IZZALASKA

IZZALASKA
85. Serangan Kejutan



"Pake duit bos? Kenapa nggak pake tuker senjata baru kayak biasanya?" tanya Niko berbisik segera setelah lawan transaksi mereka pergi, Bima mengangguk dengan koper penuh uang di tangannya.


"Senjata kita sudah lebih dari kata banyak Nik, lagipula untuk merekrut orang baru di penyerangan besar minggu depan kita lebih butuh uang untuk mereka." jawab Bima santai.


"Minggu depan itu nggak terlalu mendadak kah bos? Maksud gue, anak buah baru yang akan direkrut kan butuh waktu berlatih." tanya Niko lagi.


"Anak buah kita yang terlatih lebih banyak jumlahnya dari anak buah yang baru akan masuk, mereka sudah bisa menutupi jumlah yang lain. Di pertarungan nanti sudah sangat terlihat siapa pemenangnya, ditambah lagi gue punya senjata utama khusus buat rival abadi gue. Refan."


'Ck ck lu ga tau aja apa yang sedang terjadi di markas sekarang, anak buah yang lo sebut bisa menangin perang itu pasti sekarang dah dibasmi habis sama bang Genta dan yang lain... Senjata yang lo maksud juga udah ga ada ditempatnya bos, haha.' batin Niko tersenyum miring di dalam gelap.


"Udah sekarang kita balik langsung ke markas."


"Eh?" kaget Niko, kenapa jadi secepat ini pulang? Rencana awal dengan Dandy adalah mereka harus kembali diatas jam 1 malam, sedangkan ini masih pukul 12 lebih.


"Kenapa lo?"


"B-bukannya lo bilang harus ambil amunisi baru ya di luar kota?" bohong Niko beralasan, dia refleks begitu saja. Tapi siapa sangka? Bima justru mengangguk.


"Lah iya juga! Untung aja lo ngingetin, tadi Fani juga bilang gitu."


'Lah alam ngedukung gue banget dah? Padahal tadi gue cuma asal bunyi.' batin Niko.


"Yok lah kita cabut!!"


"Oke bos."


...****************...


Sementara di tempat lain sedang terjadi baku tembak yang sangat sengit namun kendali sepenuhnya berada di tangan Genta and the geng. Bloody Dragon menjadi sasaran empuk mereka malam ini karena ketua gangster itu sedang pergi dan tangan kanannya sudah berhasil dilumpuhkan lebih dulu oleh Dandy yang menyelinap masuk sebelum Genta dan yang lain datang.


Genta melancarkan serangan kejutan ini dengan sangat siap atas petunjuk dari Dandy dan Niko. Ia bahkan sudah menempatkan beberapa penembak jitu di gedung seberang jalan yang menghadap langsung ke markas Bloody Dragon.


Dor dor dor.


Tak ada satupun penghuni markas yang selamat dari serangan yang tiba-tiba menikam mereka dari segala sisi ini. Semua orang tewas mengenaskan dengan luka tembak di bagian dada dan perut, hanya ada satu penghuni markas yang selamat yaitu Fani.


Fani sedang berada di dalam ruangan Bima sebelum penyerangan terjadi, garis besar dari keberhasilan penyerangan ini ada di Dandy. Dandy bilang ia tak bisa datang ke markas beberapa hari tapi nyatanya ia bisa menyelinap masuk ke dalam dapur markas, ia tau kalau seorang anak buah BD disuruh membuatkan kopi hitam oleh Fani. Maka saat waktunya tepat, Dandy memasukan serbuk obat tidur ke dalam kopi tanpa disadari oleh si pembuat kopi.


Sesuai rencana, Fani meminumnya dan BOOM!! Dandy memberi intruksi untuk Genta menyerang saat itu juga sementara Dandy ikut pergi bersama Genta saat mereka memastikan semua orang di tempat itu tak lagi bernyawa.


