
"Kenapa kau datang untuk menghalangi, Illya...?!" Tanya Kizura dengan ekspresi yang terlihat kesal.
"Tidak apa-apa bukan~ Sepertinya kau sendiri menikmati pertarungan-mu melawan sesosok iblis yang mengaku-ngaku seperti orang gila saja." Succubus yang bernama Illya itu mulai menatap Ceytamold dan membuatnya membeku selama beberapa detik karena terpesona dengan wajah Illya yang sangat cantik.
Rxeonal melebarkan kedua sayapnya dan ia segera terbang menuju arah Ceytamold lalu menyerangnya dengan seluruh tenaganya. Ceytamold terdorong ke arah barat dan Rxeonal mulai mengikutinya. Kizura awalnya mencoba untuk mengejar Ceytamold tetapi Illya menghalang-nya sebelum Ceytamold beradaptasi dan memiliki kekuatan Kizura.
Kesempatan lainnya adalah seperti tadi dimana semua serangan Kizura itu tidak mempan kepada Ceytamold. Illya datang karena ia ditugaskan oleh Kuro untuk mencoba menghentikan Kizura, cara terbaik untuk mengalahkan Ceytamold adalah belajar dan pengalaman serta rencana yang pas.
"Lebih baik kau beristirahat dulu untuk sekarang, Kuro bilang bahwa kita semua tidak akan bisa mengalahkan Ceytamold secara bersamaan. Satu lawan jutaan saja atau lawan seluruh bangsa iblis, dia pasti akan menang karena kekuatan dari jantung Giblis." Illya menggunakan sihir telekinesisnya dan membawa Kizura menuju barisan pasukan yang menyediakan perlengkapan untuk menyembuhkan luka apapun.
"Cih... Diselamatkan oleh dirimu itu sama saja seperti penghinaan. Lebih baik dia melukaiku separah apapun daripada di selamatkan oleh Succubus tidak tahu diri sepertimu."
"Ahhhh~ Jangan begitu dong, Kizura kecilku~"
Kizura mencoba untuk menyerang Illya tetapi ia segera menghindari Kizura sendiri agar seluruh pasukan bagian penyembuh mulai menyembuhkan seluruh luka Kizura. Illya bisa mengetahui kenapa serangan Kizura tidak mampu memberi efek kepada Ceytamold, itu semua tidak jauh lagi karena kemampuan adaptasi Giblis dan ketebalan tubuh bangsa Inugami.
"... ..." Illya menatap dari jarak jauh melihat Rxeonal yang tersiksa habis-habisan oleh Ceytamold, perang ini juga berjalan tidak seimbang dimana bangsa Giblis memiliki kesempatan besar untuk menang. Pasukan aliansi sudah kehilangan banyak sekali anggota serta formasi mereka mulai diatur ulang oleh Elvano.
"Setidaknya aku serahkan Ceytamold kepada raja dari bangsa Oni, ini semua perintah Kuro sih. [Everlasting Immune]... Kemampuan yang hanya dimiliki oleh bangsa Onigaki, sepertinya dia pernah melawan bangsa Onigaki dan meniru kemampuan mereka..."
"Apakah tiruan dan adaptasi Giblis itu sama...?" Tanya Illya kepada dirinya sendiri.
Elvano hanya bisa diam dan menghitung semua pasukan bangsa Giblis itu yang terus bertambah. Ia melihat beberapa pasukan Ajin dan Inugami mundur untuk memulihkan luka-luka mereka, kedua bangsa itu bukanlah ancaman. Ancaman yang asli adalah Giblis yang berjumlah jutaan.
Elvano juga sadar bahwa semua gadis dari pasukan aliansi berkurang karena diculik oleh semua bangsa Giblis itu, Elvano panik dan segera mengganti formasi dimana hanya gadis saja yang diam di barisan belakang dan pria di barisan depan untuk melindungi mereka semua yang mudah untuk disandera.
Seluruh ketua seksi maju dan membasmi pasukan Ajin dan Inugami yang kabur, walaupun terdapat beberapa gadis dari beberapa seksi tetapi mereka itu tidak mudah untuk kalah karena semangat mereka demi memperjuangkan kemarahan. Melihat gadis yang direndahkan saja sudah membuat Aldine mengamuk sampai [Cerberus] dan [Pegasus] yang mengikuti melakukan serangan menabrak ke depan.
"Zale... Sudah saatnya untuk menggunakan formasi darurat." Asteria berbicara menggunakan sihir telepati-nya dengan iblis pemimpin pasukan Ajin.
"Hehhh... Akan aku laksanakan dengan segera, ratu-ku!" Zale mengeluarkan sebuah terompet dan ia mulai meniup-nya menyebabkan seluruh bangsa Ajin mengetahui bahwa formasi darurat akan dilaksanakan sekarang.
