
"SIAPA YANG UDAH BERANI NAROH BERKAS INI DI MEJA SAYA!!" teriak Genta melengking di depan ruangannya. Sontak teriakan penuh emosi menggema itu menggemparkan nyali seluruh karyawan yang berada di lantai teratas itu. Ada sekertaris Genta, beberapa manager dan staff.
Jelas tak akan ada yang berani kepada bossnya ketika ia dikuasai oleh emosinya.
Kriet.
"Bos udah bos jangan ngamuk-ngamuk sama mereka, saya yakin mereka ga ada yang tau." cicit Dandy berusaha menenangkan amarah Genta. Selain jadi orang kepercayaan di BDG, Dandy juga menjadi asisten pribadi Genta di Alvaro Group.
"Tapi ini lancang Dan!! Harusnya mereka yang nerima surat ga jelas ini tuh nanya dulu ke pengirimnya. Ini apaan hah?!!" sahut Genta dengan rahang mengeras.
Emosinya benar-benar berada di ujung tanduk setelah membaca secarik kertas yang dia dapat dari sebuah kotak berisikan foto-foto Izza, Refan, Genta, Ilham, Andin, dan bahkan Glen pun turut diikutkan dalam box surat teror penuh ancaman itu.
Yang jadi masalah bagi Genta adalah istri dan anaknya yang tak ada sangkut pautnya dengan dunia bawah. Its okay kalau PGS Group mengecam Genta, Ilham, Refan dan Izza Karena mereka memang punya masalah. Tapi tidak ada yang boleh menyenggol hidup istri dan anaknya. Tidak ada!
Takut, khawatir, cemas dan was-was tentu saja langsung menghantui Genta dalam satu waktu. Dulu, semua orang mengenal Genta adalah manusia garang dan kejam yang tak memiliki kelemahan sedikiput. Tapi sekarang situasinya berbeda! Genta punya kelemahan setelah menikahi Andin. Ya! Kelemahan terbesarnya adalah Andin dan Glen.
"Punya karyawan banyak, ga ada yang becus!!" maki Genta kesal. Dandy hanya bisa mengisyaratkan 'sabar' kepada para karyawan menggunakan bahasa tubuhnya.
Dandy tak bisa berbuat banyak, percuma juga menenangkan si kerasa kepala ini. Satu-satunya orang yang akan didengarkan oleh Genta saat ia emosi hanyalah Andin. Andin dan hanya Andin.
"Apalagi kamu Bella!!" ucap Genta beralih menatap sekertaris pribadinya dengan tajam. Cewek berusia 26 tahunan itu menatap bosnya dengan takut.
Genta sudah seperti induk beruang yang kehilangan anaknya. Sangat menyeramkan!
"I-iya bos?"
"Lain kali kalo ada paket untuk saya, kamu tanya dengan jelas seluk beluknya! Kalau ga ada keterangan, kamu buang saja. Jangan dibawa masuk!!" ketus Genta tegas. Bella mengangguk patah-patah.
"I-iya bos."
"Sekali lagi terjadi hal semacam ini, kamu akan saya pec-"
"Ada apa ini?" celetuk suara penuh tanya dari belakang gerombolan karyawan staff yang menunduk menyaksikan kemarahan Genta.
Genta celingukan karena sangat hafal dengan suara itu. Begitupun dengan orang tadi, mereka saling celingukan kemudian saling mempertemukan pandangan mereka dalam satu titik. Dia adalah Andin!
"ANDIN?!!" pekik Genta terkejut. Kenapa tiba-tiba Andin ada di sini? Bukankah ini masih jam masuk kantor?
Sontak mendengar ada bu bos mereka, para karyawan langsung buka barisan hingga menampakan sosok tubuh tinggi semampai Andin yang tampak rapi elegan dengan beberapa map cokelat dan kuning di tangannya. Rupanya Andin ingin mengantar beberapa berkas kerja sama yang diperlukan untuk Rz Corp dan Alvaro Group.
"Ini kenapa pada ribut-ribut di sini?" tanya Andin mengeryit heran. Genta menggeleng-gelengkan kepalanya kecil.
