Luz Demonio

Luz Demonio
59 - Kehilangan



"Mama..." 


Selvia kecil dengan tanduk satunya yang kecil datang menghampiri Aldine yang sedang duduk di atas kursi sambil menatap langit-langit hitam dimana terdapat juga beberapa bintang-bintang merah dan bulan yang memiliki warna merah darah.


Mendengar suara imut yang terdengar di belakang Aldine membuatnya melirik ke belakang dan melihat Selvia yang terlihat ketakutan, iblis juga memiliki mimpi buruk dan sepertinya Selvia baru saja mengalami mimpi yang buruk. 


"Cup... cup... cup..." Aldine menghampiri Selvia dan ia mulai menggendongnya, Aldine kembali duduk di atas kursinya dan ia mulai menepatkan dirinya di atas kedua pahanya.


"Mama... Selvia takut..." 


Selvia memeluk Aldine erat dan ia menyenderkan kepalanya di dada Aldine untuk bisa menenangkan dirinya sendiri, Aldine hanya bisa tersenyum karena ini pertama kalinya Selvia bisa melihat mimpi buruknya, ia segera mengelus kepala Selvia dengan pelan sambil memberi beberapa kecupan di kedua pipinya.


"Apa yang kamu takutkan, iblis kecil Mama?"


"Mimpi buruk... Selvia melihat sesuatu yang buruk, Mama."


Selvia memegang erat baju Aldine dan itu membuat Aldine semakin penasaran tentang mimpi yang di alami oleh Selvia, Aldine mulai meraba kedua pipi Selvia dan ia menatap kedua matanya dengan tatapan yang terlihat tenang.


"Tidak akan ada yang bisa melukai dirimu sendiri kecuali dirimu, Selvia. Mimpi buruk itu, Mama yakin tidak akan pernah bisa melukai dirimu ini."


"Mmmm..." Selvia menyembunyikan wajahnya di perut Aldine.


"Mau memberitahu Mama...? Mimpi apa yang kamu lihat, sayang?"


"Mmm... Selvia melihat... Dada Selvia berlubang karena Papa..."


"Karena Papa...?"


"Mmmm... Selvia melihat Papa bertarung dengan makhluk yang memiliki penampilan seperti Manusia, Mama. Itu sangat menakutkan... Selvia di lindungi oleh manusia itu, tetapi Papa menarik Selvia dan membunuh Selvia, Mama."


Aldine cukup terkejut mendengarnya, Rxeonal sang raja iblis yang ditakutkan bisa saja melakukan itu kepada Selvia dalam waktu yang dekat. Selvia mulai menangis ketakutan dan Aldine segera menepuk-nepuk punggungnya.


"Selvia takut, Mama..."


"Mama tahu..."


"Selvia juga melihat... Papa menjadi iblis yang tak terkalahkan, dia menjadi iblis dengan kekuatan yang besar, Mama. Hampir sama seperti dewa-dewi yang menciptakan segalanya, Mama."


Aldine tidak bisa berkata apapun kecuali mendengarkan Selvia, Aldine terus mengelus kepalanya dan seluruh tubuh Selvia mulai gemetaran karena rasa takutnya sendiri.


"Selvia melihat... Papa mendeklarasikan perang yang besar sekali, itu membuat Selvia ketakutan, Mama. Korban berserakan dimana-mana dan Papa terlihat seperti monster, Mama..."


"Mimpi yang kamu lihat itu tidak nyata, Mama percaya bahwa iblis seperti Papa hanya akan melakukan sesuatu yang ia mau."


"Mmm..."


"Berkat kehadiran dirimu dan diriku, Papa bisa mengontrol perasaan dan hasrat-nya sebagai seorang raja, jika Papa sempat melakukan itu maka Mama pasti akan memberinya pelajaran, tenang saja, Selvia-ku." Aldine menatap kedua mata Selvia dan ia segera mengelus air mata-nya.


