
beberapa saat kemudian Rendy kembali membawakan minuman untuk hara dan Ken tapi hara tetap sedih air matanya memang tidak lagi keluar tapi raut wajahnya bisa dilihat jika ia sangat sedih.
lantas Rendy pergi meninggalkan dua orang itu entah kemana ia melangkahkan kakinya .
lalu Ken berinisiatif memberikan minum itu pada hara .
" minumlah , agar sedikit tenang " Ken menghadap kan tubuhnya ke hara sambil menjulurkan gelas itu lalu hara meminumnya .
kemudian hara menatap Ken dengan dalam dan Ken membalas tatapan itu .
" kenapa kau sangat peduli padaku ? " tanya hara dengan sendu.
" karena aku tidak ingin melihatmu menangis lagi " jawab ken .
" aku tidak akan menangis lagi mulai sekarang aku akan berjuang untuk ibuku " hara terus menatap mata Ken dengan dalam .
" maukah kau membantuku ? " tanya hara ia yakin Ken laki-laki yang baik, bertanggung jawab dan juga berani .
" aku tidak pernah menolakmu " tegas Ken .
lalu tiba-tiba Rendy datang membawa subuah kotak kecil ia langsung duduk di samping hara dan membuka kotak itu.
" apa itu ? " tanya hara ia penasaran isi kotak itu.
" kakak menemukan kotak ini dikamar ibu setelah kejadian itu " Jelas Ken .
dibukanya kotak itu dan ternyata isi kotak itu sebuah kalung didalam kotak itu ada surat kecil lalu Rendy memberikan itu pada hara .
" untuk putri kecilku , ini hadiah dari ibu di hari ulangtahun mu , ibu yakin akan terlihat cantik untukmu "
saat hara membaca itu hatinya berdesir hatinya sakit saat mengingat kembali semua memori 18 tahun yang lalu .
" ibu " lirih nya dengan pelan
lalu Rendy memakaikan kalung itu pada hara .
sangat cantik kalung emas putih bertengger di lehernya .
" bisakah kau menceritakan pada kakak tentang semua yang terjadi malam itu ? kakak hanya tau setelah ibu sedang di otopsi dan kakak juga tidak tau apa yang terjadi padamu " tanya Rendy dengan hati-hati .
ia ingin Tahu apa yang sebenernya terjadi malam itu .
tapi hara tetap diam Rendy yang melihat itu sangat mengerti keadaan hara mungkin ia masih sedih karena itu.
" tidak apa-apa jika tidak mau menceritakannya " ujar Rendy ia mengelus tangan adiknya .
" malam itu ... " ujar hara dengan terbata-bata.
Rendy dan Ken langsung mendengarkannya dengan saksama mereka ingin tahu kejadian yang sebenarnya .
" malam itu , aku dan ibu sedang di ruang tengah kami berdua menunggu kedatangan kakak tapi ibu bilang kakak akan terlambat karena pesawat yang kakak tumpangi memundurkan jadwal keberangkatan " hara berusaha tidak untuk menangis ia tidak ingin lagi membuat semua orang susah ia ingin bangkit dan berjanji pada dirinya tidak akan pernah mengangis lagi .
" Dan malam itu hanya ada aku Dan ibu dirumah , kami sedang merayakan ulang tahun ku malam itu seperti malam yang tidak akan pernah berakhir untuk ku , aku sangat bahagia ibu membawakan sebuah kue yg ibu buat sendiri lalu kami meniup kue itu " jelas hara ia terus menatap kosong pandangannya.
" setelah selesai , aku minta izin pada ibu untuk ke kamar kecil di kamar ku lalu ibu mengizinkannya setelah itu aku naik keatas sendirian saat aku sudah dikamar mandi tiba-tiba lampu padam aku sangat takut aku mencari senter tapi tidak ketemu lalu aku berteriak memanggil ibu , tapi tidak ada jawaban sama sekali . lalu aku berjalan pelan menyusuri rumah aku turun ke tempat sebelumnya tapi tidak ada ibu disana . "
Rendy dan Ken masih terus setia mendengarkan penjelasan hara .
" lalu aku kembali teriak memanggil ibu tapi sangat sunyi hingga aku menangis lalu kembali mencari ibu aku tidak tau dimana karena sangat gelap hingga aku terjatuh karena menabrak sesuatu aku mencium bau anyir tangan ku sangat basah seperti ada cairan kental yang nempel di tangan lalu tiba-tiba lampu kembali menyala dan " hara berhenti menjelaskannya ia kembali menangis walaupun ia sudah berjanji tapi tetap ia tidak bisa menahannya .
" jangan menangis , ada kakak disini " Rendy mengelus punggung adiknya .
dan Ken tetap memperhatikan hara bicara .
" lampu itu menyala aku lihat tanganku dan baju ku penuh dengan darah aku melihat kedepan tepat aku terjatuh tubuh ibu dipenuhi darah dan sebuah pisau di sampingnya hiks hiks hiks kakak .... " hara menangis sepuasnya .
