
"Kau sepertinya salah paham, bangsa Iblis. Kita bukanlah bangsa Giblis yang kau cari." Kizura membantu Majin berdiri dan itu membuat Iblis yang baru saja memukul Majin mulai merasa bersalah, ia mulai menghabiskan makanan yang ia pegang karena sudah saatnya ia diselamatkan oleh bangsa Iblis lainnya.
"Begitu ya, kalau begitu tak apa."
"Apa-nya yang tak apa, goblok!? Aku baru saja terkena hantaman dengan kekuatan penuh...!" Ucap Majin kesal.
"Ups, maaf, aku tidak tahu kalau kalian itu bangsa Giblis."
"Cih, dasar!"
Kizura menatap iblis yang tersesat di dalam gua ini, sepertinya seorang pemuda iblis yang terdampar di tempat persembunyian Giblis. Rambut yang berwarna merah dan manik mata berwarna biru, sepertinya Kizura tidak pernah melihat bangsa iblis sepertinya sebelum-nya, apakah iblis itu termasuk bangsa pelarian yang tidak dikenal bagi kalangan iblis yang tinggal di Zuusuatouri?
"Iblis sialan seperti kau sepertinya bangsa [Tyirfei] ya...?" Majin kembali mengangkat tubuh Majiru.
"Ahh, sepertinya masih ada iblis yang mengenal bangsa-ku ya?"
"Tentu saja, buku sejarah iblis tidak pernah memberitahu kebohongan apapun, aku sudah mengetahui semua bangsa iblis." Majin mulai melihat sekitar dimana tulang-tulangnya tidak dapat menahan lama ledakan yang terdapat di atas mereka semua.
"Perkenalkan diriku ini, bangsa Oni. Aku adalah [Vier Tyirfei], mari kita bersama keluar dari gua ini sebelum terlambat?" Vier tersenyum santai dan itu membuat Majin merasa jijik melihatnya karena di situasi seperti ini Vier terlihat cukup santai walaupun sebentar lagi ajal akan menjemput mereka semua.
"Ini bukan saatnya untuk memperkenalkan diri, kita harus bergegas pergi!" Kizura mulai berbicara cukup keras dan membuat mereka langsung menuruti-nya.
"Aku baru saja masuk melewati lubang yang ada di atas itu, tetapi sayang sekali lubang itu sudah terhalang dengan beberapa batu-batu besar."
Kizura bersama iblis lainnya mulai menggali beberapa lubang dengan pelan dimana mereka bisa merasakan keberadaan Giblis lain yang sembunyi, Kizura juga berpikir bahwa semua Giblis itu merasakan keberadaan sesosok iblis yang dapat mereka kalahkan.
"Vier, bisakah kau jaga dia sebentar?" Kizura memberikan Alisha kepada Vier dan Vier tidak merasa keberatan untuk membantu Kizura.
Kizura segera menggali beberapa lubang menuju semua Giblis itu, ia melewati lahar-lahar yang keluar dan menemukan beberapa Giblis yang langsung menyerang dirinya, tetapi semua Giblis itu langsung terpenggal oleh beberapa serangan fatal dari Kizura sendiri. Ruangan gelap dan panas, tetapi Kizura sudah terbiasa dengan kedua hal tersebut.
"[Death Vision]" Kedua mata Majin bersinar merah dan mulai menajam sampai membuat Vier terkejut, ia melihat sekeliling dimana terdapat pasukan Giblis yang sepertinya mencoba untuk menghampiri mereka semua. Jika Yusa menyadari semua Giblis yang melarikan diri itu maka ajal akan menjemput lebih cepat.
"Kita harus segera keluar sebelum Yusa meledakkan kita semua bersama dengan Giblis-giblis itu."
[Death Vision] mampu membantu Majin melihat segala bahaya yang melanda-nya, ia juga dapat melihat sesuatu secara tembus pandang dan Majin melihat jalan keluar yang lumayan jauh dari posisi mereka, itu terletak di daerah timur.
