
"Hweeehhhh...! Hweeehhh...!" Bayi yang diselamatkan oleh Yusa terus menangis dan itu membuat Yusa tersenyum kecil kepada bayi itu membuatnya menjadi sedikit lebih tenang serta air matanya juga berhenti berjatuhan.
Mereka berdua baru saja menyebabkan penyergapan yang memancing seluruh pasukan Giblis untuk menyerang mereka secara bersamaan, Itsuki menghampiri Yusa dengan wajah kesalnya.
"Ini bukan saatnya untuk bercanda...! Kita harus secepatnya pergi dari tempat ini...!" Ucap Itsuki.
"Tidak... Kita tidak akan pergi sebelum semua Giblis yang berada di desa ini telah mati." Yusa mulai menciptakan sebuah tas besar di belakang punggung-nya dan ia menepatkan bayi itu di dalam tas tulang itu agar ia bisa terlindungi dengan aman.
"Kau ini... Aku menyesal berurusan dengan dirimu yang bar-bar ini."
"Sebar-barnya diriku... Tugasku sebagai iblis takdir adalah untuk menyelamatkan seseorang dari kematian apalagi menyelamatkan dari kegilaannya bangsa Giblis."
"Selamatkanlah diriku dari iblis takdir yang gila...!" Mereka berdua terus berdebat dan di dalam debatan mereka itu terdapat sebuah candaan karena Itsuki memancingnya terlebih dahulu untuk membuat Yusa tidak terlalu mengendalkan emosi dan amarah-nya untuk melawan.
"Emosi dan amarah itu boleh... Tapi, kontrol...! Kontrol kedua itu menjadi sebuah kekuatan yang pantas, Yusa!"
Itsuki dan Yusa berpencar untuk membunuh pasukan Giblis yang memiliki ancaman besar. Mereka berdua sama-sam menggunakan formasi penyerangan ke satu, Mortaz dan Luz merasa senang melihat pemilik mereka yang sama-sama akur.
"Mortaz... Sepertinya Yusa baru saja menemukan jodoh-nya."
"Mata-mu... Cara untuk mendapatkan hati Itsuki itu sangatlah sulit."
"Hehh... Tapi kau senang bukan...? Melihat pemilik kita yang bekerja sama seperti ini? Mereka cepat akur soal ini."
"Ya, karena mereka adalah iblis takdir yang pantas. Bukan kaleng-kaleng."
Yusa dan Itsuki sama-sama berwaspada untuk tidak terkena sedikit serangan oleh pasukan Giblis itu, kekuatan mereka jauh lebih kuat dari pasukan Giblis itu serta mereka tidak memberi sedikit ampunan apapun karena mereka tidak mau berurusan dengan pasukan yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Seluruh pasukan Giblis segera melakukan pengorbanan fragmentasi dan Yusa bersama Itsuki telat karena terlalu sibuk membasmi pasukan Giblis yang dekat. Sekali seorang iblis mencoba untuk berperang dengan Giblis maka tidak ada akhir bagi perang itu sendiri sampai pasukan Giblis bisa menang.
"Luz Demonio: Assault Formation II"
"Formasi di dengar, segera melaksanakan formasi penyerangan tingkat kedua!"
"Mortaz Demonio: Assault Formation II"
"Terdengar jelas, formasi penyerang kedua akan langsung dilaksanakan!"
Kedua mata mereka berdua sama-sama bersinar serta kecepatan mereka terus meningkat setiap senjata mereka membunuh musuh, formasi yang terdapat di Moirai Arma itu tidak butuh latihan untuk menguasainya karena tugas Moirai Arma sendiri adalah untuk memeriksa kelayakan pengguna-nya apakah mereka mampu menggunakan formasi itu.
Latihan mereka berdua tentunya membunuh pasukan Giblis yang berada di desa itu, menghabiskan waktu selama dua hari untuk mereka masih di desa itu sambil membasmi seluruh pasukan Giblis yang terus berdatangan lebih kuat. Sekuat-kuatnya apapun pasukan Giblis yang baru datang berbeda dibandingkan dengan kemampuan Moirai Arma yang dapat bertambah kuat setiap membunuh lawan dan menyerap darahnya sedikit.
"... ...!" Yusa mengayunkan pedang-nya ke depan melepas gelombang tebas yang dapat menebas beberapa Giblis menjadi dua.
