
"Keknya beneran mereka deh Vin? Platnya aja ga ada, pasti mobil bodong nih."
"Ya udah kita turun sekarang! Keburu telat nanti." ajak Kevin buru-buru melepas sabuk pengamannya.
"Iya lah, kalo keluarganya Doddy mati di bunuh. Bisa-bisa kita ikutan di sikat sama Refan Rafael." seru Leon ikutan buru-buru keluar dari mobil.
...****************...
"Gue bilang ga ya kalo tadi ketemu Bima?" tanya Izza pada dirinya sendiri. Ia kini sedang berjalan di bassement menuju tempat parkir mobilnya tadi.
"Kalo bilang pasti anaknya ngamuk cemburu, kalo ga bilang terus dia tau dari orang lain pun pasti juga ngamuk. Anjrit bingung gue!!"
"Ah ribet kan pekara Bima doang nih. Ngapain juga gue pake ketemu dia tadi? Jadi serba salah kan huh- eh?!!" pekik Izza saat hidung mancungnya terhantuk dada bidang seseorang. Saking kesalnya, Izza terus ngedumel sampai tak sadar kalau ia menabrak seseorang di depannya.
"Aduh sialan hidung gue kena lagi! Tadi nabrak punggungnya Bima, sekarang nabrak siapa lagi nih gue ah!! Sial banget hidup hari ini." gerutu Izza sambil menggosok-gosok pangkal hidungnya yg lumayan terasa sakit.
"Ada masalah apa si ngedumel mulu dari tadi?" tanya suara berat yang akhirnya membuat Izza mendongak. Izza merasa tak asing dengan suara itu meskipun itu bukan suara Refan.
"Kak Abi?!!" pekik Izza terkejut, ia tak menyangka kalau ia akan bertemu dengan senior kampus sekaligus partner bisnisnya itu di sini.
Abi mengulas senyum tipis dengan anggukan.
"Bukannya kamu udah berhenti kerja ya? Terus ngapain keluyuran sendirian? Refan ga ngikut?" tanya Abi. Izza menggeleng.
"Aku iseng doang si kesini, Refan lagi kerja."
"Terus tadi kenapa? Ada masalah sampek ga bisa lihat jalan? Orang segede gini bisa di tabrak."
"Ehehehe sorry kak Bi, tadi gue lagi kesel aja makanya ga merhatiin jalan." jawab Izza terkekeh kecil. Izza lumayan nyaman ngobrol bersama Abi meskipun Izza tau kalau Abi menyimpan rasa untuknya, ini karena Abi tipikal orang yang tulus tanpa ambisi tinggi. Setelah Abi tau Izza menikah dengan Refan, ia memilih untuk pergi meskipun ia tak benar-benar pergi.
"Kesel kenapa?"
"Tadi ketemu senior di SMA yang ngesel-"
"Maaf bos, permisi. Bos Refan meminta saya untuk segera mengantarkan anda pulang ke kediaman utama keluarga Dirgantara." potong anak buah Refan alias sopir yang tadi mengantar Izza. Abi menoleh ke arah belakangnya sementara Izza mengangguk.
"Ya."
"Mau langsung balik?" tanya Abi, Izza mengangguk.
"Gue duluan ya kak? See you di kantor setelah gue lahiran haha. Oh ya, jangan kerja mulu! Ntar capek. Mending ngapelin calon istri aja haha." pamit Izza terkekeh kemudian langsung melenggang pergi. Abi hanya mengangguk kecil.
'Anaknya ceria banget, aku harap calon istriku juga sebaik dan sepengertian kamu ya Za.' batin Abi tersenyum tipis. Setelahnya ia pun kembali melanjutkan langkahnya menuju mall.
...****************...
"WOY LEPASIN MEREKA!!" teriak Leon melengking di ruang tamu yang cukup luas itu. Ruangan yang mewah tapi terlihat sangat berantakan saat ini. Ada seorang perempuan paruh baya yang bertekuk lutut di lantai bersama dua anak perempuan berusia belasan tahun. Mereka bertiga menunduk ketakutan dikelilingi empat orang berbadan kekar dengan wajah menyeramkan, lengkap pula dengan masing-masing pistol di tangannya.
Mereka semua menoleh saat Leon dan Kevin tiba-tiba masuk. Leon yang berteriak panik dengan Kevin yang tampak santai menyandarkan bahunya di dinding dekat guci. Perbedaan yang melebihi beda langit dan bumi.