Majin segera menggali tembok yang berada di daerah timur dengan cepat, Kizura hanya akan membasmi semua Giblis yang mendekati mereka dan Vier sendiri hanya mengangkat Alisha sambil melihat Majin bekerja sendirian.
"Jaga kakak-ku sebentar." Majin menurunkan Majiru dan Vier mengangkat-nya.
Majin menemukan sebuah ruangan dimana terdapat pasukan Giblis yang sedang bersembunyi, semua Giblis itu menatap Majin dan segera menyerangnya, tetapi Kizura membakar mereka semua sampai habis karena jalan keluar sebentar lagi akan muncul.
"Bangsa Giblis ini tidak ada habisnya, aku sudah lelah melihat mereka." Ucap Majin.
"Itulah kemampuan berbahaya Giblis, mereka dapat berkembang biak cukup cepat disertai tubuh mereka yang dapat meregenerasi cukup cepat juga. Kita harus segera pergi dari wilayah ini atau kita semua akan mati bersama karena serangan bangsa Giblis dan Yusa yang sedang tidak terkendali."
Kizura melirik ke arah kiri dimana mereka melihat sebuah lubang yang menunjukkan langit-langit, itu adalah jalan keluar mereka dan mereka semua bergegas menghampiri lubang tersebut dengan penuh semangat karena masih diberi kesempatan hidup.
Pergerakan mereka mendadak berhenti ketika merasakan keberadaan seseorang yang menyengat seluruh tubuh mereka.
"Apa ini...?" Kizura sendiri bahkan terkejut ketika merasakan keberadaan itu, ia mulai melotot sambil melihat sekeliling.
Di depan mereka, muncul-lah ketiga sesosok makhluk yang terlihat seperti iblis menghalangi jalan keluar Kizura bersama iblis-iblis lainnya.
Ketiga sesosok makhluk itu memakai jubah yang membuat Kizura bingung terhadap identitas ras atau bangsa iblis apa mereka ini, mereka memakai warna jubah yang sama yaitu ungu kegelapan dengan beberapa lambang darah di sekitarnya.
Ketiga sesosok berjubah itu melepas penutup kepala mereka dan menunjukkan identitas asli mereka, barulah mereka bisa melihat wajah mereka yang tampaknya ras iblis, [Fallen Angel], dan [Dark Elf]. Kizura tidak menyangka bahwa ia akan melihat dua ras lain yang muncul di semesta Zuusuatouri.
"Dark Elf...? Fallen Angel...? Apa-apaan ini...?" Tanya Majin, ia mulai berkeringat karena tidak kuat merasakan tekanan yang diberikan oleh iblis yang berdiri tegak di tengah.
"Bukannya tindakan yang kalian lakukan saat ini itu sama dengan halnya bunuh diri...? Iblis takdir di luar sana sedang mengamuk dan menghancurkan apapun yang menghalang dirinya." Kizura awalnya mencoba untuk tidak langsung menyerang mereka karena siapa tahu ketiga ras yang menghalang mereka memiliki kekuatan yang belum pernah Kizura ketahui.
"Tidak perlu takut, domba tersesat." Fallen Angel itu mulai berbicara dan menunjuk ke depan dimana Kizura bersama iblis lainnya secara refleks melihat ke belakang dimana terdapat pasukan Giblis yang hanya berdiri saja, bahkan Majin melihat beberapa batu yang melayang.
"Giblis...!" Vier terkejut melihatnya.
"Tunggu, mereka tidak bergerak. Ada apa ini...?" Tanya Majin.
"Fallen Angel... Kau pasti menggunakan sihir waktu-mu ya...?" Kizura mengetahui kemampuan tersebut.
"Domba tersesat seperti-mu cerdik juga, aku suka. Bahkan di situasi seperti ini kalian terlihat tenang." Fallen Angel itu mulai mendekati mereka sambil menatap ekspresi mereka yang sebagian terlihat kesal dan tenang, apalagi Vier yang wajahnya terlihat cukup tenang seolah-olah ia baru saja menikmati secangkir teh.
