
Yusa's POV
Hari yang cukup berat seperti biasanya, Ibu-ku bilang bahwa bangsa Oni tidak akan pernah melewati waktu berlatih dan bertarungnya, jadi aku menuruti apa yang ibu katakan dengan berlatih setiap hari karena latihan setiap hari akan memberikan hasil yang berkembang asalkan diriku memiliki waktu untuk beristirahat. Aku bahkan tak tahu apa yang akan terjadi jika aku memaksakan seluruh tubuhku untuk terus berlatih tanpa harus beristirahat.
Awan merah darah yang terus menghalangi bulan darah, ibu bilang bulan merah adalah tempat dimana bangsa Oni yang gugur tinggal. Awan merah darah berkumpul dan menciptkan awan yang lebih besar bahkan berpotensi untuk hujan. Angin sepoi-sepoi yang terasa hangat mengenai tubuhku dan membuat keringatku menghilang.
Aku melakukan beberapa push-up dan sit-up di atas tanah yang begitu panasnya, lebih panas dari api untuk memasak daging naga yang sangat keras. Tepat dikepanasan dari tanah itu aku merasakan bahwa seluruh tubuhku terus berkembang dan memberikan hasil kerja keras-ku. Malam seperti ini adalah waktu yang pas untuk diriku berlatih karena di pagi dan siang hari, ibu selalu menyuruhku untuk memburu makanan.
Aku bangkit berdiri dari atas tanah yang berwarna merah dan memejamkan kedua mataku.
"Bone Creation: Sword!"
Setelah mengucapkan kata-kata untuk memanggil sebuah pedang pertamaku yang diciptakan dari tulangku sendiri. Aku sadar bahwa sihir itu benar-benar bekerja karena perlahan-lahan aku bisa melihat gagang pedang itu yang terletak di dada-ku sendiri. Bone Creation itu sihir yang mampu menciptakan apapun dengan hanya menggunakan tulang-ku sendiri, proses cukup lama dan menyakitkan karena tulang-tulangku awal-awalnya pernah patah karena memaksakan diri.
Aku memegang gagang pedang itu lalu menarik pedangnya keluar sampai bilah pedang itu mulai terlihat, aku mulai mengangkat pedang ku ke atas dan mulai melakukan kuda-kuda berpedang, "Baiklah...!" Aku tersenyum karena pedang tulang yang aku ciptaan-kan terlihat keren.
Aku melihat sekeliling untuk mencari tumbal dan beruntungnya aku melihat pohon merah yang cukup besar di depanku, aku mendekati pohon itu lalu menyentuhnya dengan telapak tangan kiriku. Hal yang aku rasakan adalah batang itu keras sekali. Setelah selesai melakukan observasi terhadap pohon merah itu, aku memutar pedangku lalu menebas pohon itu dengan sekuat tenaga dan pohon itu terbelah menjadi dua seketika.
"Hoo...! Kali ini satu tebasan saja sudah cukup...!?"
Aku dengan penuh semangat langsung mencari pohon yang baru, aku melihat beberapa pohon-pohon merah di bagian barat lalu aku melesat menuju arah pohon-pohon itu dengan kedua kakiku yang bergerak cukup cepat. Aku menebas semua pohon itu secara vertikal dan horizontal sampai semua pohon itu terbelah menjadi beberapa bagian. Semua kecepatan dan bahkan pedang tulang-ku yang tajam ini memberikan hasil bagus karena latihan dan kerja keras-ku sendiri. Ibu bilang bahwa aku masih belum terlalu mahir untuk menggunakan sihir penguat senjata atau penambah kecepatan karena iblis sangatlah lemah tentang kecepatannya, jadi mereka membutuhkan sihir yang mampu meningkatkan kecepatan mereka.
"Latihan hari ini sepertinya cukup..."
Aku menghela nafasku pelan lalu memasukan pedang tulang itu kembali ke dalam dada-ku, dada-ku bersinar putih seketika pedang tulang itu mulai masuk kembali ke dalam tubuhku, jika aku menghancurkan pedang itu maka aku harus menciptakan yang baru lagi, tadi aku baru saja menggunakan kemampuan [Bone's Storage] dimana aku menyimpan semua ciptaan tulang-ku di dalam tubuhku dan bersatu dengan tulang-tulangku sendiri.