"... ...!" Itsuki melempar kedua belati-nya yang berputar menyebabkan Giblis yang terkena belati itu langsung lumpuh dan terbelah menjadi beberapa bagian.
Dua hari ini mereka tidak merasakan lelah tetapi kekuatan yang terus terbakar di dalam tubuh mereka sendiri tanpa menghiraukan rasa lapar dan haus serta kondisi bayi di selamatkan oleh Yusa. Luz dan Mortaz merasa terkejut bahwa mereka masih terus melanjutkan perang ini tanpa menghentikan-nya.
"Luz... Aku mengerti dengan pemikiran kedua iblis ini." Mortaz mulai berbicara dengan Luz melalui telepati.
"Jika kau bilang begitu maka kau terlambat. Kita sebagai Moirai Arma dapat membuat pengguna kita seperti bertambah kuat serta beradaptasi sama halnya seperti Giblis, tetapi adaptasi dalam pengetahuan dan informasi yang ada di semesta Zuusuatouri."
"Ya... Kemampuan Moirai Arma yaitu [War Evolution] 'kan? Tanpa kita harus memberi tahu mereka berdua dari tahap awal sampai akhir, mereka dapat menemukan cara untuk bisa bertambah kuat dengan hanya bertarung menggunakan alat seperti kita, mereka tidak membutuhkan pelatih karena kita sebagai partner mereka sudah cukup untuk membuat mereka bertambah kuat dan layak."
"[War Evolution], kemampuan fase kedua dari Moirai Arma. Fase pertama itu sudah pasti tentang kemampuan bertarung kita yaitu [Formation]. Masih terdapat delapan fase yang harus mereka kuasai dan ketahui untuk bisa menjadi iblis takdir yang layak dan juga hebat."
"Aku tahu itu, Luz. Suatu saat hari nanti ketika mereka menginjak fase ketiga maka mereka akan mampu menggunakan kita sebagai senjata mematikan mereka, potensi mereka juga dapat terlihat dengan jelas melalui fase tersebut."
Mereka mulai menyerang pasukan Giblis yang mencoba untuk memanggil bala batuan dari luar tetapi Yusa dan Itsuki tidak akan pernah membiarkan mereka lolos. Mereka membalikkan keadaan dimana semua Giblis yang berada di desa itu akan menjadi budak untuk mereka bisa berlatih menjadi lebih kuat lagi.
"Entah iblis apapun kau ini... Kita semua iblis sama... Keserakahan dalam kekuatan..." Ucap Yusa.
Kemarahan dan kesedihan yang pernah mereka alami karena pasukan Giblis berubah menjadi rasa senang melihat semua Giblis itu mati dengan cara yang sadis serta pasukan Giblis yang berada di desa itu bisa merasakan arti dari menjadi budak dan menderita karena siksaan pedih kedua iblis takdir. Insting membunuh Yusa terus bangkit dan tidak pernah membuatnya berhenti untuk membunuh seluruh pasukan Giblis itu yang terus datang karena kemampuan fragmentasi mereka.
Luz dan Mortaz membiarkan mereka mendapatkan sebuah pelajaran tanpa bantuan dari diri mereka sendiri, tugas mereka berdua hanyalah menjadi partner dan senjata mematikan bukan penasehat atau guru.
Yusa mengakhiri Giblis yang terakhir dengan satu tebasan kecil, Itsuki terjatuh di atas tanah dengan tubuh yang berkeringat, tidak merasa kelelahan karena rasa puas-nya dapat memulihkan tenaga-nya yang terus terbuang karena melawan semua pasukan Giblis itu tanpa memberi mereka ampun.
Yusa ikut berbaring di sebelah Itsuki dan menarik beberapa nafas, tadi itu terasa seperti latihan melainkan pembantaian atau penyelamatan, setidaknya mereka dapat melupakan kejadian kejam sebelumnya dimana seluruh penduduk di bakar habis-habisan. Tulang yang berada di belakang Yusa hancur membuat dirinya sadar bahwa bayi yang ia selamatkan tiba-tiba menghilang.
"Ehh...!? Bayi itu mana...!?" Yusa duduk di atas tanahnya dan ia segera melirik sekeliling, ia melihat bayi yang ia selamatkan sedang memakan beberapa sisi dari semua Giblis yang terbunuh.
