Luz Demonio

Luz Demonio
26 - Warcry



~Beberapa menit yang lalu~


Alisha berdiri di atas atap rumahnya dan melihat Kizura bersama pasukan Dyiamire yang sedang berperang habis-habisan melawan semua Giblis itu, ia rasa bahwa tidak ada kesempatan untuk menang bagi mereka dan korban gugur pasti akan berjumlah ribuan kecuali Kizura karena ia tahu bahwa dirinya itu tidak bisa diremehkan dalam segi kekuatan.


"Kekuatan saja tidak cukup... Jumlah-nya itu... Bahkan semua raja dan ratu bangsa iblis bisa kalah yang berjumlah lebih dari ribuan, lebih buruknya lagi mereka cepat berevolusi dan mampu membuat diri mereka jauh lebih kuat dengan memakan daging iblis." 


Alisha mengepalkan tinjunya sampai memerah karena dia sudah muak melihat semua Giblis itu menang kelak dan membuat semua pasukan Dyiamire terbunuh, ia bisa mendengar teriakan putus asa daria mereka semua dan itu tidak baik.


Alisha sudah tidak tahan untuk melihat kejadian itu, ia segera pergi menghampiri kamar Yusa dan Kyra untuk membangunkan mereka dan ikut bertarung melawan Giblis, kedua mereka yang sudah pulih untuk sementara mungkin saja bisa menambahkan persentase kemenangan untuk melawan Giblis.


Alisha membuka pintu kamar Kyra dan ia melihat Kyra yang sudah berpakaian untuk siap berperang melawan gila, ia sudah menyiapkan busur dan beberapa panah di belakang punggung-nya. Sepertinya Kyra sudah siap untuk bertarung dan Alisha tidak perlu mengkhawatirkan tentang itu.


"Kenapa aku bersikap seperti ini...? Seharusnya Kyra dan Yusa beristirahat saja, tetapi... Untuk apa istirahat jika kita semua akan kehilangan banyak pasukan iblis lainnya...!" Alisha mendobrak pintu Yusa dan ia melihat dirinya yang sedang meregangkan kedua lengan-nya bersiap untuk bertarung.


"Alisha..." Yusa melirik ke belakang.


"Yusa, apakah kau baik-baik saja...?"


"Jelas, aku merasa seperti sudah beristirahat selama satu tahun. Sudah saatnya untuk menjalankan tugas sebagai iblis takdir yang itu mengakhiri perang Giblis..." Yusa menunjuk ke arah timur dan tiba-tiba Luz terbang kembali menuju arahnya, gagang pedang Luz langsung Yusa genggam erat.


"DASAR PEMILIK SIALAN...!!! AKU CAPE-CAPE DATANG KE TEMPAT INI DAN KAU MELUPAKAN DIRIKU...!?"


Luz merasa kesal karena beberapa hari yang lalu ia baru saja terjatuh dari monster [Lioniku], sayangnya tidak ada satupun iblis yang peduli terhadap Luz jatuh karena ketika itu keadaan sangat darurat, mereka tidak memiliki waktu untuk menjemput Luz atau menyadari Luz yang jatuh dari monster tersebut.


"Maaf-maaf, Luz... Aku tidak menyangka bahwa kau akan tertinggal, ahaha... Sebagai balasannya, bagaimana jika nanti kita mencari seorang Succubus untuk dirimu?" Tawar Yusa.


"Ohh, sudah jelas mau dong! Mari kita menendang beberapa pantat Giblis, Yusa!"


"Hmph, semangat itu... Pertahankan sampai kita bertahan hidup loh, Luz."


"Siap!"


Alisha tersenyum melihat hubungan Luz dan Yusa yang berjalan lancar walaupun tadi Luz merasa kesal terhadap pemiliknya sendiri, Yusa menatap Alisha yang tersenyum sendiri dan itu membuatnya merasa tidak nyaman karena ia seperti melihat seekor mangsa yaitu dirinya sendiri.


"Alisha... Jangan tersenyum aneh seperti itu."  


