Luz Demonio

Luz Demonio
22 - Majin dan Majiru



Majiru menghantam kepala Majin cukup keras, "Awwww....!!!"


Majin langsung meraba puncak kepalanya yang mulai menonjol karena hantaman Majiru yang cukup keras, ia berhak mendapatkan luka itu karena kecerobohan-nya dalam menghapus lambang Oni yang terletak di bagian lehernya.


"Itu yang kau dapatkan, apakah kau ingin kita terbunuh oleh kegilaan mereka...!? Apalagi si autis yang bernama Ceytamold!"


"Kau tidak perlu memukul sekeras itu juga...! Sakit tahu...!!! Dasar kakak goblok...!!! Bajingan...!!! Pendosa...!"


"Apa kau bilang...!?" 


Mereka berdua mulai saling memukul satu sama lain sampai zirah mereka retak, iblis Inugami lainnya datang melewati mereka dan menatap mereka berdua dengan tatapan yang terlihat aneh.


Majin dan Majiru secara refleks melihat iblis-iblis itu sedang melihat mereka dengan tatapan aneh, mereka segera berhenti dan menunjukkan senyuman baik-baik saja. Majin dan Majiru mulai sama-sama menundukkan kepala mereka untuk menunjukkan bahwa tidak ada hal yang salah dalam tindakan mereka berdua yang aneh tadi.


"Apa kalian membutuhkan sesuatu dari kami, bangsa Inugami...?" Tanya Majiru.


"Kalian sebenarnya sedang apa...? Apakah kalian bertarung antara saudara...!? Bukannya itu sama saja dengan menghancurkan sumpah bangsa Inugami...!?"


'Sial, bagaimana bisa kita selalu dicurigai seperti ini karena sikap ceroboh kita berdua!? Tidak ada pilihan lain selain membunuh mereka lagi, tapi... aku melihat segerombolan iblis Inugami di sekitarku, bisa-bisa nanti aku tertangkap basah karena menggunakan [Death Stare]...' Batin Majiru karena menyadari terdapat beberapa iblis Inugami yang numpang lewat.


Majin maju selangkah karena ia tahu bahwa membunuh bukan lah pilihan yang tepat untuk di kondisi seperti ini. Kedua Iblis Inugami itu mulai menatap Majin dengan tatapan yang curiga dan Majin segera mengeluarkan sebuah batu yang memiliki tulisan [Inugami Majin.]


"Kami ini sebenarnya kakak dan adik yang baru saja selesai melaksanakan sebuah misi, karena kakak ceroboh-ku ini melakukan kesalahan pada misi kami saat itu... Jadi kita saling bertengkar untuk menentukan siapa yang harus menerima hukuman-nya." Majin tersenyum.


'Ceroboh...!?'


"Jadi begitu ya... Kalau begitu kalian melupakan sesuatu yaitu absensi dalam kehadiran upacara pengangkatan ketiga iblis tadi." Iblis itu menyodorkan batu yang berbentuk seperti buku. Majin dan Majiru mengeluarkan taring monster yang tajam dan menulis nama mereka masing-masing, setelah nama mereka terukir di batu tersebut, kedua iblis itu mulai pergi.


"Karena dirimu... Kita terselamatkan lagi, Majin."


"Yahhh... Sepertinya aku cukup beruntung..."


"Kenapa...?"


"Tidak ada yang mengingatkan tentang ritual menghisap darah... Huegh... Lama-lama aku akan muntah jika melakukannya lagi."


"Hahahahaha! Itu yang kau khawatirkan ya...? Dasar adikku yang bodoh dan ceroboh."


"Kau juga sama, kakak."


Mereka menghabiskan beberapa waktu dengan bercanda, Majiru memimpin dengan maju ke depan menuju ruangan aula dimana Ceytamold berada. Aula itu adalah tempat yang pas untuk mendapatkan beberapa informasi tentang bangsa Inugami atau Ceytamold sendiri.


Majiru dan Majin berhenti di depan pintu yang besar dimana terdapat dua penjaga yang sedang menjaga pintu itu, Majin mulai menunjukkan sebuah surat undangan palsu yang tertulis untuk bertemu dengan Ceytamold sebentar lagi, kedua penjaga itu langsung membuka pintunya dan membiarkan mereka berdua masuk.


