
"Legenda...? Ras apa itu...?" Tanya Yusa.
"Kau seriusan tidak mengetahui-nya...? Dasar bodoh, ilmu apa sih yang kamu dapatkan ketika kamu menjadi seorang iblis takdir?"
"Ayolah, jangan seperti itu. Kau daritadi memanggilku bodoh dan bodoh, bagaimana jika sekarang aku memanggilmu Itsuki si babi liar."
"Apa kau bilang?!" Itsuki terbakar dengan emosi hanya mendengar candaan Yusa, mereka berdua mulai saling bertengkar di tempat yang aman melupakan tujuan mereka yang asli yaitu menyelamatkan penduduk dan membasmi bangsa Giblis yang berada di desa [Kromato].
Itsuki memukul Yusa beberapa kali dengan pukulan pelan-nya, Yusa menyerang balik dengan menggelitik tubuhnya sampai ia terjatuh dan tertawa terbahak-bahak.
"Ahahaha...!!! Hahahahaha..!!! Hentikan...!!! Hentikan, bodoh...!!!" Itsuki tidak bisa menyerang karena rasa geli-nya.
"Beritahu aku secepat mungkin atau kau akan aku bunuh dengan kemampuan menggelitik-ku...!"
"Ahahaha... I-Iya...! H-Hentikan, bodoh...!" Itsuki mengeluarkan beberapa air mata karena ia terus merasakan geli.
Yusa berhenti menggelitik-nya dan Itsuki menatap wajah Yusa dengan ekspresi yang dingin. Ia mengembungkan pipi-nya karena anggota-nya sendiri mampu membuat lemah ketua-nya.
"Huhhh... Aku ini ketua-mu dan kau bisa membuatku lemah...!"
"Hehhhh... Mau di coba lagi?" Yusa menunjuk Itsuki.
"Tidak...! Tidak! Tidak!"
"Ahahaha, imut sekali."
"Ehh...? Imut...?" Itsuki tersipu ketika mendengat kata 'imut'.
"Yang aku maksud imut itu adalah tingkah laku-mu, jangan lengah seperti itu!" Yusa menyentuh kening Itsuki menggunakan jari telunjuk-nya.
Yusa dan Itsuki tidak berniat untuk menghabiskan waktu lainnya, mereka bergegas masuk menuju desa itu dengan diam-diam, mereka melihat banyak sekali Giblis yang sedang berkeliaran dan itu membuat insting membunuh Yusa membesar.
Tingkah laku semua Giblis itu terlihat aneh sekali, salah satu dari mereka berdansa sambil terbakar terus mati, setelah itu semua Giblis yang terbakar sampai mati itu melakukan fase fragmentasi pengorbanan diri.
"Dengar, Yusa... Bangsa Legenda atau ras, terserah kau mau manggil apa. Legenda itu adalah ras petarung yang hebat, hampir sama seperti kita tetapi jauh lebih besar karena kemampuan dan ilmu pertarungan mereka sangat luas."
Itsuki menjelaskan tentang ras Legenda sambil mencoba untuk mencari rumah yang kosong, Yusa bersama Itsuki akan memeriksa setiap rumah untuk mencari beberapa barang yang aneh seperti gambar tadi, siapatahu mereka juga akan bertemu dengan penduduk yang selamat.
"Bangsa Legenda adalah bangsa petarung...?"
"Iya. Mereka lebih dominan terhadap pertarungan yang adil dan kekuatan yang besar. Kita sebagai Iblis lebih dominan membunuh dan berperang."
"Aku bisa melihat perbedaan-nya dengan jelas sih..."
"Yahhh... Semua ras itu menurutku sama saja, lagipula aku sudah senang untuk bisa menjadi diriku sendiri yaitu seorang iblis takdir pemilik Mortaz Demonio."
"Hmph... Aku juga, setidaknya kita lahir sebagai iblis yang waras daripada bangsa Giblis bukan begitu?"
"Kali ini aku setuju denganmu." Itsuki tersenyum.
"Hehhh... Lihat senyuman itu, akhirnya aku berhasil membuatmu tersenyum." Yusa terkekeh.
