IZZALASKA

IZZALASKA
43. Lift



Drtt drtt.


Sebuah iPhone yang tergeletak di atas meja itu bergetar, muncul sebuah nama tak asing di laci notifikasinya.


Ilham Alvaro.


"Siapa ay?" tanya Refan setelah mengunyah makanannya. Rupanya Izza dan Refan sedang makan siang bersama di kantin Rz Corp. Sebuah kantin elite yang lebih mirip disebut dengan restoran ini adalah 'aset berharga' milik para pegawai dan seluruh staf Rz Corp karena Izza memberlakukan sistem gratis tanpa potong gaji. Semua orang yang punya identitas sebagai bagian dari Rz Corp bisa bebas makan apapun disini tanpa dipungut biaya sepeserpun.


Kurang enak gimana?


"Psikopat."


"Ilham?" tanya Refan memastikan tebakannya. Izza mengangguk.


📩Ilham Alvaro


Queen gw lagi mata2in orang.


Dia nyebut2 nama lo sama Refan dari tadi.


Read.


"Kenapa ay?" tanya Refan heran melihat perubahan raut wajah istrinya. Izza menatap suaminya sejenak.


"Bentar, aku telfon Ilham dulu."


📞Calling Ilham....


Izza : Nyebut gimana Pat?


Ilham : Nama gue Ilham!


Izza : Iya itu maksud gue. Buruan ada apaan?


Ilham : Ini ada orang dua mencurigakan, nyebut Izza Refan mulu dari tadi.


Izza : Tampilannya kek gimana?


Ilham : Pakaian rapi, berjas ala-ala kantor. Laki-laki sama perempuan, yang laki keknya seumuran sama abang gue.


Izza : Klien gue kali.


Ilham : Ck. Bukan! Kalo cuma urusan klien kan harusnya pake nama Lexa, lo lupa sama identitas ganda lo?


Izza : (Diam berfikir, mencerna informasi dari Ilham.)


Ilham : Queen lo masih di situ kah?


Izza : Coba fotoin orangnya. Siapa tau dia Yonna, klien baru yang masih jadi pertanyaan besar buat gue selama ini.


Ilham : Oke bentar, gue pap.


Izza : Hm.


Tut tut tut....


"Yonna dari Alfahreza Group itu ay?" celetuk Refan tak sabaran ingin tau apa yang terjadi. Izza mengangguk.


"Kata Ilham, ada dua orang yang asyik ngomongin nama kita berdua. Aku curiga aja siapa tau itu Yonna kan? Dari awal sampai sekarang aku masih curiga sama dia, meskipun aku juga ga nemuin bukti apa-apa sih." jawab Izza membuat Refan mengangguk mengerti.


Sebenarnya sejak awal Refan sudah menawarkan bantuan tapi Izza menolak. Ia tak mau menambah masalah Refan, Refan pun sudah pernah mencoba mencari tau tentang Yonna Alfareza tapi hasilnya juga nihil. Seolah benar-benar jalan buntu!


Yang membuat Izza dan Refan makin bingung dan curiga adalah karena Yonna tak memiliki latar belakang dimata publik. Tempat sekolah hingga alamat rumah lamanya sebelum kembali dari Jepang juga tidak pernah bisa ditemukan. Seolah semuanya memang sengaja dihilangkan dan dibuat lenyap oleh waktu.


Sangat aneh!


"Ga usah terlalu dipikirin ya! Ga baik buat kamu sama anak-anak kita loh."


"Gemesin banget tuh orang, ga ketemu-ketemu masa lalunya sampai sekarang." gerutu Izza gemas sendiri.


"Kalau nanti ada apa-apa, kamu harus langsung bilang ke aku!" ucap Refan serius. Izza malah meledeknya dengan candaan belaka.


"Haissss posesif amat bang haha."


"Yee orang serius malah dibecandain!" omel Refan menghembuskan nafas panjang. Izza terkekeh kecil.


"Lagian juga santai aja kali! Aku bisa handle semua masalahku sendiri, kamu kan tau dari dulu i'm a strong woman!" ucap Izza membanggakan diri.


"Iya aku tau itu, tapi-"


"Tapi apa? Udahlah ay kamu tenang aja oke? Urusan kerjaan kamu udah banyak. Blood Wolf juga sibuk, aku ga mau nambahin beban fikiran buat suamiku tercinta! Dan Yonna adalah klien yang aku pilih, jadi urusan Yonna itu biar jadi urusanku aja oke?" jelas Izza nyerocos panjang lebar. Tapi Refan menggeleng, tidak mengangguk seperti biasa.


