Looking For A Destination

Looking For A Destination
aku cemburu



~ Indonesia ~


hari ini untuk pertama kalinya Rendy berencana menemui Wijaya Kusuma entah apa yang akan dia lakukan setidaknya ia akan mencari tahu sendiri tentang Wijaya selama ini.


Rendy memutuskan bertemu dengan Wijaya di perusahaannya . perusahaan yang sedang maju pesat , RW GROUP adalah nama perusahannya . perusahan yang ia banggakan dari dulu dan untuk selama-lamanya . bagi Wijaya perusahan ini jantung untuk tubuh ia akan berhenti bernafas saat jantungnya berhenti berdetak .


" apa kau sudah memikirkan ini ren " tanya Arya berjalan berdampingan dengan Rendy menuju ruangan Wijaya dilantai 23 .


" hmm aku tidak tau apa yang akan kulakukan tapi aku ingin bertemu dengannya " jelas Rendy tetap dengan pendiriannya .


Ting


suara lift menandakan mereka sudah sampai dilantai yang mereka tuju .


" apa perlu aku masuk?" tanya Arya yang sudah berdiri di depan pintu Wijaya Kusuma .


" tidak , kau tidak perlu masuk biar aku sendiri " ucap Rendy menatap wajah Arya .


" baiklah " Arya membiarkan Rendy masuk sendiri kedalam ia tau Rendy tak akan melebihi batas nya . jadi ia tak takut jika Rendy melakukan hal yang akan merugikan Rendy .


saat didalam Rendy terus menatap wajah Wijaya yg sedang duduk dikursinya membalas tatapan Rendy .


" selama ini aku hanya melihat mu dari televisi , tapi sekarang aku berdiri di depanmu, Wijaya Kusuma ." lirihnya dalam hati .


Wijaya berdiri menghampiri Rendy yang sedari tadi terus berdiri lalu mempersilahkan Rendy untuk duduk .


" duduklah , kau mau minum apa ?" tanya Wijaya .


" air putih saja " jawab Rendy terus menatap mata Wijaya dengan tajam .


Wijaya yang ditatap seperti itupun nampak bingung dengan kliennya itu .


sebenarnya Wijaya selama ini berusaha untuk menjadi partner bisnis bersama Rendy tapi Rendy tak pernah tertarik dengannya . tapi sekarang Rendy datang sendiri ke perusahaan dia pikir Rendy akan membicarakan bisnis itulah kenapa ia tampak senang .


" apa ada hambatan saat menuju kemari? " tanya Wijaya basa-basi.


" seperti biasa macet selalu ada dimana-mana iyakan? " ucap Rendy dengan raut wajah dingin .


" oh iya kau benar siapa yang bisa menghindari itu hahahah " kata Wijaya tertawa


" jadi bagaimana apa kau setuju membangun bisnis kita bersama ? Dengan itu perusahaan kita saling menguntungkan bukan ? " sambung Wijaya menyakinkan rendy.


" entahlah , aku tidak yakin " ucap rendy dengan santai.


" apa kau punya anak ?" tanya Rendy


ia hanya ingin memastikan apa Wijaya masih menganggap putrinya ada atau sudah mati. ia akan memutuskan bagaimana jalan yang harus ia lalui dari jawaban Wijaya . apakah ia akan terus mencurigai Wijaya atau menjadikanya tersangka sesungguhnya .


" anak? " tanya Wijaya .


dia bingung kenapa kliennya ini menanyakan hal seperti ini .


" iya , apa kau punya anak ? jika punya mungkin akan menikahinya " jawab ken dengan tenang tapi matanya tetap menatap tajam wajah Wijaya .


" apa kau tidak pernah mendengar beritaku ? anakku sudah meninggal 22 tahun yang lalu " kata Wijaya dengan tegas .


" apa? jadi dia menganggap hara sudah meninggal ? ayah macam apa dirimu ini ." dalam hati Rendy sudah marah mendengar ucapan Wijaya .


" benarkah? Aku baru mendengarnya. aku turut bersedih untuk itu . tapi , apa aku boleh tau kenapa dia meninggal? " tanya Rendy .


ia ingin tahu jawaban apalagi yang Wijaya katakan .


" saat itu dia kecelakaan mobil saat menuju ke Korea . aku akan mengirimnya untuk belajar disana tapi , mobil nya meledak dan ia terbakar didalamnya " jelas Wijaya .


jelas saja ia berbohong bagaimana mungkin ia akan menceritakan semuanya Sama saja ia mengali kuburnya sendiri .


tapi ia juga sedih menceritakan semua kobohongan tentang anaknya itu tapi harus bagaimana lagi semua harus berjalan sesuai keadaan yang sudah terjadi dan tentu itu tidak dapat diubah lagi pikirnya .


" tragis sekali caranya ia meninggal kau dan istrimu pasti sangat sedih melihat semua kejadian itu " ucap Rendy .


" hmm tidak ada orang tua yang tidak sedih saat melihat putrinya meninggal , terutama istriku ia sangat terpukul dan terpuruk bahkan ia harus menjalani perawatan bersama psikologi " jelas Wijaya .


" ah kita sudah terlalu jauh membicarakannya jadi kita harus kembali ke pembahasan kita sebelumnya apa kau menyetujuinya ? " kata Wijaya berusaha mengalihkan pembicaraan nya .


" baik aku akan menyetujuinya " ucap Rendy tegas menatap wajah Wijaya .


" kau tidak lebih dari seorang iblis Wijaya , kau bahkan merelakan putrimu sendiri hanya untuk hidupmu sendiri . mungkin saja kaulah akar dari semua kesedihan hara selama 22 tahun terakhir , kau pembunuh ibu " lirih Ken dalam hati ia begitu kesal marah dan ingin sekali memukul nya tapi tidak ia akan membuat Wijaya hancur dan tak tersisa apapun .