BAGGGG!
***
Yusa dan Itsuki memeriksa beberapa rumah yang dipenuhi dengan sisa-sisa tubuh penduduk, tidak ada satupun barang penting yang mereka temui serta insting membunuh Yusa semakin mengkecil yang mengartikan bahwa mereka terlambat untuk menyelamatkan penduduk.
Yusa terbakar penuh dengan emosi melihat dari jendela dimana terdapat pemimpin pasukan Giblis yang membuat gunung dari bayi-bayi iblis yang menangis, Yusa mencoba untuk melompat keluar dari jendela tetapi Itsuki menggenggam tangan kanannya.
"... ..."
"Aku tahu... Tadi kita bercanda dan tertawa kecil, aku melakukannya untuk membuatmu merasa sedikit tenang, Yusa. Emosi dan amarah-mu itu harus di kontrol jika tidak maka kau sama saja dengan bangsa Giblis itu...!"
"Tapi...! Semua pasukan Giblis itu sudah keterlaluan untuk melakukan penyiksaan kepada bayi-bayi iblis itu...!!!"
Kedua telinga Yusa terus mendengar suara tangisan dan teriakan bayi, tangisan itu membuat jantung Yusa berdetak dengan cepat serta membuat seluruh tubuhnya bergetar ketakutan karena ia tidak tega melihat seluruh bayi itu tersiksa dan Yusa sendiri hanya bisa melihat tanpa menyelamatkan semua bayi itu yang terus menangis.
"Aku juga ingin melakukan hal yang sama, Yusa... Tetapi aku sudah belajar dan memiliki pengalaman, sikap naif-mu dapat membunuh dirimu sendiri termasuk membunuh diriku juga, kita berdua tertangkap basah oleh mereka maka pasukan Giblis yang berada di desa ini akan segera melakukan penyerangan selanjut---"
Insting Yusa dan Itsuki merasakan sebuah keberadaan yang menyengat datang menghampiri bayi-bayi yang siap untuk di bunuh itu, Itsuki membawa Yusa untuk menunduk karena keberadaan itu sama seperti keberadaan Master yang datang hanya untuk menggagalkan perang.
Master datang untuk mengumpulkan seluruh penduduk yang masih hidup dan ia menumpukkan mereka semua bersama dengan bayi-bayi itu, menciptakan gunung yang lebih besar. Semua penduduk itu mencoba untuk mencari pertolongan tetapi tidak bisa terdapat sebagian keluarga yang memeluk bayi mereka dengan erat.
Master menggunakan sihir-nya kepada seluruh penduduk agar mereka tidak bisa bergerak, Itsuki mengintip dengan hati-hati dimana ia melihat Master datang membawa penduduk yang masih hidup dan yang sudah mati. Kepala pria dan gadis iblis tergeletak dimana-mana termasuk kepala anak-anak dan bayi-bayi.
"... ...!" Itsuki segera sembunyi lagi karena ia tidak tahan melihat penyiksaan yang sangat sadis terhadap anak-anak termasuk bayi.
"Apakah kau melihat sesuatu yang berbentuk seperti gambar...?" Tanya Master kepada semua Giblis yang siap untuk membakar mereka semua.
Semua Giblis itu mengerti apa yang Master katakan dan mereka segera menolak membuat Master merasa khawatir, Yusa sudah tidak bisa menahan dirinya bersama dengan emosinya sendiri sampai ia tidak sengaja menghantam tembok yang terbuat dari bata. Master bisa mendengar suara sekecil apapun dari jarak yang jauh, ia segera mengalihkan pandangannya ke rumah dimana terdapat Itsuki dan Yusa.
"Tahan sebentar, Yusa... Aku mohon, bodoh...! Aku masih belum siap untuk terbunuh seperti ini...! Apalagi terbunuh karena kecerobohan-mu...!" Ucap Itsuki pelan.
"... ...!!!" Yusa mencoba untuk bangun tetapi Itsuki sempat menusuk punggungnya menggunakan satu belati dimana terdapat sebuah racun yang dapat melumpuhkan tubuh Yusa untuk waktu yang singkat.
