Lady Queen

Lady Queen
Episode 58



Di mansion keluarga Pratama semua anggota keluarga sedang sarapan bersama, tapi hati ini sedikit berbeda dengan Richo yang sekali-sekali memainkan ponselnya.


Semua itu tak lepas dari pandangan Jessi yang dari tadi memandang suaminya.


"Marni sudah selesai " ucap Marni langsung bangun dari duduk nya.


"Arsel juga " ucap Arsel langsung mengikuti istrinya.


"Emmm " Jessi hanya berdehem saja.


"Dad, kapan selesainya jika dad selalu memainkan ponsel " tegur Jessi.


"tunggu sebentar mom " ucap Richo.


"Mom " ucap Richo, karna ponsel nya di rampas oleh istrinya.


"Kenapa " ucap Jessi .


"Kau yakin tidak ada yang tau "


"Apa maksud dari semua itu " Jessi membatin.


Semangkin besar saja kecurigaan Jessi terhadap suaminya, saat tanpa Sengahja dia membaca isi pesan suaminya dengan seseorang.


" kembali ponsel Daddy " ucap Richo.


"Kenapa wajah Daddy begitu, sepandaian pandai nya seseorang menyembunyikan bangkai pasti akan tercium juga " ucap Jessi.


"Mom berangkat " ucap Jessi langsung mengembalikan ponsel suaminya.


"Apa dia melihat isi pesan ku " ucap Richo yang melihat kepergian istrinya.


Sedangkan Jessi yang sedang mengendarai mobil nya menuju kantor tak henti-hentinya dia memikirkan isi pesan suaminya pada seseorang .


"Apa benar yang di katakan orang tersebut " ucap Jessi.


Jessi langsung menghentikan mobilnya, dan mencari nomor seseorang yang pernah memberi pesan .


"Sejak kapan dia mengirim pesan pada ku " ucap Jessi .


Dan tak butuh waktu lama, Jessi langsung membuka isi Pesan dari seseorang yang tak pernah dia ketahui siapa .


"Datanglah ke jalan x dan di sana ada gedung tua tapi ingat harus hati-hati karna di sana sangat berbahaya, aku tau kau seorang jaksa dan pasti sudah terbiasa mengintai seseorang tapi kali, siapkan hati mu "


"Apa ini ada kaitannya dengan isi pesan tadi " ucap Jessi.


Dia sudah tidak sabar menanti waktu itu tiba, jika benar suami terlibat dia bersumpah akan menghukum nya seberat-beratnya.


jika dia di bilang jahat, biarlah memang dia jahat tapi keadilan harus ditegakkan tabal memandang siapa dia, bahkan dia tidak masalah jika reputasi hancur yang pasti dia bekerja sesuai dengan sumpah dia ucapkan.


Saat Jessi sudah sampai di kantor nya, yang kebetulan Dini juga baru sampai.


"Pagi din" sapa Jessi.


"Pagi Jess " ucap dini.


"Sepertinya kau berbeda hari ini " ucap dini.


"Mungkin perasaan mu saja, selamat ya " ucap Jessi mengulurkan tangan nya.


"Untuk apa " ucap Dini.


"untuk kasus yang kemarin, kau hebat " ucap Jessi.


"Terima kasih, kau juga hebat " ucap Dini.


"Ayo kita masuk " ucap dini.


"Ayo " ucap Jessi.


****


Sedangkan di perusahaan seorang pria paruh baya, yang duduk di kursi kebesarannya memandang gedung tinggi lainnya tiba-tiba ponselnya bergetar.


isi pesan


"Tuan kami sudah melakukan semua nya "


"Bagus, ingat jangan sampai kali ini kita gagal seperti sebelumnya "


"Saya menjamin ini tidak akan gagal "


"Kau jangan merendahkan para anggota negara, mereka dengan mudah mendapatkan informasi "


"Kami akan bermain dengan licin "


"Aku tunggu Minggu depan "


Richo langsung menyimpan kembali ponsel nya, Setelah mengirim pesan pada anak buahnya.


Tok Tok Tok


"Masuk " ucap Richo.


"Marni " ucap Richo saat melihat menantunya datang.


"Apa Marni mengganggu dad " ucap Marni.


"Tidak, silahkan duduk " ucap Richo.


"Apa yang membuat mu datang ke mari sayang " ucap Richo.


"Tidak ada, kebetulan Marni lewat sini jadi Marni pikir tidak ada salah nya mampir " ucap Marni.


"Memangnya kau tidak kuliah " ucap Richo.


"Kuliah, tidak ada dosen jadi Marni pulang saja bosan di sana " ucap Marni.


"Kau tidak mungkin hanya mampir katakan apa yang kau inginkan " ucap Richo.


"Daddy memang pintar, Marni minta uang dong dad " ucap Marni.


"Memangnya uang yang suami mu beri kemarin tidak cukup " ucap Richo.


"Itu untuk perlengkapan baby, dan ini untuk perlengkapan Marni " ucap Marni.


"Ini " ucap Richo langsung memberikan kartu ATM nya.


"Terima kasih dad, sayang Daddy " ucap Marni.


Setelah menerima kartu ATM Richo, Marni langsung pergi dari perusahaan dan menuju tempat pembelanjaan.


Richo yang melihat kepergian putrinya hanya menggeleng kepala, putri nya memang tidak pernah berubah.


Jangan lupa untuk mampir di karya author yang lain dan mohon masukan dan saran nya ๐Ÿ™