
Cuih.... Izza menyemburkan pil berwarna biru itu ke samping ranjang, rupanya ia sudah tau apa yang sedang dihalalkan caranya oleh Refan demi membuatnya tak kemanapun malam ini.
Izza mengambil air putih di nakas lalu berkumur.
"Aku nggak sepolos itu Fan, aku tau kamu minta obat tidur itu dari Ilham biar aku diem sampe besok." ucap Izza bermonolog. Ia berjalan perlahan menuju pintu kemudian menguncinya agar tak ada yang masuk, belum sempat ia mencapai ranjang lagi tiba-tiba handphone di atas meja berdering nyaring.
"Siapa sih? Lah Dandy? Tumben...." lirihnya yang segera mengangkat telepon yang sudah pasti penting itu.
📞Dandy is calling....
Dandy : Queen? Saya ganggu nggak?
Izza : Enggak, ada apa Dan?
Dandy : Genta sama Ilham ga bisa dihubungin Queen, makanya saya terpaksa ini.
Izza : Ck iya ada apa?! Jangan bikin saya makin penasaran Dandy....
Dandy : Itu si Refan katanya lagi jalan ke markas sendirian, terus ini Bima ngubah rencana buat nyerang Refan langsung di markas karena dia sendirian.
Izza : Sial.
Dandy : Qu-
Tut tut tut....
"Tuhkan gue bilang juga apa! Pasti bakal terjadi sesuatu.... Lagian ngapain sih Refan pake ke markas sendirian? Padahal yang lain nunggu dia di rumah papa." gerutu Izza yang mau tak mau harus segera turun tangan, percuma kalau ia harus diam disini. Tidak ada yang bisa ia andalkan karena semua orang tak bisa dihubungi termasuk Leon dan Kevin. Tak ada cara lain, untuk menyelamatkan Refan memang harus Izza sendiri yang turun tangan.
"Refan tunggu aku bentar aja, pokoknya kamu ga boleh terluka."
...****************...
"Ham." panggil Genta, Ilham yang sedang menyetir menoleh.
"Apaan bang?"
"Hubungin anak buah kita, suruh mereka ke markas Blood Wolf sekarang juga." suruh Genta membuat Leon yang sedang duduk di kursi belakang ikutan bingung.
"Lo seriusan bang? Markas kita juga kan perlu dijaga."
"Iya, lagian dugaan kita belum tentu bener bang." tambah Leon.
"Gue bilang telfon ya telfon." nada dingin Genta membuat siapapun tidak akan bisa menolak perintahnya, Ilham pun segera mengeluarkan hp dari saku jaket.
"Njir hp gue kepencet mode pesawat, pantesan ga ada not- eh?!" cicitan Ilham membuat gerutuannya terhenti seketika, ada banyak sekali panggilan masuk tak terjawab dari Dandy.
"Kenapa?" tanya Leon.
"Dandy missed call gue...."
"Ada apaan dia?"
"Bentar, ini keknya dia ninggalin chat juga.... Biar gue lihat dul- MAMPUSSSS!!!" pekik Ilham refleks memukul stir kemudi, sepersekian detik mobil itu oleng tapi untungnya bisa segera dikendalikan lagi.
"Kenapa?!!" tanya Leon dan Genta panik, dari raut wajah Ilham sudah sangat jelas kalau ada sesuatu hal buruk yang akan terjadi, atau mungkin sudah terjadi?
Ilham menginjak rem mobil, lalu menghadapkan layar hp nya ke Leon dan Genta bergantian.
"Dandy bilang kalo Bima ngalihin serangan ke markas Blood Wolf karena ada anak buah BD yang ngeliat Refan pergi ke markas itu sendirian." jelas Ilham membuat Leon benar-benar panik.
Kenapa semuanya jadi berada diluar kendali? Ah sial.
"****! Gue bilang juga apa tadi." umpat Genta yang langsung menabok punggung adiknya agar segera melanjutkan perjalanan. Ilham gas pol!!
"Markas lo masih ada orangnya nggak?" tanya Genta, Leon mengangguk.