"Kalian semua boleh bubar dan kembali ke pekerjaan masing-masing!!" perintah Genta penuh wibawa. Para karyawan tentu saja tak akan melewatkan kesempatan emas ini. Huft!! Untung saja Andin si penyelamat keamanan mereka ini datang tepat waktu.
"Kenapa sih yang?" tanya Andin heran melihat raut wajah pegawai Alvaro Group yang tampak lega setelah bos-nya menyuruh mereka bubar.
Dandy yang berdiri di belakang Genta pun melambaikan tangan kecil kepada Andin, tanpa suara. Berharap kalau malaikat penolong andalan karyawan Alvaro Group dari amukan CEO itu mengerti.
Andin Peka! Ia menaikkan sebelah alis, sebagai pertanda tanya 'apa?'.
"Pak bos, lagi ngamuk-ngamuk. Emosi dia!" ucap Dandy berkomat-kamit tanpa suara sambil menunjuk kepala Genta dari belakang. Andin manggut-manggut mengerti dengan bahasa nyepi dari partner suaminya itu.
Genta menoleh ke arah Dandy dengan cepat karena merasa aneh.
"Ngomong apa lo sama istri gue?!!" sentak Genta garang. Di belakang para pegawainya, Genta memang melupakan logat 'Saya - anda - kalian' hanya ada kata lo-gue saat ia bersama dengan Dandy. Kalau sama Andin? Ya beda lagi ceritanya!
"Eh enggak ada bos! Ini saya mau pamit ke ruang HRD, ada urusan. Permisi!" cicit Dandy panik dan langsung ngibrit pergi sebelum lehernya jadi sasaran cekikan emosi dari Genta, si haus darah. Bedanya sama Ilham adalah kalau Ilham bukan hanya haus darah, tapi juga haus sensasi rasa, juga haus aksi. Itulah sebabnya ia sering mempergunakan tubuh-tubuh mati dari para musuh dan sanderanya sebagai bahan percobaannya yang tentu saja mematikan dan penuh racun.
Jadi posisi Dandy di BDG maupun Alvaro Group itu seperti buah simalakama. Maju kena, mundur pun tetap kena.
Ke kantor kena semprot Genta yang galak, kalaupun ke markas ia harus menahan jijik dan mual karena Ilham sering melakukan analisa racun pada organ tubuh.
"Kamu juga masuk ruangan sekarang!" suruh Genta sok garang di depan istrinya. Sebenarnya ini hanya sebuah formalitas gengsi di depan sekertaris dan beberapa staff yang meja kerjanya berada disekitar Genta dan Andin berdiri. Agar tak ada anak buahnya yang mengatainya bucin dan tetap tegas kepada siapapun! Meskipun aslinya, Genta suka manja dan ketar-ketir kalau Andin marah. Takut ga dapet jatah wkwk.
"Dih sok galak!" ledek Andin menahan tawa. Ia tau alasan dibalik sifat sok galak dari suaminya.
"Aaahhh ayok!!" cicit Genta langsung menarik Andin ke dalam rangkulannya dan memasuki ruangan CEO.
...****************...
"Eh eh apaan tuh yang gerak-gerak kak?" cicit Refan menunjuk-nunjuk layar hasil USG.
"Aaaaa lucu!!" sahut Izza memekik gemas.
"Haisss jangan banyak gerak dulu dek!!" omel Marsha karena Izza banyak gerak, mungkin karena saking gemasnya.
"Lucuuuuuuu."
"Itu janinnya, anak kalian." jawab Marsha membuat sepasang suami istri itu saling pandang dengan tatapan terpaut yang menyiratkan kebahagiaan tak terkira di dalamnya.
"Ay anak kita ay!!" seru Refan menggenggam erat jemari istrinya dan menciumi punggung tangan itu hingga berulang-ulang kali. Sementara Marsha masih sibuk memeriksa perut Izza yang sudah membuncit.
Izza mengeryit menatap layar monitor USG.
"Kok ada dua kak?" tanya Izza tidak peka. Marsha tersenyum lebar setelah memastikan kebenaran dan keakuratan dari hasil pemeriksaan kandungan adik iparnya ini.