"Lebih baik kau berhenti menghabiskan waktu, Dahlia. Bukannya sihir [Time-Stop]-mu itu terbatas...!?" Dark Elf itu mulai marah karena Fallen Angel yang bernama [Dahlia] itu menghabiskan waktu saja.
"Kau tidak perlu semarah itu, bodoh." Dahlia muncul kembali di sebelah Dark Elf itu sambil tersenyum.
"Apakah kalian memiliki kaitan dengan Oni Yusakage atau iblis takdir yang sedang mengamuk di luar sana...?" Iblis itu mengeluarkan suara yang lembut dan cukup merdu untuk di dengar.
Kizura bersama iblis lainnya hanya bisa diam dan tidak menjawab, mereka tahu bahwa mempercayai seorang iblis terlalu awal itu bisa saja menjadi kelemahan mereka sendiri. Kizura merasa tergoda untuk menyerang, tetapi ia juga harus waspada terhadap gadis iblis yang ekspresi-nya terlihat tenang.
"Kau tidak perlu takut, iblis kemarahan."
Gadis iblis itu mulai mengeluarkan dua kipas berwarna merah darah dimana terdapat sebuah lambang [Moirai Arma], Kizura sendiri melotot ketika menyadari bahwa gadis iblis itu adalah seorang iblis takdir [Demon Bloodes] hampir sama seperti Yusa.
"Langka sekali, aku tidak menyangka akan bertemu dengan iblis takdir lainnya." Kizura tersenyum kecil dan merasa sedikit lega untuk bisa mendapatkan sedikit kepercayaan dari bukti tersebut.
"Iblis takdir...? Apakah dia sama seperti Yusa?" Tanya Majin.
"Tentu saja, aku ini adalah pemilik [Hielo Demonio] generasi kelima... Namaku adalah Onimaru Karla." Iblis takdir itu memperkenalkan dirinya sebagai [Onimaru Karla], ia membuka kedua kipas-nya dan menghalang mulut-nya sendiri.
"Kami adalah organisasi yang berencana untuk memberi keadilan dan kedamaian bagi semesta yang bernama Zuusuatouri, kepenuhan bangsa Giblis itu adalah tujuan terpenting kami semua. Tidak ada makhluk sehina Giblis yang harus hidup karena mereka faktanya adalah ras terkuat di seluruh semesta."
Apa yang Karla katakan itu benar karena Giblis itu cerdas dalam hal perang dan bertarung, mereka cepat berevolusi dan beradaptasi. Kizura bersama iblis lainnya tidak memiliki pilihan lain selain mendengar penjelasan Karla.
"Inti-nya, kenapa kau ingin bertemu dengan kita, Karla?" Tanya Vier.
"Seseorang yang memiliki hubungan dengan iblis takdir lainnya maka aku akan bertemu dengan mereka atau jika mereka memiliki pengalaman bertarung melawan bangsa Giblis seperti sekarang... Apa salahnya untuk memaksa kalian bergabung di organisasi kami yang bernama [Truce Order]?" Karla mulai memberikan mereka semua sebuah tawaran.
"[Truce Order] ya...? Yang kalian katakan itu... Kepunahan bagi bangsa Giblis...? Aku tidak akan menolak-nya asalkan itu dapat menghiburku, lagipula Yusa pasti akan masuk ke dalam organisasi tersebut---"
"Ya atau tidak, kalian sudah resmi menjadi anggota [Truce Order]! Itu adalah mutlak!" Karla melepas angin yang cukup besar sampai membuat Kizura bersama yang lainnya terdorong ke belakang.
""Kami mengerti!""
"Aku lupa untuk memperkenalkan kedua asisten yang ikut bersama-ku. Fallen Angel yang bersama-ku ini bernama [Florente Dahlia] dan satunya lagi adalah Dark Elf yang bernama [Demian Jesper]. Kami senang menyambut anggota layak seperti kalian." Karla tersenyum manis.
"Baiklah, penjelasan inti sudah aku jelaskan dan sekarang waktunya untuk pergi."
"Dahlia, batalkan sihir waktu-mu dan mari kita bergegas."