Luz Demonio

Luz Demonio
62 - Apakah ini Dirimu?



Rxeonal menghentikan pergerakannya, entah itu apa tetapi seluruh tubuhnya mendadak berhenti ketika mencoba untuk membunuh putrinya sendiri, Rxeonal segera meneteskan beberapa air matanya ketika ia menyadari bahwa dirinya hampir saja membunuh Selvia, jika hal itu terjadi maka ia akan masuk ke dalam lubang penuh kekuatan.


Tidak ada jalan untuk kembali, Rxeonal melepas pedang itu dan segera memeluk Selvia dari belakang, Selvia hanya bisa memejamkan kedua matanya menghormati seluruh mayat yang terbunuh karena di siksa oleh bangsa Inugami itu.


"Ini semua bukan salah-mu, Selvia..." Ucap Rxeonal pelan.


Rxeonal menunggu Selvia untuk selesai menangis karena sebentar lagi mereka akan pergi meninggalkan desa itu untuk mencari bangsa Oni yang baru, tetapi tujuan utama mereka adalah membunuh semua Giblis yang masih berkeliaran.


Membutuhkan beberapa menit untuk Selvia berhenti menangis, ia bersama Rxeonal segera pergi meninggalkan desa itu yang sudah sepenuhnya menjadi debu yang tidak berguna. Rxeonal menatap Selvia yang terlihat kesal dan muak kepada bangsa Inugami dan juga Giblis, apa yang terjadi jika dia mengetahui tentang Rxeonal yang sudah membunuh bangsa-nya sendiri.


"Mereka akan merasakan kemarahan bangsa Oni yang sudah kehilangan bangsa mereka sendiri..." Suara Selvia menjadi dingin dan Rxeonal segera menatap wajahnya.


"Kau memang terlihat sepertiku, Selvia. Walaupun kau ini seorang gadis, kau bisa saja menjadi ratu yang layak suatu saat nanti."


"Aku tidak pantas untuk menjadi ratu..." 


Selvia menemukan beberapa jejak Giblis dan ia segera mengikuti jejak itu tanpa memikirkan-nya dua kali, Rxeonal dan Selvia melihat beberapa pasukan Giblis bersama Inugami yang sedang melarikan diri dari kematian mereka yaitu Selvia yang memiliki rasa dendam.


Selvia bisa melihat semua jumlah Giblis itu bertambah dan mereka semua perlahan-lahan bertambah kuat, jumlahnya sekarang melebihi ratusan dan itu akan membuat Selvia kesulitan jika ia melakukan sedikit pergerakan yang salah, Selvia segera membalaskan dendam semua bangsa Oni yang sudah mati dengan bergerak maju menuju arah mereka sendirian.


Rxeonal hanya bisa melihat dan memegang erat pedangnya, Selvia menyerang secara membabi buta menggunakan kedua katananya yang menyebabkan semua iblis yang tertebas menjadi beberapa bagian segera terserap habis dengan rantai-rantai hitam yang muncul di belakang punggung Selvia.


"... ..." Rxeonal mulai berkeringat dingin melihat cara bertarung Selvia, dia tidak pernah melatih Selvia menjadi sekuat ini, mungkin saja Aldine terus melatihnya sejak kecil sampai menjadi mesin pembunuh yang hebat.


Seluruh serangan pasukan Inugami dan Giblis tidak dapat melukai Selvia karena seluruh tubuhnya terlindungi dengan aura kegelapan yang dapat menyerap kekuatan sekuat apapun, semua Giblis itu sudah berevolusi tinggi tetapi satu per satu tubuh mereka mulai terhisap habis karena tertusuk oleh rantai milik Selvia.


"[Void Eater]" 


[Void Eater], sihir Void yang dapat menyerap segala atribut musuh, membunuh mereka semua melemah sampai tubuh mereka menjadi kurus dan menyisakan hanya tulang saja. Terkadang sihir ini juga akan membuat musuhnya menjadi tua karena umur mereka terhisap habis oleh sihir yang sangat kuat itu sendiri.


Kedua katana Selvia terlindungi dengan aura kegelapan, ketika ia melakukan beberapa serangan semua pasukan Giblis itu tertebas menjadi beberapa bagian dan tidak mampu lagi melakukan regenerasi, fragmentasi juga tidak bisa. 


