Luz Demonio

Luz Demonio
10 - Pertolongan Bagi Iblis



Wilayah yang ada di dalam dungeon dipenuhi dengan api berwarna hitam kebiruan, semua ini disebabkan oleh iblis berusia empat tahun yang baru saja melempar pedang berapi-nya ke arah gas yang mudah terbakar. Walaupun Yusa dan Alisha hanyalah dua iblis biasa, tetapi berkat rencana dan strategi yang mereka buat semua monster yang berjumlah banyak itu bisa sebagian terbasmi.


"Yusa...?" Alisha membuka lebar sayap-nya yang baru saja menangkap Yusa, berkat sayap itu Yusa terlihat baik-baik saja tidak ada luka setitik-pun di tubuhnya.


Tembok es yang terletak di depan Alisha hancur karena ledakan tadi, tetapi Alisha mendapatkan beberapa luka goresan dan itu membuatnya bersyukur untuk masih bisa bertahan hidup.


ZRAATTT!!!


Perut Alisha terkena tusuk dengan duri yang terdapat racun di dalamnya, Alisha melepas Yusa lalu ia menarik keluar panah itu dan menghancurkan, "Cih... Masih ada monster yang ingin mati sepertinya..."


Alisha mengeluarkan sebuah botol yang terisi cairan biru muda, ia membuka penutupnya lalu meneteskan-nya ke bekas tusukan agar racun yang ada di dalam duri itu tidak menyebar. Yusa bergerak menuju arah monster yang baru saja melukai-nya.


"HARGGHHH!!!" Yusa menghabisi monster ini dengan satu tusukan dari belati yang ia keluarkan, sepertinya semua monster yang tinggal di ruangan ini telah sepenuhnya habis oleh ledakan yang disebabkan oleh Yusa dan Alisha.


"Sepertinya monster tadi bisa bertahan karena duri-duri yang ada di sekitar tubuhnya..."


"Sepertinya begitu... Tadi itu cukup mengejutkan-ku, racun yang ia miliki sangatlah kuat."


Yusa dan Alisha menghampiri ruangan yang baru karena tidak ada monster lain yang harus di basmi, Alisha mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat buruk.


"Yusa..." Alisha meraih lengan kanan Yusa mencoba untuk menghentikan Yusa melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat di usia empat tahun.


Alisha mencium aroma darah dan bahkan benih kehidupan para monster yang tadi ia kalahkan, ia juga merasakan keberadaan jumlah monster yang besar di dalam ruangan terakhir dimana [Eateria] berada, semua monster yang ada di balik tembok sangatlah kuat bahkan Alisha dan Yusa sendiri tidak akan bisa mengalahkannya.


Yang membuat Alisha berhenti untuk masuk ke dalam ruangan selanjutnya adalah aroma menyengat yang ia rasakan, ia segara menghalang kedua mata Yusa untuk menghindari pemandangan yang tidak layak untuk dilihat oleh anak kecil sepertinya. Sebagian besar dari tubuh-tubuh iblis gadis berserakan dimana-mana dan bagian tubuh itu adalah alat **** serta payudara mereka.


"Hugghh..." Alisha merasa mual melihat-nya dan untungnya Yusa menurut kepada Alisha karena ia tahu bahwa terdapat sesuatu yang tidak layak untuk ia lihat.


Entah kenapa semua anggota tubuh memalukan iblis gadis bisa berserakan dimana-dimana, bukan hanya darah saja yang bergenang di atas daratan melainkan benih kehidupan semua monster itu juga. Bisa jadi semua iblis yang pernah diculik itu dijadikan pemuas nafsu dan setelah itu mereka memakan sisa-sisa tubuh yang lezat.


"Yusa, bisakah kau menuruti apa yang aku katakan...?"


"Tentu saja... Ibu bilang bahwa Alisha itu yang berkuasa, jadi aku harus menuruti apa yang diperintahkan dirinya. Jangan-jangan kamu menemukan sesuatu yang membuatmu takut...? Sisa-sisa tubuh iblis yang diculik...?"


"Iya, tapi... Aku senang bahwa kamu ingin menurut kepadaku." Alisha tersenyum, ia memberi kecupan kecil di pipi Yusa membuatnya terkejut serta membuat seseorang iri yaitu Luz.