Kevin yang baru datang dengan santainya itu fokus pada seseorang yang auranya tampak berbeda dari yang lain. Seseorang bermasker hitam dengan topi itu tampak lebih muda daripada tiga yang lain.
Bukan hanya Kevin, tapi orang itu juga memandang Kevin dengan tatapan yang sulit diterjemahkan. Antara seperti seorang musuh yang sedang memainkan trik mata dan seorang kawan yang memberi kode lewat mata. Membingungkan!
'Dia kawan atau lawan?' batin Kevin menduga-duga.
Cklek
Dua orang kekar itu langsung mengacungkan pistol mereka ke arah Leon dan Kevin saat mereka menyadari arti logo kecil di bahu kanan jaket kulit hitam milik Leon maupun Kevin. Ya! Logo yang mengartikan kalau mereka berdua adalah tangan kanan Blood Wolf.
"Buset! Mereka bawa senjata Pin." bisik Leon bergidik. Leon tidak pernah gencar melawan musuh, tapi kalau mereka bersenjata sedangkan dia tidak, keberanian yang ia miliki bisa saja menipis.
"Makanya kalo mau nyergap itu diperhatiin dulu tolol! Jangan langsung main hadang." sahut Kevin memutar bola matanya malas. Bekerja sama dengan Leon memang lebih cepat dan singkat, tapi point terburuknya adalah Leon terlalu ceroboh.
"Ck. Kalo gue ga langsung masuk, bisa aja mereka ditembak mati tadi." balas Leon sengit.
"Hm. Kalo gitu selamat Yon! Gegara lo mau nyelametin mereka, kita yang bakal mati duluan sekarang." jawab Kevin santai. Tentu saja ia bercanda, ia dan Leon bukanlah tipe orang yang gampang menyerah dan mundur tanpa melawan.
"Cih seriusan ogeb gue panik gini elu santai bae!!" omel Leon sebal. Kevin menatapnya jengah, bahkan di saat segenting ini saja Leon masih sempat melemparkan kalimat-kalimat yang bisa mengundang anarki diantara mereka.
"DIAM!!" bentak salah seorang dari Bloody Dragon. Leon dan Kevin menoleh bersamaan dengan mulut mereka yang sudah ditutup rapat.
"Untuk apa kalian datang kemari?!!" gertak salah seorang yang lain.
"Untuk kalian." jawab Kevin singkat.
"Kalian mau menangkap kami semua dengan tangan kosong itu?" tanyanya remeh. Kevin tersenyum tak kalah remeh.
"Aku hanya ingin menangkap mereka." jawab Kevin menunjuk tiga orang perempuan yang duduk di lantai.
"Tapi karena kebetulan kalian ada disini, maka sekalian saja kuhabisi kalian semua!" sambungnya dingin.
'Gede juga nyalinya si klepon.' batin Leon salut.
"Ahaahah apa kau bilang? Kau mau menghabisi kami? Akulah yang lebih dulu menghabisimu setelah ini." sahut anak buah BD dengan congkak. Kevin tersenyum miring, ia bukan orang yang suka basa-basi dengan orang asing.
"Lama!" ketus Kevin secepat kilat mengambil pistol dibalik jaketnya dan menembakan dua buah timah panas ke masing-masing dari dua orang yang mengacungkan pistol tadi. Hanya dua tembakan sekaligus, tapi sangat tepat sasaran hingga lawannya langsung terjatuh berlumuran darah di bagian dada kiri atas.
Dor dor
Gerakan yang begitu cepat dan tepat!
Leon melongo dengan ketepatan gerakan Kevin. Memang kemampuan menembak Kevin tak pernah bisa diremehkan sejak dulu.
Tak hanya Leon, dua orang sisa dari Bloody Dragon juga tampak terperanjat kaget karena singkatnya waktu yang merenggut nyawa dari dua temannya itu. Secepat kilat pula mereka sama-sama mengangkat senjatanya, seolah bersiap menembakan peluru mereka ke arah Kevin.
"Bisa mati gue tanpa senjata gini." keluh Leon menelan ludah.
"Lo dibelakang gue lah bangs*t!" ketus Kevin. Leon masih sempat-sempatnya nyengir tanpa tau tempat.
"Kalian bertiga, menunduk!" suruh Kevin melirik istri dan anak-anak Doddy. Mereka mengangguk nurut.
