] dan [Sacred]. 


Insting iblis Vimu yang jauh lebih besar dari Selvia bisa merasakan perang selanjutnya dimana perang ini akan menentukan masa depan semesta Zuusuatouri, pasukan Ceytamold pasti akan kembali lebih kuat karena bantuan dari Master sedangkan aliansi Truce Order sudah kehilangan banyak anggota dan sebagiannya pergi beristirahat termasuk ketua dari seksi 1.


Satu-satunya cara agar mereka bisa bertahan dan menang dalam perang adalah meminta bantuan kepada bangsa iblis lain, bangsa Oni dan Onimakura masih belum cukup, mereka masih membutuhkan pasukan yang jauh lebih kuat.


Masalah ini hanya akan Vimu dan Mimu urus, Vimu segera memberitahu semua anggota aliansi untuk beristirahat dan berlatih agar mereka siap untuk pelaksanaan perang yang selanjutnya. Vimu merasa bahwa Selvia tidak dibutuhkan untuk merancang sebuah rencana karena dia sudah melakukan pekerjaannya cukup baik.


"Selvia, untuk sekarang kau tidak memiliki misi apapun. Mulai dari sekarang sampai mulainya perang, kau harus beristirahat."


"Baiklah..." Selvia menundukkan kepalanya dan ia segera pergi meninggalkan ruangan itu.


Ketika Selvia berjalan di lorong, ia bertemu dengan Aldine yang sedang menunggu Selvia. Selvia menatap Aldine yang terlihat senang karena ia bisa pulang dengan selamat.


"Syukurlah, ternyata kau pulang dengan selamat ya, Selvia."


Aldine menghampiri Selvia dan ia segera memeluknya lalu mengusap kepalanya sebagai hadiah untuk Selvia yang sudah bekerja keras, Selvia hanya bisa diam sambil memejamkan kedua matanya karena rasa kasih sayang milik Aldine dapat membuat dirinya tenang.


"Ibu... aku pulang..."


"Selamat datang kembali, Selvia." Aldine memberi sebuah kecupan di kening Selvia.


***


Yusa berjalan sendirian di lorong karena ia baru saja mengantar Itsuki ke kamar-nya, ia sekarang akan beristirahat di kamarnya tanpa memikirkan latihan atau kesakitan dalam satu hari ini, tetapi Yusa bisa merasakan keberadaan Majin dan Rxeonal di belakangnya, ia segera berhenti dan melirik ke belakang untuk melihat mereka yang mengikutinya.


"Apa yang dikatakan Vimu benar, insting iblis-mu sangat sensitif walaupun kita tidak memiliki niat untuk membunuh." Rxeonal tersenyum.


"Ada apa, raja Rxeonal...? Apakah kau membutuhkan sesuatu dariku?" Tanya Yusa.


"Aku ingin membicarakan tentang dirimu yang pernah di usir dari desa Oni." 


"Apa...?" Yusa segera menatap Majin dan ia langsung mengangguk, "Kita sudah mendapatkan jawaban yang asli, Yusa. Ikutlah sebentar."