Luz akhir-akhir ini tidak banyak bicara karena ia tidak mau memberi Yusa beberapa informasi yang ia ketahui, inilah saatnya untuk melihat kemampuan Oni Yusakage yang sebenarnya, apa dia mampu berjuang sendiri tanpa informasi yang ia dapatkan?


Alisha pergi menjauhi semua sisa-sisa tubuh yang tidak pantas untuk dilihat, ia menyuruh Yusa untuk duduk dan tetap menutup kedua matanya karena Alisha ingin mengubur semua sisa-sisa tubuh itu. Yusa mengangguk dan ia tidak pernah merasa penasaran bahkan membuka kedua matanya dengan sengaja.


"Anak pintar..." Alisha tersenyum, ia segera menghampiri semua sisa-sisa tubuh itu lalu mengumpulkannya di tempat yang jauh dari pandangan Yusa. Setelah ia mengumpulkan sisa-sisa tubuh itu, Alisha menggali sebuah lubang besar lalu memasukkan semua sisa tubuh itu ke dalamnya dan menutupnya rapat.


"Wahai iblis yang memiliki takdir buruk... Beristirahatlah di alam yang tenang."


"Kurasa tempat ini layaknya harus dimusnahkan sebelum korban iblis lainnya bertambah lebih banyak, monster yang tinggal di Mobster memiliki kecerdasan yang sama dengan para iblis, kemampuan dan nafsu mereka juga sama."


"[Eateria], monster yang sangat kuat dan bahkan bisa berkembang biak cukup cepat untuk menciptakan pasukan kecil... Walaupun anak-anaknya berukuran kecil, gigitan mereka itu terasa seperti ditusuk dengan jutaan pedang tajam. Di dalam ruangan itu juga pasti terdapat beberapa monster seperti [Kalavera] bahkan lebih kuat..."


Kedua kaki Alisha bergetar karena ia tidak mau dijadikan sebagai pemuas nafsu untuk semua monster itu, "Ughh... Kenapa aku lahir sebagai seorang Succubus!? Bisa-bisa aku menarik pandangan mereka semua dan menjadikan diriku sebagai tumbal...! Aghhhhh...! Bodoh! Bodoh! Bodoh!"


Melihat semua sisa-sisa tubuh yang berserakan dimana-mana, Alisha merasa menyesal bahwa ia tidak membawa beberapa iblis untuk ikut membasmi semua monster yang ada di Mobster. Andai saja Yusa dan Alisha memiliki beberapa rekan iblis, perintah raja Rxeonal pasti akan selesai dengan cepat.


"To...!!! long...!!! Tooo.... looongg...."


Suara gadis yang mencoba untuk mengatakan tolong mulai bergema di ruangan tersebut, Alisha mendengarnya dan segara menghampiri suara itu dimana ia melihat Yusa yang sedang berdiri. Ia menatap gadis itu dengan tatapan yang merendahkan serta gadis itu tidak memiliki kedua kaki dan lengan kanan, hanya lengan kiri.


"Yusa...!"


"Apa yang kau katakan?! Iblis wanita itu butuh bantuan..."


"Membantunya hanya akan membuatnya lebih menderita dari sebelumnya... Iblis terkadang membutuhkan pertolongan rata-rata untuk bisa mati atau dibunuh, pembunuh itu bisa disebut sebagai pahlawan."


"Iblis seperti dia sudah tidak memiliki kesempatan untuk menikmati kehidupannya lagi... Seluruh tubuhnya sudah rusak bahkan perlahan-lahan dia akan kehilangan nyawanya. Jika kau mencoba untuk menyembuhkannya maka... Menurut-mu apa yang akan terjadi...? Apakah iblis ini akan menikmati hidupnya yang damai...?"


"T-Tentu saja---"


"Tidak!" Potong Yusa, "Iblis ini pasti akan melakukan tindakan bodoh seperti bunuh diri, dia sudah kehilangan banyak keluarga... Kenapa aku bertindak seperti mengetahui semuanya? Itu karena iblis ini sekarat di dalam Mobster serta terdapat jumlah korban yang sudah mati... Itu artinya seseorang yang ia kenal atau cintai sudah mati terlebih dahulu dari dia, tetapi takdir masih memberinya belas kasihan." 