"Enggak oke!"


"Lah kok enggak? Oke aja atuh ay!!" rengek Izza melongo. Ini adalah kali pertama Refan menolak cerocosan panjangnya.


"Urusan Yonna sekarang aku ambil alih sementara deh ya, kamu udah hamil gede gini! Aku ga mau kamu stress nanti. Nanti setelah anak kita lahir, kamu baru boleh mikirin masalah-masalah rumit yang ga ada habisnya lagi. Oke?" tolak Refan mentah-mentah. Izza melongo untuk kedua kalinya.


"Engga ok-"


"Sayangnya di sini kamu nggak punya pilihan! Kalo aku bilang enggak boleh ya berarti enggak boleh." potong Refan cepat. Izza menelan ludahnya sendiri.


Oke, waktunya gantian mengalah!


"Ya udah iya. Tapi ini demi anak kita ya, bukan demi kamu! Setelah baby twins lahir, kamu ga punya alasan buat ngelarang aku lagi." ucap Izza mengangguk pasrah. Jalan buntu!


Refan tersenyum dan merentangkan tangannya untuk mengelus puncak kepala istrinya.


"Anak baik!!"


📩Ilham Alvaro


(Send a photo)


...****************...


Ilham duduk di kursi tak jauh dari seorang wanita yang duduk berhadapan dengan seorang laki-laki. Di tempat persis yang dimaksud oleh Zaki dan Rafi tadi.


Laki-laki itu tampak menggerutu sejak tadi karena pesannya tak kunjung di balas oleh Izza.


"Kemana sih ni anak udah dua menit juga lama amat typing!!" gerutu Ilham kesal.


"Selamat siang mas Ilham, ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu pelayan cafe yang menghampiri meja Ilham. Ilham terlonjak kaget, matanya sedang fokus mengamati dua target dan pelayan itu tiba-tiba berbicara.


"Oh enggak mba, meja saya ada di sebelah sana. Saya cuma lagi signal di sini." tolak Ilham ngeles. Pelayan itu mengangguk, wajah Ilham sudah sangat familiar bagi pegawai cafe ini karena Ilham sering datang bersama bos besar mereka yang tak lain adalah Izza.


"Baik mas, kalau begitu saya pamit undur diri."


Setelah pelayan itu pergi, Ilham memutuskan untuk kembali kepada teman-temannya saja karena dua orang yang ia mata-matai tadi juga berdiri hendak pergi meninggalkan tempat.


"Ah tau ah ngambek gue sama Izza! Lama amat balesinnya sampek udah keburu orangnya pergi huh." gerutu Ilham di sepanjang perjalanan kembali pada Trio rusuhnya.


Drtt drtt


📞Queen is calling....


Izza : Orangnya masih di situ ga?


Ilham : Udah pergi, elu lama amat busett! Kesel gue lama-lama ah.


Izza : Ye ya maap wifi mati tiba-tiba tadi.


Ilham : Pake kuota Hp kan bisa.


Ilham : Ye harta sultan doang, kuota miskin lu!


Izza : Ah cerewet! Orangnya mana?


Ilham : Udah pergi. Dia Yonna yang lo maksud apa bukan?


Izza : Ceweknya bukan Yonna, tapi cowoknya gue kek pernah lihat. Tapi foto lo di bagian cowoknya kurang jelas!


Ilham : Lah? Rugi dong gue dari tadi jamuran?


Izza : Ga juga sih, mending lo sekarang pergi ke ruang cctv! Cek nopol mobilnya.


Ilham : Nah encer lu! Oke gue ke sana sekarang.


Refan : Woy Ham laporannya kirim ke gue aja Ham!!!


Izza : Hisss ay apaan si ribut mulu!


Refan : Ham pokoknya kirim ke gue. Kalo lo kirim ke istri gue dan dia jadi banyak pikiran karena laporan lo, gue cekik lu pake garpu!


Ilham : Waduh ngeri amat! Yodah ntar gue kirim ke elu Fan.


Refan : Nah good choice!


Izza : Kok lo mau si? Bos lo itu gue, bukan Refan!


Ilham : Emang iya, tapi gue masih mau hidup lama. Yakali gue mati di cekik, paling enggak lo ga bakal bunug gue haha.


Izza : Gue cekik juga lu lama-lama!


