
Semua pasukan Ceytamold melakukan pergerakan pertama, barisan depan pasukan Ceytamold bergerak secepat mungkin menuju arah pasukan Yusa. Mereka semua hanya bisa diam dan membiarkan pasukan barisan belakang yang menggunakan senjata jarak jauh dan sihir bekerja, Takao mengangkat pedang-nya ke atas dan semua pasukan barisan depan itu mengangkat pedang mereka dan mempersiapkan perisai mereka.
"Pasukan barisan depan...! Bersiap untuk menahan serangan Giblis yang mencoba untuk menerobos masuk...! Maju...!" Suruh Takao, semua pasukan barisan depan Truce Order maju ke depan dan mempersiapkan perisai mereka untuk menahan jalan bangsa Giblis.
"Pemanah...! Sihir...! Bersiap untuk membidik...!" Gallius membidik kepala pasukan Giblis itu, semua pemanah ikut membidik kepala pasukan Giblis karena itu satu-satunya cara untuk menahan mereka.
"Bangsa Giblis tidak akan pernah berhenti walaupun tubuh mereka telah hancur dan hilang... Satu-satunya cara untuk mengakhiri kehidupan mereka adalah dengan membakarnya dan tidak menyisakan sedikit anggota tubuh mereka." Ucap Xirkitsu kepada prajurit di belakangnya.
Semua pasukan Truce Order mengerti apa yang Xirkitsu, barisan pasukan yang menggunakan sihir sudah mempersiapkan Oui mereka semaksimal mungkin agar bisa membunuh semua bangsa Giblis itu. Pertempuran pasukan Giblis dan Truce Order berjalan cukup sengit, perang yang setara dimana kedua pasukan itu sama-sama kehilangan beberapa pasukan.
Kondisi pertarungan terasa setara dan seimbang, Ceytamold tidak mementingkan tentang seberapa banyak korban yang jatuh karena bangsa Giblis bisa menciptakan pasukan yang baru sedangkan aliansi Truce Order tidak bisa serta formasi mereka mendadak hancur ketika melihat banyak sekali korban yang berjatuhan.
"Korban...! Korban...!!!" Teriak salah satu prajurit yang langsung tertusuk di bagian jantung mereka, barisan depan pasukan Truce Order runtuh karena ditabrak oleh pasukan Giblis bagian depan menggunakan perisai yang lebih besar dengan duri-duri beracun di depannya.
Pasukan Giblis terus bertambah, Alisha bisa melihatnya dari atas naga-nya dan ia segera menyerang barisan belakang pasukan Giblis menggunakan sihir telekinesis-nya untuk menghancurkan formasi mereka. Sihir telekinesis Alisha cukup membantu untuk memisahkan semua pasukan itu tetapi Alisha terkena serangan oleh Ceytamold.
Untung-nya pasukan Aliansi yang memegang senjata jarak jauh mampu mengenai Ceytamold dan membuatnya lengah sampai Alisha mulai menaikkan naga-nya ke langit yang lebih tinggi. Vier menyuruh pasukan Tyirfei untuk mengerahkan semua serangan yang mereka miliki menggunakan busur yang mereka pegang.
"Grrggghhh...!!!" Ceytamold bisa melihat formasi pasukan Giblis telah hancur karena seorang Succubus. Rxeonal bersama pasukan Oni-nya maju ke depan dan membasmi pasukan Giblis di bagian kiri sedangkan di bagian kanan terdapat Yusa bersama seluruh ketua seksi sedang membasmi pasukan Giblis itu.
Rxeonal dan Takao memerintah untuk pasukannya mundur karena bala bantuan bangsa Giblis datang dari langit dan di bawah tanah dimana beberapa iblis Oni dan anggota aliansi mulai tertarik ke dalam tanah oleh pasukan Giblis yang datang, pasukan Giblis itu memakan mereka tanpa memberikan sisa appaun.
"Ini tidak ada habis-nya..." Ucap Yusa.