Rendy langsung memeluk adiknya itu ia sedih mendengarnya ia pun ikut meneteskan air matanya.
Ken juga terkejut tentang apa yang hara ceritakan bagaimana mungkin anak usia 6 tahun mengalami hal yang mengerikan itu dia baru tau sekarang kenapa sikap hara bisa jadi seperti itu .
" tidak ada siapapun dirumah malam itu , aku menangis di pelukan ibu yang terus terbaring dengan lemah di lantai dapur itu aku tidak bisa berbuat apapun untuk ibu aku tidak tau apa yang harus aku lakukan hiks hiks hiks " hara terisak sangat hebat ia sakit dan sangat sakit.
" menangislah , kakak mengizinkannya " ujar Rendy ia memeluk adiknya dengan erat yang masih terus terisak itu .
" saat aku akan menelpon ambulance tiba-tiba seseorang datang memakai topeng wajahnya sangat seram aku berteriak dan aku tidak ingat apapun lagi . setelah aku bangun aku ada di rumah sakit dan tidak diizinkan oleh ayah untuk bertemu ibu . lalu wanita jahat itu datang ia menyuruh ayah pergi dariku lalu dia membawaku pergi dari sini "
" maksudmu ? Wijaya dan juga Sira ? " tanya Rendy .
lalu hara melepaskan pelukan kakaknya kemudian menatap Rendy dengan lekat .
" iya, dan aku yakin mereka berdua lah yang membunuh ibu " ucapan hara terbesit rasa marah dan juga kebencian didalamnya.
" aku akan membalaskan perbuatan mereka " tegas hara sekali lagi .
" jangan khawatir , kakak dan juga ken akan membantumu mewujudkan semua impianmu " ujar rendy .
" tapi , bagaimana caranya ? " tanya hara .
" untuk sekarang , kau tidak perlu khawatir , kakak sudah memulai nya " jawab Rendy .
" dan Ken tugasmu sekarang tolong jaga hara aku akan memberikan instruksi lainnya " pinta Rendy.
" kau bisa percaya padaku " Ken menganggukkan kepalanya .
" jangan menangis lagi , kakak tidak akan pernah membiarkanmu menangis lagi kau harus terus bahagia untuk sekarang dan selama-lamanya " Rendy tersenyum lalu memeluk adiknya mereka saling berpelukan dengan hangat .
lalu tiba-tiba ponsel Ken berdering ia langsung mengangkat nya .
" ada apa ? " tanya Ken dengan datar .
" ada seseorang yang datang kerumah , mereka bertanya tentang tuan Rendy dan juga nona hara " ujar Jeny di telpon .
" baiklah " Ken langsung menutup ponselnya .
ia kemudian kembali dan mendekat ke rendy dan juga Ken .
" Jeny bilang kalau dirumah ada yang menanyakan dirimu dan juga hara " ucap Ken .
" aku ? " hara bingung .
" ayo, kita temui dia " ujar Rendy .
" tunggu , apa hara akan menemui orang itu ? " tanya Ken ia khawatir mungkin saja itu orang akan menyakiti hara .
" tidak , kau akan tau nanti , ayo kita berangkat sekarang hujan juga sudah reda " lalu mereka semua kembali kerumah .
setibanya di rumah mereka langsung disambut oleh semua orang . mereka sudah berkumpul diruang tamu .
lalu ada seorang wanita paruh baya yang menghampiri hara orang itu menatap Tak percaya pada hara lalu berjalan mendekatinya .
sedangkan hara menatap bingung wanita itu .
" kau sudah besar Dan sangat cantik " katanya lagi .
dan hara pun semakin bingung dibuatnya ia tidak kenal siapa orang ini .
" kau siapa ? " tanya Ken yang waspada .
orang itu lalu tersenyum .
" apa nona tidak mengingatku ? aku Ratih aku sekretaris ibumu dulu " ujar wanita itu ya dia adalah Ratih sekretaris yang sangat Rina percaya bahkan sudah ia anggap seperti adik sendiri ..
hara kemudian berpikir dan mengingat sesuatu
" nyonya ratih? " ujar hara yang meyakinkan
" iya " Ratih mengangguk semangat .
" aku ingat " hara kemudian tersenyum padanya .
" akhirnya setelah sekian lama aku kembali bertemu dengan mu " Ratih sangat senang ia pun langsung memeluk hara Dan hara hanya diam saja walaupun ia mengenalnya ia sangat canggung Sekali karena setelah bertahun-tahun lamanya .
" ayo duduk lah dulu " kata Rendy .
lalu mereka kembali ke duduk di kursi itu .
Saat akan pindah tempat hara memegang tangannya ia menahan Ken .
hara menggelengkan kepalanya tanda jika ken harus tetap disamping nya dan Ken pun menuruti keinginan hara .
