
Ken tertegun mendengar ucapan hara itu apa benar hara mencintainya jika itu benar dia dirinya sangat bahagia .
dia tersenyum menatap hara yang masih memeluk tangannya itu.
" aku mohon jangan pergi lagi " lirih hara .
" tidak ... tidak aku tidak akan pernah pergi " Ken mengusap lembut rambut hara .
ia pun kembali matanya memutar mengelilingi kamar itu.
" sebenernya siapa ibunya itu , aku pernah melihatnya tapi dimana " Ken terus tenggelam dalam pikirannya itu .
lalu tiba-tiba hara mulai membuka matanya perlahan .
" kau disini " ujar hara yang masih berusaha membuka matanya itu .
" hmm " ujar Ken .
hara pun tersadar ia sedang memeluk tangan Ken lalu ia lepas tangan ken.
" ah ma.. maafkan aku , aku... aku tidak tau jika itu kau " hara terbata-bata saat mengucapkan ia takut Ken akan marah .
" tidak apa-apa " ujar Ken matanya terus menatap wajah hara yang sedang seperti ketakutan itu ia mengerti pasti hara tidak enak karena mungkin ia pikir aku akan marah .
" aku tidak marah " sambung Ken .
dan hara hanya tersenyum canggung padanya.
keesokan harinya rumah itu kembali seperti rumah yang diisi oleh keluarga yang bahagia .
mereka selalu berkumpul diruang tengah itu Sam yang selalu membuat suasana cerah . dia beruntung karena keluarga ini sudah menyayanginya dengan penuh hati .
ia berinisiatif untuk membuatkan semua orang minuman ia pergi menuju dapur , dapur itu tampak sepi tidak ada orang sama sekali ia mulai mengambil gelas dan juga nampan .
lalu ia mengambil jus jeruk di lemari es dan ia menuangkan itu di setiap gelas .
kemudian ia tak sengaja menjatuhkan pisau saat akan menaruh jus itu ia pun mengambil pisau itu .
" sammmmm " hara berteriak saat ia melihat Sam sedang memegang pisau .
" kakak " Sam terkejut mendengar hara berteriak padanya .
hara yang berdiri tak jauh dari dapur itu ia tidak sanggup untuk melangkahkan kakinya kesana .
" lepaskan Sam " hara berteriak lagi dirinya merasa sakit saat melihat itu .
ia pun khawatir pada Sam ia takut kejadian itu akan berulang.
semua orang pun datang melihat hara yang berdiri itu dan Sam yang gemetaran sambil memegang pisau matanya akan menangis .
" hara ada apa ? " tanya rendy dengan nada yang khawatir .
" lepaskan pisau itu sammm " teriak hara sekali lagi . Sam pun langsung menjatuhkan pisau itu lalu berlari memeluk ken .
hara menatap nanar tempat itu tubuhnya gemetar wajahnya yang pucat ia kembali mengingat semua kejadian itu bertahun-tahun yang lalu tubuh ibunya yang tergeletak di penuhi darah dan sebuah pisau berdarah .
" kau baik-baik saja ? " Rendy memeluk adiknya itu tapi adiknya tetap menatap tempat itu .
hara pun menangis sejadi-jadinya ia terisak mengingat semuanya ibunya tiada dihadapannya .
" disana " tunjuk hara tepat di posisi Rina tergelak tangganya gemetar saat menunjuk tempat itu .
lalu Rendy pun menenggelamkan kepala hara di dada nya .
semua orang tidak mengerti apa yang terjadi pada hara semaunya menatap seolah-olah banyak pertanyaan dalam dirinya.
sedangkan sam sedari tadi terus memeluk ken ia takut saat hara berteriak tadi .
" jangan menangis " Rendy berusaha menenangkan adiknya dalam pelukannya itu .
ia juga tidak mengerti apa yang terjadi malam itu yang hanya ia tau ibunya meninggal ditemukan tak berdaya didalam rumah .
" apa yang sebenarnya terjadi padamu sayang " gumam Rendy dalam hati ia sangat sedih atas segala penderitaan adiknya tapi bagaimana pun ia harus tetap kuat untuk adiknya itu .
" Sam ikut bibi dulu " Ken melepaskan pelukan Sam Dan Sam menuruti perintah Ken itu .