Refan dan Izza tampak antusias memandangi Marsha, menunggu jawaban.
"Selamat ya! Kalian dapet bayi kembar, double gen cewek cowok pula." jawab membuat sepasang pengantin yang masih anget ini menatapnya dengan penuh binar bahagia.
"Dua kembar kak?" pekik Izza tak percaya. Marsha mengangguk.
"Dapet cewek cowok beneran nih?!!" cicit Refan melongo tak percaya. Marsha manggut-manggut lagi.
"Iya, cewek cowok dan alhamdulillah sehat. Pertumbuhannya juga normal sempurna." jelas Marsha mengakhiri pemeriksaan kandungan Izza. Izza pun beringsut duduk dengan dibantu oleh Refan.
"Jaga kesehatan dan kandungan kamu ya dek? Jangan stress, pola makan dan olahraga kecil di atur, kerja juga jangan terlalu capek, inget!! Kamu sekarang membawa dua nyawa bayi sekaligus. Jadi potensi resiko lelahnya jelas lebih tinggi!!" tutur Marsha pada Izza. Izza mengangguk siap.
"Iya kak Sha, makasih ya!!" cicit Izza memeluk Marsha erat. Marsha membalas pelukan ini dengan suka cita.
"Iya sayang!!"
"Dan kamu Refan, jagain Izza-nya harus lebih ekstra lagi ya? Apalagi soal emosinya, kalo bisa jangan sampe naik turun biar ga mengganggu janin." tutur Marsha beralih pada Refan. Refan mengacungkan jempol.
"Siap kak!!"
Izza melepaskan Marsha kemudian berpindah memeluk suaminya. Refan mendekapnya erat, menciumi kening dan puncak kepala Izza dengan banyak sekali hujaman.
"Makasih sayang!! Kamu udah ngasih aku keturunan dua sekaligus. Cewek dan cowok pula, sesuai keinginan kita masing-masing cups." ucap Refan tak henti-hentinya menciumi puncak kepala Izza dengan gemas. Izza terkekeh.
"Iya sayang!!"
"Aku usahain buat mundur sementara kok kak." jawab Izza serius. Ia memang sudah berjanji kan sejak pertama kali ia tau ia hamil? Izza tak akan kembali ke sarang hitamnya dan membahayakan nyawa anak dalam kandungannya. Vakum! Izza akan benar-benar meninggalkan BDG untuk sementara waktu.
"Gue ga bisa janji sih kak, tapi gue bakal usahain buat ga bikin masalah." sahut Refan. Soal BW, Refan sudah pernah membahasnya dengan Izza kalau ia tak akan mundur seperti Izza. Bagaimanapun BW butuh pemimpin, mereka butuh Refan. Lagi pula yang tak boleh bermain api adalah Izza, sementara Refan? Ia yakin masih bisa menghandle semuanya. Entah soal pekerjaaan di kantornya, markas, dan istri serta anak-anaknya.
"Ya udah, keputusan kalian itu hak kalian. Kakak cuma pesen, kalian harus selalu jaga diri baik-baik oke?"
"Oke!"
"Papa janji bakal jagain kalian berdua, sama mama juga ya? Cups." bisik Refan membungkuk pada perut Izza dan mengelusnya kemudian menciumnya dua kali. Karena anaknya dua, jadi harus adil.
'Karena kalian dan hanya demi kalian sayang, mama akan ninggalin semuanya yang mama suka. Asal kalian baik-baik saja!' batin Izza ikut mengelus-elus perutnya bersamaan dengan tangan kekar suaminya.
...****************...
"Tadi kenapa orang-orang pada nunduk takut? Kamu pasti marah-marah lagi kan?" tanya Andin setelah berada di dalam ruangan Genta.
"Ya gimana aku ga marah coba? Mereka tuh ga ada yang becus sayang!!" decak Genta frustasi menyandarkan punggungnya di sofa. Andin duduk di sebelahnya. Wanita cantik beranak satu itu memijit-mijit kecil lengan atas Genta.