Cklek
Dua musuh itu sudah bersiap menembak sedangkan Kevin sendiri sudah siap dengan strateginya.
"DROP IT!!" sentak suara lantang yang memutar balikkan arah pistolnya. Bukan Kevin tapi seseorang berjaket Bloody Dragon dengan masker dan topi yang menutupi sisi wajahnya.
Leon melongo sementara Kevin masih fokus tanpa kata, berjaga-jaga kalau ini hanyalah sebuah tipuan.
"A-apa?" pekik salah seorang yang lain. Lelaki bermasker hitam itu kian menempelkan moncong pistolnya ke pelipis kawan di sebelahnya.
"Aku bilang turunkan pistolmu!!" ucapnya tegas. Yang diancam hanya menurut, ia mengira kalau temannya ini sedang memainkan trik untuk menipu musuh. Tapi sepertinya dia salah-
"Bummm."
DOR
Satu tembakan yang lolos menembus tengkorak kepala milik anak buah BD. Kevin dan Leon tampak tercengang, sekarang ini barulah mereka benar-benar percaya kalau yang ada di depan mereka ini bukanlah lawan melainkan seorang kawan.
"Misi gue berhasil meskipun ini bukan misi utama." ucap lelaki bertopeng sambil memasukkan kembali pistolnya ke dalam saku jaket.
Leon dan Kevin masih tercengang tak percaya dengan kemudahan misi ini. Apalagi yang membantu mereka adalah seseorang yang berjaket sama dengan tiga yang lain. Sebenarnya siapa dia?
"****! Gue kira kita yang bakal dijemput dewa kematian hari ini, ternyata gue salah anj-" celetuk Leon terpotong.
"Lo ga ada terimakasihnya sama gue?" celetuk lelaki bermasker itu.
"Siapa lo? Buka masker lo sekarang!" suruh Kevin masih dingin, ia masih belum tau siapa orang itu jadi ia tak mau bersikap lebih.
"Ck. Gue bukan anak buah lo! Lo bukan bos gue, jadi gue ga perlu dengerin perintah lo Vin." jawabnya santai dengan diakhiri oleh tawanya.
"Suaranya kek pernah denger." celetuk Leon heran.
"Sama." sahut Kevin.
Lelaki itu kemudian melepaskan masker yang ia pakai.
"DANDY?!!!" pekik Leon dan Kevin bersamaan. Danddy, orang kepercayaan Genta di Black Diamond Girl itu mengangguk santai.
"Ya, ini gue."
"Kok lo bisa ada sama mereka?" tanya Kevin terkejut. Bagaimana bisa anak buah Izza ini berkamuflase menjadi duri tajam diantara kejinya anak buah Bloody Dragon.
"Gue lagi jalanin misi rahasia di Bloody Dragon, untuk itu gue ada diantara mereka. Gue diam untuk menikam dari dalam." jawab Dandy santai. Kevin manggut-manggut mengerti.
"Misi apaan? Sendirian doang lo?" tanya Leon lagi. Dandy mengangguk singkat.
"Iya gue sendiri. Lo berdua cepetan bawa mereka pergi dari sini sebelum mereka datang!!" suruh Dandy. Yang dimaksud 'mereka' adalah anak buah Bloody Dragon lainnya yang bisa saja datang sewaktu-waktu.
"Lo ga ikut kita Dan?" tanya Kevin. Sementara Leon membantu membuka ikatan tali di tangan dan kaki para sandera.
"Misi dan tugas gue masih belum selesai. Gue akan tetep tinggal diantara mereka sampai semuanya clear Vin." jawab Danddy.
"Tugas apaan lagi? Ini kan mereka udah mati." sahut Leon.
"Tugas utama gue bukan ini, tapi nyari tau siapa nama leader baru mereka dan gue masih belum dapetin apa yang gue cari sampai sekarang." jelas Dandy. Dua antek Refan itu mengangguk.
"Gue masih perlu jadi bagian dari markas itu." sambung Dandy lagi.
"Lo udah gila Dan? Tiga orang ini udah mati, kalo lo balik dengan selamat mereka bisa curiga dan lo bisa aja dihabisin sama mereka!!" pekik Leon.
"Ck. Gue ga seceroboh itu Leon! Lo tenang aja, gue bisa handle ini. Gue dari dulu udah terlatih buat jadi mata-mata di kubu musuh."
"Oke kalo gitu, lo hati-hati."
