
"... ..."
Rxeonal berdiri sendirian di atas atap markas itu sambil melihat langit-langit yang merah, perkataan Yusa tadi mampu membuat dirinya merasa bersalah, kedamaian memang tidak bisa ia raih dengan usaha atau sendiri.
"Usaha apapun itu... Aku sudah melakukannya. dengan segala yang aku miliki, bahkan aku sudah bekerja keras untuk meraih serpihan kedamaian untuk desa-ku sendiri."
Rxeonal duduk di atas lantai dan menyenderkan punggungnya dengan pagar besi, ia terus menatap langit-langit agar pikiran-nya bisa mengetahui sesuatu yang belum pernah ia ketahui tentang memperjuangkan kedamaian.
"Istriku Aldine... Anakku Selvia... Mereka berdua memanglah kedamaian, tapi hanya untuk-ku saja... Apakah kedamaian bisa di bagi untuk semua orang...?"
"Apakah menaklukkan sesuatu itu kedamaian untuk dirimu sendiri bersama dengan pengikutmu...?" Rxeonal menatap kedua telapak tangannya.
Tiba-tiba insting Rxeonal merasa sesuatu yang menyengat di depannya, aura kegelapan muncul di depannya menciptakan sesosok iblis yang memiliki penampilan sama seperti Rxeonal sendiri.
"Heh...? Apa yang aku lihat ini...?" Tanya Rxeonal.
"Sepertinya kau baru saja membangkitkan kunci kehidupan seorang iblis yang baru, diriku."
"Diriku...? Tunggu, kau ini sama persis seperti diriku."
"Itu karena aku adalah dirimu dari masa yang berbeda, Rxeonal. Kau bisa memanggil diriku dengan sebutan [Rxe]."
Rxeonal merasa bingung tentang membangkitkan kunci dari kehidupan seorang iblis, apakah dirinya di masa depan datang untuk memberi dirinya sendiri jawaban yang ia butuhkan?
Rxeonal mencoba untuk menyentuh Rxe tetapi kedua lengannya segera masuk ke dalam tubuhnya.
"Kau tidak akan bisa menyentuhku, jika aku memiliki wujud asli maka waktu bisa terancam dengan [Paradox]."
"Paradox...? Apa itu...? Aku tidak mengerti sedikit perkataan yang kau katakan ini."
"Dasar bodoh, kau memanglah diriku yang bodoh."
"Cih..." Rxeonal langsung menyerangnya dan itu membuat Rxe tertawa terbahak-bahak karena dirinya lagi-lagi melakukan sesuatu yang bodoh.
"Apa urusan-mu ke sini, apa yang kau mau dariku?"
"Kau sepertinya kesulitan untuk meraih kedamaian bukan...? Kau sudah muak kehilangan banyak sekali iblis yang kau percayai dan sayangi, dua kedamaian seperti Selvia dan Aldine tidak cukup ternyata."
Rxe tersenyum sinis, "Bagaimana jika kau mencoba untuk membuat kedamaian-mu sendiri demi menyelamatkan masa depan Zuusuatouri...?"
"Membuat kedamaian sendiri? Itu omong kosong, aku tidak akan mempercayainya begitu saja."
"Dengarkan aku, bodoh. Yang aku maksud membuat kedamaian sendiri adalah... Kenapa kau tidak kembali ke jati dirimu yang dulu dimana kau menaklukkan segalanya dan akhirnya membuat bangsamu bersama keluargamu sendiri bisa merasakan kedamaian."
Rxeonal melebarkan matanya ketika mendengar hal itu, ia baru saja mengingat hal itu bukanlah mustahil untuk di coba. Dulu bangsa Oni dan keluarga Rxeonal bisa merasakan arti dari kedamaian, tujuan Rxeonal tentang kedamaian berbeda dari Truce Order.
Kedamaian yang ia inginkan hanya untuk dirinya sendiri, keegoisan mulai mempengaruhi dirinya sendiri dan Rxeonal tidak memiliki pilihan lain selain mendengarkan perkataan Rxe.
"Aku mendengar..."
"Kedatangan Giblis mampu membuat semesta ini tidak bisa merasakan arti dari kedamaian, hal pertama yang harus kau lakukan adalah membasmi sebagaian Giblis itu dan menjadikan mereka sebagai rekan-mu sendiri Rxeonal."
