
"... ..." Yusa perlahan-lahan membuka kedua mata-nya, di depannya terdapat Karla yang sedang menatap-nya dengan tatapan yang terlihat curiga bahwa sebentar lagi Yusa akan bangun dan ternyata benar.
"Sepertinya ramuan yang diberikan Vimu berjalan dengan sukses." Karla tersenyum.
"Apa yang kau maksud---"
Yusa tiba-tiba sadar bahwa seluruh tubuh-nya terasa membesar, ia secara refleks bangkit dari atas keranjang-nya untuk menatap dirinya sendiri di depan cermin.
Yusa melotot melihat sesosok iblis tampan di depan cermin dengan satu tanduk yang tajam, tubuh yang lumayan ideal untuk seorang prajurit. Tidak salah lagi Yusa tumbuh menjadi orang dewasa berkat bantuan dari ramuan Vimu.
"Apakah kau terkejut melihat penampilan-mu sendiri di depan cermin...? Hehehe, aku melihat seorang calon prajurit yang tampan." Karla tersipu merah.
"Aneh sekali... Aku tidak menyangka bahwa aku akan tumbuh dewasa secepat ini."
"Wajar untuk kita bangsa iblis, walaupun kita berusia masih kecil tetapi pikiran kita terus berkembang seperti kita bertambah satu umur, semua itu dapat terjadi karena pengalaman yang kita alami."
"Bangsa Iblis memang cepat beradaptasi dan belajar dalam setiap pertarungan yang ada. itulah kita bangsa iblis."
Yusa tiba-tiba mengkhawatirkan sesuatu yaitu Alisha dan juga Luz yang masih belum bangun. Karla menghampiri Yusa dengan sebuah senyuman dimana ia menunjuk pedang Luz Demonio yang terpajang di tembok.
"Luz Demonio... Entah kenapa dia masih tidak mau berbicara sampai sekarang, sepertinya perbuatan-mu mampu membuatnya kesakitan sehingga ia mengabaikan dirimu." Karla bisa tahu berkat bantuan dari [Hielo Demonio]
Hielo pernah berbicara dengan Luz sebelumnya dan respon Luz sendiri terdengar seperti kesal kepada Yusa.
"Apa yang telah aku lakukan...?" Tanya Yusa.
"Tatap-lah dirimu sendiri... Ingat-ingat lagi kejadian yang pernah kau lakukan ketika melawan bangsa Giblis... Pikiran dalam bertindak untuk mengeluarkan kekuatan dari Moirai Arma itu perlu dikontrol tanpa harus mengeluarkan-nya dengan seenaknya."
Yusa memejamkan kedua mata-nya, ia mulai berkonsentrasi agar pikiran-nya bisa kembali ke masa lalu dimana ia mencoba untuk mengingat kembali perbuatan yang pernah ia lakukan sebelum-nya.
Tidak memakan waktu yang lama ketika Yusa mengingat sebuah formasi terlarang bernama [Atroz Formation], formasi yang menyebabkan kehancuran besar kepada desa Sermina serta menggantikan posisi Luz.
Apakah itu yang membuat Luz kesal kepada Yusa sampai ia tidak mau lagi berbicara dengan-nya, itu yang Yusa pikirkan karena terkadang Moirai Arma memiliki sikap sensitif ketika pengguna-nya mencoba untuk menggantikan atau menyingkirkan dirinya sendiri.
"Atroz Formation...?"
"Kau mengingat-nya...? Atroz Formation, formasi yang dapat mengubah Luz menjadi kakak-nya yang bernama Atroz. Itu adalah formasi terlarang milik Luz dan seharusnya kau tidak menggunakan-nya." Karla menyentilkan kening Yusa.
"Awww... Sakit...!"
"Apakah kau sadar bahwa perasaan Luz tersakiti ketika kau menggunakan formasi tersebut...?" Tanya Karla.
"Aku tahu itu... Maafkan aku..." Ucap Yusa pelan yang baru saja sadar sekarang.
