Luz Demonio

Luz Demonio
65 - Untuk Bisa Pergi



"Rxeonal...!" Aldine meneteskan beberapa air mata ketika melihat suami-nya yang datang untuk menyelamatkan dirinya, Rxeonal segera menghapus segala efek negatif yang ada di dalam tubuh Aldine dan setelah itu Aldine memeluknya erat lalu memberi Rxeonal sebuah kecupan di bagian mulut-nya.


"Aku senang kau baik-baik saja..." Aldine memeluk Rxeonal erat dan tangisan-nya bisa terdengar jelas di kedua telinga Rxeonal membuat dirinya hanya bisa diam.


Master melihat Rxeonal yang datang untuk menyambut istri-nya, kesempatan dirinya untuk berpihak kepada pasukan aliansi bisa saja bertambah karena Aldine. Ini kesempatan yang pas untuk Master menyerang Aldine dan Rxeonal, tetapi ia hanya diam dan mengalihkan pandangan-nya ke arah Ceytamold yang benar-benar tidak terkalahkan.


"Kenapa kau ikut berperang...? Bukan-nya kau sedang mengandung seorang anak...?" Tanya Rxeonal.


Selvia mengikat seluruh pasukan musuh yang mencoba untuk menyerang-nya dan pandangannya segera teralih kepada Rxeonal yang sedang memeluk Aldine, Selvia hanya bisa diam sambil menunjukkan senyuman-nya karena ia merasa bersyukur bahwa Ibu dan Ayah-nya sendiri masih bertahan di medan perang.


"Lebih baik kau pergi dari medan perang ini... Melarikan diri adalah pilihan yang terbaik untuk bisa selamat dari neraka ini." Suruh Rxeonal.


"Tidak bisa... Aku tidak akan melarikan diri tanpa dirimu bersama Selvia." Jawab Aldine.


"Jika aku ikut melarikan diri bersama kali maka kita semua masih akan tetap memiliki takdir kematian yang dekat, perang akan terus mengikuti seseorang yang kuat dan juga seseorang yang benar-benar ingin kedamaian."


"Kedamaian yang kau incar itu... Pasti kau lelah ya, mencoba untuk meraih-nya sendiri. Kau adalah seorang raja dan kau tidak pernah menggunakan jabatan itu untuk bisa meraih kedamaian yang selalu kau incar." Aldine meraba kedua pipi Rxeonal.


"Melarikan diri juga bisa di sebut tahap untuk meraih kedamaian, aku tidak mempercayai bahwa kedamaian akan terus menjauh dari bangsa Iblis karena aku bisa merasakan kedamaian berada di depan-ku... Itu dirimu, Rxeonal." 


"Tidak... Aku bukanlah kedamaian yang kau incar, aku tidak bisa menghentikan kegilaan dari pasukan Giblis."


"Itu karena kau membutuhkan seseorang yang bisa membantu, seseorang yang dapat kau andalkan agar bisa meraih kedamaian yang kau mau, sayang. Jika kau terlalu lama berjuang sendirian maka kutukan iblis bisa saja memeluk-mu yaitu kutukan kerakusan dan juga kelicikan."


Rxeonal tidak bisa berbicara apa-apa lagi kecuali diam menatap kedua mata Aldine, kedua mata-nya meneteskan beberapa air mata karena ia tidak bisa melakukan apapun kecuali melihat Aldine yang bisa saja terbunuh karena perang penentuan ini.


"Sudah terlambat..." Rxeonal menangis.


"Masih belum terlambat jika kau mau melarikan diri bersama-ku. Kita pasti akan selalu bersama bahkan bisa memenuhi tujuan kita untuk meraih kedamaian."


"Aku ingin dihentikan secepat mungkin, aku ingin seseorang memberi diriku sesuatu yang pantas diberikan yaitu kematian. Aku ingin bisa bebas dari kesakitan dan juga kerakusan dari bangsa Iblis... Aku tidak bisa melakukan-nya karena aku tidak memiliki kekuatan itu untuk bisa melakukan semua yang aku mau..." Wajah Rxeonal mulai terlihat menyedihkan dan itu membuat Aldine khawatir sampai ia mengusap rambut-nya.


"Maukah kau menolong-ku, Aldine...?"


