Looking For A Destination

Looking For A Destination
rencana pindah



" apa kau sudah tidak waras? " teriak Sira pada hara dengan tatapan marahnya .


begitu juga hara ia menatap Sira dengan wajah benci.


Wijaya hanya melihat adegan itu tanpa bereaksi apapun dan orang-orang yang ada di lobi itu pun hanya terdiam melihatnya tidak berani berbicara .


" aku akan membunuhmu " teriak hara .


PLAKKKK


Sira balik menampar hara dengan keras , hara pun memegang pipinya yang terkena pukulan itu .


Wijaya segera menghampiri Sira dan memegang tangannya .


" kenapa ? kau mau membelanya ? kau kan bukan ayahnya ? " ujar Sira ia menatap Wijaya dengan marah .


" ya , dia bukan ayahku , karena ayahku tidak pernah membunuh seseorang " kata hara .


Wijaya terdiam mendengarnya hatinya benar-benar sakit saat anaknya menolak dirinya tapi itu juga bukan kesalahan hara dia sendirilah yang membuat anaknya membenci dirinya .


" kalian berdua sudah membunuh ibuku " teriak hara dengan keras .


hingga Rendy dan Ken pun sampai di kantor Wijaya beserta pengawal mereka .


Ken dan Rendy mendengar teriakan hara lalu ia bergegas menghampiri hara .


" hara " ujar Rendy iapun berlari lalu memegang tangan adiknya .


" aku , tidak akan pernah memaafkan pembunuh ibuku , kalian berdua aku tidak tau diantar kalian siapa yang membunuhnya tapi aku berjanji aku akan membuat hidupnya menderita " ancam hara .


" hhahaha , bukti apa yang kau miliki ? kau hanya anak-anak waktu itu kau tidak tau apa yang terjadi kan? " ujar Sira dengan tenang .


hara pun mengambil gelang itu dari saku nya .


" ini " hara menunjukkan gelang itu .


" gelang itu " lirih Sira dalam hati .


" itukan gelang yang aku pakai " gumam Wijaya dalam hati mereka tampak diam saat hara menunjukkan gelang itu .


" kenapa ? kalian takut ? " tanya hara .


" apa kalian lupa ? gelang ini adalah gelang orang yang menyekapku malam itu hiks hiks hiks , dan dibalik benda ini lihat ( hara menunjukkan huruf dibalik benda kotak berwarna silver itu ) w & s itu artinya Wijaya dan Sira " jelas hara .


Rendy dan Ken terkejut mendengarnya merekapun menatap wajah kedua orang itu penuh dengan kemarahan.


" cukup , hentikan . kau tidak bisa menuduhku seperti itu , hanya karena gelang bukan berarti akulah pembunuh nya . kau anak yatim hidup tanpa seorang ibu jadi aku tau kau benar-benar sedih " ujar Sira berusaha mempengaruhi hara .


" ya benar yang kau ucapkan itu benar aku anak yatim tapi itu kurang tepat karena sebenarnya aku anak yatim piatu . aku tidak punya orang tua baik ibu ataupun ayah semenjak hari dimana ibuku dibunuh " tegas hara .


" lebih baik kalian pergi sekarang juga , jangan mengganggu ketentraman rumah tanggaku dan juga perusahan kami " ujar Wijaya


.


" ayo hara kita pergi saja " kata Ken .


" dia benar hara " timpal Rendy .


" kau menyuruh seseorang untuk mengawasiku , bersiaplah karena aku akan menghancurkan mu segera mungkin " ancam hara .


" baiklah , lakukan jika kau bisa " Jawab Sira .


hara pun pergi meninggalkan mereka diikuti Ken dan Rendy dibelakangnya nya ia pergi rasa sakit hatinya begitu hancur benar-benar hancur .


" hara " Ken mengantikan langkah hara dengan memegang tangannya hara pun menatap Ken .


" jangan seperti itu lagi , berbahaya . jika kau ingin melakukan sesuatu jelaskan padaku aku akan membantumu " ujar Ken .


" tapi kalian membohongiku " jawab hara ia beralih menatap wajah Rendy .


" bohong ? " Rendy tidak mengerti apa yang dimaksud hara .


" kalian berdua berjanji untuk mengatakan apapun dan tidak berbohong sama sekali tapi maafkan aku , aku mendengar semuanya " jelas hara .


memang benar hara mendengar semuanya walaupun pintu kamar sudah dikunci tapi sebenarnya hara ada dikamar Rendy ia ada dikamar mandi Rendy karena kamar mandi di kamarnya sedang rusak ia pun meminjam nya tapi saat ia akan keluar ia mendengar semua itu .


