Luz Demonio

Luz Demonio
63 - Tidak Bisa Kembali



"Oni Rxeonal, sekarang aku mengerti betapa ****-nya dirimu." Master muncul di belakang Rxeonal sambil menyenderkan punggungnya di pohon itu, ia tersenyum terkesan melihat Rxeonal rela meraih kedamaian untuk membunuh siapapun yang ia percayai dan sayangi termasuk anaknya sendiri.


"Aku bodoh juga untuk tidak menyadarinya dari awal bahwa tujuan-ku akan cepat selesai jika aku bertemu denganmu lebih awal. Tujuan kita sama tetapi cara kita itu berbeda, sepertinya kau telah mengetahui identitas asli Rxe."


"Tentu saja itu kau, seorang Legenda sangatlah mahir dengan ilusi dan aku sudah yakin bahwa kau setengah darah dari Comi yaitu Master akan mencoba untuk membawa-ku menuju jalan pintas untuk bisa meraih kedamaian."


"Sekarang ini aku sadar bahwa pemikiran raja iblis sangatlah besar, mereka lebih strategis dan memiliki topeng asli di balik wajah mereka sendiri. Kau memiliki keluarga untuk bisa menutup dirimu yang asli bahwa kau adalah iblis penakluk sangat menakutkan, mereka semua menganggap-mu remeh karena kau sekarang memiliki keluarga."


"Karakteristik iblis memang tidak bisa aku sepenuhnya ketahui, dasar bangsa rendahan." Master tersenyum sinis.


Rxeonal hanya bisa diam sambil mendengar perkataan Master, ia memegang erat pedangnya selagi melihat keadaan desa Oni yang sudah di serang oleh pasukan Inugami.


"Sekarang aku sadar bahwa pedang yang aku berikan kepadamu itu... Raja iblis sepertimu pasti akan menggunakan kekuatan kehancuran itu demi meraih kedamaian yang kau selalu incar, kedamaian yang berbeda dengan yang lain termasuk pasukan aliansi."


"Jawab aku, Rxeonal. Sebenarnya sesosok iblis apa yang kau sembunyikan dariku?" Tanya Master.


"Kenapa kau ingin mengincar kedamaian...? Kenapa kau melakukan semua hal baik demi mendapatkan kedamaian itu sendiri?"


"Yang membantu dirimu untuk meraih kedamaian adalah pedang kehancuran itu, bukan jati dirimu yang asli atau kekuatanmu sendiri. Entah kenapa aku tidak bisa menggunakan cara yang kau lakukan saat ini untuk membunuh keluargaku sendiri, Rxeonal."


Rxeonal mulai tertawa jahat dan tawaannya itu mampu membuat Master waspada bahwa iblis satu ini benar-benar berbahaya, kekuatan dari pedang itu mulai mempengaruhi dirinya menjadi seseorang yang lebih berbahaya. Rxeonal mengalihkan pandangannya kepada Master dan ia tidak memiliki pilihan lain selain menjawabnya.


"Di pikir-pikir lagi, Legenda seperti dirimu hanya akan mengandalkan kekuatan dan jabatan untuk bisa meraih kedamaian. Identitas-mu itu tersembunyi dan aku tahu kau berasal darimana karena kedua sihir kuno yaitu [Crimson] dan [Sacred]."


"Hanya marga [Ghifari] dan [Comi] yang memiliki kedua sihir kuno itu, kesempatan besarnya kau ini adalah anak atau keturunan dari marga tersebut atau aku salah...?"


"Aku hanyalah seorang Legenda yang datang dari dimensi berbeda, masa berbeda, identitas-ku tidak penting untuk iblis sepertimu, Rxeonal."


"Kehormatan dan kemuliaan raja iblis seperti diriku yang lahir hanya untuk menaklukkan dan meraih kedamaian untuk dirinya sendiri, tidak ada gunanya berbicara dengan seorang iblis  yang bangga pada hal-hal seperti itu."


"Hehhh... Menarik." Master tersenyum sinis.