Seluruh pasukan Ajin yang tadinya mundur segera bergerak menuju pasukan aliansi dengan kecepatan penuh, Elvano menyuruh seluruh pasukan untuk menyerang mereka menggunakan sihir dan senjata jarak jauh tetapi semua serangan itu menghilang ketika bangsa Ajin menyentuh-nya.
"A-Apa...?!" Elvano terkejut melihatnya.
"Ini buruk... Apakah ini termasuk kemampuan bangsa mereka...?" Tanya Vania dimana ia melihat kedua lengan dari seluruh bangsa Ajin dipenuhi dengan garis-garis akar yang berwarna merah darah.
"Sial...! Mundu---" Elvano menatap salah satu iblis dari bangsa Ajin, kedua mata iblis itu memiliki garis yang sama dengan kedua lengan mereka. Seluruh tubuh Elvano bergetar serta ia tidak bisa mengeluarkan suara apapun dari mulutnya menyebabkan dirinya seperti kehilangan oksigen dan kejang-kejang.
"A-Ack..." Elvano terjatuh di atas tanah.
"Elvano...! Ada apa...!?" Tanya Vania yang mulai membantunya berdiri, Elvano mulai memberikan isyarat dimana ia menunjuk matanya sendiri lalu menggelengkan kepalanya. Mulut Elvano mulai melakukan sinkronisasi bibir dimana ia mengatakan 'mata Ajin' berkali-kali, ia terus menggelengkan kepalanya.
"... ...!" Vania mengerti apa yang dimaksud oleh Elvano.
"Semua pasukan dengarkan aku...!!! Salah satu dari kalian harus melawan bangsa Ajin tanpa harus menatap mata mereka!!! Jangan coba-coba untuk bertarung melawan mereka dari jarak dekat juga!" Perintah Vania terdengar oleh pasukan Aliansi.
Masih terdapat beberapa pasukan yang telat mendengar peringatan Vania, mereka tersentuh oleh tangan bangsa Ajin itu dan langsung lumpuh serta sebagian langsung mati kehilangan arwah mereka. Vania melihat kedua lengan Ajin itu dapat menghisap arwah dari tubuh dan itu tidak bagus.
"Ini tidak baik... Bangsa Giblis dan bangsa Ajin bekerja sama, apa yang terjadi jika seluruh bangsa Giblis itu beradaptasi dan memiliki kemampuan bangsa Ajin?" Tanya Kurma.
"Kita akan bertarung. Jangan sampai mereka semua menyerang desa lain... Tugas kita sebagai Truce Order itu mutlak!" Ucap Vania dimana ia mulai mengeluarkan sebuah kapak hitam yang besar.
Vania mulai menatap Elvano yang terlihat lemah, ia segera memanggil anggota bagian penyembuh untuk memulihkan kondisi Elvano kembali. Kali ini Vania yang akan menjadi pemimpin karena dia sudah mengenal Elvano cukup lama dan itu artinya dia pasti akan memiliki rencana yang dipikirkan oleh Elvano.
Kali ini Vania bersama seluruh pasukan Aliansi maju ke depan melewati pasukan Oni, Onimakura, dan Tyirfei. Vier berdiri sebelah Vania dan memperingati bahwa seluruh serangan milik Tyirfei tidak mampu memberi efek kepada Ajin jika kedua tangan mereka masih pulih. Vania mengangguk dan berharap bahwa pertempuran dengan formasi baru kali ini dapat mengakhiri perang antara kedua pihak itu.
Bangsa Onimakura juga mulai berbagi buah sakti mereka yaitu [Fruit of Wisdom] dan [Fruit of Rage] kepada seluruh pasukan yang masih bertahan. Bangsa Oni juga sudah siap dengan sihir manipulasi. Seluruh pasukan aliansi tidak memiliki pilihan lain selain mengerahkan seluruh kekuatan terakhir mereka untuk mengakhirinya.
"Ini sepertinya tidak akan mudah." Karla mendarat di sebelah Vania dan melihat beberapa bangsa Giblis mulai berevolusi menjadi Montoblis.
"Apapun yang diperlukan, kita akan bertarung bersama." Ucap Aldine.
Ceytamold melempar Rxeonal menuju arah pasukan aliansi itu, Kurma melompat dan menangkap Rxeonal dimana kondisi-nya sudah terluka cukup parah. Kurma memberi Rxeonal buah [Fruit of Wisdom] agar kondisi-nya kembali pulih.
"... ..." Rxeonal mengangguk dan Kurma menurunkan-nya.
"Ayah, lebih baik kita semua bekerja sama. Satu lawan satu itu masih belum siap." Suruh Selvia.