"Kenapa? Ga becusnya karena apa hm?" tutur Andin lembut. Genta merasakan aura kehangatan dan nyaman tiap kali kelelahannya bertemu langsung dengan kelembutan sifat Andin. Selalu ada dorongan baru yang mengalir untuk membuat Genta kembali menemukan jati dirinya.
"Ada box sialan yang dikirim ke ruangan aku. Tapi ga ada satupun dari mereka yang tau alamat pengirimnya." jawab Genta memejamkan mata dengan tenang. Disinilah kelebihan utama Andin, bisa menjinakkan singa liar yang mengamuk.
"Box apa? Emang isinya apa?"
"Box hitam."
"Maksud kamu box hitam yang di atas meja itu kah?" tanya Andin menunjuk sebuah box di atas meja. Tanpa sadar Genta mengangguk. Saking nyaman dan tenangnya, ia sampai melupakan semuanya.
Padahal tadi, Genta berencana menyelesaikan masalah box itu sendirian bersama Izza atau Ilham. Karena alasan ia tak mau istrinya khawatir dan cemas, apalagi Glen ikut disertakan dalam masalah dalam box itu.
"Aku mau lihat apa isinya ya?" tawar Andin yang langsung nyelonong ingin mengambil box misterius itu dan membukanya.
Deg!
Jantung Genta seperti berhenti berdetak saat itu juga. Saat Andin melepaskan tangan hangatnya dari Genta, saat itu pula Genta sadar apa yang telah ia katakan dan apa yang pasti akan terjadi setelah ini.
Genta membuka matanya lebar-lebar dan langsung menangkap sketsa tubuh sang istri yang sudah memangku box itu di atas pahanya yang terlapisi oleh rok pendek selutut, khas ala-ala wanita kantoran.
"Eh yang jangan dibuka!!" pekik Genta berusaha merebut kotak itu, tapi Andin tak mau kalah gesit. Ia lebih dulu menjauhkan kotak hitam itu dari jangkauan tangan Genta yang memanjang.
"Eitsss aku mau lihat dulu!!"
"Nggak boleh yang!! Itu kotak punyaku." larang Genta lagi.
"Boleh kok, kan kamu sendiri yang bilang kalo semua yang punyamu itu jadi punyaku juga."
"Yang tapi ga gitu juga-" protes Genta masih kekeuh ingin merebut kotak itu tapi terhalang terus oleh langkah Andin. Menjadi sekertaris pribadi Izza selama enam tahun ini membuat dirinya terbiasa bergerak gesit dan selalu bisa berfikir cepat untuk membalikkan keadaan. Sangat berguna sekali Rz Corp ini pemirsa!
"Ssstt kamu diem dulu atau kita absen jatah seminggu heh?!!" ancam Andin yang langsung membuat Genta tersentak hebat bukan main. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan emas, mumpung Genta masih terbengong dan belum sadar, Andin buru-buru membuka penutup kotak dan mengeluarkan isinya.
Sepasang mata Andin kian menajam heran saat tangan kanannya mulai merangkak mengambil beberapa lembaran foto di dalam kotak itu. Terdapat banyak tanda tanya di benak Andin setelah melihat semua lembar foto itu.
"Ini maksudnya apa-apaan?" tanya Andin menutup mulutnya yang melongo karena saking terkejutnya. Andin mengangkat beberapa lembar foto itu tepat di depan wajah suaminya.
"Ada fotoku, kamu, Izza, Ilham, Refan, bahkan ada foto anak kita juga? Glen. Ini maksudnya apa hah?!!"
"Kamu berulah lagi?!!" pekik Andin lagi.
"Enggak. Itu mereka yang ngusik duluan, aku sama Ilham diem kok enggak berulah sama sekali." sangkal Genta menjawab cepat. Andin memicingkan matanya curiga.
"Kamu dipancing dan kamu mau dipancing gitu? Kamu ga boleh berulah kalo Glen juga jadi sasarannya ya!! Apapun, asal jangan Glen." ucap Andin hampir meneteskan air matanya. Wanita kuat yang tangguh itu paling lemah di bagian hati, apalagi saat menyangkut anak semata wayang kesayangannya.