Tut tut....


"Mending telponnya gue matiin aja deh dari pada gue yang di matiin sama mereka." cicit Ilham ngeri.


"WOY MAHLI!! Kenapa lu?" tanya Zaki mengagetkan Ilham. Ilham menunjuk tangga di depan sana, tangga yang mengarah ke lantai dua sekaligus ruang cctv. Tentu saja Ilham bisa dengan mudah keluar masuk karena ia punya koneksi di cafe milik Izza ini.


"Gue ke sana dulu, bentar aja! Awas aja kalo lu ngeghosting gue di sini." pesan Ilham sebelum pergi.


"Ye dasar Mahli si anak onta kurang holuday! Ada aja tingkahnya tuh."


...****************...


"Beneran bukan Yonna kan? Ya udah kamu rilex aja. Ga usah di ambil pusing." ucap Refan di dalam lift. Hanya ada mereka berdua karena lift ini memang hanya bisa dipergunakan menggunakan kartu khusus yang hanya dimiliki oleh Izza, Refan, Andin, Ardi, dan Darrel. Hanya ada satu lift yang bisa langsung menuju lantai paling atas, dan hanya mereka yang dipilih oleh Izza saja yang bisa.


Kalau kalian tanya gimana caranya OB atau OG naik ke sini? Jawabannya adalah mereka hanya bisa naik ke lantai dibawah lantai Izza. Kemudian mereka harus naik melewati tangga manual.


"Tapi laki-lakinya kek ga asing dari belakang. Ilham pasti ngiranya itu beneran Yonna yang aku maksud deh, makanya dia cuma fokus ngefoto tuh perempuan. Mana orangnya udah keburu pergi juga! Ini semua gegara wifi sialan nih sembarangan tiba-tiba mati! Gue beli juga entar sepabriknya." gerutu Izza kesal tanpa henti. Refan justru tertawa, melihat wajah kesal istrinya adalah keseruan tersendiri baginya. Asik!


"Dih wifinya lucu? Kenapa ketawa?" tanya Izza menaikkan sebelah alis. Refan menggeleng drngan sisa tawanya.


"Bukan wifi, tapi my wife yang lucu haha!"


"Lah aku ga lagi ngelawak kok?"


"Kamu ngomel-ngomel itu lucu banget sayaaaangggg!!" ucap Refan gemas mencubit kedua pipi Izza yang jadi makin chubby dan gemoy. Mungkin bawaan orok.


"Ih kamu mah nyebelin!!" keluh Izza manyun. Refan terkekeh kecil, ia hanya ingin membuat istrinya rileks tanpa beban. Bisa bahaya kan kalo otaknya terus-terusan diperas sementara kandungan besarnya juga perlu dijaga baik-baik?


"Udah pokoknya ga usah mikirin masalah berat-berat lagi ya? Biar aku yang urus semuanya. Kalo aku bisa bantu apapun soal kamu, tapi kalo soal anak kita yang masih di dalam kandungan kamu ini, aku ga bisa bantu. Cuma kamu yang bisa diandalkan sama mereka! Ngerti maksudku kan?" tutur Refan panjang lebar.


Izza menghela nafas panjang kemudian mengangguk, semenjak hamil besar ini memang Refan jadi super cerewet dan posesif.


"Nah istri pintar!!" puji Refan mengelus lembut rambut panjang tergerai milik sang istri.


Cups


"Aku tau apa yang kamu lihat hoho!!" seru Izza meledek Refan. Izza yang tadi mengecup bibir Refan dengan singkat. Ia tau kalau mata suaminya mengarah ke bibir tipisnya yang ranum, sorot mata yang selalu tak bisa berbohong.


Refan tersenyum miring.


"Emang ga ada yang bisa ngertiin selain kamu ay!" ucap Refan mengelus pipi Izza. Izza terkekeh, kemudian melirik angka penunjuk lift di sebelah mereka. Refan mengikuti arah lirikan itu, masih di lantai 21. Yang berarti masih ada sisa 20 lantai lebih. Waktu yang sangat-sangat cukup! Toh lift mereka juga aman, tidak akan ada orang lain yang bisa sembarang masuk dari lantai berikutnya.


"We have a lot of time." ucap Refan mulai mengunci tatapan mereka. Izza mengangguk.


Refan mendorong pelan tubuh Izza hingga terantuk di sudut lift. Mengikis jarak mereka hingga hanya tersisa jarak satu hembusan nafas saja. Badan mereka sudah menempel, hanya tinggal satu gerakan lagi menuju kiss romantis mereka.