"Baiklah, anakku." Jawab Rxeonal.
Xirkitsu dan Koreomi datang membawa Majin yang berada di kondisi pingsan. Melihat Majin kembali dengan selamat itu mengartikan bahwa Asyin telah terkalahkan, sekarang mereka hanya perlu mengakhiri perang ini dengan sesama.
Xirkitsu menunjukkan raut wajah yang terlihat kesal melihat bangsa Ajin yang akhirnya mulai menggunakan kemampuan tersembunyi mereka, dibandingkan dengan pasukan Giblis yang berjumlah lebih dari jutaan sedangkan pasukan aliansi yang berjumlah kurang lebih ribuan.
"Oi, vampire." Panggil Rxeonal.
"... ...?" Vania menatap Rxeonal dengan ekspresi yang bingung.
"Perkiraan-ku... Pertempuran ini adalah pertempuran yang menentukan siapa yang selamat dan siapa yang akan gugur, lebih baik kau memimpin kita dengan benar." Rxeonal menghormati vampire tersebut.
"Dengan senang hati." Vania mengangguk.
Kedua belah pihak pasukan sudah berbaris dan bersiap untuk bertarung untuk terakhir kalinya, pasukan aliansi mulai berharap bahwa terjadi suatu keajaiban dimana mereka semua menang melawan pasukan Giblis. Vania siap untuk bertanggung jawab kepada seluruh pasukan yang akan gugur ketika bertarung.
Pasukan yang dipimpin oleh Zale dan Ceytamold sudah bersiap, Ceytamold hanya bisa tersenyum jahat tetapi ia tidak memiliki rasa meremehkan apapun karena bisa saja mereka merencanakan sesuatu yang belum pernah ia lihat. Formasi pasukan Ceytamold mulai berubah dimana seluruh pasukan Ajin berada di barisan depan dan beberapa pasukan Giblis yang bar-bar juga maju ke depan.
"Dengarkan baik-baik semuanya...! Pasukan Oni...! Pasukan Onimakura...! Pasukan Tyirfei...! Pasukan aliansi...! Ini adalah sejarah yang patut diingat oleh generasi selanjutnya, semua anak-anak dan cucu kita harus mengingat betapa mengerikan-nya dulu semesta Zuusuatouri. Dengan kita berhasil mengalahkan mereka semua maka kedamaian sudah pasti bisa kita peluk."
Vania mencoba untuk menyemangati pasukan-nya, masih terdapat beberapa anggota yang takut dan menangis melihat seseorang yang dekat dengan mereka mati begitu saja. Aldine hanya bisa diam merasa kesal bahwa Takao meninggalkan perang ini karena merasa kesal.
"Hari ini...! Kita akan berjuang! Berjuang untuk bisa mengakhiri roda kehancuran bangsa Giblis, mari kita kerahkan semua kemampuan yang kita miliki di perang ini! Kematian kalian semua tidak akan menjadi sia-sia karena kita semua sama-sama memperjuangkan kedamaian demi semesta ini...!"
"Mati itu biasa... Yang tidak biasa adalah kita semua mati tanpa mendapatkan sebuah hasil! Pertarungan ini bisa saja menjadi yang terakhir untuk bangsa Giblis jika kita semua sama-sama berjuang lebih keras...! Menggunakan seluruh kemampuan kita sampai seratus persen...! Kesakitan apapun itu, mari kita sama-sama menahannya sampai kita bisa menang...!"
Seluruh pasukan aliansi mengangkat senjata mereka ke atas dan bersiap siaga untuk bertempur. Kizura kembali ke medan perang dan ia sudah jelas akan mengarah Ceytamold yang sedang tersenyum.
"Berikan mereka keadilan...! Keadilan yang selalu kita inginkan...! Kita bisa membuat semua prajurit kita yang gugur duluan merasa bangga di alam sana dengan melihat seluruh bangsa Giblis terkalahkan...!"
""YAAAGGGHHHH!!!""
Teriak seluruh pasukan dengan penuh semangat, barisan paling depan terdapat Vania bersama seluruh iblis terkuat seperti Rxeonal, Aldine, Kizura, dan lain-lain. Mereka semua saling menatap satu sama lain dan mulai berbicara ucapan selamat tinggal untuk berjaga jaga.
"Sampai akhir...?" Tanya Aldine.
"Sampai akhir." Jawab Rxeonal.
"PASUKAN ALIANSI...!!! HANCURKANLAH BANGSA GIBLIS DAN JANGAN BIARKAN SATUPUN DARI MEREKA KABUR ATAU MEMBUNUH KALIAN SEMUA...!!!" Teriakan Vania bergema ke seluruh wilayah.
""URAAAAAAAAAAAAAA!!!!!"
""HAAAAHHHHHH!!!!""