
"Sebenarnya aku ingin sekali membunuhmu tapi karena kau adalah master dari pedang Luz Demonio, aku tidak jadi melakukannya, ya lagipula aku tidak memiliki keuntungan apapun jika membunuhmu." Kizura terus menghantam wajah Yusa di atas lantai itu berkali-kali.
Yusa memuntahkan darah berwarna hitam sampai ia sudah tidak bisa lagi melawan, Luz mencoba untuk menyelamatkan Yusa, tetapi ia merasa khawatir bahwa dirinya akan dihancurkan oleh kekuatan amarah yang sangat hebat.
"Apa kau sudah mencapai batasanmu...? Membosankan, kukira kau akan menghiburku lebih lama lagi." Kizura menghantam keras wajah Yusa di atas tanah lalu ia menginjak kepalanya cukup keras.
Luz sudah tidak tahan melihat Yusa terus di siksa seperti itu, ia segera berubah menjadi wujud berjubah-nya dan mencoba untuk membujuk Kizura agar ia berhenti menyiksa Yusa yang sudah tidak berdaya.
"Dia masih anak kecil, hentikan!"
"Dia sendiri yang memulai untuk menantangku, aku hanya menerima tantangannya dan hasilnya seperti ini, tenang saja aku tidak akan membunuhnya, sebagai gantinya aku akan mematahkan beberapa tulang-nya!"
Kizura terus menyiksa Yusa dengan mematahkan tulang-nya satu per satu dan membelah beberapa daging-nya sampai Yusa menangis darah hitam dan mengeluarkan suara teriakan menderita.
"AHHHHHHH!!!"
"Oi! Hentikan" Luz menutup wajah-nya menggunakan kedua selendang-nya.
"Aku tidak akan berhenti sampai puas loh." Kizura membalikkan tubuh Yusa dan setelah itu ia menginjak dadanya sampai beberapa tulang rusuk-nya patah.
"AAGGGHHHHHHHH!!!!"
"[Order of Fate]!" Luz mulai menggunakan sihir yang mampu menyelamatkan Yusa dari Kizura, seluruh tubuhnya bersinar dan ia menghilang lalu muncul di sebelah-nya.
Kizura hanya bisa tersenyum melihat aksi Luz yang berbeda dari Moirai Arma lainnya, dia sangatlah loyal terhadap master-nya berbeda dari Moirai Arma yang lain dimana mereka tidak peduli. Seperti yang Kizura harapkan, Luz memang ahli dalam melarikan diri bersama master-nya sendiri di setiap generasi.
"Seperti biasa kau selalu ahli dalam hal melarikan diri ya, Luz. Sudah berapa kali aku melihat aksi melarikan dirimu itu...? Bahkan aku sudah bosan melihatnya."
"Aku menggunakan Yusa untuk kebaikan Zuusuatouri. Generasi tujuh yang ditakdirkan untuk menjaga generasi akhir bagi pengangkat pedang seperti diriku, aku tidak mau dirimu dengan tidak sengaja mengubah takdir secara paksa!" Luz menghalang seluruh tubuh Yusa menggunakan kedua selendang-nya untuk memulihkan kondisi Yusa sampai pulih kembali.
"Jika dia mati disini maka aku akan hancur... Satu iblis takdir telah gugur karena tindakan ceroboh."
"Sudah kubilang kalau aku tidak akan membunuhnya, lagipula jika aku membunuhnya maka peperangan di Zuusuatouri akan terus terjadi bahkan bisa saja menciptakan perang abadi pada saat zaman dahulu kala."
"Jangan menyiksanya juga. Dia masih anak kecil yang kehilangan hal penting di kehidupannya."
"Kehilangan hal penting? Apa maksudmu...?"
"Dia yang melaksanakan perintah raja Rxeonal baru saja dikhianati oleh dua penjaga yang sudah dilantik menjadi prajurit tertinggi Rxeonal, Yusa sudah berusaha mati-matian mengalahkan semua monster yang tinggal di Mobster."
"Hmm...? Lalu kenapa Yusa tidak memberitahu raja Rxeonal apa yang sebenarnya terjadi?"
"Kau pikir raja seagung dan sehebat Rxeonal akan mempercayai iblis berusia empat tahun...?"
"Benar juga... Oi bocah, apa kau ingin membalaskan dendam-mu itu? Kalau kau memang ingin maka aku akan memberimu kekuatan." Kizura mulai menciptakan dua api merah di kedua tangan-nya dan membuat Luz terkejut karena perwakilan dari dosa amarah ingin membantu seorang bocah.
"Jangan-jangan kau ingin memberi Yusa dosa amarah!? Bukannya itu terlalu bahaya!?"