Drtt drtt


"Ck!" umpat Refan kesal karena gerakannya terganggu oleh benda pipih di saku jasnya yang bergetar tiba-tiba.


"Penting kali." celetuk Izza dengan wajah yang sangat dekat. Refan tak menggubris teleponnya dan langsung menyambar bibir ranum istrinya. Memberi sentuhan lembut penuh gairah dan cinta di setiap gerakan bibir mereka. Cukup lama mereka bermain-main di area itu hingga iPhone Refan kembali dengan deringan berisiknya.


Menganggu!


Pagutan itu sontak terlepas. Izza mendorong dada Refan untuk sedikit mundur dan menjauh.


"Angkat dulu ay, kalo nelpon lebih dari sekali pasti itu penting!" suruh Izza menunjuk jas Refan menggunakan kode mata. Refan menghembuskan nafas kesal. Refan merogoh saku jas nya, melihat dari mana telepon itu berasal.


Dari Rosa.


"Kan aku masih mau sama kamu ayyyyy!!" rengek Refan bayik. Ia malah membiarkan telepon dari sekertarisnya mati lagi. Izza mengelus pipi suaminya dengan lembut kemudian memberi kecupan kilas di sana.


"Sekarang urus dulu kerjaan kamu, kita kan masih punya banyak waktu nanti di rumah?" ucap Izza berusaha merayu suaminya agar mau mengesampingkan dirinya terlebih dahulu. Memang susah membuat bucin menomor satukan kerjaan di saat seperti ini.


"Oke ntar di rumah dua ronde ya?" tanya Refan manyun. Izza melotot.


"Tumben ga kasian sama anak kamu di dalam sini nih?"


"Oh iya lupa! Ya udah tiga ronde aja." jawab Refan makin ngawur. Izza menatapnya malas.


"Dark jokes!"


"Hehe bercanda sayang!!"


Drtt drtt


📞Rosa is calling.....


"Ini awas aja nih kalo ga penting, gua pecat lu sekertaris dekingan!" gerutu Refan sebelum menarik tombol hijau. Izza hanya bisa geleng-geleng kepala melihat amukan suaminya ini.


Memang Izza dari pertama kali bertemu Rosa hingga sekarang, ia masih tak bisa meluaskan hatinya seperti saat Izza bertemu dengan Shella dulu. Dulu saat Shella yang jadi sekertaris Refan, ia biasa saja. Bisa dibilang Izza nyaman dengan posisi yang dimiliki oleh Shella. Tapi rasanya sangat berbeda saat dengan Rosa, seperti ada batu besar yang mengganjal di hati Izza.


Meskipun begitu, Izza memilih untuk diam saja tanpa memberitahu Refan. Ia hanya mau bersikap profesional saja terhadap masalah kerja dan bisnis. Toh Refan juga sudah menjadi miliknya, tak akan ada yang bisa masuk. Bahkan celah untuk menyusup masuk pun tak ada!


"Gimana ay?" tanya Izza setelah Refan memutuskan sambungan telepon.


"Aku lupa kalo ada meeting sama perusahaan Jimmy setengah jam lagi, aku nanti anterin kamu dari depan lift aja ga papa ya?" jawab Refan. Izza mengangguk.


"Iya ga papa. Tapi meetingnya dimana?"


"Di perusahaan Jimmy dong!! Oh iya ay, aku nanti cuma berdua sama Rosa ga papa kan? Soalnya Kevin aku kasih kerjaan sendiri di kantor." ucap Refan izin. Izza mengangguk santai meskipun sebenarnya ingin ngamuk. Hormon bayi nih kayaknya anak-anak Refan juga ga terima kalo ayahnya deket-deket sama sekertaris satu itu.


"Iya, ga papa!"


'Huft tahan sampai enam bulan lagi, barulah Shella kembali kerja dan lo bakal ngerasa lebih tenang dan damai setelah Rosa dihempas oleh posisi Shella yang akan segera kembali!' batin Izza menyemangati dirinya sendiri. Kalau bukan karena profesional, sudah dapat dipastikan Rosa bisa didepak jauh-jauh sejak dulu. Tapi dalam urusan kerja ini, Izza masih bisa memberi toleransi. Toh juga Rosa belum bertindak yang aneh-aneh selama ini.


Ya semoga saja tidak akan pernah!


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