
Yusa membuka kedua matanya, ia sadar bahwa kedua penglihatannya hanya bisa melihat kegelapan dan cahaya yang saling beradu. Keseimbangan, itulah yang dilihat oleh Yusa saat ini sampai ia tidak bisa pergi kemana-pun selain bergerak lurus ke depan sambil melihat sekeliling-nya.
"Tempat apa ini... Bukannya aku seharusnya bertarung melawan Ceytamold...? Masa depan yang cerah berada di kedua genggaman tangan-ku ini..." Ucap Yusa pelan.
Setibanya Yusa di tengah cahaya dan kegelapan, ia sudah lelah bergerak karena jalan yang ia tuju tidak memiliki tujuan sama sekali. Yusa segera melirik ke belakang dan lari secepat mungkin ke belakang untuk bisa pergi meninggalkan tempat itu, tidak ada tempat keluar yang bisa ia temukan sampai membuat dirinya panik dan berkeringat dingin.
"T-Tidak... A-Apa-apaan ini...?"
"Kamu bisa diam disini sebentar kok, Yusa." Tiba-tiba terdengar suara sesosok gadis di ruangan tersebut, Yusa membulatkan kedua matanya ketika mendengar suara yang sangat tidak asing untuk di dengar.
Yusa berhenti bergerak, ia melirik ke belakang dan melihat sesosok gadis yang ia harapkan. Penampilan-nya terlihat cantik karena gaun putih yang ia gunakan serta wajahnya yang bersinar cerah membuat Yusa tidak bisa mengatakan apapun kecuali menatap gadis itu dengan tatapan yang terlihat menyedihkan, air mata turun deras dari kedua mata Yusa membuat gadis itu terkekeh.
"Yusa... Kau tumbuh sebesar dan sekuat ini, aku tidak menyangka-nya... Aku kira aku tidak akan pernah melihatmu tumbuh menjadi seorang iblis yang kuat serta layak." Gadis itu tersenyum.
Gadis yang berbicara itu adalah Oni Alter, sesosok ibu yang Yusa sangat sayangi. Tanpa mengatakan apapun dan mengerti situasi, Yusa segera memeluknya dengan erat sambil menjatuhkan air matanya yang deras. Alter membulatkan kedua matanya dan merasakan kehangatan dari tubuh Yusa yang sudah lama tidak di peluk oleh dirinya.
"Aku... Aku... ingin bertemu denganmu untuk terakhir kalinya, ibu... Ibu tidak pernah mengatakan ucapan selamat tinggal kepada-ku..." Yusa masih menangis.
"Setidaknya kau mendapatkan kesempatan untuk bisa bertemu dengan-ku di alam bawah sadar-mu ini... Sepertinya takdir dapat mempertemukan kita untuk terakhir kalinya, dengan ini aku dapat mengatakan kalimat perpisahan untuk anakku sendiri." Alter mencium kening Yusa.
Yusa menatap wajah Alter dengan tatapan yang terlihat senang, ia segera mengusap air matanya dan menjelaskan kepada dirinya tentang perjuangannya dari nol sampai sekarang. Alter sudah pasti akan terkesan terhadap anak-nya sendiri yang ternyata sekarang sedang melawan seorang iblis dengan jantung Giblis yang sempurna, Alter terus merasa bangga dan ia hanya bisa membalas-nya dengan menemani Yusa.
"Ayah sepertinya akan bangga jika ia sempat bertemu denganmu, Yusa..."
"Ayah tidak pernah kembali... Aku ingin sekali bertemu dengannya..."
"Suatu hari nanti kalian akan bertemu, aku percaya itu."
"Melihat dirimu yang ternyata sesosok iblis takdir membuat ibu terkejut seketika, ibu juga tidak menyangka bahwa kau akan mengangkat senjata Moirai Arma yang legendaris yaitu Luz Demonio. Mimpi ibu dulunya ingin menjadi sesosok iblis takdir, tetapi mimpi itu sepertinya dapat kamu laksanakan dan membuat diriku tenang sampai aku bisa mati dengan tenang." Alter tersenyum.
"Hmm...! Yang penting aku akan melanjutkan mimpi ibu dan ayah, aku akan mengabulkan mimpi kalian semua dengan cepat!"
"Maafkan aku karena sudah meninggalkan-mu, Yusa. Ada satu takdir yang tidak bisa kita hindari dengan mudah yaitu takdir kematian, sepertinya kematian-ku itu cukup dekat di masa-masa kamu berusia empat tahun... Aku masih ingin merawatmu dan membuatmu menjadi lebih kuat lagi..."
Yusa menunjukkan ekspresi yang sedih kembali, ia menggelengkan kepalanya karena tidak mau membuat Alter khawatir. Yusa ingin Alter bisa hidup dengan tenang di alam kematian sambil melihat dirinya dari atas sana atas perkembangan yang ia alami setiap hari-nya, walaupun mereka mengalami pembicaraan yang cukup menyenangkan. Yusa mengingat suatu hal bahwa serangan yang akan ia lakukan kepada Ceytamold berakhir cukup dahsyat.
"Walaupun kau menyembunyikan setiap perasaan yang ada di dalam dirimu sendirian... Aku masih bisa merasakan-nya, Yusa."