"Iblis tidak bisa menyelamatkan dunia, mereka dianggap rendah oleh semua ras termasuk dewa-dewi yang menciptakan mereka. Mereka menyebut metode tertentu untuk memerangi yang baik dan yang jahat, bertindak seolah-olah ada beberapa bangsawan yang pergi ke medan perang."


"ilusi seperti itu, yang dilakukan oleh Legenda sepanjang sejarah, telah menyebabkan banyak pemuda yang tak terhitung jumlahnya mati kemuliaan mereka, semua demi keberanian dan kemuliaan ini."


"Itu semua bukan ilusi! Bahkan pengambilan nyawa, sebagai tindakan Legenda, harus memiliki tujuan dan cita-cita. Kalau tidak, setiap perang akan membawa neraka ke alam semesta ini."


"Apakah kau pikir medan perang itu adalah tempat yang lebih baik dari neraka itu sendiri? Seharusnya ras yang harus di tatap rendah adalah bangsa Legenda itu sendiri, neraka itu sendiri. Tidak ada takdir atau harapan apapun di medan perang yang tersedih, iblis takdir-pun tidak dapat menyelamatkan kita semua."


"Hanya memiliki keputusasaan yang tak terkatakan, hanya kejahatan yang kita sebut kemenangan, dibayar oleh rasa sakit dikalahkan. Namun alam semesta tidak pernah mengakui kebenaran ini dan alasan untuk itu adalah, di setiap era, Legenda yang mempesona telah membutakan orang-orang dengan sejarah mereka dan mencegah mereka dari melihat kejahatan pertumpahan darah." Rxeonal mengepalkan tinju kanannya.


"Setelah aku menghabisi sampah yang ada di semesta ini maka aku akan segera menghabiskan seluruh bangsa Legenda, jika pasukan aliansi bersama bangsa-bangsa iblis lainnya masih berada di dunia iblis ini maka mereka hanya akan mengganggu-ku."


"Jika kau melakukan kejahatan karena membenci kejahatan, kemarahan, dan kebencian itu hanya akan melahirkan konflik baru, Oni Rxeonal, aku tidak tahu apa yang mengkhianati dirimu dan menyebabkan dirimu sendiri jatuh ke dalam keputusasaan di masa lalu. Cerita yang kau ceritakan mengingatkan-ku kepada Ayah-ku sendiri." Ucap Master.


"Namun kemarahan dan kesedihan kau hanya ditemukan pada mereka yang pernah mencari kedamaian. Iblis seperti-mu, aku yakin di dalam hatimu yang dulu terdapat sebuah cahaya yang mencoba untuk membuka sebuah jalan keadilan tetapi jalan itu di tutup karena kau terlambat."


"Dengan kita yang sama-sama memiliki tujuan untuk meraih kedamaian kita sendiri, kita dulu pasti mendapatkan kurang dukungan dan perhatian dari seseorang yang kita anggap penting bukan!?"


Rxeonal menunjuk leher Master dengan pedang yang ia pegang membuat Master sendiri hanya bisa diam sambil menatap kedua mata Rxeonal yang mulai berkaca-kaca, sesosok dirinya yang dipeluk dengan cahaya sepertinya mencoba untuk mensucikan jiwanya yang perlahan-lahan di peluk dengan kegelapan.


Waktu berbicara Master bersama Rxeonal berakhir sebentar lagi karena Master merasakan keberadaan Selvia yang mulai mendekat, Master hanya bisa mengangguk.


"Itu artinya kau ingin ikut bersama-ku dan melaksanakan apapun yang aku katakan walaupun aku ini seorang Legenda...?"


"Kau seharusnya bangga bisa mendapatkan kepercayaan dan hormat-ku, tujuan kita sama jadi apa salahnya saling bekerja sama. Setelah aku membasmi bangsa-ku sendiri maka kita siap untuk menghancurkan pasukan aliansi!" Ucap Rxeonal.


"Dimengerti." Master mengangguk dan menghilang.


Kepergian Master mampu membuat Rxeonal melepas pedang-nya sendiri dengan wajah yang terlihat putus asa, ia menundukkan kepalanya sebentar. Di saat yang bersama, di sisi lainnya terdapat Aldine yang sedang berdiri di dalam kamarnya sambil menatap jendela.


