Luz Demonio

Luz Demonio
4 - Kalavera



"Ehh...?"


Aku mencoba untuk mengangkat-nya beberapa kali bahkan sampai menggunakan seluruh tenaga-ku,walaupun aku sudah mencobanya pedang Luz Demonio sangatlah berat untuk diriku angkat sampai-sampai Luz sendiri bingung kenapa aku tidak bisa mengangkat dirinya padahal aku ini seorang iblis takdir yang ditakdirkan untuk mengangkat Luz Demonio di medan perang.


"Tunggu, tunggu... Sepertinya aku tidak bisa diangkat ketika aku melayang?"


Luz menancapkan bilah pedangnya di atas tanah lalu aku menghirup nafas sebanyak mungkin dan menghembuskan-nya keluar untuk bersiap mengangkat Luz Demonio, aku memegang gagang pedang itu menggunakan kedua telapak tanganku lalu aku memejamkan kedua mataku.


"... ..."


Dengan mengerahkan semua tenaga yang ada di dalam tubuhku, aku mencoba untuk menarik pedang itu keluar, tetapi tidak ada reaksi apapun bahkan aku tidak bisa melihat pedang itu bergerak setitik-pun. Aku dan Luz mulai terkejut karena sepertinya... ada sesuatu yang aneh disini sehingga aku tidak bisa mengangkatnya.


"Ahh! Aku memiliki ide!"


Aku melihat kenop Luz mulai bersinar cerah seperti bola lampu. Luz mulai kembali melayang dan aku bisa melihat bilah pedangnya yang baru saja tertarik keluar dari dalam tanah, prediksi-ku adalah diriku masih belum cukup kuat untuk mengangkat Moirai Arma: Luz Demonio. Bisa saja takdir berubah atau diriku ini bukan lagi iblis takdir... Tidak! Tidak! Tidak! Aku tidak mau itu terjadi...!


"Ide apa yang kau maksud ini, Luz...?"


"Kau harus menuruti perintahku...! Ingat itu!"


"Asalkan aku mampu maka aku akan melakukannya."


"Baiklah... Berikan aku majalah por---"


"Hahaha! Lucu sekali. Aku tahu kau ini Moirai Arma, Luz... Tetapi apakah semua Moirai Arma itu bodoh, mesum, dan kadang-kadang tidak berguna?!"


"Lagi-lagi omongan-mu itu sangatlah tidak sopan... Dasar badung!"


"Apa kau bilang?!"


Lama-lama kesabaran-ku akan habis karena dirinya yang bersikap tidak serius di waktu yang serius, pedang itu mulai mendekati-ku dan aku hanya bisa diam karena Luz Demonio sangatlah berat dan jika aku tidak bisa mengangkatnya lagi maka bisa-bisa Luz akan pergi meninggalkanku sehingga ia mencari iblis takdir yang baru selain diriku.


"Baiklah, kali ini... aku serius...!"


Nada suara-nya tiba-tiba terdengar sangar dan kembali menjadi suara biasanya seketika ia menjelaskan sesuatu.


"Ulurkan kedua lengan-mu, Yusa. Mari kita coba metode dimana aku akan mendarat di kedua telapak tangan-mu."


Sepertinya metode yang akan di pakai Luz terdengar beresiko karena aku merasakan firasat yang tidak baik, bagaimana jika aku benar-benar tidak bisa mengangkatnya sehingga bilah pedang-nya itu **** kedua telapak tanganku sampai tulang-tulangku patah?! Tunggu... Kenapa iblis Oni sepertiku ini gugup...?! Ini bukanlah diriku! 


Tanpa basa-basi aku memberanikan diriku untuk menanggung resiko, aku mengulurkan kedua lengan-ku ke depan dan membuka kedua telapak tanganku. Luz perlahan-lahan mendarat di kedua telapak tanganku sehingga permukaan dari kedua tanganku mulai menyentuh bilah pedang Luz Demonio, rasanya cukup kasar dan dingin. 


Begitu Luz telah mendarat di kedua telapak tanganku, seluruh tubuhku tiba-tiba merasakan tekanan beban yang besar seolah-olah tubuhku ini baru saja mengalami kenaikan gravitasi yang tinggi, wajah-ku mulai menjatuhkan beberapa keringat dan sepertinya ini tanda-tanda aku tidak bisa mengangkat Luz, kedua lengan-ku sudah terasa lemas dan aku secepatnya mundur ke belakang.


"Sepertinya tidak bisa ya..."


Luz melihat-ku ekspresi-ku yang lelah, ia mulai berubah kembali menjadi wujud makhluk berjubah-nya itu. Ia mulai mengelus kepalaku menggunakan selendang yang hampir berbentuk seperti tangan. Entah kenapa aku merasa nyaman dengan elusan yang diberi Luz seolah-olah aku baru saja di elus oleh Ayah-ku yang pergi entah kemana.