Ken pun berjalan mendekati Rendy dan hara .
" sebaiknya ajak dia duduk dulu " ucap Ken .
" ayo kita duduk dulu , tenangkan dirimu ya " Rendy pun membimbing hara berjalan lalu ia mendudukkan hara di ruang keluarga itu .
" minumlah ini " Ken menyodorkan air putih pada hara , hara pun menerimanya lalu ia meminumnya .
semua orang melihat hara yang sedang merasa sedih itu .
" maafkan aku Sam " hara ingat saat ia berteriak tadi mungkin ia sudah membuat anak itu takut ia pun menatap Sam yang tertunduk di pangkuan bibi.
" maafkan aku , aku hanya takut terjadi apa-apa padamu " hara berkata penuh pengelasan ia pun berdiri lalu menghampiri sam .
" kau mau memaafkan kakak kan " ujar hara ia menggenggam tangan Sam .
" kakak tidak marah padaku kan ? " tanya sam
hara menggeleng kan kepalanya.
" aku tadi takut , aku pikir kakak marah . kakak tidak salah aku tahu kakak mengkhawatirkan aku " Sam tersenyum menatap hara lalu ia memeluk nya .
bibi tersenyum melihat keduanya sudah tidak seperti tadi yang bersitegang .
" hmm sebaiknya bibi , Sam dan Jeny beristirahat dulu " ujar Rendy .
" baiklah " bibi pun membawa pergi sam keatas dilanjutkan oleh Jeny .
Rendy kembali menatap adiknya dengan khawatir .
" apa yang sebenarnya terjadi ? " tanya rendy ia berhati-hati bertanya karena mungkin itu akan menyakiti hara sedangkan ken terus berdiri di samping hara menatap keduanya .
" apa kau masih tidak mau menceritakan semuanya pada kami ? " tanya Rendy lagi
sedangkan hara masih terus diam .
" dimana ibu di makamkan ? " hara bertanya balik pada Rendy .
Rendy menarik kasar nafasnya kemudian ia menatap hara dengan dalam .
" kakak sudah mengurusnya " ujar Rendy .
" bagaimana bisa apa Sira tidak mengetahuinya ? " tanya hara .
" lalu dimana ibu dimakamkan ? aku ingin menemui ibu kak " lirih hara .
" besok kakak akan membawamu kesana dan juga Ken " jawab Rendy .
" aku ingin sekarang " putus hara .
" sekarang ? " rendy terkejut mendengarnya .
" ya " hara mengangukkan kepalanya dengan cepat .
" kondisimu sedang tidak baik besok saja ya " gumam Ken dengan lembut .
" tidak kak aku ingin sekarang , apa kakak tau bagaimana aku selama ini selalu bermimpi untuk bertemu dengan ibu? " hara mulai kesal pada Rendy ia menatap tajam kakaknya itu.
Rendy pun menarik nafas kasarnya .
" baiklah " Rendy akhirnya mengalah dengan hara .
lalu mereka bertiga bersiap-siap menuju ke pemakaman hara memakai baju berwarna hitam dan sebuah selendang yang menghiasi kepalanya .
setelah menempuh perjalanan selama 2 jam akhirnya mereka sampai di sebuah pemakaman elit .
lalu mereka bertiga turun dari mobil .
hara terus mengelilingi matanya itu di pemakaman elit itu .
" ayo " ajak Rendy
lalu Ken dan hara mengikuti Rendy berjalan di belakangnya .
hingga tibalah mereka di dua makam yang bersejajar yang tergantung di atas sebuah papan " Herman family "
hara menatap nanar dua makam itu matanya tertuju di sebuah makam tertulis " Rina hermania "
lalu ia berjalan ke arah makam itu ia duduk disamping pusara makan ibunya sendiri yang lah bertahun -tahun lamanya ia langsung menangis mengelus tanah yang sudah ditumbuhi rumput hijau yang tertata rapi diatasnya .
" ibu , aku datang " nada bicaranya berubah sangat berat ia tidak sanggup untuk berkata-kata lagi .
sudah bertahun-tahun lamanya tapi saat melihat makam didepannya itu sama saja seperti satu hari setelah malam tragis itu .
hiks....hiks...hiks
" kenapa ibu pergi hiks ... hiks ... hiks " isak hara .
