Luz Demonio

Luz Demonio
5 - Kekuatan dari Yusakage



Aku menghantam wajah Kalavera itu sampai ia terdorong ke belakang, aku mulai menatap permukaan perisai itu dimana tombak tulang-ku telah hilang. Aku mengalihkan pandangan-ku ke arah Kalavera itu dan melihat tombak tulang yang sudah di makan oleh monster biadab itu.


"[Nightmare Shield Flames!]" 


Aku mulai membakar perisai-ku menggunakan sihir api mimpi buruk, setelah aku membakarnya, Kalavera itu menatap diriku dengan tatapan yang terlihat mengancam. Taring-taringnya terlihat seperti memanjang bahkan membesar karena aku terlihat lezat baginya.


Tanpa basa-basi lagi aku yang akan bergerak pertama, aku bergerak menuju arah Kalavera itu lalu menghantam langit-langit menggunakan perisai yang menempel di lengan kanan-ku sampai permukaan perisai yang terbakar itu meluncurkan api mimpi buruk ke arah Kalavera tersebut.


ZWAAASSSHHH!!!


Aku tersenyum melihat kepala Kalavera itu yang terbakar dengan api mimpi buruk, ia langsung menggelengkan kepalanya lalu menghantam wajahnya sendiri di atas tanah untuk membuat api itu hilang. Pergerakan itu cukup baik dari seekor Kalavera sehingga aku bisa melihat beberapa serpihan tulang wajahnya yang berserakan di atas tanah.


Tulang wajah Kalavera itu sangatlah berharga jadi aku akan membawanya pulang lalu memberikannya kepada ibu agar aku diberikan sebuah kecupan kasih sayang, hehehe. Apa yang aku perbicarakan?! Seharusnya aku fokus terhadap musuh-ku yang ada di depan, perisai tulangku tidak akan bertahan lama karena sebentar lagi sihir api-ku hanya akan membakarnya habis.


"GRAGGGHHHHHHHH!!!"


Kalavera mengaum cukup keras dan membuat kedua telinga-ku berdengung, aku segara menutup kedua telinga-ku karena jika tidak maka gendang telinga-ku akan pecah karena auman-nya itu. Seperti biasanya Luz hanya melihat-ku dari atas, dasar tidak berguna.


Aku mencoba untuk menyerang lagi dengan bergerak menuju arahnya, aku langsung menggunakan sihir [Bone Creation: Sword], aku menarik pedang tulang-ku keluar melalui dada-ku lalu memegang-nya menggunakan tangan kananku. Ketika aku mengalihkan pandangan-ku selama beberapa detik untuk menarik pedang-ku, aku membulatkan kedua mataku ketika merasakan Kalavera yang berada di sebelah-ku.


"Ahh...!"


BRUGGHHH!!!


Perut-ku terkena serangan ekor Kalavera itu sampai-sampai duri yang ada di ekornya itu memberikan tiga tusukan di bagian perut, aku terdorong ke belakang lalu tergeletak di atas dengan beberapa lubang di perutku.


"Huegghhh!"


Aku memuntahkan beberapa darah melalui mulut-ku serta lubang-lubang yang terdapat di perutku mulai mengeluarkan darah, untungnya racun-racun itu tidak berguna bagiku karena aku kebal terhadapnya berkat darah iblis. Bangsa iblis kebal terhadap racun, tapi hanya sebagian saja. Dari serangan tadi aku baru saja sadar, aku tidak boleh lengah serta aku melarang diriku sendiri untuk tidak terluka.


Rasa sakit itu sudah wajar bagi iblis, jika iblis tidak merasakan rasa sakit maka mereka bisa disebut mati. Aku kembali bangkit dengan sebuah pedang tulang di tangan kanan-ku, perisai api yang terdapat di lengan-ku sudah terbakar hangus. Aku melihat Kalavera melompat menuju arahku dari belakang lalu aku memutar tubuhku belakang dan menangkis taring-taring Kalavera menggunakan pedangku.


CLANGGG!!!


Kalavera itu terdorong ke belakang, aku mulai memegang erat gagang pedang-ku selagi menutup tiga lubang yang terdapat di perutku.


"Wah... Wah... Iblis berusia empat tahun melawan Kalavera... Apakah ini sejarah baru...? Wajar juga jika ia terluka oleh monster biadab itu."


"UGGHHH!!!"


Lagi-lagi perutku terkena hantam, tetapi kali ini aku terkena serangan kepalanya. Aku terdorong ke belakang dengan posisi tubuh yang masih tegak, sepertinya Kalavera mulai menjadi agresif dari sebelumnya. Aku harus berhati-hati atau aku akan menjadi makan malam-nya.