"Ada tapi cuma dikit bang, 80% dikirim ke rumahnya om David."
"Sial, kita kalah jumlah."
"Gue kasih tau Kevin sama Rafael biar mereka jalan ke markas bang." ucap Leon menelfon Kevin.
...****************...
Cklek. Izza tanpa ragu langsung keluar dari kamarnya, setelan serba hitam lengkap dengan jubah kebesarannya yang sudah lama tak ia pakai menambah kuat auranya yang tak memudar meski dengan perut buncit membesar itu.
Hanya ada satu hal dipikiran Izza, menyelamatkan Refan.
"Woy kembaran!!" teriak Reza menarik jubah Izza dari belakang, ketahuan karena terlalu santuy sih.
"Ck ishh Ejaaaa lepasin nggak?!" omel Izza menggerutu, Reza dengan gelas jus di tangannya berjalan memutari saudarinya dengan geleng-geleng.
"Ck ck ck mau kemana lo dandan kek begini lagi?" tanyanya.
"Bukan urusan lo!" ketus Izza.
"Eitsss ini bukan rumah Refan ya, ini rumah gue jadi siapapun yang ada dirumah ini menjadi urusan gue. Mau kemana lo hah?!" desak Reza berusaha melepaskan jubah Izza tapi Izza menepisnya kasar.
"Jangan ngehalangin gue."
"Lagian kok bisa sih lu disini? Bukannya Refan udah ngasih lo obat tidur ya?" gerutu Reza.
"Gue bukan cewek polos yang bisa dibegoin pake obat tidur! Noh gue muntahin obatnya di bawah kasur."
"Ck ck ck."
"Ah lama urusan sama lo! Keburu suami gue nant-"
"Kamu mau kemana sayang?" tanya Alice yang tiba-tiba muncul bersama Ralita dan juga Ricko.
"Kamu mau kemana pake jubah itu lagi?" tambah Ricko. Mereka bertiga berjalan mendekat, Izza menghela nafas panjang. Ini akan semakin menyita banyak waktu.
"Ma, Pa, aku jelasin nanti aja ya? Aku harus nyusul Refan dulu."
"Maksud kamu?" tanya Ralita segera meraih tangan anaknya. Izza melepaskan genggaman Ralita perlahan.
"Ma aku harus pergi! Refan butuh bantuan Izza mam."
"Nggak boleh. Mama ga mau kamu kenapa-kenapa sayang!!"
"Ma, Refan itu suami aku! Percuma aku diem disini kalau Refan sendiri ga jelas diluar sana."
"Keadaannya ga sesederhana itu ma, mama ga tau rencana mereka berantakan total." kekeuh Izza membuat Reza, Ricko dan kedua mamanya mengeryit heran.
"Berantakan gimana maksud kamu?" tanya Ricko lebih dulu.
"Habis dari sini Refan nggak langsung pulang ke papa David, dia malah puter stir ke markas Pa. Dan itu sendirian! Musuh lagi ngincer Refan yang pergi sendirian ke tempat yang anak buahnya udah dipindah semua ke rumah papa David." jelas Izza panjang lebar. Alice terhenyak kaget bercampur panik, Ralita menenangkannya dalam dekap.
"Kamu serius sayang?" tanya Ricko lagi, Izza berdecak.
"Aku ga pernah bercanda tentang nyawa orang Pa."
"Nggak mungkin nggak, lo pasti bohong doang kan biar diizinin pergi? Lo tau darimana coba sementara lo dari tadi di kamar." desak Reza tak percaya, Izza memutar bola matanya malas. Reza benar-benar menyita banyak waktu dan energi.
"Sial." umpat Izza lirih, ia mengacak rambut frustasi menghadapi saudara kembarnya ini. Benar-benar menyebalkan seperti biasanya.
"Gue tau lo nggak bakal ngizinin gue pergi karena Refan nitipin gue ke elo Re.... Lo juga pasti ga akan percaya kalo gue bilang gue ditelpon sama Dandy, tangan kanannya bang Genta. But i don't care about that! Gue bakal tetep pergi sekarang." sungut Izza tak ingin dicegah, benar-benar tak ingin dicegah oleh siapapun.