"Bukannya itu bagus...? Pekerjaan-nya sebagai iblis takdir bisa saja lebih cepat terselesaikan dengan kekuatan ini."
Yusa membuka kedua mata-nya dan ia bisa menggerakkan tubuhnya yang tadi terasa kaku, ia mendengar semua percakapan Luz dan Kizura dari awal. Kekuatan amarah itu tidak membuat Yusa merasa tertarik sekecil apapun karena ia ingin memiliki kekuatan yang ia dapat sendiri dan belajar sendiri tanpa harus diberi sebagai hadiah.
"Aku tidak butuh kekuatan-mu... Dosa amarah itu... Aku tidak yakin bisa mengendalikannya, aku hanya takut bahwa di medan perang nanti aku mengamuk sampai membuat semua rekan-ku terbunuh, Luz juga memiliki formasi amarah yang dapat menghancurkan segalanya." Yusa mengusap darahnya.
"Bagaimana kau bisa mengetahui tentang formasi amarah, Yusa...?"
"Aku pernah membaca sejarah tentang generasi tiga... Perang antara ras Legenda dan Iblis berakhir fatal bagi mereka karena si generasi tiga ini menggunakan formasi amarah yang dapat membunuh mereka semua termasuk dirinya sendiri."
"Sepertinya kau mengetahuinya..."
"Hoooo... Formasi amarah ya... Tidak kusangka bahwa seorang iblis takdir mampu mengalahkan bangsa Legenda dan iblis sekaligus dengan kekuatan dari pedang Luz Demonio! Menakjubkan!" Kizura tersenyum sinis karena Yusa bisa jadi menjadi sesosok iblis takdir yang berbahaya bagi kalangan semua ras.
"Jadi...? Apa yang kau butuhkan, bocah?"
"Rekan."
"Rekan ya..." Kizura mulai mendekat dan menatap wajahnya yang terlihat sangat yakin, "Boleh saja, aku akan menjadi rekan-mu. Aku juga ingin melihat peperangan yang akan kau hadapi nanti, sepertinya masuk ke dalam medan perang itu akan terasa menyenangkan."
"Kalau begitu baguslah, aku ingin membuat sebuah tim untuk membasmi semua iblis yang sudah tidak memiliki akal sehat dan menghentikan segala peperangan yang terjadi karena kebodohan juga."
"Pffftt.... Kuhahahahaha! Ini adalah pertama kalinya iblis takdir membuat sebuah tim bukan untuk menghentikan sebuah perang dan mencari keadilan, master-mu ini benar-benar menarik, Luz!"
"Jangan bilang seperti itu... Aku hanya takut aku ikut terbunuh karenanya... Ideal anak itu terkadang besar dan bisa saja berubah ketika dia sudah besar." Luz menghela nafasnya.
"[Black Sun] itu adalah nama tim yang akan aku ciptakan untuk melaksanakan semua tujuan yang penting dalam kehidupan seperti tujuan-ku tadi, kau juga pasti memiliki tujuan bukan, Kizura...?"
"Sayangnya itu masih rahasia dan aku akan memberitahu-mu suatu saat nanti jika aku sudah mengenalmu cukup dekat."
"Aku akan ikut, Yusa. Lagipula Kuro belum memilih pengguna kekuatan Seven Deadly Sins selanjutnya dan aku bosan berada di sini terus selama bertahun-tahun."
"Senang kau bisa ikut." Yusa mengulurkan lengan kanan-nya dan Kizura menatap tangan Yusa, mereka mulai berjabat tangan.
"Namamu adalah Yusa bukan...? Keseluruhan nama-mu itu apa?"
"Oni Yusakage... Yusa saja sudah cukup karena Yusakage itu terlalu panjang." Yusa menyuruh Luz untuk berubah kembali menjadi pedang dan Luz segera melaksanakan perintah-nya, pedang itu mulai masuk ke dalam sarung tangan yang terbuat dari tulang.
"Oni Yusakage, nama yang bagus, namaku adalah Shimatsu Kizura, panggil saja Kizura."
"Kizura, baiklah."
"Kalau begitu bantu aku keluar dari tempat ini secepatnya, rekanku yang lain sedang menunggu-ku luar." Yusa mulai melihat sekeliling karena ia sudah tidak tahan merasakan tekanan amarah yang ada di sekitarnya.
"Karena tempat ini dilarang untuk diketahui oleh orang lain, aku akan menggunakan sihir teleportasi untuk membawa kita keluar." Kizura memunculkan sebuah lingkaran sihir di tanah yang membawa mereka keluar dari tempat tersebut.