"Jangan bersedih dulu, Yusa. Semua generasi iblis yang mengangkat-ku juga memiliki masalah yang sama dimana mereka awalnya tidak bisa mengangkat diriku, tapi beberapa detik kemudian mereka bisa. Mungkin saja perasaan atau hati-mu saja yang belum siap untuk bisa mengangkat-ku."


Luz mencoba untuk menyemangati-ku dan aku juga sadar bahwa diriku ini masih belum cukup kuat untuk bisa menjelajahi dunia atau bertemu dengan raja Rxeonal, seharusnya Luz memberitahu-ku lebih awal ketika semua generasi yang mengangkat-nya itu mengalami hal yang sama. Di saat-saat seperti ini aku harus bertambah kuat terus kuat sampai aku tidak mengenal apa arti dari batasan. Bangsa iblis itu kuat dalam pertarungan apapun... Kita bangsa iblis akan terus berkembang dan mengetahui sesuatu yang belum di ketahui sebelumnya!


"Sepertinya aku membutuhkan latihan ya... Apakah kau sekarang akan meninggalkan-ku dan mencari pemilik baru?"


"Bodoh sekali, dasar badung... Tentu saja aku tidak akan meninggalkan takdir yang harus terjadi, takdir mengatakan bahwa Oni Yusakage adalah generasi ke tujuh yang akan memegang pedang Luz Demonio."


"... ...!"


Aku bersama Luz merasakan hawa busuk yang cukup menyengat di sekeliling, mendengar suara auman yang haus terhadap darah... Kelaparan terhadap mangsa yang lebih lezat dari iblis gila... Ledakan dan getaran mulai terasa di sekeliling-ku, tetapi aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Aku segara memejamkan kedua mata-ku untuk mencoba mendeteksi dimana hawa busuk itu berasal dan ternyata aku merasakannya tepat di belakangku.


"Hahh...!"


Insting-ku mulai bekerja sehingga aku melompat ke depan lalu melirik ke belakang dimana aku tidak melihat monster atau iblis yang mencoba untuk menyerang-ku, sepertinya hawa busuk ini memiliki sihir atau kemampuan yang menyembunyikan wujud asli mereka. Luz mulai melayang di atas langit dan ia mencoba untuk mencari makhluk dengan hawa busuk itu.


"Luz...! Apakah kau menemukan sesuatu yang berkaitan dengan hawa busuk itu?"


"Tidak ada... Tapi... Pasti ada sesuatu yang mendekati kita jika insting-mu merasakan sesuatu yang berbahaya."


"Mimpi buruk segala ras... Jadikanlah mimpi itu menjadi api yang melonjak tinggi dan membakar segalanya! [Nightmare Flaming Breath!]"


Aku mengembungkan kedua pipi-ku dan tubuhku mulai terasa panas termasuk jantung serta kedua paru-paruku, aku melompat ke atas lalu menyemburkan api berwarna hitam kebiruan ke arah daratan dan luasnya cukup besar. Ketika api itu mengenai daratan, aku mulai merasakan hawa busuk yang lebih besar terletak di depan-ku dan akhirnya hawa busuk itu mulai menampakkan wujudnya.


"Caramu berpikir cukup membuatku terkesan, Yusa... Aku tidak percaya bahwa badung sepertimu akan memaksa hawa busuk itu untuk menampakkan dirinya."


"Bisakah kau berhenti memanggilku badung?! Aku tidak nyaman dengan panggil itu."


"Nyohohoho~ Amarah pertama-mu sangat imut sekali, Yusa! Aku tidak percaya bahwa iblis berusia empat tahun aku memiliki pemikiran yang cerdas dan amarah yang terdengar cukup imut!"


Hawa busuk itu mulai menampakkan wujud asli-nya, wujud-nya itu berbentuk seperti monster yang besar dan terasa dari hawanya yang busuk itu, ia pasti mengincar iblis yang memiliki akal sehat berbeda dari iblis berakal gila. Sepertinya dia sudah bisa disebut sebagai monster sekarang, bukan hawa busuk lagi.



[Illustrasi: Pinterest]


Apa yang ibu katakan ternyata benar, di malam hari seperti ini dimana iblis-iblis ceroboh keluar untuk bermain atau berlatih. [Kalavera], monster pemakan anak-anak iblis dan iblis yang berakal sehat. Tengkorak di bagian kepalanya, duri-duri tajam dan beracun yang terletak di bagian punggung, kedua lengan, dan ekor. Ukuran-nya sudah jelas jauh lebih besar dariku bahkan dengan satu gigitan saja sudah membuat seluruh tubuhku remuk.