"... ..." Rxeonal ikut bertarung ketika melihat beberapa pasukan Inugami dan Giblis yang mencoba untuk menyerangnya, tidak membutuhkan usaha apapun untuk menang karena setiap tebasan dan tusukan dari pedang itu membuat mereka semua meledak.


Seluruh pasukan Giblis dan Inugami mulai berkurang, menyebabkan mereka semua semakin panik, Selvia tidak memberi mereka ampun sedikitpun sampai ia tidak menyisakan sedikit Giblis atau bangsa Inugami, Rxeonal tidak sempat membunuh mereka dalam jumlah yang banyak karena Selvia yang bergerak cukup cepat.


"Kita berhasil, Ayah. Sebaiknya kita segera berperang melawan Ceytamold dan pasukan Giblis untuk mengakhiri semua kegilaan ini, aku sudah muak!" Selvia menjilat katana yang telah terkotori dengan darah.


***


Seluruh pasukan aliansi sudah bersiap dengan perang selanjutnya, kali ini ketua aliansi akan ikut yaitu Vimu dan Mimu. Vimu dan Mimu  berdiri di atas atap dengan pedang yang tertancap di atas lantai, mereka menunggu kedatangan Ceytamold bersama Master yang akan mendeklarasikan perang selanjutnya, mereka mengetahuinya berdasarkan insting iblis mereka yang merasakan kedatangan Giblis dari segala arah.


"Pertarungan penentuan sebentar lagi akan di mulai, rencana apa yang akan dilakukan oleh Ceytamold...?" Tanya Vimu.


Seluruh ketua seksi sudah berkumpul di satu tempat yaitu atap, mereka semua menunggu kedatangan Ceytamold karena keberadaan jumlah Giblis yang tidak bisa dihitung mulai datang dari segala arah, Vimu bisa merasakan bahwa serangan kali ini pasti akan meninggalkan korban dengan jumlah yang tidak bisa di hitung.


Selvia tiba di atas atap karena ia bersama Rxeonal telah pulang dari desa Oni, tidak membutuhkan waktu lama untuk tiba karena kecepatan yang mereka yang besar. Selvia sudah memiliki firasat yang buruk karena keberadaan Giblis bisa terasa dimana-dimana termasuk langit-langit dan bawah tanah.


"Aku mengharapkan kalian semua untuk bisa menang. Jangan mencoba-coba untuk memeluk kematian, itu adalah tugas terakhir kalian sebagai anggota Truce Order."


""Akan kami laksanakan." Ucap mereka bersama.


Pasukan aliansi sudah mempersiapkan diri mereka masing-masing di mulai dari daratan yang dipenuhi dengan pasukan dari seksi yang berbeda serta bangsa Onimakura dan Tyirfei juga sudah berbaris dengan rapi untuk menunggu kedatangan bangsa Giblis, Vier dan Elvano hanya bisa diam dari barisan belakang karena Elvano sendirilah yang sudah mengatur semua rencana.


"Kakak dimana ya...?" Tanya Xirkitsu.


Selvia berkeringat dingin dan seluruh tubuhnya bergetar karena perasaannya mulai merasakan sesuatu yang buruk, Aldine segera menggenggam tangannya dengan sangat erat untuk mencoba menenangkan dirinya. Selvia segera menatapnya dengan wajah yang sedih dan Aldine memberi kecupan di pipinya.


"Aku tahu kita sudah kehilangan semua orang, lain kali jangan sampai kita kehilangan seseorang yang sangat dekat dengan kita." Aldine tersenyum.


***


Rxeonal sudah memakai segala perlengkapan terkuatnya karena ia sudah mempersiapkan diri untuk melakukan perang yang terakhir, mahkota raja sudah ia pakai serta zirahnya yang berwarna merah darah dan tebal sudah siap. Rxeonal menarik pedangnya keluar dari sarungnya dan ia segera melirik ke belakang.


"Aku sudah bersiap..." Ucap Rxeonal yang sedang menatap seseorang yaitu seorang gadis berpenampilan manusia, gadis itu hanya bisa tersenyum melihat Rxeonal.


"Sekarang kau memilihku...? Tidak ada jalan untuk kembali, Rxeonal. Kau akan menciptakan era baru untuk bangsa Iblis." 