"Ahahaha, maaf-maaf."


Seketika Alisha mencoba untuk pergi dari ruangan itu, Yusa meraih tangan kanannya dan menggenggam-nya erat sampai Alisha melirik kembali kepada Yusa dengan wajah yang terlihat penasaran. Yusa mengeluarkan sebuah penutup mata karena ia merasa bersalah tentang kejadian ketika Yusa menebas mata kiri Alisha sampai terluka parah.


"Ini, Alisha... Aku membuat penutup mata ini untuk mata kiri-mu itu loh, ini juga bisa disebut sebagai hadiah ucapan maaf. Maafkan diriku yang bodoh karena sudah membuatmu terluka---"


Alisha memeluknya erat selagi menunjukkan senyuman yang terlihat bangga, ia meneteskan beberapa air mata karena senang bahwa Yusa benar-benar menganggap dirinya sebagai keluarga-nya sendiri. Tanpa disadari Alisha baru saja mencium pipi Yusa beberapa kali dan itu membuatnya merasa jijik.


"Alisha...!!! Hentikan...!!! Ughhhhhh...!"


"E-Ehh...? M-Maaf!" Alisha berhenti memeluk Yusa dan ia baru saja bertingkah laku seperti seorang ibu karena tanggung jawabnya untuk menjaga Yusa menjadi cukup besar sekarang karena Alter sudah meninggalkan Yusa untuk selamanya.


***


Alisha, Yusa, dan Kyra berdiri tegak di atas rumah melihat ombak Giblis yang membuat mereka merinding ketakutan karena semua pasukan Dyiamire sudah terbantai habis dan hanya Kizura sendiri yang bertahan sambil mencoba untuk menahan mereka agar tidak bisa masuk ke dalam desa Sermina.


"Jadi ini...? Bangsa Giblis, mereka cukup mengerikan juga." Ucap Yusa.


Naga berkepala tiga itu datang dan Alisha melompat ke atas untuk menunggangi naga tersebut, "Mari kita bergerak, anak-anak!"


~Sekarang~


Dengan cepat Yusa menebas semua Giblis itu dengan satu tebasan karena bilah pedang-nya itu terlindungi dengan api mimpi buruk, gerakan Yusa cukup gesit untuk menghindari semua serangan dan cengkraman Giblis itu serta ia juga di bantu oleh Kizura, Majin, dan Majiru agar tidak terbunuh.


Kyra dan Alisha sendiri hanya bisa menyerang dari jarak jauh untuk menjaga Yusa bersama pasukannya, jika kondisi berubah menjadi darurat maka mereka harus menyerang semua Giblis yang mencoba untuk membunuh mereka semua.


"Luz Demonio... Aku tidak menyangka bahwa pengangkat Luz Demonio generasi tujuh adalah anak dari Oni Alter." Majiru tersenyum sinis.


"Kakak, apakah Luz Demonio benar-benar memiliki formasi untuk memanggil pasukan iblis...?"


"Ya, pasukan iblis itu berasal dari dalam bilah pedang Luz Demonio, semakin banyak pedang itu membunuh musuh maka setengah arwah dari musuh itu akan terhisap dengan bilah pedang itu, hal itu cukup mengesankan karena pedang Luz Demonio dapat menciptakan pasukannya sendiri untuk sementara sampai perang atau pertarungan berakhir."


Yusa berhasil menganalisa semua Giblis itu, mereka benar-benar kuat dan sebentar lagi akan berada di tahap perkembangan ke tingkat selanjutnya, Yusa melempar pedangnya ke depan dan mulai mengontrol pedang itu semaunya menggunakan kedua lengannya.


Majin dan Majiru menciptakan pohon tulang lagi yang mampu menghabiskan pasukan Giblis yang berjumlah besar, Kizura hanya bisa membakar mereka semua dengan penuh semangat karena ini pertama kalinya ia bisa menikmati perang.