***


Selvia membuka kedua mata-nya, ternyata dia baru saja mengalami mimpi tentang dirinya sejak kecil.


"Apakah tadi mimpi...? Tidak mungkin, aku pernah memberitahu Ibu tentang mimpi buruk-ku sejak itu."


Selvia segera bangun dari kasur-nya dan ia mulai memakai pakaian dalam-nya segera dan membuka tirai agar sumber cahaya bisa masuk ke dalam ruangan-nya.


Selvia mengambil pakaian yang sudah di sediakan oleh Aldine, terdapat sebuah catatan dari Aldine yang mengatakan bahwa dirinya harus beristirahat karena berlatih terlalu sering hanya akan membuat daya tahan tubuhnya melemah.


"Percuma untuk melarangku, Ibu. Aku bisa berlatih di dalam pikiran-ku." Selvia membuka kulkas-nya dan ia segera mengambil sebuah roti yang memiliki beberapa topping mata.


"APA YANG KAU MAKSUD MAAF!? MEMANGNYA SIAPA YANG SUDAH BERPRASANGKA BURUK KEPADA ANAK YATIM-PIATU INI, HAH!?"


Suara teriakan Yusa menggema di seluruh ruangan termasuk ruangan Selvia sehingga itu membuat sedikit kaget, ia segera pergi meninggalkan kamarnya untuk menghampiri sumber suara yang keras tadi.


"Pasti ada masalah lagi dengan Yusa..."


Ketika Selvia mendekati kamar Yusa, ia hanya menguping saja karena ia tidak mau ikut campur dengan urusan yang di hadapi oleh Yusa.


Selvia bisa merasakan beberapa keberadaan iblis di dalam kamar Yusa, Rxeonal juga berada di dalam kamar Yusa bersama Majin.


Ia melihat Yusa yang sedang di pegang oleh Vier dan Alisha, ekspresinya juga menunjukkan bahwa ia sedang kesal kepada Rxeonal.


"Kenapa kalian bisa setenang itu...!? Bukannya desa Oni saat ini sedang dalam bahaya, terdapat beberapa pengkhianat yang sedang berpura-pura menjadi Oni bukan?!"


Majin sudah memberitahu Yusa dan Rxeonal tentang kebenarannya, semua kesalahanpaham ini telah betakhir tetapi emosi Yusa malah terbakar karena mengetahui nama iblis yang membunuh Alter yaitu Inugami Inaru.


Rxeonal dan Majin hanya bisa diam, pergi ke desa Oni sekarang sama saja bunuh diri karena desa itu juga pasti akan di serang oleh bangsa Giblis, Rxeonal lebih mementingkan dirinya sendiri bersama kedua iblis dari pasukannya yang hebat yaitu Majin dan Majiru.


Rxeonal sudah meminta maaf kepada Yusa, tetapi ia tidak menerima permintaan maaf itu ketika mengetahui sikap egois-nya sebagai raja yang membiarkan pengikutnya mati begitu saja.


Yusa segera bergerak menuju Rxeonal dan memegang kerah bajunya, Vier dan Alisha tidak bisa menahan Yusa karena tenaga-nya yang meningkat cukup besar.


"Apakah kau memanggil dirimu sebagai raja, Rxeonal?" Tatap Yusa tajam.


"... ..." Rxeonal hanya bisa diam.


"Apakah seorang raja rela meninggalkan pengikutnya yang sudah mempercayai raja mereka sendiri!?"


"Terbunuhnya mereka bukanlah urusan-ku, jika mereka tidak dapat melindungi diri mereka sendiri maka mereka sama saja dengan sampah."


"Apakah kau pernah melihat perasaan mereka...!? Mereka semua menderita dan meminta mohon agar mereka semua bisa diselamatkan oleh raja mereka sendiri...!"