" satu Minggu yang lalu tuan Rendy menelpon kami jika nona hara kembali , kami berdua sangat senang karena perusahaan tidak akan membutuhkan kami lagi " ujar Dani ia adalah suami Ratih yang kebetulan saat dulu mereka bekerja bersama Rina mereka sedang berpacaran .
" kau tuan Dani kan ? " tanya hara yang memastikan .
" hmm , kau ingat diriku " Dani tersenyum pada hara .
" kedatangan kami kesini, kami akan menyampaikan beberapa hal penting sudah bertahun-tahun kami menjaganya untukmu seperti nya sekarang sudah waktunya untuk kami beristirahat " ujar Dani .
" maksudnya ? " hara bingung pada ucapan dani .
" hmm , begini nona saat kami diberi kabar jika nyonya Rina meninggal kami sangat terkejut dan semua orang di perusahaan sangat sedih lalu perusahaan terbengkalai begitu saja hingga suatu hari Rendy datang bersama seorang pengacara saat itu umurnya Baru menginjak remaja ia anak yang pemberani " ujar Ratih
" lalu pengacara itu memberikan sebuah surat wasiat pada kami dari keluarga bapak herman dan kebetulan saat bapak herman sudah tiada semua kekayaan yang ia tinggalkan jatuh di tangan nyonya Rina dan sekarang nyonya sudah meninggal jadi ini adalah suratnya " Ratih memberikan surat kuasa itu pada hara.
lalu hara menerimanya dan ia buka amplop itu .
beberapa point penting didalamnya tertulis disana
" *aku Rina hermania
menulis kan semuanya ini untuk anakku hara ku tersayang , jika suatu saat nanti ibu sudah tidak bisa bersamamu lagi ibu akan memberikan semua kekayaan yang ibu miliki ini untukmu dan juga kakak mu yang sangat kau sayangi , yaitu Rendy . tapi kakakmu menolaknya . ibu tidak bisa berbuat apa-apa lagi untukmu anakku , maaf jika ibu tidak bisa mengurusmu dengan baik . semua kekayaan yang ibu tinggalkan tidak bisa membayar semua kasih sayang ibu untukmu dan juga kakakmu .
adapun beberapa peninggalan ibu dari kakekmu untukmu diantaranya adalah .
perusahaan herman's corp dan juga perusahan lainnya yang ada di Amerika , Inggris , Korea dan juga beberapa negara lainnya .
beberapa hunian rumah dan juga tanah baik didalam negeri maupun di luar negeri.
dan juga seluruh tabungan yang keluarga miliki itu semua untukmu.
dan beberapa hal lainnya .
jika sebelum hara berumur 20 ia meninggal maka , seluruh kekayaan akan disumbangkan untuk amal dan juga beasiswa bagi seluruh pelajar dan yang membutuhkan .
untuk hal-hal lainnya pengacara Ridwan akan menjelaskannya dan juga aku mempercayakan Ratih dan Deni untuk semuanya .
bertanda tangan Rina hermania*
hara terkejut selesai membaca semua isinya ibunya meninggalkan semuanya untuknya .
" bagaimana aku menjalankan semua perusahaan itu ? " tanya hara
" kakak akan membantumu " jawab Rendy .
" jika nona sudah membacanya maka kami dengan sangat senang memberikan semuanya ini adalah berkas-berkas semua harta kekayaan dan warisan yang anda miliki aku harap nona menjaga semua peninggalan keluarga Herman dengan baik dan tentu saja digunakan dengan benar " ujar Ratih ia lega sudah bisa memberikan semuanya pada hara karena selama ini ia selalu takut akan Sira yang terus berusaha mencari semua kekakayaan Rina beruntunglah Rendy menyembunyikan di Amerika .
" baiklah kalau begitu sebaiknya kami permisi dulu " ujar Ratih yang berdiri lalu diikuti oleh Rendy .
" tunggu " hara menghentikan keduanya .
" tidak bisakah kau bekerja lagi bersama kami " sambung hara .
Ratih dan deny menatap hara kemudian keduanya tersenyum.
" aku rasa , ini sudah waktunya bagi kami untuk istirahat sejenak Nona . maaf bukan maksud kami untuk menolak hanya saja kami akan pergi dari sini dan melanjutkan hidup bersama anak cucu kami di Amerika " jelas Deny .
hara sangat sedih mendengarnya namun apa yang harus ia lakukan ia tidak bisa mengehentikan mereka karena itu hidup mereka .
" baiklah , tidak masalah . semoga kau selalu menjalani kehidupan yang bahagia Dan jika nanti kalian memerlukan sesuatu jangan sungkan untuk mengatakannya padaku " jelas hara .
" kami akan selalu mengingatmu " ujar Ratih.
" aku juga berterima kasih yang sebesar-besarnya untuk kalian " ujar Rendy dengan tulus .
" tidak Masalah dulu nyonya sering membantu kami , baiklah kami pergi dulu " mereka berdua berpamitan pada semua orang dirumah itu .
" aku akan menjaga semua ini Bu " lirih hara dalam hati .