Kalavera itu menatap-ku dengan tatapan yang melihat mangsa, aku hanya bisa berdiri tegak dan mencoba untuk tidak menggerakkan sedikit tubuhku karena Kalavera memiliki kemampuan yaitu menghilang serta insting-nya juga sama besarnya dengan bangsa iblis. Satu pergerakan salah maka aku akan termakan dengan satu gigit dan satu telan.


"Ahhh... Aku kira iblis gila mencoba untuk menyerang kita berdua, Yusa! Ternyata hanya seekor Kalavera yang kelaparan. Lebih baik kita pergi saja!"


Aku membulatkan kedua mataku ketika Luz baru saja berkata sesuatu yang tidak penting dengan nada keras-nya, hal itu membuat Kalavera langsung berliur di bagian mulutnya. Dasar bodoh, kenapa pedang itu tidak mau menutup mulutnya hanya untuk satu menit saja.


"Benarkah...?"


"Hehehe... Maaf-maaf... Se-mo-ga BERUNTUNG!"


Lama-lama Luz hanya membuatku kesal, tetapi perkataannya itu terdapat perasaan untuk menyemangati diriku, Kalavera itu bergerak menuju arahku dan aku hanya bisa lari ke belakang lalu menciptakan beberapa tulang berduri di setiap langkah-ku. [Bone Creation: Step] sihir dimana kedua telapak kaki-ku akan menciptakan tulang berduri jika aku menginjak sesuatu.


Aku menoleh ke belakang dan melihat Kalavera itu yang menghindari semua tulang berduri itu, di situ kesempatan-ku untuk melihat Luz dimana ketika aku menatapnya ia sedang menikmati sebuah bir yang di pegang dengan selendang-nya.


"Ahhh... Enak..."


"Oi! Apa yang kau lakukan?! Apakah kau lihat aku sedang dalam berbahaya?! Dasar pedang tidak berguna!"


"Tenang dulu... Blurb... Pasti kau bisa mengalahkannya..."


"Tentu saja tidak bodoh!!! Ibuku melarangku untuk bertarung melawan seekor Kalavera!!!"


Aku terlalu menghabiskan waktu bersama pedang yang tidak berguna itu lebih baik aku mencoba untuk mengalahkan Kalavera saja, aku mengarahkan pandangan-ku ke belakang dimana aku tidak melihat Kalavera itu, tetapi insting-ku mulai merasakan keberadaan Kalavera di depanku.


"GRAGGGHHHH!!!"


"Bone Creation: Shield!"


Dengan cepat aku baru saja menahan serangan Kalavera dengan perisai yang muncul di lengan kiriku. Perisai yang terbuat dari tulang-ku sendiri dan pertahanan-nya cukup tebal juga karena bisa menahan serangan kuku tajam yang beracun. Jika aku terus menggunakan [Bone Creation] maka tubuhku lama-lama akan semakin lemah bahkan dengan satu pukulan-pun aku pasti remuk. Aku hanya harus menggunakannya dengan hemat.


Begitu aku menahan serangan-nya, Kalavera membuka mulutnya selebar mungkin dan mencoba untuk memutuskan lengan kiri-ku. Aku secara refleks melompat ke belakang jika tidak maka dia sudah memakan-ku terlebih dahulu. Kalavera itu mulai bergerak di sekeliling-ku dan aku hanya bisa bersiap untuk menahan serangannya lagi.


Prediksi-ku mengatakan bahwa Kalavera akan menyerang-ku di belakang, tetapi aku akan berjaga-jaga dulu dengan menggunakan [Bone Creation: Step], aku menginjak daratan yang ada di depanku sehingga tulang berduri mulai muncul di atas daratan yang aku injak. Aku melakukan hal itu untuk membuat Kalavera yakin bahwa aku menebak pergerakan-nya yang mencoba untuk menyerangku dari depan.


Kalavera itu adalah makhluk yang memiliki otak kecil, aku yakin dia percaya bahwa aku akan menyerang ke depan. Aku tersenyum dan merasakan Kalavera yang melompat ke arah punggung-ku, aku berputar 360 derajat lalu menahan mulut Kalavera yang mencoba untuk melahap kepala-ku.


"Hee..."


Aku hanya bisa tersenyu karena aku baru saja menebak pergerakan Kalavera dengan persentase lima puluh. Air liur-nya mulai menetes di wajahku dan aku melihat kedua lengannya yang mencoba untuk mencakar perutku.


"Bone Creation Ascended: Shield of Spear"


Sebuah tombak muncul dari permukaan perisai itu sampai menusuk tenggorokan Kalavera itu, Luz terlihat cukup kagum melihat-ku yang bertarung dengan cara strategis. Tenggorokan dan leher bagian belakang-nya mulai mengucurkan darah yang sangat banyak ke tanah. Hal itu membuat Yusa yakin bahwa ia memiliki kesempatan untuk melawan Kalaveru.


"Aku akan membawa kepala-mu pulang dan menunjukkan-nya kepada ibu!"