Apa yang Yusa katakan membuat Alisha yakin bahwa dia ini memiliki fisik seperti anak kecil, tetapi pikiran seperti iblis dewasa. 


Yusa memegang erat pedang tulang-nya dan bersiap untuk mengakhiri penderitaan yang dimiliki oleh iblis wanita tersebut, Alisha bisa melihat Yusa dimana ia tidak memiliki keseganan apapun untuk membunuh seorang iblis yang tidak berdosa.


ZRATTT!!!


Alisha tidak menyangka bahwa Yusa benar-benar akan membunuhnya dengan menebas tubuhnya, sisa tubuh iblis itu langsung Yusa bakar menggunakan api mimpi buruk. Hal itu membuat Alisha merasa takut kepada Yusa karena ia benar-benar tidak mengetahui apa arti dari belas kasihan.


"Dengan ini... Dia mati tanpa trauma dan kesakitan yang ia alami tadi, seharusnya dia sedang meanngis di alam yang damai." Yusa memasukkan pedang-nya ke dalam dadanya.


Yusa pergi menuju ruangan selanjutnya dimana ia disambut dengan sebuah pintu tebal dengan rantai yang menghalangi, sepertinya terdapat beberapa iblis yang pernah mengunjungi Mobster sampai titik ini. Di balik pintu itu adalah sesosok musuh yang membuat Yusa merasa dendam.


"Tunggu dulu, Yusa. Bagaimana jika kita merancang rencana lain seperti membawa bala bantuan...? Bukannya kita akan kalah karena jumlah dan kemampuan [Eateria]...?"


"Jika kamu takut... Silahkan untuk pergi meninggalkan tempat ini segara, Alisha."


"Jangan bersikap naif dan sombong seperti itu---"


"AKU TIDAK BERSIKAP SOMBONG ATAU NAIF!" Yusa mulai menaikkan suara-nya.


Alisha dikejutkan dengan suaranya yang tegas, "Coba kau pikirkan apa yang akan terjadi jika kau membawa bala bantuan...? Korban pasti akan terus bertambah walaupun kita bekerja sama, bahkan kita tidak tahu bahwa iblis yang mencoba untuk membantu kita itu serakah. Dia bukanlah iblis jika dia tidak memiliki keserakahan."


"Yusa..."


"Korban bertambah banyak... Seorang iblis berkesempatan besar untuk mengambil keuntungan dengan menjadi prajurit raja Rxeonal... Lebih buruknya lagi, tidak ada satupun iblis yang bisa kita selamatkan melainkan kita hanya bisa melihat kematian mereka! Hanya satu atau dua yang bisa kita selamatkan sedangkan jika kau membawa lebih maka ajal akan menjemput mereka yang tidak sempat untuk diselamatkan!" Yusa mulai meneteskan beberapa air mata.


"Lalu... Kenapa kita melakukan perintah berbahaya seperti ini...?" Tanya Alisha.


"Aku bisa menyelamatkan dirimu, Alisha... Kau juga bisa menyelamatkan diriku..." Jawab Yusa.


Alisha hanya bisa diam, dia tidak bisa berhenti di tengah jalan dan melarikan diri juga tidak bisa karena dia sudah diberi tanggung jawab besar oleh Alter untuk menjaga Yusa agar tidak terluka atau terbunuh.


Yusa menghancurkan rantai-rantai yang menghalangi pintu masuk itu menggunakan pedang andalan-nya, setelah itu ia melirik ke belakang dan menatap Alisha, "Keserakahan diriku adalah... Menyelamatkan seseorang yang mampu aku selamatkan tanpa harus kehilangan banyak orang yang tidak bisa aku selamatkan..."


"Yusa...!" Pipi Alisha mulai merona.


Yusa membuka lebar pintu besi itu sampai menarik semua perhatian monster yang ada di dalam ruangan tersebut, Alisha mengeluarkan sebuah botol berisi gas hitam di dalamnya lalu ia melemparnya ke atas dan menghancurkan-nya dengan sebuah batu kecil. Botol itu pecah dan mengeluarkan asap-asap yang menghalangi ruangan tersebut.


"Mari kita lakukan, Alisha...!"


"Aku bersama-mu, Yusa!"