Majin dan Majiru melotot ketika melihat beberapa Succubus yang cukup menggoda sedang berpesta dan berdansa di atas panggung dengan menggunakan baju yang sangat terbuka, mereka mencoba sekuat mungkin untuk tidak tergoda karena misi mereka itu yang paling utama dari nafsu.


Majin merasa terkesan melihat aula desa bangsa Inugami yang sangat mewah bahkan lebih mewah dari aula desa-nya sendiri, ia merasa seperti di dunia iblis yang maju dimana terdapat barang-barang mewah. Ruangan aula ini cukup luas sampai terdapat banyak sekali iblis yang berjumlah lebih dari ribuan.


Majin dan Majiru bergegas menuju tempat minum dan mengambil satu gelas berisi bir lalu meminumnya untuk menghilang rasa darah yang mereka hisap, tidak ada satupun iblis Inugami yang menatap mereka dengan curiga karena salah satu dari mereka sedang tergoda oleh semua Succubus itu.


"Dimana tempat si sialan Ceytamold itu...?" Tanya Majin selagi mengobservasi ruangan tersebut.


"Hati-hati untuk tidak terlihat mencurigakan." Majiru mulai mengusap-usap lambang yang ada di leher Majin sampai hilang.


"Oi, geli lah...!"


Beberapa iblis yang memakai zirah tebal masuk ke dalam ruangan yang di jaga oleh dua penjaga yang cukup kejam karena wajah mereka yang tidak menjanjikan, Majiru melihat hal itu dan dia yakin bahwa Ceytamold berada di dalam ruangan itu. 


"Baiklah...! Aku menemukan target-nya, Majin."


"Ceytamold...?"


"Seriusan!?"


"Enggak lah goblok, tentunya si Ceytamold itu!" Majiru menepuk kepala Majin dan bergegas menghampiri pintu yang di jaga oleh kedua penjaga itu, ia mencoba untuk tidak terlihat mencurigakan oleh kedua penjaga tersebut.


Majiru dan Majin hanya berdiri tegak sambil mengambil beberapa cemilan agar mereka terlihat seperti tamu yang datang untuk berpesta, kedua penjaga itu sepertinya tidak melihat mereka melainkan tergoda oleh beberapa Succubus yang sedang berdansa.


"Bangsa Iblis memang susah mengontrol nafsu mereka ya...?" Majin terkekeh.


"Bukannya itu kau...?"


"Kau...! Bagaimana kau bisa masuk ke tempat seperti ini, bangsa Oni!?" Seorang iblis mengetahui Majin dan Majiru yang berasal dari bangsa Oni, mereka segera melotot ke arah iblis yang mulai berbicara itu. Seingat Iblis itu bangsa Oni memiliki jenis tanduk yang panjang serta terdapat beberapa tulang runcing di bagian tubuh mereka dan ia sendiri bisa melihat tulang lancip di bagian sayap-sayap Majin.


"Oi, oi, oi, bukannya kau baru saja salah paham...? Kami ini bangsa Oni yang baru saja pindah ke bangsa Inugami." Majiru mulai berbicara.


"Omong kosong!!! Bangsa Oni tidak akan pernah mengkhianati bangsanya sendiri dengan pindah ke bangsa yang lain, kau dengar!?" Suara iblis itu mulai terdengar cukup keras sampai menarik beberapa perhatian Iblis Inugami lain dengan penjaga yang menjaga pintu ruangan dimana Ceytamold berada.


Majin dan Majiru menghela nafas-nya panjang karena bangsa Oni bukanlah bangsa yang pas untuk menyamar dan menyusup ke dalam tempat bangsa iblis yang lain. Mereka berdua hanya bisa diam dan melihat iblis itu menarik beberapa perhatian iblis-iblis Inugami, mereka tidak merasakan panik atau takut melainkan hanya bertindak tenang di situasi seperti ini.


"Bukannya iblis Inugami itu bertindak tidak sopan di dalam pesta seperti ini...?" Bisik salah satu Succubus.


"Ceytamold melarang keributan dan kerusuhan di tempat ini... Apakah dia ingin nyawa-nya terbunuh olehnya...!?" 