Mereka melakukan teleportasi menuju tempat dimana Alisha berada, Alisha yang sedang menyembuhkan luka-nya di mata kirinya mulai menyerah karena luka itu tidak bisa disembuhkan melainkan itu adalah luka abadi yang ditinggalkan oleh pedang Luz Demonio.
"Ughhhh... Yusa kejam sekali... Luka ini akan terus berada di mata-ku untuk selamanya." Alisha mengambil sebuah kaca dan ia menggunakan kaca tersebut untuk bercermin.
"Aku terlihat seperti Kak Alvin... Luka di mata kiri---"
ZWOOOSSHHH!!!
Kizura bersama yang lainnya tiba dan membuat Alisha terkejut setengah mati untuk melihat Yusa yang kembali dengan kondisi baik-baik saja, ia segera memeluk Yusa erat dan mencium seluruh wajahnya berkali-kali tanpa henti.
"Ughh... Geli..."
"Yusa! Cup! Cup! Cup! Syukurlah kau kembali!!!" Alisha mengeratkan pelukannya.
"Sakit! Sakit!"
"Uhhh~ Aku juga ingin dikecup oleh mbak Alisha---"
"BACOT!" Yusa melempar Luz ke arah timur karena sikap tidak berguna-nya mulai keluar, Alisha hanya bisa terkekeh pelan karena sepertinya ia melihat Yusa yang merasa cemburu.
"HEHHH!?"
"Seorang Succubus ya..." Kizura mulai mengobservasi Alisha dan itu membuatnya langsung berwaspada terhadap iblis yang baru saja muncul bersama Yusa, ia maju ke depan dan menghalang Yusa.
"Siapa kau!? Kenapa kau bisa bersama Yusa!?" Mata kiri Alisha mulai berdarah dan ia segera menutupnya, "Sakit...!"
"Kau tidak perlu sewaspada itu, namaku adalah Shimatsu Kizura. Aku adalah perwakilan dari dosa kemarahan dan sekarang aku akan menjadi rekan Yusa."
"Tugasku itu mutlak... Apa yang kau lakukan kepada Yusa...?! Rekan!? Maksudmu apa!?"
"Apa yang aku lakukan kepadanya? Ya, aku hanya mematahkan beberapa tulangnya karena dia waktu itu membuatku kesal."
Alisha langsung melotot ketika mendengar jawaban Kizura, ia mencoba untuk menyerang Kizura, tetapi terjatuh karena rasa sakit di bagian mata kirinya yang dapat membuat seluruh tubuhnya melemah.
"Awww... Uck... Sakit..."
"Luka tebasan itu... [Scar of Luz], apakah kau menghukum Succubus itu? Atau kau kehilangan kendali karena kemarahanmu sampai melukainya? Setidaknya aku tahu kalau luka itu bukanlah luka akibat melawan prajurit kerajaan melainkan luka kutukan dari pedang Luz Demonio!" Kizura mulai mendekati Alisha dan menatap mata kirinya sampai membuat Alisha tersipu.
"J-Jangan mendekat...!" Alisha sudah tidak bisa lagi menggerakkan tubuhnya yang terasa kaku.
Kizura melihat luka tebasan berwarna hitam, itu adalah kutukan yang mampu membuat tubuh Alisha lumpuh dan kaku sementara, tetapi efeknya akan terus terjadi entah itu kapan dan dimana. Luka itu harus segera dihilangkan sebelum Alisha melawan seseorang dan kutukan itu tiba-tiba mempengaruhi tubuhnya.
"Dia menghalangiku. Aku menebasnya dengan Luz Demonio."
"Apa kau tidak menyesal atas perbuatanmu itu?"
"Dia itu siapaku?"
"Ahh..." Alisha meneteskan beberapa air mata karena hati-nya baru saja di tusuk oleh beberapa kata bagaikan pedang.
"Kau bahkan lebih buruk dari orang tuaku Yusa, kalau begitu aku ingin bertanya kepadamu nona Succubus, kau menganggap Yusa seperti apa?" Kizura menatap Alisha dan menanyakannya beberapa pertanyaan penting.
"Aku sudah diberi tugas oleh ibunya untuk menjaga Yusa sampai akhir... Aku layaknya seperti pembantu dia..."
"Jadi begitu... Hahhhhh... aku heran kau masih ingin bersama Yusa walaupun sudah disakiti seperti ini bahkan aku lebih heran kepadamu Yusa, kenapa kau tidak menganggapnya sebagai pembantu mu?"
"Dia menghalangi jalanku, ***!"
"DASAR BOCAH TOLOL!!!" Kizura menghantam kepala Yusa sampai tengkorak-nya hancur.