Sesekali dibenarkan bukan menyerang dengan tipu muslihat dan sedikit siasat jahat? Untuk meminimalisir kekuatan Bloody Dragon di perang nanti, mereka harus menyingkirkan banyak anak buah selagi ada kesempatan.


"Kayaknya ga semua anak BD ada disini bang, tapi ini udah lebih dari 50% jumlah keseluruhan anggota." ucap Dandy di dalam mobil menuju markas bersama Genta. Genta melepas masker dengan anggukan.


"No problem, intinya kita udah ngurangin kesempatan mereka buat menang."


Mobil yang dikendarai Genta adalah mobil paling terakhir yang menjauhi area Bloody Dragon, itu karena mobil-mobil yang lain termasuk mobil Ilham, Leon dan Kevin langsung pergi setelah memastikan semua musuh tumbang. Sedangkan Genta harus menunggu Dandy kembali dari urusannya dengan Fani di lantai atas.


Tak berselang lama dari situ, mobil mereka berpapasan dengan mobil pajero hitam yang berlawanan arah. Jika mobil Genta menjauh dari markas, maka itu artinya mobil tadi berjalan mendekat ke markas. Hal ini tidak luput dari pandangan Dandy, ia menoleh ke belakang mengikuti arah jalannya mobil tadi. Beberapa anak buah BDG yang duduk di kursi belakang pun ikut celingukan ke belakang mengikuti arah mata Dandy.


"Kenapa lo gelisah gitu?" tanya Genta heran, ia juga memperhatikan mobil tadi lewat spion mobil.


"Itu mobilnya Bima bang...."


"Anak buahnya udah banyak yang mati, Fani juga udah ada di dalam jebakan. Apa lagi yang perlu lo pikirin sih?"


"Niko."


"Kenapa? Dia kan masih hidup Dan."


"Niko pasti juga bakal kena emosinya Bima bang."


...****************...


"Lo liat mobil tadi Nik?" tanya Bima yang sadar kalau Niko tampak celingukan di spion sejak mobilnya bersisip arah dengan mobil lain.


"Iya bos, aneh banget ada mobil yang ngelewatin wilayah kita jam segini." tutur Niko sok polos, padahal ia tau itu pasti adalah mobil milik Dandy.


"Santai aja, palingan juga mobilnya anak-anak." jawab Bima yang sama sekali tak memiliki firasat buruk atau kecurigaan sekalipun.


Hingga saat mobil mereka berbelok di gerbang masuk, Bima mulai merasa aneh karena gerbang tinggi menjulang itu dibiarkan terbuka padahal selama ini gerbang itu selalu terkunci rapat. Sekalipun ada mobil keluar atau masuk, gerbang akan segera kembali dikunci.


Bima yang mulai curiga dengan keanehan ini langsung turun dari mobil tanpa aba-aba, Niko pun mengikutinya. Saat langkah kaki Bima hampir mencapai gerbang, ia berhenti di tembok yang menjadi penghubung gerbang dengan dinding tinggi pagar yang memutari markasnya.


Ada sebuah stiker besar bergambar Serigala dengan tulisan merah darah 'Blood Wolf' dibawahnya. Sangat jelas, ini artinya dalang dibalik ketidakbiasaan ini adalah Refan dan anak buahnya.


"Sial." umpat Bima saat ia melihat samar tangan berlumur darah yang berada dibalik besi gerbang. Ia buru-buru melangkahkan kaki masuk, apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba markasnya menjadi penuh darah dan mayat. Apa yang terjadi saat ia pergi selama tiga jam terakhir.


"B-bos kok??!!" pekik Niko memulai akting. Bergidik ngeri menatap semua anggota gengnya berlumuran darah tanpa adanya tanda-tanda kehidupan dari ujung ke ujung. Bima mengeluarkan pistol dari balik jaket, Niko pun sama.