"Tentu saja. Aku sebagai istri-mu akan memberi jalan yang seharusnya kau tuju. Segala-nya, aku akan membantu-mu."


Rxeonal menundukkan kepalanya dan ia melepas pedang yang ia pegang, Master terlihat kesal karena Rxeonal sepertinya merupakan tujuan yang sama dengan dirinya. Ternyata seseorang dapat berubah oleh cinta dan itu tidak masuk akal sampai membuat Master merasa tidak sabar untuk segera menghabisi mereka berdua.


Ceytamold mengamuk sampai membuat daratan bergetar, seluruh pasukan aliansi mulai kehilangan banyak anggota karena pasukan Giblis yang bertambah kuat sampai Yusa tidak sempat untuk membunuh mereka. Ia melompat mundur dan mencoba untuk menyusun rencana lain bersama Elvano yang berlutut di atas tanah.


Rxeonal menggenggam tangan kanan Aldine erat dan ia memejamkan kedua matanya untuk berpikir kemana dia harus melarikan diri.


"Ayo, sayang---"


JBAAAASSSSHHHHH!!!


Rxeonal menusuk dada Aldine cukup dalam menggunakan lengan kanan-nya sendiri yang sudah terlumuri dengan sumber Oui yang dapat membuat lengan-nya itu menjadi pedang yang sangat tajam. Aldine melebarkan matanya melihat Rxeonal yang tiba-tiba menusuk-nya tanpa penyebab apapun.


"TIDAAAAKKK...!!!" Selvia melotot ketika melihat hal itu terjadi.


"Cih...!!!" Rxeonal menarik jantung Aldine keluar dan ia segera menatap wajah Aldine yang masih terlihat terkejut.


"Terima kasih, cinta-ku." Jawab Rxeonal.


"Aku.... men.... cintai... mu..." Aldine terjatuh di atas tanah dengan kondisi yang sudah tiada. Di kematian-nya ia masih bisa tersenyum sambil memejamkan kedua matanya.


Rxeonal hanya bisa diam dan menunjukkan ekspresi yang terlihat datar, ia tidak memiliki rasa penyesalan bahkan kesedihan melihat istrinya sendiri mati. Tetapi melihat wajah-nya yang terlihat senang itu dalam menghadapi kematian membuat dirinya segera membakar seluruh tubuh Aldine menggunakan sihir api-nya.


"A.... A...." Selvia masih melebarkan kedua matanya melihat Ibu-nya sendiri yang terbunuh oleh Ayah-nya.


Rxeonal bisa merasakan keberadaan Selvia yang tidak jauh dari-nya, ia segera mengalihkan pandangannya ke arah Selvia yang berdiri dengan ekspresi sedih. Rxeonal melotot melihat Selvia yang menyaksikan kematian ibu-nya sendiri, sepertinya dia tertangkap basah oleh Selvia dan ia harus segera membunuh Selvia sebelum ia memberitahu pasukan aliansi.


"Kenapa... Kenapa Ayah melakukan hal itu...?" Tanya Selvia dengan nada yang sedih.


"Aaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhh...!!! ****...!!! Kenapa kau membunuh Ibu...!? Kenapa kau membunuh seseorang yagn sangat kau cintai, Ayah...!?" 


Kegelapan mulai menyelimuti tubuh Selvia untuk beberapa saat, tetapi seluruh kegelapan itu hilang ketika sebuah cahaya melindungi tubuhnya sendiri. Kedua pupil Selvia berubah menjadi emas dan kegelapan itu muncul di sekitar-nya sebagai aura dan juga stamina yang tidak terbatas.


"Monstruo Demonio: Assault Formation...!" Selvia menunjuk katana Aldine dan katana itu segera terbang menuju arah-nya.


Rxeonal melotot melihat Selvia yang mampu mengangkat senjata Moirai Arma, ia tidak menyangka bahwa Selvia adalah calon dari iblis takdir sebelumnya dan sekarang ia sekarang berubah menjadi iblis takdir yang bisa saja membunuh-nya. Dengan ia menggenggam katana tersebut, Selvia bergerak cepat ke depan dan membuat Rxeonal tidak bisa melihat pergerakan-nya.