Takao hanya bisa diam, tugasnya sebagai ketua seksi itu memiliki tanggung jawab yang besar tetapi Aldine mulai memerintah semua pasukan untuk mundur dan menyerang kembali setelah pasukan Giblis yang menyerang dari dalam tanah dan langit telah mati. Bangsa Inugami dan Ajin datang dari timur membuat situasi semakin buruk untuk pasukan aliansi.
"Bala bantuan lagi...?!" Majin terkejut melihat beberapa pasukan dari bangsa Inugami dan Ajin datang untuk membantu Ceytamold.
"Apakah ini sama setara-nya dengan perang [War of Demon Blood III]...?" Tanya Karla.
Tidak peduli seberapa banyak bala bantuan datang, peperangan ini terus berlangsung dan menyebabkan wilayah itu diguncang-kan dengan dorongan yang sangat besar. Korban mulai berjatuhan lebih dari ribuan dan beberapa pasukan aliansi menangis melihat seseorang yang dekat dengan mereka terbunuh begitu saja.
"Ceytamold... Apakah kau mencoba untuk menghancurkan rencana kita?" Tanya Asteria. Seorang ratu yang memimpin bangsa Ajin.
"Cih... Kenapa kau datang tanpa peringatan-ku terlebih dahulu, Asteria...? Kau mengecewakan dosa... Dosa-dosa sejumlah ini sudah cukup untuk menjatuhkan mereka ke jurang kafir..."
"Yang kafir itu dirimu, berani-beraninya kau mencoba untuk membunuh mereka semua sendirian. Kau sudah bersumpah bahwa aku juga akan ikut untuk melihat mereka semua merasakan kesakitan yang abadi." Asteria tersenyum sinis, ia mulai mengeluarkan pedang yang berada di punggung-nya lalu ia menjilat bilah pedang tersebut.
Asteria melihat pasukan Oni dan Onimakura bergerak sesuai dengan rencana oleh Rxeonal dan Xirkitsu, Asteria tidak menyangka bahwa ia bisa melihat Rxeonal dan Xirkitsu berada di medan perang.
"Ternyata kau menyembunyikan semua ini dari-ku... Kau memang licik, yahhh... Tak apa, sekarang hidangan utama-nya akan dimulai dari kedua raja yang bernama Rxeonal dan Xirkitsu."
Insting membunuh Asteria mulai bergejolak tinggi di dalam tubuhnya, ia masih harus tetap diam dan melihat apa semua bangsa Giblis mampu mengalahkan pasukan Oni dan Onimakura tanpa bantuan. Tindakan pasukan Oni dan Onimakura seperti biasanya tidak jauh dari kata gegabah dan juga mendekatkan diri dengan kematian.
Tidak hanya Asteria, Ceytamold juga menyadari bahwa semua kembaran-nya telah kalah dan habis karena Rxeonal dimana kondisi-nya sudah pulih seperti biasanya. Hal itu benar-benar membuat Ceytamold belajar dan beradaptasi sepertinya bangsa Iblis akan terus bertambah kuat jika mereka mampu bertahan dari fase sekarat.
"Ternyata mereka tidak akan bisa berhenti... Dasar bangsa iblis mulia yang bodoh, kalian tidak akan bisa menembus dosa-dosa yang terkumpul menjadi satu...!" Ceytamold menyuruh semua pasukan Giblis untuk maju dengan semua yang mereka miliki.
"Bertarunglah...! Cabik-cabik tubuh mereka...! Makan mereka semua...!!! Sisakanlah tulang-tulang mereka untuk dijadikan sebagai ekspresi...! Pendosa seperti kita wajib mendapatkan apapun yang kita miliki karena semua kenikmatan berakhir dengan sebuah dosa yang besar...!" Ceytamold memberi semua pasukan Giblis itu semangat tinggi sampai insting membunuh mereka meningkat.
Semua pasukan Giblis itu mengaum keras dan berevolusi menjadi fase yang lebih mengerikan, Rxeonal terus menyuruh bangsa-nya sendiri untuk terus maju dan pantang mundur walaupun musuh jauh lebih kuat. Asteria hanya bisa tertawa terbahak-bahak melihat Rxeonal sebagai pemimpin menyuruh bangsa-nya sendiri untuk melakukan tindakan bunuh diri.