Dua petugas penjaga pintu itu mendatangi mereka bertiga dengan sebuah tombak yang tajam, kerusuhan iblis Inugami itu benar-benar akan mengganggu pesta ini serta akan membuat Ceytamold marah besar, Majin dan Majiru hanya bisa diam karena kedua penjaga itu menatap mereka berdua dengan tatapan yang mengancam.


"Beri kami bukti bahwa kalian berdua di undang di pesta seperti ini..." Ucap salah satu dari penjaga itu.


"Tentu saja ada bukti..." Majiru tersenyum dan ia mengambil sebuah kalung yang ia pakai di leher-nya.


"Kalung...? Bukti apa yang ada di kalung tersebut...? Hanya Iblis Inugami penting saja yang dapat masuk ke dalam pesta ini, itu yang di katakan Ceytamold... Inugami Majin dan Inugami Majiru, sepertinya aku tidak pernah mendengar kalian sebagai iblis Inugami yang terkenal---"


Kedua mata Majin bersinar cerah, "[Death Trust.]" [Death Trust], sebuah sihir yang dapat merubah pikiran seseorang ketika si pengguna menatap mereka di kedua matanya, kedua penjaga itu memejamkan kedua mata mereka untuk sekejap dan Majiru mulai menggunakan sihir telekinesis-nya.


Sihir Telekinesis itu Majiru gunakan untuk membuat iblis Inugami yang mencurigai mereka berdua memukul dirinya bersama Majin cukup keras di bagian wajah agar iblis Inugami itu bisa terbukti melakukan kerusuhan di pesta seperti ini.


BAGGG!!!


Suara pukulan itu terdengar cukup keras sampai membuat Majin dan Majiru terjatuh di atas tanah, semua iblis Inugami dan Succubus yang menikmati pesta itu langsung terkejut melihat hal tersebut, ternyata iblis Inugami yang mencurigai Majin dan Majiru telah membuat sebuah kurusuhan yang membuat kedua penjaga itu langsung menunjuk leher iblis itu dengan tombak tajam mereka.


"Tunggu...!? Apa yang kau lakukan...!? Aku tidak bersalah, merekalah yang bersalah...!!! MEREKA ADALAH BANGSA ONI!!!" Ucap iblis itu dengan panik.


"Sungguh tega sekali kau menyangka saudara Inugami sebagai bangsa Oni..." Ucap Majin yang mulai mengusap bekas pukulan-nya.


"Penjaga... Seharusnya kau tahu harus apa..." Penjaga itu bergegas membawa Iblis itu ke atas panggung yang tersedia tempat eksekusi untuk seseorang yang membuat kerusuhan, Ceytamold sudah menyediakan hukuman bagi iblis yang membuat kerusuhan.


Majin dan Majiru hanya bisa terkekeh jahat, mereka bangkit dan menghampiri kedua penjaga itu untuk melakukan aksi pengeksekusian terhadap iblis tersebut. Kedua penjaga itu menyadari mereka berdua yang naik juga ke panggung.


"Kenapa kalian ikut...?"


"Bukannya korban seharusnya membunuh seseorang yang membuat rusuh itu...? Raja Ceytamold pernah mengatakannya bukan...?" Tanya Majiru.


"Ohh, tentu saja. Silahkan lakukan apa yang kalian mau terhadap iblis ini." Mereka berdua mulai pergi menghampiri pintu ruangan untuk menjaga-nya lagi.


Beberapa iblis Inugami dan Succubus yang menikmati pesta itu mulai mengalihkan pandangan mereka ke tempat eksekusi tersebut, Majin dan Majiru hanya berdiri tegak selagi menatap iblis Inugami itu yang terlihat ketakutan serta panik sehingga ia terus berteriak tidak jelas mencoba untuk meminta bantuan.


Majiru mulai memegang rambut iblis itu dan menunjukkan wajah yang terlihat psikopat, "Aku tahu rasanya, iblis Inugami... Kalian tidak akan bisa mengalahkan kecerdasan bangsa Oni dan sihir yang mereka pelajari..." 


Majiru langsung melahap habis kepala Iblis itu sampai tidak tersisa lagi.