Kalavera itu bergerak menuju arah-ku dan aku langsung lari ke belakang dengan kecepatan penuh, aku mencoba untuk memikirkan cara lain agar bisa melawan Kalavera tanpa harus menghadapinya karena fisik-ku dan fisik Kalavera jauh berbeda maka aku baru saja sadar bahwa diriku satu melawan satu dengannya... Hasil-nya Yusakage yang akan menjadi makan malam.


Perut-ku masih terasa cukup menyakitkan karena luka-luka yang diberikan oleh Kalavera itu, lebih baik aku menahan rasa sakit-nya, aku ini seorang laki-laki dan luka ini tidak akan menghentikan-ku untuk menjadi iblis yang hebat. Jika aku melarikan diri juga, aku sama hal-nya dengan pengecut.


"[Bone Creation: Step up]"


Aku melompat ke depan lalu menginjak daratan dengan kedua telapak kaki-ku, sebuah tulang berduri yang besar muncul di belakang-ku, aku membalikkan tubuh-ku ke belakang lalu menendang ke arah Kalavera sehingga tulang-tulang berduri itu langsung bergerak menuju arah Kalavera dengan kecepatan penuh berkat [Bone Creation: Step up].


Dengan sedikit keberuntungan, tulang-tulang berduri itu mampu melukai Kalavera sampai ia terjatuh di atas tanah. Aku memejamkan kedua mata-ku lalu aku mengangkat pedang-ku ke atas dan menggenggam-nya dengan kedua tangan.


"Berikanlah aku kekuatan... Kekuatan untuk bisa melawan Kalavera, bakarlah pedang tulang-ku dengan api yang di hasilkan oleh mimpi buruk! [Nightmare Bone Sword]."


"Aku akan memberi tahu dirimu bahwa... Aku tidak akan memberi-mu belas kasihan bahkan sedikit-pun, itulah janji Oni...! Kita bertindak tanpa harus menggunakan keseganan apapun!!!"


Bilah pedang-ku langsung terbakar dengan api mimpi buruk, aku menatap Kalavera tajam sampai-sampai kedua pupil-ku merasa terbakar juga. Di mulai dari seluruh tubuhnya... Aku akan mengumpulkan semua tubuh bahkan isi tubuh Kalavera itu. Kalavera itu menatap-ku lalu ia menghantam daratan menggunakan kedua kaki-nya sampai-sampai tulang-tulang berduri muncul di depanku.


Aku hanya membutuhkan satu tebasan horizontal ke depan, semua tulang berduri itu yang mencoba menusuk-ku langsung hancur dan terbakar hangus. Aku melesat ke depan lalu menebas semula tulang berduri yang menghalangi-ku secara horizontal dan vertikal, Kalavera melesat menuju arah-ku lalu ia membuka mulutnya dengan lebar, ia mencoba untuk memakan-ku tetapi serangan seperti itu bisa aku lihat dengan mudah tanpa harus berpikir.


Aku berguling ke kanan dan berhasil menghindari gigitan-nya itu. Kesempatan menyerang baru saja di berikan kepada-ku, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Aku menebas mata kiri Kalavera itu sampai terbakar.


ROAGGHHH!!!


Aku melihat ekor Kalavera itu bergerak sedikit, aku mulai menghantam wajah Kalavera itu menggunakan tinju kiri-ku lalu Kalavera menyerang balik dengan mengayunkan ekor-nya ke arah-ku. Aku tersenyum lalu menebas ekor itu menjadi dua.


GROOOOOOAAA!!!


Kalavera itu mulai memiliki beberapa luka di bagian mata kiri-nya serta ekornya yang sudah putus dari tubuhnya. Tubuh-ku mulai terasa pegal serta tenaga-ku juga sudah mulai berkurang.


"Oni Yusakage... Iblis yang berumur empat tahun, tapi cara bertarung-nya juga cukup hebat. Apakah ini hasil latihan yang selalu ia lakukan...? Walaupun begitu kecepatan-nya masih terlihat sangat kecil serta ia tidak bisa bertahan cukup lama dalam pertarungan jarak dekat. Sadis... Tanpa belas kasih... Generasi ke tujuh dari pengangkat Luz Demonio sepertinya benar-benar Oni Yusakage... Menakjubkan."


"Kesempatan apapun ia gunakan untuk menyerang musuhnya, ketika musuhnya terluka ia tidak memberikan kesempatan apapun kepada musuhnya. Ia bahkan bisa melihat serangan balik Kalavera... Anak yang cerdik... Pasti ini semua karena bu Alter~ Uwahhh~"


Aku menendang perut Kalavera itu menggunakan kaki kiri-ku sampai Kalavera itu terdorong ke belakang dan terjatuh di atas tanah. Aku melempar pedang-ku ke arah perut Kalavera itu sampai menusuk dalam, aku bergerak menuju arahnya dan melompat. 