"Ceytamold terlalu kuat... Jika saja aku tidak mendapatkan kekuatan dari rekan-rekanku serta mayat yang sudah gugur maka Zuusuatouri akan berakhir karena kegilaan raja iblis itu. Walaupun aku mendapatkan kekuatan besar yang sementara dari cahaya kegelapan, aku hanya berpikir membunuh seseorang yang aku anggap penting..."
"Pengorbanan bukanlah hal yang salah... Tapi jadikanlah sebuah pelajaran terhadap seseorang yang sudah mengorbankan nyawa mereka demi meraih tujuan dan mimpi mereka, semua kematian mereka itu... Itu semua bukan salah siapapun, kita semua berhak memilih takdir kita sendiri."
"Cahaya kegelapan yang akan kau lepaskan itu adalah sumber kekuatan terakhir yang bisa membantu-mu menang melawan Ceytamold, sekali melakukan pergerakan yang salah maka semuanya akan berakhir."
"Serangan dari cahaya kegelapan itu akan menghancurkan wilayah di sekitarku...!"
"Sepertinya waktu kita bersama akan habis sebentar lagi... Aku yakin kau pasti akan bisa menang melawan Ceytamold, ibu mempercayai dirimu, nak." Alter menepuk kedua bahu Yusa dan ia memberi sebuah kecupan di kening-nya.
"Ibu... Aku pasti akan membuatmu bangga."
"Tidak, nak. Kau sudah membuatku bangga." Alter menunjukkan senyuman lebarnya, "Selamat tinggal di sisi lain, anakku."
***
Seluruh tubuh Yusa bergerak dengan sendiri-nya, bilah dari pedang Luz Demonio mulai membesar, menunjukkan warna cahaya dan kegelapan di sekeliling-nya yang menandakan keseimbangan. Yusa bergerak cukup besit memegang pedang-nya dan ia melakukan beberapa serangan kombinasi yang dapat meninggalkan luka dalam kepada ketiga iblis itu.
Ceytamold mengaum sekeras mungkin karena merasakan kesakitan yang dahsyat, ia mencoba untuk melarikan diri serta menyerang Yusa, tetapi tidak bisa karena Vimu dan Mimu sama-sama menahan Ceytamold di tempat itu. Yusa terus melakukan serangan kombinasi yang dapat membasmi mereka bertiga dalam waktu yang dekat.
"Dengan nama dari Oni Yusakage, aku sebagai pemilik Luz Demonio...! Tambahkan kekuatan dan daya serangan...!" Ucap Yusa sambil meneteskan beberapa air mata melihat Vimu dan Mimu dipenuhi luka serta darah-darah yang mengalir deras.
"Perintah-mu di dengar...!" Pedang Luz Demonio memancarkan cahaya yang besar.
"Hentikan...!!!" Teriak Ceytamold keras.
Pedang Luz Demonio itu membesar dan Yusa segera menusuk perut Ceytamold cukup dalam, ia memegang gagang pedangnya menggunakan kedua tangannya lalu ia mengangkat pedang itu ke atas, membuat Ceytamold terbelah menjadi dua serta memancarkan cahaya kegelapan yang dapat membuat seluruh pasukan hancur. Ceytamold meledak karena efek dari cahaya kegelapan itu, ledakan itu mengenai Vimu dan Mimu serta seluruh pasukan yang sedang bertarung.
Master bersama Rxeonal membulatkan mata mereka melihat Ceytamold yang berhasil terkalahkan oleh Yusa, mereka berdua sama-sama terbantai habis oleh Selvia. Mereka berdua yang bekerja sama tidak mampu mengalahkan Selvia yang hanya bertarung sendiri, mengandalkan sihir Void milik-nya sendiri.
Master sedikit terkejut mengetahui bahwa Ceytamold telah terkalahkan, tetapi ia masih yakin bahwa jantung sempurna itu masih belum hancur karena wilayah ini sekarang dipenuhi dengan darah milik Ceytamold. Darah-darah itu menciptakan sebuah lautan yang tadinya daratan sekarang menjadi lautan merah, itu semua karena darah yang dimiliki Ceytamold cukup banyak.
Rxeonal tergeletak di atas tanah lemas, seluruh tubuhnya terus dipukul oleh Selvia karena ia tidak memberinya ampun, Rxeonal tidak bisa menahan lagi serta Master tidak bisa membantu karena seluruh tubuhnya terasa lemah karena Rxeonal. Master hanya memiliki satu rencana yang dapat membuat mereka berdua selamat untuk sementara.
"... ...!" Master menunjuk ke arah Selvia.
"Realm of Crimson...!"
[Realm of Crimson], sihir Crimson milik Master yang dapat membuka portal yang cukup besar di belakang Selvia sampai itu membuat dirinya melotot, portal itu menghisap seluruh tubuh Selvia dan kesempatan itu tidak Master sia-siakan karena ia mendorongnya Selvia masuk ke dalam portal itu. Setelah masuk ke dalam portal tersebut, Master menutupnya dengan rapat.
"Hah... hah... hah... berhasil..."
"Sepertinya tujuan kita masih bisa dilaksanakan dengan mudah..."
"Tentu saja, anak-mu itu sekarang terjebak di wilayah Crimson untuk selamanya. Tidak akan ada yang bisa menyelamatkan, bahkan ia tidak akan bertahan cukup lama berada di dalam wilayah itu." Master tersenyum jahat.
"Kita sudah dekat... Mari bergerak..." Master menyadari sebuah lambang portal di belakang punggung Rxeonal dan itu membuat dirinya penasaran.
"Lambang...?"