" hara maaf bukan maksud kakak " ujar Rendy ia pun memegang bahu adiknya lalu menatapnya .


" aku tau mungkin kalian tidak ingin membuatku khawatir , tapi aku hanya tidak percaya jika kalian mengingkari itu " jelas hara .


" maaf " ujar Ken hanya itu kata yang bisa ia keluarkan dengan penuh penyesalan.


" aku akan menjelaskan semuanya " ucap Ken .


sesampainya di rumah mereka bertiga masuk kedalam kamarnya hara mereka duduk di kursi .


" aku akan menjelaskannya " ujar Ken .


" tidak usah , aku kan sudah mendengarnya " tolak hara .


" baiklah , tapi bagaimana kau bisa menemukan gelang itu ? " tanya Rendy yang penasaran.


hara pun menjelaskan semuanya dengan detil pada Rendy dan Ken .


" jadi aku memutuskan menemuinya di perusahan " kara hara


" tapi siapa orang itu ? bagaimana mungkin dia bisa masuk ke sini sedangkan kita memiliki keamanan yang ketat " pikir Rendy .


" orang yang ada dirumah ini " ujar ken


Rendy dan hara pun menatap Ken .


" ya , karena tidak mungkin jika orang luar , keamanan disini dijaga dengan ketat Tom dan Joy sudah memastikannya" jelas ken.


" benar , aku rasa kita perlu bantuan Jefry lagi dia selalu bekerja tanpa ada kesalahan apapun aku akan menyuruhnya kembali " kata Rendy .


" hmm , itu lebih baik karena aku tidak selalu ada dirumah saat hara keluar aku bersamanya jadi kita harus memanggil Jefry lagi " Ken menyetujui keputusan Rendy .


keesokan harinya


Jeny kembali dari Lebanon karena sudah hampir satu bulan disana ia sudah menjenguk ayahnya yang sudah membaik ia harus pulang untuk menemani bibi dan yang lainnya .


ia datang menggunakan taksi karena ia sengaja tidak menelpon orang rumah , sesampainya di depan pagar ia langsung turun dan dibantu supir mengeluarkan kopernya .


" jenyyyyyyy " teriak tom yang kegirangan dengan kedatangan Jeny ia berlari menghampiri Jeny dan memeluknya .


" ish kau ini , apa kau merindukanku hahha " ujar Jeny .


" lepaskan , yang ada tubuhku gatal-gatal " lanjutnya lagi .


" aku hampa tanpa dirimu , jangan pergi lagi aku sangat merindukanmu " tom kembali memeluk Jeny .


mereka benar-benar cocok comedy couple mungkin itulah kata yang cocok untuk mereka


" aku juga merindukanmu tom " kini jeny yang memeluk tom .


" mereka sudah gila " ujar nenek yang lewat dijalan itu .


sementara itu di kantor hara sedang bekerja menatap laptopnya banyak sekali lembaran yang harus ia tandatangani dan ia kerjakan .


karena ia seminggu hanya masuk ke kantor setidaknya 3 kali dalam satu Minggu .


Ken menemaninya bekerja untuk menjaga hara ia membantu hara dengan tulus .


mereka benar-benar seperti sepasang kekasih .


Ken pun berhenti sejenak dari lembaran nya dan menatap hara yang sibuk dengan laptopnya .


" apa kau benar-benar harus pindah ? " tanya Ken .


hara pun menghentikan pekerjaannya lalu menatap Ken dan tersenyum padanya .


" aku harus melakukannya , karena jika tidak orang yang ada dirumah dalam bahaya , maka akulah yang harus keluar untuk sementara waktu " jawab hara .


" aku selalu menunggu mu " ujar Ken .


" terima kasih karena sudah mau menunggu ku , jika kau ingin berhenti tidak apa-apa aku tidak akan marah " kata hara .


" tidak , aku tidak akan pernah berhenti untuk menunggumu , dimana pun kau berada aku akan selalu ada di sampingmu menjagamu dan menunggumu itulah prioritas utamaku sekarang hanya dirimu"


hara memegang tangan ken dengan erat .


" terima kasih karena selalu ada untukku " kata hara .


" dimana kau akan tinggal ? " tanya ken .


" saat aku lihat semua surat-surat itu ternyata ibu pernah membeli sebuah villa yang ada di dekat laut , aku akan tinggal disana , tidak ada yang tau jika aku Disana " jelas hara .


" aku akan menemanimu " tegas Ken .


" hmm ,baiklah " hara tersenyum pada Ken lalu kembali melanjutkan pekerjaannya .