"Baiklah...! Sudah saatnya untuk memberitahu ibu! Pasti aku akan mendapatkan kecupan di pipi atau masakan buatannya yang lezat~"
Aku sudah merasa tidak sabar untuk kembali pulang, kedua kaki-ku berjalan ke depan di iringi dengan semangat untuk bisa dikecup oleh Ibu bahkan perut-ku juga terus bersuara karena ingin makan yang selalu di sediakan ibu yaitu kepala goblin.
BAMMMMM!!!
Seluruh tubuhku dengan refleks berhasil menghindar dari kemunculan api hitam kebiruan yang ada di depanku, awalnya aku tidak menyadari sesuatu tentang keberadaan sihir yang berbahaya seperti api mimpi buruk, tetapi aku cukup beruntung karena insting iblisku mendeteksi segala serangan diam-diam. Kemampuan iblis memanglah hebat sehingga mereka tidak bisa diserang secara diam-diam karena [Death Instinct].
"Jika kau berani maka tunjukan dirimu."
Aku sudah bersiap siaga ketika api itu muncul dengan tiba-tiba, dada-ku mulai mengeluarkan pedang tulang ciptaanku lalu aku menariknya keluar menggunakan tangan kananku. Api itu lama-lama mulai membesar dan sepertinya aku tidak mendapatkan respon apapun dari seseorang yang mengeluarkan sihir [Nightmare Flames]
"Ini pertama kalinya aku melihat bangsa iblis yang bersikap pengecut sepertimu. Aku memberimu satu kesempatan untuk menampakkan wujud aslimu itu!"
Lagi-lagi tidak ada balasan, aku mulai merasa tidak percaya diri karena bisa saja seseorang yang menyerangku secara diam-diam itu sangatlah kuat bahkan lebih kuat dariku sendiri. Bangsa Oni harus percaya diri, jika aku bersikap seperti itu maka aku bukanlah Oni Yusakage! Lebih baik aku menyerang-nya terlebih dahulu agar ia tidak melakulan serangan lainnya.
Aku langsung mengayunkan pedang-ku dengan sekuat tenaga sehingga melepaskan dorongan besar yang menghapus semua api-api itu, sesosok makhluk berjubah ungu muncul berhadapan denganku, meskipun wajahnya tertutup tudung jubahnya namun kengerian terus terasa ketika menatapnya.

"Muehehehe.... Muehehehe...!!!"
Makhluk itu mulai tertawa dengan nada yang terdengar mengerikan, aku tanpa basa basi maju ke depan lalu menendang makhluk itu sampai ia terpental ke belakang. Walaupun dia mengerikan dan memiliki penampilan yang sangar, aku tidak peduli dan langsung menyerangnya saja.
"OI...!!! APA YANG SEBENARNYA KAU PIKIRKAN!?"
Makhluk berjubah yang terlihat mengerikan itu baru saja marah karena aku menyerangnya dengan tiba-tiba, nada-nya yang tadi terdengar mengerikan mulai terdengar seperti iblis yang berbicara dengan nada biasa. Makhluk berjubah itu mulai kembali melayang, aku tidak bisa melihat ekspresinya dan itu tidak membuatku peduli sama sekali karena aku akan menyerangnya lagi.
"BERHENTIIIIIIIIIII!!!"
"Apa...?"
"Aku ini bukanlah musuh-mu, Yusa...!"
Yusa...? Apa dia baru saja memanggilku Yusa...? Bagaimana bisa makhluk misterius ini mengetahui nama panggilan-ku, apakah aku pernah bertemu atau mengenalnya? Kalau tidak salah sejak bayi aku pernah berbicara dengan sebuah pedang, pedang itu juga bisa berbicara dan melakukan pergerakan layaknya seperti iblis.
"Luz...? Apakah itu kau...?"
Tanya diriku karena sejak bayi aku mengingat sebuah pedang bernama [Luz Demonio] mengajakku berbicara walaupun aku masih bayi dan sepertinya kemampuan-ku yaitu [Demon's Memories] membantuku mengingat atas semua kenangan dan bahkan kejadian ketika aku masih bayi sampai berusia empat tahun ini.