Asteria dan Ceytamold yang tadinya meremehkan mulai melebarkan mata mereka melihat Aldine membangkitkan monster yang bernama [Cerberus] dan [Pegasus]. Kedua monster mitologi itu bangkit karena formasi dari Monstruo Demonio.
Mereka berdua terdiam melihat Aldine yang mulai maju bersama kedua monster itu di belakang-nya, cara bertarung Aldine menggunakan katana-nya itu sangat mengerikan bahwa satu tebasan dapat membuat beberapa pasukan Giblis terbelah menjadi beberapa bagian dan terbakar sehingga mereka tidak bisa meregenerasi atau membelah diri.
"Pasukan Oni maju...!!! Demi kedamaian Zuusuatouri...!!! Demi memusnahkan bangsa Giblis!!!" Teriak Aldine membuat semua bangsa Oni terkejut bahwa mereka bisa melihat istri Rxeonal lagi.
Aldine melompat ke atas dengan kedua matanya yang terbakar dengan api biru, bilah katana-nya juga ikut terbakar dengan api biru. Ia melakukan beberapa serangan dengan mengayunkan katana-nya sebanyak tiga kali dan menyebabkan barisan depan pasukan Giblis terbakar habis. Semua pasukan Giblis itu mendadak panik dan mulai melakukan fase fragmentasi tetapi Karla muncul di depan mereka dengan putaran tornado yang mencabik-cabik tubuh mereka.
Ceytamold mulai berkeringat melihat kekuatan asli dari iblis takdir, iblis takdir memberi persentase kemenangan besar untuk mereka semua karena mereka lebih dominan terhadap perang dan membasmi bangsa Giblis. Aldine muncul di depan pasukan Ajin sendirian tanpa bantuan siapapun semua pasukan Ajin itu hanya menertawai Aldine.
"Kau datang untuk membunuh dirimu sendiri, ratu...!" Ucap salah satu iblis Ajin hingga seluruh tubuhnya hancur menjadi cairan darah saja.
"... ...! [Monstruo Demonio: Assault Formation III]!" Pergerakan Aldine semakin lincah, Ceytamold dan Asteria mencoba untuk menyerang Aldine dimana ia tidak memiliki perlindungan apapun di belakang-nya.
Ketika Ceytamold bergerak menuju arah Aldine, Kizura datang dengan menedang wajahnya cukup keras membuat Ceytamold terpental ke belalang.
"Cih...!" Asteria menunjuk Kizura tetapi Yusa datang dan mendorong-nya mundur menggunakan tendangan-nya.
"Iblis takdir...? Berani-beraninya kau datang menghadapiku." Ucap Asteria.
"Kau adalah lawanku." Ucap Yusa yang mulai memegang erat gagang Luz Demonio.
Peperangan antara pihak yang berbeda akan berjalan cukup lama. Darah pasti akan memenuhi wilayah itu dan sejarah pasti akan menamai wilayah itu sebagai [Bloodshed of War], Ceytamold dan Kizura saling menatap dan berhadapan. Ceytamold mengenal Kizura sebagai perwakilan dari dosa amarah dan itu membuat Ceytamold semakin gila hingga kedua bola matanya keluar.
"Hohohohoho...!!! Aku tidak menyangka bahwa aku akan berhadapan dengan dosa yang sangat aku cintai... Amarah...! Shimatsu Kizura, aku akan menggantikan posisimu sebagai dosa amarah yang baru... Tidak, lebih baik kau memberitahu pemilik asli dari tujuh dosa besar, Kuro." Ceytamold tersenyum gila.
"Kau mengenal Kuro---" Kizura terkejut sebentar tetapi ia mencoba untuk fokus terhadap lawan di depannya.
"Kau tidak siap untuk melawan-nya... Lebih baik kau melewati-ku dulu, jika aku menang maka perang akan berakhir." Ucap Kizura.
"Hohhh... Kita lihat saja!!!"