Dandy hanya mengangguk sebagai jawaban. Setelah itu Kevin dan Leon pun pergi membawa ketiga wanita tadi. Sementara Dandy tetap tinggal di sana untuk melanjutkan misi menyamar dan merekayasa kejadian yang baru saja terjadi ini.
Di dalam mobil.
"Refan udah ngasih kabar apa belum Yon?" tanya Kevin.
"Lah mana gue tau Kepin! Gue kan ga bawa hp." jawab Leon polos. Kevin berdecak sebal.
"Ck. Yausah sono tuh cek di hp gue!!"
Leon pun melakukan apa yang diperintahkan oleh Kevin. Mencari chat dari Refan tentang harus mereka bawa kemana keluarga Doddy ini.
"M-maaf tuan-tuan, bolehkah saya bertanya satu hal?" tanya seorang wanita paruh baya di seat belakang. Leon yang tadinya sibuk langsung menoleh dengan tatapan hangat. setidaknya meskipun Leon dikenal kejam tanpa kata ampun, ia masih punya hati kecil yang bersih terhadap seorang wanita, anak kecil dan orang tua.
"Ya, silahkan!"
"Sebelumnya saya ingin berterimakasih karena kalian telah menyelamatkan kami, saya dan kedua anak saya. Tapi-"
"Tapi apa?!" ketus Kevin dingin.
Plak
"Jangan kek gitu monyet!! Dia masih trauma, malah makin trauma gegara ngedengerin suara lu." omel Leon melayangkan tabokan maut ke bahu Kevin. Kevin si bodoamatan itu hanya mendengus malas.
"Bodoamat."
"Ibu ga usah takut, temen saya emang suka sembrono. Ibu tadi mau tanya apa?" ucap Leon lembut pada istri Doddy.
"Kenapa kalian menyelamatkan kami padahal kalian sepertinya adalah orang asing? Lalu kemana kami akan dibawa pergi?" tanyanya.
"Karena tugas. Kalo bukan tugas juga gue ogah nolongin orang asing!" sahut Kevin ketus lagi.
"Lu sensi amat si kalo lagi laper." sungut Leon sebal. Ia sudah hafal kalau kelakuan Kevin tiba-tiba jadi gampang kesal dan uring-uringan, itu artinya dia sedang lapar.
"Diem lu b*cot!" ketus Kevin. Leon menggertakan giginya karena gemas sekaligus kesal.
"Lu yang diem monyet!!"
"Ibu tenang aja, kalian semua bakal aman kok setelah ini. Kita akan bawa kalian ke suatu tempat yang aman bersama...... Suami anda." jawab Leon agak menggantung. Istri Doddy tampak berbinar kaget mendengar suaminya di sebut, orang yang selama beberapa hari ini ia cari keberadaannya.
"Suami saya? K-kalian tau dimana suami saya?" tanyanya bersemangat, sama persis seperti ekspresi yang ditunjukkan oleh kedua anaknya.
"Ya."
"Tau lah! Gara-gara suami lo, istrinya bos gue sampai ada di dalam bahaya. Dan lebih parahnya lagi, istri dari bos gue itu adalah bosnya Doddy di kantor. Masih untung bos gue mau ngelindungin kalian meskipun Doddy udah ngelakuin kesalahan besar dan fatal!" sungut Kevin lagi dan lagi. Leon sudah malas menghadapi si perut keroncongan ini.
Terserah Kevin, asal jangan dia yang diamuk pas lagi laper kek gini!
"Lo tau ga? Suami lo orang jahat! Dia ngorbanin keselamatan bos nya sendiri hanya demi sejumput uang yang nilainya jelas ga akan sebanding dengan apa yang sudah ia dapatkan dari Rz Corp selama ini!!" ucap Kevin lagi. Ia melirik istri Doddy dengan sinis lewat kaca spion.
"A-apa?" istri Doddy tampak terkejut, suaminya tidak sejahat itu kan?
"Udah udah, ibu tenang aja. Masalah itu udah clear kok meskipun akibat fatalnya udah terjadi, sekarang yang terpenting kalian akan tetap selamat dari incaran musuh-musuh Doddy yang dulu pernah bekerja sama dengannya." sela Leon menengahi. Istrinya Doddy bisa terkena serangan jantung kalau ia terus membiarkan Kevin membicarakan kesalahan suaminya, istrunya memang perlu tau tapi Kevin adalah orang yang paling payah dalam memilih waktu.
"B-baik, terimakasih."
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