Itsuki mulai berkeringat serta jantungnya berdetak cepat karena merasakan keberadaan Master yang semakin dekat, insting mereka sama-sama memperingati mereka untuk kabur tetapi tidak bisa karena jika mereka kabur maka Master akan menangkap mereka bahkan membunuh mereka bersamaan.
Itsuki berpikir cepat dimana ia menarik dua mayat yang terdapat darah-darah hitam atau darah busuk, ia mengambil beberapa darah itu lalu mengotori tubuhnya sendiri dengan darah itu, ia juga mengotori tubuh Yusa agar Master menyangka-nya bahwa Yusa dan Itsuki adalah mayat yang sudah busuk.
Itsuki memegang kepala Yusa dan ia segera menghantam-nya di atas lantai untuk mencoba menutup wajahnya karena Master sudah mengenal Yusa, Itsuki ikut menghalang wajahnya di atas lantai agar Master tidak mengenalnya dan memeriksa tubuhnya.
Master menghantam kaca jendela itu dan ia mulai melihat sekeliling rumah itu, dia tidak menemukan apapun kecuali setumpuk mayat yang sudah busuk. Master juga tidak menyadari tentang Itsuki dan Yusa yang sedang menyamar menjadi mayat.
"Cih... Menghabiskan waktu saja, hanya karena tikus aku bisa sewaspada ini. Bangsa Giblis lakukan apapun yang kalian mau dengan desa ini, jangan lupa untuk menghubungi-ku ketika menemukan barang penting milik-ku yaitu sebuah gambar." Master mulai melayang.
Semua pasukan Giblis itu sujud kepada Master dan Master segera menghilang. Itsuki dan Yusa segera membersihkan tubuh mereka dari darah yang sudah busuk itu, Yusa yang tadinya sudah lumayan tenang mulai mendadak merasakan emosi yang terbakar di dalam dirinya ketika mendengar teriakan semua penduduk desa yang selamat terbakar dengan api-api panas.
"Kejam sekali...!" Itsuki melotot ketika melihat semua penduduk desa ini sudah terbakar dengan sihir api yang sangat panas.
"Mereka...! Mereka...! Mereka membutuhkan bantuan-ku...!!!" Kedua bola mata Yusa bersinar merah, insting-nya telah berevolusi ke fase dimana instingnya sendiri dapat membantu untuk mendeteksi musuh yang memiliki ancaman paling besar. Biasanya musuh yang memiliki ancaman besar harus terlebih dahulu di hancurkan sebelum menyerang yang lain.
"[Luz Demonio: Assault Formation I]!" Yusa mengangkat pedang-nya ke atas.
"Formasi di dengar, segera melaksanakan formasi serangan ke satu!" Ucap Luz.
Yusa bergerak ke depan dengan kecepatan yang gesit, mampu menghancurkan rumah yang ditepati oleh dirinya. Itsuki mulai menepuk wajahnya dan ia segera mengikuti alur Yusa yaitu membunuh semua Giblis yang tinggal di desa ini sebelum mereka membuat pasukan yang tidak terbatas.
Insting Yusa membantu dirinya untuk menyerang pasukan Giblis yang membidik dari atas gerbang. Itsuki menyerang semua pasukan Giblis yang sedang membakar penduduk sampai habis bersama Yusa yang datang ketika selesai melaksanakan tugasnya yaitu menyerang pasukan Giblis yang dapat menyerang dari jarak jauh.
"... ...!"
Yusa mengalihkan pandangan-nya ke belakang dimana ia melihat Giblis yang sedang memegang kepala bayi kecil yang menangis ketakutan, emosi Yusa semakin terbakar serta amarah-nya ia gunakan sebagai kekuatan serta peningkatan kecepatan yang tidak bisa dilihat oleh Giblis di depannya.
ZBLAASSSHH!!!
"... ..." Yusa tiba di belakang Giblis yang sudah terbelah menjadi beberapa bagian itu sambil menggendong bayi yang menangis ketakutan.