"Aku mengetahui perasaan mereka... Tapi jika aku sendiri yang mengetahui perasaan mereka, apakah mereka bisa mengetahui perasaanku tentang kehilangan banyak seseorang yang aku sangat percayai."


"Itu tidak masuk akal...!!!"


"Yusa... Lebih baik kau urusi dirimu sendiri, julukan apapun itu. Kau seorang iblis takdir dan kau tidak bisa mengubah takdir tentang Giblis, pengikut-ku mati dengan penuh hormat dariku ini."


"Cih...!!! Kau hanya menjadi raja karena kau ingin menciptakan peraturan-mu sendiri...!"


"Lepaskan aku."


"Apakah kau memanggil dirimu sebagai raja yang bijaksana dan berkarisma!?"


"Tidak akan...!!! Aku akan memberi pelajaran karena sudah membuatku menderita dari awal---"


"MASA BODOH, DASAR IBLIS RENDAHAN!!!" Rxeonal mendorongnya mundur membuat Yusa hampir saja terjatuh.


"Tenangkan dirimu, raja." Ucap Majin.


"Kau tidak akan pernah mengetahui diriku yang asli, Yusa...! Aku sudah mencoba untuk melindungi semua pengikut-ku dan semuanya berakhir sama saja yaitu mati! Tidak ada yang selamat walaupun aku membiarkan dan melindungi mereka!"


"Apa yang harus aku lakukan, hah!? Mencoba untuk meraih kedamaian untuk bangsa-ku sendiri dan semesta ini susah...! Lebih baik diriku memikirkan cara lain untuk bisa membawa kedamaian itu sendiri, keadilan yang baru untuk bangsa Iblis!" Rxeonal masih bisa mengontrol dirinya, ia tidak akan menyerang Yusa karena dia tidak ingin membuat konflik lagi.


Yusa maju dan mendorong Rxeonal beberapa kali, "Cobalah terus...! Jangan sampai kau menyerah karena sudah kehilangan seseorang yang kau percayai!"


"Jika aku bisa melakukannya maka... Kita bangsa Iblis sudah memeluk kedamaian!!!" Rxeonal mendorong Yusa mundur.


"Urusi dirimu sendiri, Yusa! Jika kau mau... Kau pergi saja sendiri ke desa Oni itu dan mengalahkan ketiga iblis Inugami yang sedang menyamar itu!"


"Grggghhhh...!!!" Kesabaran Yusa habis membuat kedua matanya bersinar merah.


Yusa bergerak menuju Rxeonal dan memukul pipinya cukup keras, setelah itu ia mencoba untuk mematahkan tanduknya.


"Cukup sudah dengan omong kosong-mu itu, bajingan...!!! Justru siapa yang sudah membuatku seperti ini dari awal, hah!? Perjuangan-ku sia-sia karena penjaga gerbang itu, ibuku terbunuh oleh iblis Inugami, dan yang terakhir aku dikhianati oleh seluruh bangsa Oni termasuk kau!!!"


"Oi, sudahlah!" Vier segera membawa Yusa mundur dan mengamankannya dari Rxeonal.


"Aku tidak bisa menerimanya...!!! Aku tidak menerima kenyataan dan permintaan maaf kepada seseorang yang sudah terlambat...!!!" Yusa mulai menangis karena ia benar-benar merasa kehilangan seseorang yaitu Alter.


"...Hiks... Sialan... Ibu..." Yusa berlutut di atas lantai, ia mulai menangis karena kehilangan Alter.


Rxeonal dan Majin segera pergi meninggalkan kamu Yusa karena tugas mereka sudah selesai di sana, Rxeonal memberi Majin perintah bahwa ia bersama Majiru akan segera pergi ke desa Oni untuk melihat kondisi desa tersebut.


Selvia hanya bisa diam sambil menatap Rxeonal yang pergi tanpa meenyadarinya.


"Ayah... Sebenarnya kedamaian seperti apa yang kau coba raih?"