"Ma, Pa, Izza ga bakal dengerin kalian buat tetep disini.... Doain aja Izza, Refan sama yang lain selamat. Izza pamit!" pungkas Izza menatap satu persatu wajah orang tuanya, tanpa menunggu lagi ia langsung melangkah pergi.
Namun tepat setelah dua langkah Izza pergi. Ralita bersuara.
"Tapi bukannya kamu selalu bilang kalau istri yang baik adalah istri yang mendengarkan pesan dan larangan dari suaminya? Dan refan suami kamu udah berpesan untuk kamu tetap diam di sini dengan kami semua sayang."
Izza menoleh.
"Tapi sayangnya, nggak semua larangan itu berakhir baik Ma.... Mama tenang aja, aku bisa jaga diri. Aku titip Stella sama si kembar ya?" jawab Izza sebelum kini hilang dibalik lift.
"Udah ma udah, kita percaya aja sama princess ya? Percuma juga kita ga akan bisa ngehalangin keras kepalanya dia." ucap Ricko menenangkan sang istri.
"Tapi princess itu kan lagi hamil tua Pa! Kandungannya juga sudah sebesar itu, dia pasti nggak bisa selincah dulu. Mama khawatir." cicit Ralita mulai menangis, kini gantian Alice yang menenangkannya.
...****************...
"Setelah malam ini, situasinya akan segera berubah. Refan ke neraka sementara gue sama istrinya? Ah sial, maksud gue calon istri gue bakal bahagia surga dunia ini." ucap Bima tersenyum miring sambil mengusap-usap cutter berwarna hitam yang sudah ia persiapkan sejak lama, khusus untuk perangnya dengan Refan.
'Lu nggak tau aja senjata yang lu banggain itu cuma cutter bodong Bim, cutter yang asli udah dikasih Dandy ke lawan lo.' batin Niko yang duduk dikursi belakang bersama dengan dua anggota inti yang lain, jangan tanya Dandy, dia pergi dengan menaiki mobil yang lain.
"Cielah yang bakal ngerebut pujaan hati, seneng banget romannya nih." ledek Fani tertawa kecil, Bima mengangguk cool.
"Penantian hampir 10 tahun Fan, wajarlah gue semangat gini.... Btw nanti lo yang ikut gue ke atas Nik." ucap Bima membuat Fani yang sedang menyetir mengeryit aneh.
"Biasanya kan sama gue?"
"Lo nanti urus yang dibawah aja sama anak baru kemarin, biar Niko aja yang nemenin gue nyari Refan ke atas. Dia pasti bakal ngumpet diruangan atas pas tau kita ngepung dia di markas."
"Tapi bos-"
"Gue bilang gue sama Niko ya sama Niko Fan." ketus Bima tak ingin dibantah, kejadian pembantaian di markasnya beberapa hari yang lalu saat Fani yang memegang kendali markas membuatnya tak bisa mempercayai Fani seperti dulu lagi.
"Lo siap kan Nik?" tanya Bima menoleh ke belakang, Niko mengangguk.
"Siap bos!"
Seolah tak rela posisinya sejak kemarin diambil alih oleh Niko, Fani mencari celah untuk membuktikan kecurigaannya atas Niko benar dan tuduhan Bima atas dirinya itu yang salah.
"Nik!" panggil Fani, Niko menatap Fani dari pantulan spion depan.
"Apaan?"
"Itu jidat lo kenapa?" tanya Fani memicingkan mata curiga, sangat aneh melihat Niko yang tidak ada angin tidak ada hujan itu tiba-tiba memakai plester dengan warna berani di bagian jidat. Dan yang lebih membuatnya curiga adalah ia melihat Doni (aka Dandy) juga memakai plaster dengan warna yang sama di tempat yang sama pula.
"Oh ini, kejedot palang pintu tadi sore." jawab Niko berbohong, sebenarnya plaster dengan warna ngejreng itu adalah kode yang sudah dimengerti oleh anak buah Refan maupun Genta agar mereka tidak menyerang Niko dan Dandy. Hanya mereka berdua yang memakainya agar sekutu tau kalau mereka sebenarnya bukan bagian dari Bloody Dragon.