Yusa sudah menyakiti perasaan seseorang yang sangat penting di sekitarnya seperti Alisha dan Luz, sekarang ia menyesal karena mereka berdua tidak bisa berbicara dengan dirinya dalam waktu yang cukup lama.
"Apa yang harus aku lakukan selanjutnya, Karla...?"
"Aku akan melatih-mu, Yusa. Melatih jalan takdir-mu sebagai pengguna Luz Demonio. Bukan hanya aku saja yang melatih-mu melainkan beberapa dari kami akan melatihmu contohnya seperti Vier dan Kizura dimana mereka akn melatih-mu juga." Karla berjalan pergi meninggalkan kamar Yusa.
Yusa mengikuti Karla dan ia melihat banyak sekali anggota Truce Order yang sedang melambaikan tangan mereka kepada Karla. Yusa hanya bisa diam dan memikirkan tentang Luz, ia hanya takut bahwa Luz akan mencari pemiliki yang lain.
"Aku minta maaf..."
"Kenapa meminta maaf kepada-ku...? Bukannya lebih baik lagi jika kau meminta maaf kepada Luz?"
"Aku tahu itu... Hanya saja aku tidak bisa mengontrol emosi dan amarah-ku sendiri."
"Soal itu bisa kau serahkan kepada Kizura. Dia sudah bilang akan melatih dirimu dalam mengontrol emosi dan amarah." Karla tersenyum dan ia berhenti di depan pintu yang memiliki gembok merah.
Karla mengeluarkan sebuah kunci merah di dalam saku-nya dan ia mulai membuka gembok itu sampai terbuka. Karla membuka pintu yang ada di depannya sampai ruangan di balik pintu itu bisa terlihat dengan jelas.
"Wow..."
Ruangan di balik pintu itu adalah sebuah alam hijau dimana dunia iblis tidak akan pernah memiliki-nya. Tanaman hijau dengan oksigen yang terasa sejuk, ini pertama kalinya Yusa masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi dengan tumbuhan.
Hal itu mampu membuat pikiran dan hati-nya tenang seperti air yang mengalir. Semua beban dan pikiran buruk-nya mendadak hilang ketika menghirup oksigen yang sejuk dan melihat semua tanaman.
"Di tempat sedamai dan setenang ini. Kita bisa menikmati latihan kita." Karla menutup pintu yang ada di belakang-nya dan ia sudah menyiapkan sebuah pedang yang terbuat dari darah es.
"Apakah kau sudah siap untuk berlatih ilmu pedang, Yusa?"
Yusa menarik nafas-nya dalam-dalam dan menghembuskan-nya keluar. Semua tanaman itu mampu memberi dirinya sendiri sebuah motivasi yang besar untuk bisa menjadi iblis takdir yang layak serta pengguna Luz Demonio yang pantas.
Yusa menciptakan sebuah pedang tajam dari tulang-nya, "Aku sudah siap."
Yusa tersenyum dan mulai menunjukkan kuda-kuda bertarung milik Ibu-nya.
Pergerakan yang sama cepat mulai bereaksi, Yusa dan Karla saling menukar serangan dari pedang yang mereka pegang.
TRAAANG! TRAANG! TRAANG!
Dengan hanya latihan menggunakan mata, bangsa iblis Oni rumor-nya dapat mempelajari musuhnya dengan hanya melihat pergerakan musuh itu sendiri. Ilmu pedang Yusa itu masih kurang dan Karla masih harus menganalisis-nya sampai ia benar-benar mahir dalam menggunakan pedang.
Kedua pedang mereka teradu secara bersamaan, salah satu dari mereka masih belum mengenai sasaran mereka. Pedang mereka terus berbenturan sampai hancur menjadi beberapa bagian tetapi mereka terus menciptakan senjata baru yang berbeda seperti tombak dan belati.
Karla terkesan melihat Yusa yang cepat belajar, ilmu berpedang dan dalam menggunakan senjata apapun mulai berkembang sedikit demi sedikit. Kemampuan mereka berdua terlihat berbeda, tetapi Yusa lebih berdominasi terhadap daya serangan dan tenaga yang lebih besar.