Kyra meluncurkan beberapa panah yang mengenai beberapa Giblis yang hampir saja menyerang Yusa, semua pasukan Yusa menang kelak karena perisai dan senjata yang mereka pegang itu cukup kuat, jika Yusa kalah atau kelelahan maka semua pasukannya akan hilang.


"Cih... Apa-apaan ini...? Kenapa bisa situasi berubah...? Pemilik Luz Demonio generasi tujuh... Kedua Iblis Oni yang dirumorkan mematikan karena kemampuan mereka yang hampir sama seperti seorang Assassin... Satu lagi adalah iblis aneh itu yang masih bertahan sampai saat ini, cih...!" Pemimpin bangsa Giblis itu sudah muak.


Alisha memerintah naga-nya untuk mengeluarkan sihir api ke arah pemimpin tersebut agar semua Giblis itu bisa mundur dan di saat itulah mereka bisa menghabisi semua Giblis yang melarikan diri itu. Pemimpin itu hanya bisa tersenyum melihat bola api yang meluncur menuju arahnya, iblis itu menghantam bola api itu ke atas langit.


"Kalian terlalu meremehkan-ku...!!! Aku Inugami Penold akan mengerahkan segalanya untuk bisa membunuh kalian dan menghancurkan desa Sermina...!!!" Penold mengeluarkan sebuah bendera yang memiliki lambang setengah tengkorak dan setengah wajah iblis, kepala-nya juga tertusuk dengan pedang yang tajam.


"Lambang [Warcry]!? T-Tidak mungkin...!"


Penold mengeluarkan sebuah tongkat dan ia segera memasang bendera tersebut.


"Lambang [Warcry], dengan perintahku aku menciptakan sebuah bendera untuk menciptakan perang mati-matian dan perang yang dapat mencapai tujuan egois-ku sendiri...!!! Bunuh semua iblis yang menghalangiku dan hancurkanlah desa Sermina sampai tidak tersisa lagi...!" Bendera itu mulai berkibar dan bersinar merah cerah.


"[FLAG OF WARCRY]"


Penold menancapkan tongkat itu di atas tanah sampai bendera itu mulai berkibar cukup cepat dan membuat Penold sendiri terpental ke belakang, Alisha melotot melihat itu terjadi karena semua Giblis mendadak berhenti dan kebal ketika di serang oleh beberapa serangan yang kuat. Bendera itu bersinar cerah dan meluncurkan sebuah laser merah ke atas langit.


Yusa bersama yang lainnya segera melirik ke atas langit dimana mereka melihat sebuah lambang [Warcry] yang terbakar di atas langit, semua Giblis mulai menatap ke atas dan teriak seperti kesakitan bahkan nada mereka mulai terdengar mengerikan.


""GRAAAOGGGGHHHHH!!! ORAAGGGHHHHHHHHH!!!""


Semua bangsa Giblis itu mengamuk sampai kedua mata mereka bersinar warna merah cerah, perlahan-lahan mereka semua mulai berevolusi menjadi sesuatu yang mengerikan yaitu monster, bahkan salah satu dari mereka berubah menjadi naga dan iblis yang berukur sebesar gunung. Yusa menunjukkan ekspresi yang terlihat terkejut sampai seluruh tubuhnya merinding.


"LAKUKAN PERINTAHNYA...!!! SERANG SEKARANG!!!"


Semua Giblis itu kembali menyerang dari segala arah, Yusa bersama yang lain tidak diberi kesempatan untuk mundur atau menghindari karena Giblis yang berada di atas langit meluncurkan jutaan sihir penghancur yang membuat daratan langsung retak dan menciptakan lubang yang besar.


Tidak ada harapan lagi karena semua Giblis mulai menggunakan sihir penghancur, desa Sermina juga kena dan langsung hancur menjadi kepingan-kepingan batu biasa. Alisha melepas naga-nya dan ia segera melompat menuju arah Yusa dan memeluknya untuk melindungi dirinya dari semua ledakan yang dilakukan oleh bangsa Giblis itu.


BAM!!! BAM!!! BAM!!!