"Tentu saja, Master. Aku akan melakukan segala perintahmu untuk bisa meraih kedamaian, apapun itu akan aku lakukan dan tadi hampir saja aku meraih kedamaian dengan membunuh anakku sendiri." Rxeonal menundukkan kepalanya.


Gadis itu ternyata Master, Rxeonal sudah mengetahui dari awal tentang Rxe. Identitas Rxe adalah Master yang menggunakan sihir ilusi-nya mencoba untuk memberi Rxeonal sebuah jalan pintas, Rxeonal segera mempercayainya karena ia mendapatkan jutaan gambaran ketika menggunakan pedang kehancuran itu serta membunuh beberapa iblis dengan pedang tersebut.


"Mari kita mulai pesta-nya...?"


"Lakukan..."


Master menjentikkan jarinya membuat kedua telinga Ceytamold menjadi sensitif, ia mengamuk dan mengeluarkan suara teriakan yang menggema membuat seluruh pasukan aliansi mendengar teriakan itu. Turunlah hujan laser merah dan biru yang perlahan-lahan menghancurkan markas aliansi tersebut, semua sihir itu mengenai Vimu dan Mimu membuat semua pasukan aliansi lengah.


"Apa yang---" Aldine melompat menuju arah Selvia mencoba untuk melindunginya.


Sebagian pasukan aliansi tidak bisa bergerak karena teriakan Ceytamold tadi, mereka semua menatap ke atas langit melihat sebuah meteor merah darah besar yang perlahan-lahan jatuh menuju markas aliansi, tidak ada satupun yang mencoba untuk menghentikan meteor itu karena sebagian tidak bisa gerak dan sebagiannya lagi mencoba untuk menyelamatkan diri dari hujan sihir itu.


Koreomi dan Xirkitsu segera menggunakan sihir gelombang terkuat mereka yang keluar melalui kedua telapak tangan mereka, mereka berteriak penuh dengan semangat mencoba untuk bisa mendorong mundur meteor tersebut.


Semua sihir Ceytamold tidak habis karena teriakan-nya saja sudah cukup untuk memanggil beberapa sihir yang dapat mengalahkan mereka semua, Rxeonal dan Master hanya bisa melihat pemandangan mengerikan itu dari atas langit.


"HARRRRGGGHHHHHHH!!!" Teriak Koreomi dan Xirkitsu bersama karena meteor itu terus maju walaupun mereka sudah menahannya dengan seluruh tenaga dan kekuatan yang mereka miliki.


"Aggghhh... Graaggghhhhh...!!!" Seluruh tubuh Koreomi mulai berdarah karena ia memaksakan tubuhnya untuk mencoba mendorong meteor itu mundur.


Sihir mereka segera terserap habis oleh meteor itu menyebabkan kedua iblis itu masuk ke dalam meteor tersebut dan terbakar, keselamatan untuk mereka tidak terjaminkan. Mereka terus berteriak walaupun mereka berada di tahap-tahap menuju kematian.


"UGGGHHH!!! UAAAAAAAAAAAAA---" Xirkitsu bersama Koreomi terbakar menjadi debu.


Rxeonal tersenyum jahat melihat kembang api yang terjadi di daratan, ketika meteor itu mendarat hanya ledakan dahsyat yang bisa ia lihat. Seluruh pasukan aliansi pasti tidak akan ada yang selamat dari ledakan tersebut serta hujan sihir itu terus berjatuhan.


"Apakah ini kedamaian yang aku incar...? Setelah menyingkirkan semua serangga seperti mereka maka tahap selanjutnya adalah menyerang bangsa Legenda...?" Tanya Rxeonal dengan beberapa air mata yang berjatuhan.


"Itu benar, kau bisa saja memberi kedamaian untuk dirimu dan dunia iblis ini, Rxeonal." Master tersenyum sinis.


Rxeonal terus meneteskan beberapa air mata karena pilihan yang ia pilih ini cukup beresiko, Selvia dan Aldine harus ia tinggalkan begitu saja demi kedamaian yang lebih utama.


"Begitu ya...? Ahaha... hahaha... HAHAHAHAHA!!!" Rxeonal tertawa terbahak-bahak, "Kenapa aku tidak memikirkan cara jalan pintas seperti ini...!?"