Yusa dan Karla sama-sama berkeringat karena sudah menghabiskan waktu berlatih selama satu jam, serpihan es dan tulang berserakan dimana-mana, mereka segera membersihkan tempat itu agar ruangan itu bisa terus terlihat damai.
"Apakah kau lelah, Yusa...?" Tanya Karla dengan sebuah senyuman.
"Tidak... Sepertinya yang menanyakan hal itu lah yang lelah." Jawab Yusa.
"Ohhh... Berani sekali ya kau kepada seseorang yang lebih tua darimu."
"Maafkan saya, kak Karla. Tolong ajarkan saya lagi tentang ilmu senjata." Ucap Yusa dengan geli.
"Ahaha... Ayolah, jangan mengatakan itu. Aku jadi malu...!" Karla menghalang wajah-nya.
"Aku hanya bercanda kok." Yusa selesai membersihkan tempat itu dari semua sampah yang berserakan.
Mereka bercanda sebentar agar mereka tidak merasa lelah kembali. Setelah itu mereka kembali berlatih dengan saling bertukar serangan, mereka sudah bisa menyerang sasaran mereka sekarang.
"Sudah saatnya kita masuk ke fase selanjut-nya..."
"Fase selanjutnya...?"
"Iya, apakah kau tahu nama dari energi sihir kita bangsa Iblis?"
"Sepertinya tidak."
"Heehhhh...!? Kau tidak mengetahui nama dari energi sihir iblis...? Apakah tidak ada satupun bangsa Oni yang mengetahui nama dari energi sihir bangsa Iblis?!"
"Tidak."
Karla menepuk wajah-nya sendiri, "Kak Aldine juga pernah sekali tidak mengetahui-nya, dasar..."
"Ehem, energi sihir bangsa iblis itu bernama [Oui], [Oui] ini bisa bertambah setiap kita membunuh musuh atau mengubah darah yang ada menjadi sumber energi yang bernama [Oui]"
"Oui ya...?" Yusa mulai berpikir.
Karla mengacungkan jari telunjuk-nya dimana jari itu langsung terhalangi dengan aura merah berlapis hitam.
"Bisa kau lihat... Jari-ku telah dilumuri dengan Oui. Berbeda dari bangsa lain jika Oui kita habis maka kita tidak akan pernah merasa lelah atau lemah, Iblis faktanya lebih mendominasi dalam tenaga dan kekuatan."
"Bisa dibilang bahwa Oui itu hanya nilai tambahan untuk kita sendiri. Ada juga iblis yang tidak memiliki Oui dan akhirnya mereka tidak bisa menggunakan sihir, tetapi sihir itu bisa membantu dalam pertarungan juga loh."
Yusa mendengarkan semua perkataan Karla karena ia tidak mau informasi sepenting itu untuk terlupakan dengan sia-sia.
"Bagaimana cara mengeluarkan Oui?" Tanya Yusa.
"Emang-nya kau memiliki sihir?"
"Tentu saja. Api mimpi buruk." Jawab Yusa.
"Hooo... Kalau begitu cobalah untuk mengeluarkan sumber Oui-mu dari dalam tubuh-mu. Contohnya jari-mu itu, cobalah untuk dilumuri dengan sumber Oui."
"Bagaimana cara-nya...?"
"Sumber Oui bangsa Iblis terdapat di jantung mereka. Coba kau konsentrasi dan pindahkan sebagian Oui dari jantung-mu ke jari-mu itu. Pejamkanlah mata-mu dan bayangkan bahwa tanganmu itu seperti meraba jantungmu sendiri." Karla memejamkan kedua matanya.
Yusa memejamkan kedua matanya dan itu tidak membutuhkan waktu yang lama karena jari-nya langsung terlumuri dengan Oui.
"Aku berhasil...!" Yusa merasa senang melihat hasil-nya.
"Baiklah, sepertinya kau memang cepat belajar. Kau ini memang bangsa Oni yang hebat juga."
"Mari kita langsung ke inti-nya. Jika kau bisa menggunakan Oui maka aku akan melatih ilmu senjata dan ilmu sihir kepadamu sampai kau seratus persen bisa...!" Karla tersenyum.