"Hohoho~ Bangsa iblis ternyata memang unik terhadap daya ingat mereka yang abadi, sepertinya aku berbicara dengan seorang bayi tidak sia-sia karena di masa-masa dewasanya pasti dia akan mengingatnya, contohnya itu dirimu, Yusa."
"Aku tidak percaya bahwa Moirai Arma ternyata bodoh juga karena sudah berbicara dengan seorang bayi."
Sindirku sehingga membuat Luz merasa kesal, walaupun aku tidak bisa melihat wajah dan ekspresinya, tetapi aku bisa melihat jelas bahwa api mimpi buruk-nya menciptakan rautan kesal di sebelah wajahnya.
"Yusa... Dasar kau bajingan, walaupun kau berusia empat tahun, tetapi sikapmu sama persis seperti seorang badung!"
"Hahaha, aku hanya bercanda kok, Luz. Aku sudah tahu semuanya berkat dirimu bahkan sebagian dari asal-usul tentangmu dan semesta dimana bangsa iblis tinggal yaitu Zuusuatouri."
Kata-kata yang aku ucapkan mampu membuat Luz merasa tenang dan senang sehingga ia berputar di sekelilingku, syukurlah aku bisa membuatnya senang karena aku harus berterima kasih kepada Luz yang sudah memberikan beberapa informasi penting yang panjang walaupun ada yang tidak berguna sejak aku masih bayi.
"Pujian-mu itu sangat aku terima, Yusa. Sepertinya semua pemilik-ku terkadang bisa bercanda dan suka memberi pujian yang terdengar menarik. Setidaknya kau sudah mengerti bukan...? Aku adalah Luz Demonio, sebuah pedang yang akan kau angkat demi menghentikan segala peperangan."
Aku mengangguk, Luz Demonio adalah senjata utama-ku dalam segala pertarungan dan petualangan yang akan aku alami ketika sudah besar. Sudah menjadi takdir-ku untuk menjaga Luz dengan baik dan benar serta menjalankan tugasku sebagai iblis takdir.
"Baiklah, Luz! Sudah saatnya dirimu untuk berubah menjadi wujud pedang-mu itu!!!"
Perintahku karena aku sudah mengumpulkan kepercayaan diri untuk bisa mengangkat Luz Demonio.
"Perintah-mu akan aku laksanakan dengan segara, Yusa!"
Wujud asli Luz mulai terlumuri dengan aura kegelapan yang sedikit menyengat tubuhku, makhluk berjubah itu perlahan-lahan mengecil sampai ukuran seekor semut lalu membesar dan membentuk sebuah pedang yaitu wujud pedang dari Luz Demonio. Aku merasa terkesan melihat pedang Luz Demonio dengan kedua mataku, berbeda ketika aku masih bayi dimana aku menganggap semua itu sama.

[Illustrasi pedang Luz Demonio - Source: Pinterest]
Bilah yang memiliki warna merah dimana terdapat beberapa sisi-sisi tajam, gagang yang berwarna hitam serta bilah silang juga memiliki warna yang sama dengan gagang-nya. Warna merah dan hitam terlihat sangat mencolok jika bersama, tetapi ada yang aneh dari pedang itu adalah... Warna dari kenop-nya itu emas dan hal itu cukup mengganggu untuk warna dari bilah dan gagangnya.
Sudahlah, bodo amat! Setidaknya aku mendapatkan pedang utama-ku yang akan bertahan selamanya! Dengan diriku yang mengangkat pedang ini... Itu artinya petualangan-ku sudah mulai!
"Baiklah, Yusa. Silahkan gunakan aku untuk tujuan yang harus kau selesaikan."
"Baiklah!!!"
Teriak diriku dengan penuh semangat, aku tanpa basa basi lagi memegang gagang dari pedang itu menggunakan tangan kanan lalu mencoba untuk menarik-nya.
"... ..."
Aku mencoba untuk mengangkatnya, tetapi tidak bisa karena pedang itu terasa berat sekali.
"Ehh...?"