"Harus banget pake warna ijo neon gitu?" desak Fani lagi, Niko mengendikkan bahu. Akting dan berbohong sudah melekat dalam skillnya, jadi ia selalu bisa menangani orang-orang berkelit semacam Fani.
"Tadi gue nyari yang biasanya di dapur markas nggak nemu, ya udah gue beli aja di warung deket gang masuk."
"Lo-"
"Ssstt Fan diem lo! Berisik, gangguin aja lo... Nih gue lagi ngebayangin ketemu Izza setelah nyingkirin Refan tau!!" sungut Bima memotong sekaligus menyudahi perdebatan tanya jawab super sengit itu.
"Hm, maaf."
'Ngeliat gelagatnya Niko yang dari kemarin mirip sama Doni makin ngebuat gue yakin kalo pasti ada apa-apa diantara mereka berdua yang gue sendiri ga tau itu apa.... Liat aja Nik, gue ga bakal ngebiarin lo ngambil kepercayaannya Bima apalagi lo mencurigakan kayak gini. Bakal gue ungkap kebenaran lo nanti!' batin Fani mengebu-ebu.
...****************...
"Nah ini dia cutter mautnya." lega Refan saat ia berhasil menemukan senjata hasil sabotase milik Bima itu, rupanya ia simpan di laci mejanya. Refan berniat untuk segera turun dan pulang menuju rumahnya saat telinganya menangkap suara berisik dari arah luar, tepatnya di daerah parkir masuk markas.
Brum brum brum
"Siapa tuh rame-rame kesini?" tanya Refan heran, ia mengintip dibalik tirai jendela. Mata elangnya membulat saat ia melihat bendera kecil berkibar di tengah kap mobil bagian depan, bendera hitam bergambar naga merah.
"Bloody Dragon? ****!" umpat Refan syok beberapa saat, bagaimana bisa mereka tiba-tiba merubah arah serang? Bahkan Refan sudah mengerahkan lebih dari 80% anggota Blood Wolf ke rumah utama Dirgantara.
"Bakal mati konyol kalo gue turun, tapi lebih ga mungkin kalo gue tetep disini. Masih ada beberapa anak buah gue dibawah!" dumel Refan berpikir cepat, apa cara yang paling memungkinkan untuk dilakukan.
"Feeling Izza emang bener-bener ga pernah meleset jink.... Gue musti gimana nih arghhhh." gerutunya mengacak kasar rambut. Bersamaan dengan itu, pintu ruangannya terbuka. Salah satu anggotanya masuk dengan wajah panik.
"Bos markas kita dikepung dari depan bos... Apa yang harus kami lakukan?" tanyanya gugup.
"Ada berapa orang kita disini?"
"Hanya sekitar 50 orang, karena yang lain sudah pergi ke Dirgantara."
"Ck ini bakalan sulit dimenangkan tapi kita ga boleh nyerah apalagi kalah didepan mereka! Pake siasat 7-1-4 seperti saat latihan minggu lalu." intruksi Refan, bawahannya itu mengangguk.
"Siap bos!" segera setelahnya lelaki berusia 30an itu berlari keluar ruangan, jelas untuk memberitahu anggota yang lain.
Dor dor... Dua tembakan bebas dilepas ke langit malam yang suasananya kini telah berubah menjadi gelap mencekam.
"REFAN KELUAR LO!!!" teriak yang paling depan dengan jubah, Bima.
"GUE TAU LO SEMBUNYI DI DALAM." mendengar teriakan yang ditujukan padanya, Refan kembali berjalan menuju jendela untuk melihat situasi di luar.
"Siapa sangka ketos Garuda yang dulu dibanggain di sekolah malah jadi ketua gengster aliran hitam gini, ck ck untung aja Izza dulu milih gue." lirih Refan yang sempat-sempatnya memikirkan masa lalu mereka.
"REFAN KELUAR LO BANGS*T!!!"