~ Lebanon ~


" dia siapa ?" tanya Ken pada bibi


" kenalkan aku dr. ricko aku dikirim kemari oleh Rendy aku adalah temannya ia mengirim ku kemari untuk jadi dokter keluarga disini " jelasnya sambil mengulurkan tangannya pada Ken .


Ken yang melihat itu terus menatap wajah Dr. ricko dengan tatapan curiga .


" jangan menatap ku seperti itu aku tau kau tidak akan percaya untuk pertama kalinya melihat seseorang Rendy yang menjelaskan itu padaku " katanya dengan senyuman manis dibibir dr.ricko


" dan aku adalah Jefry aku dikirim oleh Rendy untuk menjaga keamanan dirumah ini bersama mu dan ini beberapa temanku " ucap Jefry menunjukkan beberapa temannya yang sudah berdiri tegak di posisinya masing-masing .


" baiklah ayo silahkan duduk dulu aku akan membuatkan makan" ucap bibi


mempersilahkan semua orang untuk duduk .


" apa kalian akan tinggal disini ?" tanya Ken pada Jefry dan ricko .


" hmm kami akan tinggal di lantai 3 , dan disana juga ada ruang perawatan lengkap beserta alat-alatnya " ricko menjelaskan semua nya dengan detail .


" wah seperti nya rumah ini akan ramai oleh orang-orang tampan ini " ucap Jeny yang tiba-tiba muncul begitu saja .


" baiklah sebelum aku mengenal kalian sebaiknya kalian harus mengenalku terlebih dahulu . kenalkan aku adalah Jeny aku sudah lama bekerja disini semoga salah satu diantara kalian akan jadi pacarku " ucap Jeny dengan gaya nyelenehnya .


" astaga anak ini , yang aku pikirkan hanya pacar , pacar dan pacar saja " ketus bibi lalu menyentil dahi Jeny .


" aw bibi sakit , tapi akan lebih menyakitkan jika kalian menolakku ah tidak Roma , jangan lakukan itu " katanya sambil berakting memeragakan sebuah film .


semua orang yang melihat itu tersenyum dan tertawa melihat tingkah konyol Jeny kecuali dengan Ken .


ya pria itu seperti manusia yang tak punya ekspresi saja tapi dibalik sikapnya itu ia pria yang jujur , tanggung saja dan bersedia melakukan apapun demi orang yang ia cintai .


ia juga tidak bisa melihat sebuah ketidakadilan terjadi ia akan menyelesaikan nya tapi sungguh ia akan menyelesaikan dengan cara yang tak biasa . apalagi ? jika bukan saling memukul .


" dimana adik Rendy ? " tanya ricko


ia begitu penasaran seperti apa wajahnya apakah persis seperti yang Rendy katakan seperti bidadari yang turun dari langit .


" kenapa kau bertanya tentangnya ? " tanya Ken .


entah kenapa ia tak suka saat ricko bertanya tentang hara hatinya seperti takut tapi kenapa Ricko hanya bertanya saja dia begitu cemburu .


" apa itu masalah ? " tanya rikco yang tak mengerti pada ucapan Ken .


" ya benar , dimana bidadari nya apakah sangat cantik seperti apa yang Rendy katakan ? " ujar Jefry dengan semangat sontak hal itu membuat Ken semakin marah dan kesal .


ia mengepalkan tangannya tapi tidak ada yang bisa melihatnya ia menyembunyikan tangannya dibalik saku celananya.


" ah hatiku sangat sakit , kenapa kalian bertanya tentang nona saat aku ada disini , aku juga cantik " ucap Jeny sambil membuat wajahnya seolah-olah sedih .


" tapi memang benar kurasa Nona orang paling cantik yang pernah aku temui " sambung Jeny dengan tersenyum .


" ah aku sangat itu padanya " ucapnya lagi dengan tingkah konyolnya .


bibi melihat itu hanya menggelengkan kepalanya tapi ricko Dan Jefry tertawa melihat kelakuan konyol Jeny .


" nona sedang isirahat di kamar nya " ucap bibi sambil menunjuk kamar hara di lantai 2.


ricko Dan Jefry hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum menatap kamar itu


Ken melihat itu sangat kesal dan rasanya ingin memukul 2 orang itu .


" kalian baru datang sebaiknya kalian istirahat terlebih dahulu kan ? apa perlu aku mengantar kalian ? Dan ya jangan menatap dia seperti itu nanti dia tidak suka orang manatap nya " ucap Ken dengan ketus .


" hmm baiklah kami akan keatas sendiri " ricko tersenyum lalu beranjak ke lantai 3 .


Jeny dan bibi yang melihat ekspresi Ken seperti itu terus manatap wajah Ken dengan tatapan curiga


" apa kau cemburu ? " tanya jeny pada Ken sambil mendekatkan wajah nya pada Ken .


" apa ? cemburu ? sebaiknya kalian istirahat saja sana " ucap Ken lalu meninggalkan bibi dan Jeny .


Jeny yang melihat itupun tertawa bersama bibi .


" kau cemburu pada nya , iyakan? " teriak Jeny sambil tertawa .


Ken yang mendengar itu lalu berbalik menghadap jeny lalu mengangkat tangannya memberikan isyarat menjuruskan tangannya pada leher seakan-akan memberi tanda ia akan membunuhnya .


lalu ia berjalan kembali membalikkan badannya ternyata sudah tidak ada orang lagi disana.


" aku cemburu apa masalah nya ?" tanya ken pada dirinya sendiri