Rxeonal melirik ke belakang dan mereka berdua sama-sama memandang dari jauh tanpa salah satu dari mereka menyadari hal tersebut. Aldine mulai meraba jendela yang ada di depannya seolah-olah ia merasakan keberadaan Rxeonal dekat dengannya serta tatapan-nya juga terasa seperti memandangnya.


"... ..." Rxeonal menghela nafasnya panjang.


"... ..." Aldine menghela nafas panjang dan ia segera pergi meninggalkan kamarnya sendiri untuk bersiap berperang melawan pasukan Giblis.


"... ..." Rxeonal meneteskan beberapa air mata sambil menunjukkan ekspresi yang terlihat lebih putus asa, ia segera mengusap-nya karena keberadaan Selvia mulai mendekat.


***


[Sekarang]


Markas aliansi Truce Order telah sepenuhnya hancur karena serangan sihir Ceytamold, Master segera menghentikan Ceytamold secepatnya sebelum planet itu hancur dan menimbulkan kehancuran yang lebih besar. Tidak ada satupun korban yang selamat karena mereka semua sudah mati dan sebagiannya terluka cukup parah sampai tidak bisa bergerak.


Rxeonal dan Master masih berada di atas langit dimana mereka berdua tidak bisa dilihat oleh mereka, Rxeonal berencana untuk tidak menunjukkan jati dirinya yang asli kepada mereka sebelum rencananya mulai. 


"... ...!" Rxeonal melotot melihat beberapa pasukan aliansi yang kembali bangkit dengan kondisi yang pulih seketika, mereka semua bangkit secepat itu karena bantuan dari Alisha, seorang iblis yang memiliki sihir kuno [Scarlet].


"Scarlet... Sepertinya semua sihir itu dapat ia pentalkan." Master tersenyum kesal.


Beberapa pasukan aliansi bangkit karena Itsuki, Karla, dan Aldine menggunakan formasi yang dapat menciptakan pasukan mereka sendiri, pasukan terus bertambah serta bantuan dari berbagai bangsa juga datang berkat bantuan Zakhr dan Kurma.


"Cih, bantuan dari bangsa Onimusha dan Onigasaki datang sepertinya... Tetapi sayang sekali mereka tidak membawa ancaman yang asli yaitu raja mereka sendiri." Rxeonal menyilangkan kedua lengannya.


Vimu dan Mimu bangkit dengan kepala mereka yang terangkat tinggi, mereka menunjukkan penuh kehormatan kepada seluruh pasukan yang masih bertahan dan ingin memperjuangkan kedamaian demi semesta Zuusuatouri itu sendiri.


Bangsa Onimakura, Tyirfei, Onimusha, dan Onigasaki berkumpul menjadi satu menciptakan pasukan yang lebih kuat dan banyak, tetapi jumlah pasukan masih kalah kelak oleh bangsa Giblis, Ajin, dan juga Inugami.


"... ..." Sebuah dimensi terbuka lebar dimana Yusa bersama Kizura berjalan keluar dari dimensi itu membuat Vimu tersenyum karena pahlawan yang asli telah datang dengan persiapan penuh dari latihan yang diberikan oleh Kizura.


"... ..." Yusa memegang erat gagang pedangnya dan penampilannya mengalami beberapa perubahan dimana ia sekarang menggunakan sebuah zirah yang berwarna merah, merah yang menandakan bahwa zirah-nya itu terbuat dari api kemarahan.


"Aku sudah siap..." Kepala Yusa segera terlindungi dengan sebuah helm yang memiliki dua tanduk panjang dan tajam.


Elvano menyuruh mereka semua untuk menggunakan formasi lingkaran karena mereka semua berada di posisi yang sedang di kepung oleh pasukan musuh, tetapi mereka semua yakin dengan semangat mereka yang dapat membawa keajaiban yaitu kemenangan dalam melawan pasukan musuh.


"DEMI KEDAMAIAN...!!!" Teriak Yusa.


""DEMI KEDAMAIAN...!!!"" Teriak semua pasukan aliansi.