Rendy ikut duduk disamping hara berusaha untuk tidak menangis .
dan Ken ia tidak sakit saat melihat hara menangis hatinya juga ikut menangis ia menatap sendu gadis yang sedang menangis itu .
" aku merindukanmu ibu, kita dulu pernah berjanji untuk selalu bersama . apa ibu ingat dulu aku berjanji pada ibu saat ibu tua nanti aku akan mengurus ibu dan memberikan semua apa yang ibu inginkan hingga ibu tidak akan mengeluh sama sekali padaku hiks...hiks...hiks" Isak hara .
" aku sudah besar ibu , tidak kah kau ingin melihatku tumbuh besar bersama kakak ? lihat kakak sudah besar dan ia jadi laki-laki yang sangat tampan Bu " ujar lagi .
Rendy pun memeluk adiknya kembali berusaha menenangkan emosi adiknya itu .
sedangkan ken sedari tadi terus berdiri melihat tangisan Hara itu ia juga ingin memeluk hara dan menenangkan gadis itu tapi itu tidak penting sekarang . Rendy ada bersamanya mungkin itu sudah membuatnya sedikit tenang pikirnya .
" ibu sudah bahagia disana , jangan menangis ya " Rendy mengelus kepala adiknya yang masih ia peluk itu .
" bagaiman mungkin ? yang membunuh ibu masih berkeliaran diluar , apa ibu akan bahagia ? " Jeny menatap kesal kakaknya itu .
" kakak tau tapi itu juga akan sedih jika melihatmu menangis "
lalu hara kembali manatap makam ibunya itu .
" bagaimana mungkin ini bahagia , sedangkan malam itu ibu sangat kesakitan " gumam hara .
" sakit ? " tanya Rendy ia penasaran .
Ken melihat keatas ternyata awan sangat gelap sepertinya itu tanda-tanda akan turunnya hujan .
" sebentar lagi akan hujan , sebaiknya kita kembali " ujar Ken .
Rendy pun melihat keadaan awan mulai menggelap .
" ayo , kita pulang sebentar lagi hujan akan turun " ajak Rendy .
" kakak saja " hara Tidak mau ia masih merindukan ibunya itu walaupun tidak ada wujudnya lagi .
" jika kau mau besok aku akan mengantarmu lagi, tapi sekarang sudah sangat gelap " ujar Ken pada hara .
lalu hara menatap ken sekilas Dan kembali menatap makna ibunya itu .
" ibu , aku akan kembali nanti . aku sangat menyayangi ibu " hara pun mencium nama ibunya itu .
dan Rendy membantunya untuk berdiri saat berdiri tubuh hara tiba-tiba lemas .
" hara " ujar Rendy dan Ken bersamaan .
" tidak aku tidak apa-apa " gumam hara .
" kakak akan menggendongmu " kata Rendy .
" pegang aku saja Kak" ujar hara .
lalu mereka berjalan berdampingan bertiga hara kembali menatap kebelakang melihat makam ibunya .
" aku berjanji akan membuat semua orang membayarnya " lirih hara dalam hati .
" tunggu disini , aku akan mengambil mobil " ujar Ken lalu pergi mengambil mobil di parkiran .
beberapa menit kemudian Ken membawa mobil hara lalu Rendy membantu hara duduk di balakang dan ia duduk di depan bersama Ken .
hara terus menatap kosong pandangannya entah apa yang ia pikirkan .
" jangan ke rumah , kita pergi ke tempat lain "kata Rendy . lalu Ken menganggukkan kepalanya.
disepanjang perjalanan Tidak ada yang memulai percakapan Sama sekali mereka fokus pada pikirannya masing-masing .
sedari tadi Ken sesekali menatap wajah hara yang pucat itu dari kaca atas mobil.
" tidak bisakah kau tidak lemah ? " gumam Ken dalam hati .
beberapa saat kemudian mereka sampai disebuah rumah minimalis nan modern itu .
itu rumahnya rendy tapi rumah itu nampak sepi tidak ada sama sekali pelayan .
" ayo duduk dulu , diluar hujan " ujar Rendy lalu ia pergi meninggalkan Ken dan hara yang duduk di kursi tamu .