"Yang kau maksud adalah... Jika semua Giblis berpihak kepadaku maka aku dapat menciptakan kedamaian dengan mudah?"
"Tentu saja, aku disini untuk membantumu. Aldine dan Selvia tidak cukup tetapi mereka cukup untuk memenuhi tujuanmu tentang kedamaian yang selalu kau impikan."
Rxeonal memejamkan kedua matanya untuk mengingat kembali tentang Aldine dan Selvia dimana mereka berdua akan selalu berada di belakang Rxeonal, mengikutinya ke segala jalan yang dirinya pilih.
Selama ini Rxeonal sudah sering melakukan kejahatan tetapi Aldine dan Selvia hanya bisa diam, tidak ikut campur karena Rxeonal melarangnya sedangkan Selvia dan Aldine hanya melakukan sesuatu yang mereka inginkan.
"Aku bisa mengabulkan segalanya untukmu, Rxeonal." Rxe mengulurkan lengan kanannya.
"... ..." Rxeonal hanya bisa diam dan berpikir.
"Apakah aku memilih jalan yang benar...?" Tanya Rxeonal.
"Setiap jalan dan pilihan memiliki konsekuensi tersendiri, aku akan selalu mengikutimu ke setiap jalan yang kau pilih" Ucap Aldine.
Rxeonal mengingat perkataan dari Aldine dan itu membuat dirinya meneteskan beberapa air mata karena dirinya sendiri tidak bisa melaksanakan tujuan Aldine yaitu membawa kedamaian untuk bangsa Oni atau bangsa Iblis.
"... ..." Rxeonal tidak memiliki pilihan lain selain meraih tangan Rxe.
"Pilihan bagus, Rxeonal. Kau memilih jalan yang benar untuk bisa meraih kedamaian." Rxe terkesan melihat Rxeonal sebagai seorang raja yang menerima tawaran-nya begitu saja.
"Jika aku membantumu dan kau lakukan apa yang aku katakan maka tidak ada lagi jalan untuk kembali, termasuk kembali kepada Aldine dan Selvia." Rxe memejamkan kedua matanya dan tiba-tiba aura kegelapan muncul di telapak tangan kanan-nya.
"Aku tahu itu... Setidaknya aku bisa meraih kedamaian untuk diriku sendiri... Kedamaian saja sudah cukup."
"[Sword of Beyond Destruction]."
Terciptalah sebuah pedang yang dilumuri dengan aura kegelapan, Rxeonal melotot ketika menatap pedang yang sangat legendaris, sejarah mengatakan bahwa pedang itu dulunya di pegang oleh dewa kehancuran untuk menghancurkan segalanya dengan sekali tusukan dan tebasan.
Melihatnya dengan kedua matanya yang terkesan, Rxeonal bisa merasakan kekuatan pedang itu yang masuk ke dalam tubuh dan pikirannya membuat insting iblis dalam menaklukkan dan membunuh menjadi lebih besar.
"Ini adalah takdir yang akan kau pegang, Rxeonal. Pedang kehancuran, pedang yang akan membantumu meraih kemenangan."
Rxeonal menggenggam gagang pedang itu dan seluruh tubuhnya terasa seperti dipenuhi dengan sensasi kekuatan yang hebat, ia tersenyum sinis dan melupakan tentang apa yang sebenarnya ia harus lakukan.
"Pedang itu akan bertambah kuat, bukan hanya pedangnya saja tetapi pengguna-nya juga akan bertahap-tahap memiliki kekuatan dari seorang dewa kehancuran."
"Bagaimana caranya...?"
"Bunuh siapapun, lebih cepatnya lagi jika kau membunuh seseorang yang kau percayai dan kenal." Rxe tersenyum sinis.
Rxeonal bangkit dari atas lantai dan ia mulai menyarungi pedang tersebut, ia sudah sepenuhnya siap untuk bertarung melawan pasukan Giblis, tetapi ia melebarkan sayapnya untuk terbang menuju desa Oni.
"... ..." Rxe tersenyum sinis.