Rxeonal panik karena pipi-nya mulai mengeluarkan darah, kesakitan dari katana tersebut mampu membuat dirinya panik sampai ia menyuruh seluruh pasukan Giblis untuk menyerang Selvia. Selvia berputar menuju arah pasukan Giblis yang bergerak menuju arah-nya dan tidak memakan waktu lama untuk menghabisi mereka semua dengan satu tebasan dan pergerakan lincah.


Kombinasi kecepatan dan kekuatan Selvia sangat pas untuk membunuh seluruh pasukan Giblis itu, mereka tidak dapat bergerak mendekati Selvia karena dirinya sendirilah yang menghadapi mereka sampai tubuh mereka terbelah menjadi dua.


Rxeonal tidak bisa berkata apapun kecuali melihat Selvia yang bergerak cukup lincah, sepertinya ia melakukan pergerakan yang salah untuk membunuh Aldine di depan Selvia, seharusnya ia membawa Aldine ke suatu tempat.


"Anak-ku sendiri... Berubah menjadi Iblis takdir yang hebat...? Kenapa aku tidak menyadarkan-nya terlebih dahulu...! Sialan...!" Rxeonal mengangkat pedang-nya ke atas dan bersiap untuk bertarung melawan Selvia.


Selvia maju ke depan dan mencoba untuk menyerang Rxeonal tetapi Rxeonal berhasil menangis serangan tersebut dan ia segera menendang perut Selvia. Mereka berdua mundur ke belakang dan melompat ke atas saling bertukar serangan, tatapan tajam Selvia mampu membuat Rxeonal kesal.


"Ibu-mu itu lemah...! Jadi aku membunuh-nya demi bisa meraih kedamaian, pengorbanan diri itu dibutuhkan, Selvia...! Kau akan menjadi korban selanjutnya dan setelah kau mati maka kedamaian itu sudah dekat bersama-ku!"


Kedua senjata itu saling beradu dan tenaga mereka sama setara, Rxeonal tidak bisa melakukan apapun karena Selvia mampu menyerap api yang ia keluarkan. Tidak ada cara lain selain bertarung dengan hanya menggunakan pedang dan kabar baik-nya adalah cara bertarung Selvia itu sama dengan dirinya dan Aldine jadi Rxeonal memiliki kesempatan tinggi untuk menang.


Rxeonal dan Selvia mendarat di atas tanah, masih mendorong senjata satu sama lain. Tetapi Selvia berada di kondisi yang tidak baik karena jika ia mundur dua langka maka ia akan terjatuh ke dalam jurang yang dipenuhi api.


"Apakah kau rela membunuh keluarga-mu sendiri demi memenuhi ideal-mu tentang kedamaian yang tidak masuk akal...!? Apakah kau ini sebajingan ini, Ayah!?" Teriak Selvia.


Selvia melepaskan dorongan yang membuat Rxeonal terdorong ke belakang, ia segera mengayunkan katana-nya beberapa kali dan Rxeonal menahan serangan katana tersebut. Ia sempat terkejut karena bilah dari katana tersebut tidak hancur karena efek dari pedang kehancuran.


Dengan konsentrasi penuh, Selvia mengikat kedua kaki Rxeonal membuatnya terkejut. Selvia melakukan beberapa serangan yang mampu meninggalkan luka bekas di bagian kaki Rxeonal serta kedua bahu-nya sendiri.


"Ughhh...!" Rxeonal merasa kesal melihat putri-nya sendiri bisa menang melawannya.


Selvia menggenggam tangan Rxeonal yang memegang pedang tersebut lalu ia menggerakkan tangannya, memaksa dirinya untuk melepasnya. Rxeonal terus melawan dan itu membuat Selvia kehabisan kesabaran-nya dan langsung memutuskan lengan kanan Rxeonal dengan satu tebasan.


Selvia tidak berhenti melainkan ia berputar cukup cepat dan menebas wajah Rxeonal sampai meninggalkan luba tebas yang cukup besar di bagian mata kiri-nya, Rxeonal segera terjatuh di atas tanah menjatuhkan pedang-nya.


Selvia memasukkan katana itu ke dalam sarung yang terletak di pinggang-nya, setelah itu Selvia menatap Rxeonal kesal sampai membuat dirinya terkejut karena gaya bertarung Selvia sangatlah berbeda.


"... ..." Selvia mulai merasa bersalah ketika melihat Rxeonal yang kesakitan.