Kalau hanya masalah dirinya dan Genta, Andin sudah mulai kebal dan tahan banting. Tapi untuk Glen, tidak bisa! Andin tak akan bisa melihat anaknya menjadi kambing hitam dari timbal balik BDG.
"Ga ada yang boleh nyentuh anak aku!!" cicit Andin yang sudah benar-benar mengucurkan air mata paniknya. Lagipula ibu mana yang akan terima kalau anaknya di seret dalam masalah orang tuanya? Nothing.
"Hey sayang kamu tenang dulu ya... Sejak awal aku ngelamar kamu dan kamu nerima, kamu kan udah tau apa resiko yang mungkin aja terjadi saat kamu menikah sama aku kan? Kamu tau semua resiko terkecil hingga terbesar dan terburuknya." tutur Genta menangkup kedua pundak istrinya. Andin menghela nafas lelah.
"Tapi bukan Glen juga yang jadi kambing hitamnya!"
Greb
Genta memeluk Andin dengan erat.
"Soal itu kamu tenang aja, kamu udah cukup tau aja tentang apa resikonya. Tapi soal nanggung resiko itu, tetep aku yang bakal hadapin semuanya! Aku ga akan biarin kamu sama anak kita yang nanggung hukumannya. Ini masalah aku, Refan dan Ilham. Kamu, Izza sama Glen akan tetap aman. Aku janji sama kamu, Oke?" tutur Genta mencium puncak rambut istrinya. Andin masih sedikit terisak.
"Kamu percaya kan sama Genta Alvaro? Sejauh ini, dia ga pernah bohongin kamu loh." tanya Genta lagi karena tak mendapat jawabannya tadi.
Andin mengangguk samar dalam dekapan Genta.
"Iya aku percaya, aku cuma takut." cicit Andin dalam pelukannya pada suaminya. Genta mengelus lembut rambut Andin.
"Ga usah takut! Aku akan selalu ada di depan kamu sama Glen, ga akan ada yang bisa nyentuh kalian selama aku masih ada." ucap Genta meyakinkan.
"Dan kamu harus selalu ada yang. Aku sama Glen ga akan bisa tanpa kamu!" sahut Andin mendongak dan menatap Genta serius. Genta mengangguk dengan senyuman tipis.
"Iya sayang, aku emang ga bisa janji untuk selalu selamat. Tapi-"
Cups.
Andin membungkam mulut suaminya dengan kecupan singkat darinya. Selama 3 tahun mereka bersama, Andin tau betul kalau tak ada yang bisa membungkam Genta dengan rapat selain kecupan di bibirnya sendiri.
"Sssttt jangan ucapin itu lagi bodoh!!" omel Andin meletakan jari telunjuknya di bibir Genta. Seulas senyum muncul dari bibir Genta.
"Dengerin dulu sayang!!"
"Ya apa? Aku ga suka kamu ngomong pake bahasa kek gitu, aku makin takut tau!!"
"Tapi akan selalu aku usahain untuk tetap bertahan hidup, tetap ada, dan enggak terbunuh. Demi kamu sama Glen!!" sambung Genta.
"Tapi tetap pada point pertama tadi yang, kalau emang ngelindungin nyawa kamu sama Glen itu harus dibayar dengan nyawa. Ya udah aku siap mati buat kalian, asal-" jelas Genta lagi. Dan lagi-lagi pula ucapannya terpotong.
"Asal apa?"
"Asal kamu jangan nikah lagi ya kalo aku mati? Nanti arwahku malah gentayangan ga tenang karena tiap hari harus ngeliatin kamu olahraga malam sama orang lain! Kamu fokus gedein Glen aja, karena sampe mati pun aku ga bakal rela kamu dimilikin sama orang lain selain aku. Cuma Genta Alvaro seorang, ga ada yang lain!!" jawab Genta terdengar sangat ngawur bin ngelantur, tapi raut wajahnya benar-benar terlihat serius tanpa tanda-tanda bercanda sedikitpun.
Haruskah Andin melow? Atau tertawa bengek?
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