Tak membuang waktu, Bima pun berjalan masuk memasuki markas diikuti oleh Niko dibelakangnya. Anyir dan pengap, rasanya benar-benar seperti bukan memasuki markas tapi memasuki ruang penyiksaan. Tubuh tak bernyawa tergeletak dimana-mana.


"FANI? MANA FANI NIK CARII?!!" panik Bima mencari keberadaan tangan kanannya itu, Niko mengendikkan bahu lalu segera berjalan memutari ruangan. Melihat satu persatu wajah orang yang tergeletak di lantai, mencari keberadaan Fani meski faktanya ia sudah tau kalau Fani baik-baik saja di ruangan atas.


"Kayaknya enggak ada deh bos." ucap Niko dari ujung ruangan, Bima yang juga mencari di ujung lain kembali berteriak.


"Cari yang bener! Fani harus bertanggung jawab dan ngejelasin semuanya."


"Tapi kan-"


"Gue bilang cari ya cari Nik-"


"LOH KOK JADI GINI?!!" pekik suara berat dari atas tangga. Fani, lelaki itu berlari terburu-buru menuruni tangga saat sepasang matanya menangkap pemandangan tak karuan ini.


"Kok bisa?" lirih Bima semakin bingung dengan semua ini. Keseluruhan anggotanya bergeletakan menjadi mayat dimana-mana sedangkan Fani? Lelaku itu muncul dari lantai atas bahkan tanpa lecet sedikitpun. Ia bahkan memasang ekspresi seolah ia tidak tau apa yg telah terjadi, ini tentu membuat Bima makin curiga dengan Fani ditambah dengan kejadian ruang penyimpanan senjata tadi pagi.


"Apa yang udah terjadi Fan? Kenapa anak buah kita semua mati tertembak?"


"G-gue ga tau bos."


"MAKSUS LO?!!" teriak Bima menggema penuh emosi. "Gimana ceritanya anak buah Blood Wolf nyerang markas, mereka bisa masuk dan ngebunuh semua anggota kita!!! Lo ceroboh banget bangs*t." maki Bima berapi-api mencengkeram kerah jaket Fani, memang tak semua anggotanya menjadi korban disini. Mungkin ada lebih dari 50% anggota yang sedang berada di rumah mereka masing-masing malam ini tapi tetap saja jumlah dari anggotanya yang mati tidak bisa disebut sedikit.


"G-gue beneran ga tau bos... Seinget gue tadi, gue minta kopi ke anak buah terus gue tidur dan ga tau apa yang tadi kejadian." ucap jujur Fani tapi mendapatkan tatapan penuh curiga dari Bima yang sepertinya kehilangan kepercayaannya atas Fani hanya dalam satu malam.


"Lo aneh dari kemarin sat!"


"Bos sumpah serius gue ga tau menau soal ini, pasti ada yang ngejebak gue buat nyerang markas kita." ucap Fani memohon, tapi Bima bukan orang yang diciptakan dengan hati selembut itu. Ia lebih percaya dengan apa yang dilihat oleh matanya daripada mendengar apa yang didengar telinganya.


"Gue ga tau lagi Fan."


"Bos kalo bos mau dengerin saran gue.... Kita ga bisa nunda ini lagi bos."


"Maksud lo?"


"Dalam dua hari penyusunan rencana aja kita kehilangan anak buah sebanyak ini, dan lagi ada yg bikin gue ga sadar sampe berjam-jam. Kalo kita ga segera nyerang BW, kita yang bisa habis dimusnahin lebih dulu sama mereka." jelas Fani.


"Menurut lo gimana Nik?" tanya Bima beralih ke Niko yang sejak tadi diam.


"Gue ikut gimana bagusnya aja bos, tapi yang jelas kita harus rekrut orang baru dulu."


"Oke, besok kita rekrut langsung mereka yang mendaftarkan diri kemarin. Setelah itu latihan tempur, dalam tiga hari kita serang mereka. Kita habisi Dirgantara family sampai rata!!"