***
Yusa perlahan-lahan membuka kedua matanya, tiba-tiba suhu tubuhnya terasa panas seolah-olah api seperti menyelimuti-nya, ketika ia mencoba untuk bangun ia sadar bahwa dirinya sedang berada di ruangan yang sangat panas dimana ia hanya melihat gunung berapi dan lahar-lahar panas.
"Kau akhirnya bangun, Yusa." Kizura mengontrol semua lahar itu lalu ia menciptakan beberapa gelombang lahar panas yang mampu membuat Yusa segera bangun dan berkeringat.
"A-Apa-apaan ini...!? Kenapa kau membawa-ku ke tempat seperti ini...!? Bukannya tempat ini sangat panas!?" Tanya Yusa dengan penuh emosi.
Emosi amarah-nya mampu membuat tempat itu semakin panas serta lahar-lahar yang ada disitu segera meledak dan menciptakan gelombang besar yang melesat ke atas, Yusa masih bisa bertahan hidup di tempat seperti itu karena kulit iblis itu sangatlah keras hingga bisa bertahan dari api sepanas apapun.
Yusa mulai bernafas berat serta keringat-nya mulai hapus karena suhu lahar yang terus meningkat, Kizura hanya bisa tersenyum dan menikmati rasa suhu api panas itu berkat amarah Yusa yang ia kumpulkan sejak kecil sampai sekarang.
"Mulai dari sekarang, aku akan melatih-mu agar kau bisa mengontrol emosi amarah-mu sendiri, mengubah semua emosi itu menjadi sumber kekuatan yang membantu dirimu untuk bisa berperang suatu saat, percayalah kepada bahwa amarah-mu sendiri saat ini adalah sumber kelemahan-mu."
Yusa hanya bisa diam dan menundukkan kepalanya, Kizura segera tersenyum kecil melihat Yusa yang menerima pelatihannya, sepertinya saat ini Yusa mencoba untuk menenangkan pikirannya dari kepanasan lahar-lahar di tempat itu serta beban yang mulai meningkat dan mencoba untuk membuat dirinya terjatuh.
"Kita berdua berada di dimensi-ku yang bernama [World of Wrath], tidak ada kedinginan atau suhu yang normal melainkan panas. Semua suhu panas dan lahar-lahar panas ini berasal dari semua emosi amarah yang ada di segala semesta termasuk inti semesta yang bernama [Touri]."
"Jika kau berhasil menyelesaikan semua tahap latihan yang di sediakan dunia ini maka kau sudah menjadi sesosok iblis yang baru, sesosok iblis yang dapat mengontrol amarah-mu sendiri dan juga amarah yang sudah kau kontrol itu bisa menjadi sumber kekuatan-mu yang baru!" Kizura menjentikkan jarinya.
Sebuah zirah yang memiliki warna seperti lahar muncul di seluruh tubuh Yusa dan menambahkan beban cukup besar sehingga ia hampir saja terjatuh, Kizura bisa melihat rautan wajah Yusa yang kesal tetapi sepertinya melampiaskan amarah di tempat seperti ini sama saja bunuh diri.
Kizura sepertinya tidak mengharapkan Yusa akan menenangkan hati dan pikirannya, apakah dia beradaptasi dari kesalahan yang ia selalu lakukan dalam menggunakan kemarahan? Yusa berdiri tegak di atas lahar api, menunjukkan ekspresi yang terlihat tenang serta pikirannya pergi menuju suatu tempat dimana ia sedang bertarung melawan Ceytamold.
"Kau menenangkan jiwa iblis-mu yang terus terpengaruh oleh amarah, bagus. Sepertinya kau melakukan dua tahap latihan yaitu mengontrol kemarahan serta mencari cara lain untuk bisa menang melawan Ceytamold." Kizura tersenyum.
Kizura tidak akan pernah membiarkan Yusa pergi dari dimensi-nya sendiri sebelum ia benar-benar siap, emosi amarah-nya itu harus ia kendalikan sepenuhnya, dimensi milik Kizura memiliki waktu yang berbeda dengan dunia iblis. Waktu berjalan satu detik satu jam di dimensi milik Kizura membuat mereka berdua berlatih dengan cepat tanpa harus menghabiskan waktu apapun di dunia iblis.
"Aku akan menjadi iblis takdir yang layak..." Ucap Yusa dimana kedua pupil mata-nya terbakar.