"Ahhhh... Ternyata dia ini bayi yang berasal dari bangsa Onijin ya... Imut sekali." Itsuki tersenyum.
"Bangsa Onijin...?"
"Ya, bangsa seperti kita sangat menyukai daging apapun termasuk iblis apalagi Giblis, dengan bayi kecil itu memakan Giblis mungkin dia akan memiliki kekuatan adaptasi mereka atau sesuatu yang tak terbayangkan."
"Jadi singkatnya bangsa Giblis itu kanibalisme?"
"Huh." Itsuki mengembungkan pipi-nya, "Bukan hanya Onijin...! Semua Iblis juga sama-sama kanibalisme, dasar bodoh."
Bayi Iblis itu bersendawa ketika sudah memakan semua sisa-sisa tubuh Giblis, Yusa bangkit dari atas tanah lalu ia menghampiri bayi itu dan menggendong-nya. Itsuki ikut mendekat karena penasaran melihat wajah bayi itu yang terlihat sangat menggemaskan, dia ingin sekali menggendong bayi kecil tetapi rasa malu-nya terus menghambat dirinya.
"Sepertinya dia tertidur dengan damai karena kekenyangan... Aku tidak mengerti dengan pikiran bayi yang kadang suka menangis demi makan dan minum susu." Yusa menghela nafasnya.
"Bukannya mereka imut jika melakukan hal seperti itu...?"
"Begitulah." Yusa mengangguk.
Insting membunuh Yusa tidak lagi memperingati dirinya tentang keberadaan bangsa Giblis yang berkeliaran di desa tersebut, tetapi instingnya terus memaksanya untuk tidak berhenti dalam membantai Giblis yang terdapat di desa lainnya. Yusa menghela nafasnya panjang lalu ia menatap Itsuki yang terlihat lelah karena wajah Yusa bisa memperlihatkan jelas bahwa misi mereka masih belum selesai.
"Itsuki---"
"Sudahlah, jangan berbicara lagi. Aku akan ikut denganmu karena kau termasuk anggota dari seksi delapan, tugasku sebagai ketua adalah menjaga-mu." Itsuki tersenyum, ia mulai menggendong bayi yang tertidur itu.
Jantung Yusa berdetak cukup cepat melihat senyuman Itsuki, Itsuki sadar bahwa tatapan Yusa terlihat seperti terpesona karena dirinya. Itsuki mulai tersipu dan ia segera mencari kain untuk menciptakan selendang agar bayi itu bisa di gendong dari bagian depan jadi Itsuki bisa menjaga-nya sambil bertarung melawan pasukan Giblis yang akan datang.
"Itsuki... Aku tidak mau melihatmu terluka."
"Hohhh... Jangan meremehkan diriku, walaupun aku ini seorang gadis... Fisik-ku tidak jauh dari iblis pria biasa. Kau perlu mempercayai ketua-mu, junior bodoh."
"Heh... Jangan bersikap naif."
"Menggunakan kemampuan mengaca! Justru siapa yang lebih naif?" Ejek Itsuki.
"Ahaha... Iya-iya, itu aku."
Itsuki menemukan beberapa kain, ia mengambil semua kain yang ia lihat lalu mengikat-nya satu-satu menciptakan sebuah selendang agar ia bisa menggendong bayi itu dari bagian depan. Tidak memakan waktu lama karena bayi itu sudah berada di perlindungan Itsuki dan selendang itu segera dilindungi oleh sumber Oui milik-nya.
"Dengan ini kita aman." Itsuki mengangguk.
"Bukannya lebih baik kita pulang saja?" Tanya Mortaz.
"Tidak bisa, masih terdapat beberapa nyawa yang perlu di selamatkan. Aku tidak mau terlambat seperti tadi." Yusa mengepalkan tinju-nya.
"Ya, apa yang kau katakan benar, Yusa. Tetapi keselamatan Itsuki dan bayi itu lebih utama dibanding ribuan nyawa yang kehilangan, lebih baik kau melindungi mereka." Ucap Luz, kata-kata itu hampir memiliki kesamaan dengan perkataan yang pernah Alter katakan kepada dirinya sendiri.
"Baik...!" Yusa menggenggam gagang pedang itu dengan erat.