"HAGHH!!!"


Aku menginjak kenop pedang-ku menggunakan kedua telapak kaki-ku sampai keseluruhan dari bilah pedang-ku masuk ke dalam perut Kalavera bahkan bisa jadi api-api itu mulai membakar isi perutnya.


GROAAAAAGGHHHH!!!


Kalavera mengaum kesakitan dan hal itu adalah lagu bagi kedua telinga-ku, aku hanya bisa tersenyum sadis melihat Kalavera itu tersiksa. Aku bergerak menuju arahnya lagi lalu menggenggam gagang pedang-ku dengan kedua tanganku lalu aku menarik-nya keluar sampai-sampai Kalavera mencakar wajahku dan membuatku terdorong ke belakang.


"Cih... Keparat..."


Kening-ku terluka dan mulai mengalirkan darah ke bawah, Kalavera itu mulai bangkit dari atas tanah dan mulai menunjukkan taring yang dipenuhi dengan busa-busa. Sepertinya aku membuat Kalavera menjadi lebih agresif dari sebelumnya, ia bergerak menuju arah diriku lalu menghantam perutku sampai aku terjatuh di atas tanah.


Pergerakan-nya itu jauh lebih cepat dariku sampai-sampai aku tidak bisa menghindari serangan-nya bahkan menyerang-pun tidak bisa. Kalavera itu mulai mencoba untuk memakan kepala-ku tetapi aku menahan isi mulut-nya menggunakan pedang-ku.


"Nrgghh... Ugghhh..."


Tenaga Kalavera itu jauh lebih besar dariku, aku mulai memegang bilah pedang-ku yang terbakar menggunakan telapak tangan kiri-ku dan mencoba untuk mendorong kepala-nya mundur.


"HAAAAHHHHH...!!!"


Aku mendorong pedang-ku menggunakan kedua tanganku, tetapi hal itu tidak berguna karena tenaga-nya masih lebih besar dariku sehingga taring-nya mengenai kening-ku. Dilarang untuk panik, menyerah, dan ketakutan. Aku harus mencari cara agar bisa menyerang-nya kembali, tetapi aku membutuhkan lima detik sebelum monster biadab ini melahap habis kepalaku.


"Apakah sejarah Oni Yusakage akan bertahan disini...? Apakah diriku ini akan menghilang...?"


"Aku percaya bahwa ini bukanlah potensi-mu yang asli, YUSA!!!"


Aku mendengar Luz mencoba untuk menyemangatiku, Kalavera mulai mencabik-cabik perutku menggunakan kedua kuku-nya.


"AGGGGGGHHHHHH!!!"


Teriak-ku kesakitan karena Kalavera melakukan serangan lain, kedua lengan-ku sudah merasa lemas dan bahkan perut-ku telah tercabik-cabik dengan agresif. Rasa-nya sakit... Sakit sekali, aku ingin memegang perutku menggunakan kedua tangan-ku tetapi itu sama saja dengan bunuh diri karena kepala-ku pasti akan menghilang jika aku tidak menahan mulutnya.


Apakah hidup-ku akan berakhir disini...? Ibu pasti akan merasa sedih dan kecewa jika aku melawan Kalavera, tetapi gagal. Tidak! Aku harus mencari cara! Aku mengalihkan pandang-ku ke arah dada Kalavera itu dan melihat tidak ada perlindungan apapun di sana, aku mulai melirik ke arah kedua kaki-ku yang masih bisa di gerakan.


Ini dia, kesempatan terakhir-ku... Aku menarik kedua kaki-ku ke belakang lalu menginjak dada Kalavera itu dan tersenyum. Dengan ini aku bisa mengenai inti kehidupan-nya yaitu jantung,


"[Bone Creation: Step up]"


ZBBRAATTT!!!


Hasil-nya dada Kalavera itu tertusuk dengan tulang berduri sampai menusuk jantung-nya itu, aku melihat Kalavera itu tidak melakukan pergerakan lain melainkan ia berhenti seketika bahkan tenaga yang terdapat di mulut-nya juga tidak bisa aku rasakan serta kedua lengan-nya yang mencabik-cabik perutku seolah-olah berhenti.


"Aku... menang..."


Aku mendorong kepala Kalavera itu mundur ke belakang sampai monster tersebut tergeletak di atas tanah tanpa nyawa lagi, aku bangkit dari atas tanah dan mulai menatap Kalavera itu yang benar-benar terlihat mati. Walaupun begitu aku merasa senang, tetapi tubuhku terasa lemah bahkan perut-ku terus meneteskan beberapa darah.


"... ..."


Kedua pandangan-ku mulai kabur dan aku langsung terjatuh di atas tanah dengan kondisi yang pingsan.